Home » Sastra » Mengakrabi Sastra, Membangun Karakter Bangsa

Mengakrabi Sastra, Membangun Karakter Bangsa

Mengakrabi Sastra, Membangun Karakter Bangsa *)

Oleh: Sawali **)

OSISudah lama negeri kita dikenal sebagai negeri yang kaya budaya. Hampir setiap daerah memiliki corak budaya yang khas sesuai dengan nilai-nilai kearifan lokal yang diangkatnya. Dongeng rakyat, misalnya, yang telah lama menjadi bagian dari tradisi sastra lisan, memuat nilai-nilai kearifan lokal yang amat besar manfaatnya untuk memperkuat jati diri bangsa. Demikian juga halnya dengan puisi lama yang terwujud dalam bentuk pantun, gurindam, karmina, seloka, syair, dan semacamnya, sudah teruji oleh sejarah sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa yang perlu terus dilestarikan dan dikembangkan.

Seiring dengan perkembangan zaman, sastra pun terus berkembang mengikuti derap peradaban. Bentuk sastra dengan berbagai “wajah” terus bermunculan, baik yang berbentuk prosa maupun puisi. Dengan sifatnya yang khas dan unik, sastra terus mewartakan nilai-nilai kehidupan dan kemanusiaan, hingga mampu menumbuhkan kepekaan nurani pembacanya. Semakin sering membaca karya sastra, batin pembaca akan semakin terisi oleh pengalaman-pengalaman baru dan unik yang belum tentu didapatkan dalam kehidupan nyata. Itu artinya, sastra telah memberikan “asupan” gizi batin yang lezat dan bermakna bagi pembaca.

Di dalam karya sastra, kita akan menemukan nilai hedonik (nilai yang dapat memberikan kesenangan secara langsung kepada pembaca), nilai artistik (nilai yang dapat memanifestasikan seni atau keterampilan dalam melakukan suatu pekerjaan), nilai kultural (nilai yang memberikan atau mengandung hubungan yang mendalam dengan masyarakat, peradaban, atau kebudayaan), nilai etis, moral, agama (nilai yang dapat memberikan atau memancarkan petuah atau ajaran yang berkaitan dengan etika, moral, atau agama), dan nilai praktis (nilai yang mengandung hal-hal praktis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata sehari-hari).

Karena banyaknya kandungan nilai yang terdapat dalam teks sastra, sangat beralasan apabila sastra dijadikan sebagai media yang tepat untuk membangun karakter bangsa. Sastra menawarkan ruang apresiasi, ekspresi, dan kreasi dengan berbagai kemungkinan penafsiran, perenungan, dan pemaknaan. Dengan mengakrabi sastra, kita terlatih menjadi manusia yang berbudaya, yakni manusia yang memiliki kepekaan nurani dan empati, tidak suka bermusuhan, tidak suka kekerasan, tidak suka dendam dan kebencian. Sastra mendorong dan melatih kita untuk: (1) cinta Tuhan dan kebenaran; (2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; (3) amanah; (4) hormat dan santun; (5) kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama; (6) percaya diri kreatif, dan pantang menyerah, (7) keadilan dan kepemimpinan, (8) baik dan rendah hati; dan (9) toleransi dan cinta damai. Oleh karena itu, upaya mengakrabi sastra perlu dilakukan sejak dini, agar kelak menjadi sosok yang memiliki karakter dan kepribadian yang kuat, sehingga mampu mengatasi berbagai persoalan hidup dan kehidupan dengan cara yang arif, matang, dan dewasa.
***

Persoalannya sekarang, aktivitas apa saja yang perlu dilakukan untuk mengakrabi sastra agar kita mampu menjadi manusia yang berbudaya? Paling tidak, ada tiga aktivitas bersastra yang bisa dilakukan.

