Home » Budaya » Mudik ke Kampung Halaman » 45145 views

Mudik ke Kampung Halaman

Kategori Budaya Oleh

idul fitriDemi memenuhi “