Pertama, aktivitas apresiasi. Aktivitas ini bisa dilakukan dengan memperbanyak membaca karya sastra, baik prosa maupun puisi. Dengan banyak membaca karya sastra dalam berbagai genre (bentuk), pengalaman batin dan rohaniah kita akan terasupi oleh berbagai macam nilai yang mampu menyuburkan nurani kita. Ini artinya, secara tidak langsung, karya sastra akan mampu membangun basis karakter dan kepribadian yang kuat, sehingga tidak gampang terpengaruh untuk melakukan tindakan-tindakan negatif yang bisa merusak citra kemanusiaan dan keluhuran budi. Inti kegiatan apresiasi sastra adalah memahami dan menghargai karya sastra melalui proses pendalaman, penafsiran, perenungan, dan pemaknaan nilai-nilai estetika yang terkandung di dalamnya.
Karya sastra bisa menjadi saksi dan mata zaman yang mampu menembus dimensi ruang dan waktu. Ia (karya sastra) mampu mendedahkan berbagai peristiwa masa silam, menyuguhkan peristiwa pada konteks kekinian, sekaligus bisa meneropong berbagai kemungkinan peristiwa yang akan terjadi pada masa mendatang. Ini artinya, semakin banyak membaca dan mengapresiasi sastra, semakin banyak menerima asupan gizi batin, sehingga kita terangsang untuk menjadi manusia berbudaya yang responsif terhadap berbagai persoalan hidup dan kehidupan.

Simaklah puisi berikut ini!

Pelangi
Merah kuning hijau warnamu.
Membentang di langit biru
Sungguh indah ciptaan-Mu

Pelangi kau bagaikan dewi
Warnamu sungguh indah
Tak jemu aku memandangmu
Ingin ku berlari ke tempatmu
Ke angkasa yang luas membiru

(Ade Agoes Kevin Dwi Kesuma Parta, kelas IVA SD Saraswati 6 Denpasar
(Sumber: http://sdsaraswati6.blogspot.com/2009/12/puisi-karya-siswa.html)

Sebuah puisi yang sederhana, tetapi indah dan imajinatif, bukan? Si aku lirik begitu mengagumi keindahan pelangi yang penuh warna-warni, sampai-sampai berkeinginan untuk berlari menuju ke tempat pelangi berada.

Simak juga kutipan cerita berikut ini!

….
Sudin anak yang pandai dan hemat, sehingga ia masih dapat menabung dari hasil penjualan korannya. Ayah dan ibunya sangat menyayangi Sudin. Seperti biasanya, Sudin sibuk mencari pembeli di perempatan jalan. Ia berlari sambil berteriak-teriak menawarkan koran-korannya. Dengan penuh semangat, ia berjualan sampai tak menghiraukan panas yang menyengat dan trotoar kota. Tiba tiba ia melihat anak kecil yang menyeberang jalan sendirian. Dengan melongokkan kepalanya, Sudin sibuk mencari di mana keluarga anak kecil itu. Secara spontan, Sudin berlari menghampiri anak tadi. Akan tetapi, malang nasib Sudin yang telah berkorban untuk anak yang ditolongnya. Anak itu selamat, dan Sudin tertabrak mobil. Kaki kanannya patah dan seluruh tubuhnya luka-luka.

Kemudian Sudin dibawa ke rumah sakit terdekat. Setelah diobati dan dirawat pihak rumah sakit, Sudin akhirnya siuman. Ayah dan ibunya merasa lega sekali. Orang tua anak kecil yang telah ditolongnya meminta maaf dan berterima kasih kepada Sudin. Mereka sanggup membiayai pengobatan Sudin di rumah sakit. Setelah dipikir-pikir, Sudin pernah bertemu dan mengenal ayah dan ibu si anak kecil. Kemudian Pak Adi (nama ayah anak kecil yang ditolong Sudin) berbicara kepada Sudin dan mengatakan bahwa ia akan menjadi orang tua asuh bagi Sudin. Sebetulnya Pak Adi sudah mengenal karena berlangganan koran pada Sudin. Jadi, Sudin sangat gembira setelah menerima kabar tersebut. Meskipun merasa sakit di sekujur tubuhnya, Sudin merasa bahagia sekali. Memang Tuhan Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba yang senantiasa berbuat kebaikan. (Sumber: “Pengorbanan”)

Sebuah kisah yang menyentuh dan mengharukan, bukan? Ya, ya, dengan membaca cerita semacam itu, kita akan terlatih memiliki sikap peka dan belajar berempati terhadap nasib sesama.
Kedua, aktivitas berekspresi. Kegiatan berekspresi termasuk salah satu kegiatan mengakrabi sastra yang bisa dilakukan dengan mengekspresikan atau mengungkapkan teks sastra ke dalam bentuk pembacaan dan permainan peran. Membacakan puisi, mendongeng, bercerita, atau bermain drama termasuk kegiatan berekspresi. Kegiatan semacam ini melatih kita untuk menumbuhkan kepekaan dalam menangkap nilai keindahan yang terkandung dalam karya sastra secara lisan. Puisi akan terasa lebih indah jika dibacakan dengan penghayatan dan eskpresi yang tepat. Demikian juga halnya dengan mendongeng, bercerita, atau bermain drama. Nilai-nilai dan pengalaman hidup yang terkandung dalam karya sastra jadi terkesan lebih indah dan menyentuh kepekaan estetik kita.

Perhatikan dengan saksama kutipan puisi berikut ini!

…..
Di depan-Mu sirna mendebu
Engkaulah segalanya, kekekalan sempurna
Di mata-Mu semesta lenyap mengabu
Engkaulah yang abadi, serba dan maha ….
(“Di Depanmu Aku Sirna Mendebu”, Budiman S. Hartojo)

….
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati
….
(“Diponegoro”, Chairil Anwar)

Nah, ternyata nilai ketuhanan dan kepahlawanan yang terkandung dalam dua kutipan puisi tersebut terkesan lebih kuat dan indah jika diekspresikan secara lisan, bukan?
Ketiga, aktivitas berkreasi. Kegiatan ini berkaitan dengan aktivitas penciptaan dan/atau penulisan karya sastra dalam berbagai genre. Aktivitas bersastra acapkali dihubungkan dengan kata kreativitas. Hal ini didasari oleh lekatnya proses penciptaan sebuah karya sastra dengan kegiatan kreatif.

Pada hakikatnya setiap manusia memiliki potensi dasar dalam berkreasi di bidang sastra. Perbedaanya terletak pada tingkat kepekaan pribadi masing-masing. Yang paling besar pengaruhnya adalah faktor minat dan kesungguhan berlatih. Semakin besar minatnya dan semakin serius pula dalam berlatih menulis karya sastra, maka semakin besar pula tantangan-tantangan kreatif yang bisa dilaluinya. Para sastrawan besar pada umumnya lahir karena dukungan dua faktor tersebut. Dengan kata lain, kreativitas atau daya cipta seseorang dapat lahir setelah melalui berbagai tantangan yang dihadapinya, sehingga mampu melahirkan karya sastra yang memiliki nilai lebih. Secara khusus, kreativitas dalam mengakrabi sastra adalah kemampuan menemukan, membuat, merancang ulang, dan memadukan pengalaman masa silam dengan gagasan baru hingga berwujud sesuatu yang lebih baru.

Kreativitas penciptaan karya sastra sangat erat kaitannya dengan kemampuan mendayagunakan imajinasi dan bahasa. Melalui kekuatan imajinasi, seorang pengarang mampu menjelajahi berbagai pengalaman batin manusia. Ia bisa mengungkapkan berbagai kenyataan dan pengalaman hidup secara imajinatif meskipun pengarang yang bersangkutan tidak harus mengalami secara langsung apa yang dia tulis.

Imajinasi, konon identik dengan mata sang jiwa yang dimiliki oleh setiap orang. Ini artinya, siapa pun orangnya memiliki kemampuan berimajinasi. Yang mungkin berbeda adalah ketajaman seseorang dalam melihat dan menafsirkan berbagai kenyataan hidup yang terjadi di sekelilingnya. Bagi seorang sastrawan, imajinasi merupakan modal kreativitas utama yang terus diasah melalui proses perenungan dan pengendapan. Hal ini menjadi penting, sebab dunia sastra selalu melewati pintu imajinasi ketika seorang sastrawan hendak melahirkan karya sastra. Sastrawan tidak melihat kenyataan hidup dengan menggunakan mata fisik, tetapi menggunakan mata jiwa, sehingga bisa menyajikan kenyataan hidup yang berbeda di dalam karya sastra. Bisa saja apa yang tertuang di dalam karya sastra mencerminkan berbagai kenyataan hidup yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan lingkungannya. Namun, kenyataan hidup yang diungkapkan sudah dipadukan dengan kekuatan imajinasi, pengetahuan, keyakinan, dan pengalaman batin sang pengarang, sehingga karya yang dihasilkan memiliki daya tarik dan daya pikat bagi pembaca. Perpaduan antara kenyataan dan imajinasi itulah yang telah melahirkan karya-karya besar yang tidak pernah bosan dibaca dan diapresiasi dari zaman ke zaman.

Nah, bagaimana cara mendayagunakan imajinasi dalam karya sastra hingga mampu melahirkan karya-karya kreatif? Bisa jadi, setiap pengarang memiliki cara yang berbeda-beda. Namun, secara umum, ketajaman berimajinasi diawali dari proses perenungan dengan melibatkan kekuatan batin kita di dalam mernafsirkan berbagai kenyataan hidup yang terjadi di sekeliling kita. Proses perenungan yang mendalam akan mendorong kita untuk melahirkan karya sastra yang lebih menyentuh dan mengharukan nurani, hingga mampu menawarkan pencerahan, kedalaman, kearifan pikiran, dan berbagai macam nilai.

Meskipun demikian, imajinasi saja tidaklah cukup. Seorang pengarang juga perlu mengungkapkannya dengan bahasa yang tepat sesuai dengan gayanya yang khas dan unik. Bahasa memiliki kekuatan luar biasa untuk mengekspresikan dunia imajinasi yang berada di balik kepala sang pengarang. Bahasa yang ekspresif semacam inilah yang bisa membuat karya sastra sang pengarang selalu menarik untuk dibaca. Oleh karena itu, seorang calon pengarang dianjurkan untuk banyak membaca karya sastra para pengarang yang sudah lebih dahulu lahir. Dengan banyak membaca, seorang calon pengarang memiliki banyak kemungkinan dalam menggunakan gaya bahasa yang mampu mewakili pikiran dan perasaannya.

Simaklah kutipan cerita berikut!

….
Awang Sukma terpana oleh irama sulingnya. Tiupan angin lembut yang membelai rambutnya membuat ia terkantuk-kantuk. Akhirnya, gema suling menghilang dan suling itu tergeletak di sisinya. Ia tertidur.
Entah berapa lama ia terbuai mimpi, tiba-tiba ia terbangun karena dikejutkan suara hiruk pikuk sayap-sayap yang mengepak. Ia tidak percaya pada penglihatannya. Matanya diusap-usap.
Ternyata, ada tujuh putri muda cantik turun dari angkasa. Mereka terbang menuju telaga. Tidak lama kemudian, terdengar suara ramai dan gelak tawa mereka bersembur-semburan air.
“Aku ingin melihat mereka dari dekat,” gumam Awang Sukma sambil mencari tempat untuk mengintip yang tidak mudah diketahui orang yang sedang diintip.

Dari tempat persembunyian itu, Awang Sukma dapat menatap lebih jelas. Ketujuh putri itu sama sekali tidak mengira jika sepasang mata lelaki tampan dengan tajamnya menikmati tubuh mereka. Mata Awang Sukma singgah pada pakaian mereka yang bertebaran di tepi telaga. Pakaian itu sekaligus sebagai alat untuk menerbangkan mereka saat turun ke telaga maupun kembali ke kediaman mereka di kayangan. Tentulah mereka bidadari yang turun ke mayapada ….
(“Legenda Telaga Bidadari”, http://dongeng.org/cerita-rakyat/nusantara/legenda-telaga-bidadari.html)

Sebuah kisah yang menarik, bukan? Kisah imajinatif tersebut menjadi lebih indah ketika dikemas dan disajikan dengan menggunakan bahasa yang ekspresif dan khas.
***

Mengakrabi sastra merupakan aktivitas yang menarik dan menyenangkan. Ada proses penyelaman dan pendalaman pengalaman batin manusia. Dari titik ini, kita banyak bersentuhan dengan berbagai pola perilaku dan karakter manusia. Semakin banyak perilaku dan karakter manusia yang kita tangkap, kita akan semakin terlatih untuk membangun sikap empati, peka, dan responsif terhadap berbagai macam nilai hidup dan kehidupan, sehingga tak gampang tergoda untuk melakukan tindakan negatif yang bisa merusak nilai-nilai keharmonisan hidup.

Dalam satu dekade belakangan ini, nurani kita digelisahkan oleh maraknya aksi kekerasan yang terjadi di berbagai lapis dan lini masyarakat. Aksi-aksi vandalisme dan premanisme dengan berbagai macam bentuk dan variannya (nyaris) menjadi fenomena tragis yang gampang kita saksikan di atas panggung sosial negeri ini. Perkara-perkara sepele yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cara yang arif dan dewasa tak jarang dituntaskan di atas ladang kekerasan yang berbuntut darah dan air mata. Dalam keadaan semacam itu, nilai-nilai kearifan dan keluhuran budi yang dulu dimuliakan dan diagung-agungkan sebagai karakter dan jatidiri bangsa seperti telah memfosil ke dalam ceruk peradaban.

Kekerasan agaknya telah menjadi “budaya baru” di negeri ini. Jalan penyelesaian masalah berbasiskan kejernihan nurani dan kepekaan akal budi telah tertutup oleh barikade keangkuhan dan kemunafikan. Okol lebih dikedepankan ketimbang akal. Belum lagi aksi para preman yang mempertontonkan tindakan fasis dan brutal di tengah-tengah keramaian penduduk. Pembakaran, perusakan, dan penganiayaan pun marak terjadi di berbagai tempat. Budaya kekerasan agaknya benar-benar telah berada pada titik nazir peradaban, sehingga menenggelamkan karakter “genuine” bangsa ini yang telah lama ditahbiskan sebagai bangsa yang cinta damai, santun, ramah, dan berperadaban tinggi. Yang menyedihkan, budaya kekerasan dinilai juga telah bergeser ke dalam ranah dunia pendidikan kita. Mereka tidak lagi mempertontonkan kesantunan dan kearifan dalam melakukan rivalitas di bidang keilmuan dan intelektual, tetapi bersaing memperlihatkan kepiawaian memainkan pentungan dan senjata tajam. Kaum remaja-pelajar kita, khususnya yang hidup di kota-kota besar, tidak lagi akrab dengan nilai-nilai kearifan dan keluhuran budi, tetapi lebih suka menggauli kekerasan, pesta, dan seks bebas.

Dalam situasi seperti itu, bersastra menjadi penting dan bermakna untuk membangun pilar-pilar karakter bangsa ketika berbagai fenomena yang terjadi belakangan ini menunjukkan gejala yang kurang kondusif dalam upaya menciptakan peradaban yang lebih terhormat dan bermartabat. Tugas kemanusiaan generasi masa depan negeri ini adalah menguatkan dan mengokohkan karakter bangsa. Salah satunya adalah dengan mengakrabi sastra.

Nah, selamat mengakrabi sastra, semoga kelak benar-benar menjadi generasi masa depan yang memiliki basis karakter dan kepribadian yang kuat! Salam budaya! ***

*) Disajikan dalam “Workshop Nasional Sastra Anak” sebagai rangkaian kegiatan Final Olimpiade Sastra Indonesia (OSI) Siswa SD di Surabaya, 11 November 2010.

**) Sawali, cerpenis dan guru SMP 2 Pegandon, Kendal, Jawa Tengah.

tentang blog iniTulisan berjudul "Mengakrabi Sastra, Membangun Karakter Bangsa" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (21 Agustus 2012 @ 11:38) pada kategori Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 1 komentar dalam “Mengakrabi Sastra, Membangun Karakter Bangsa

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *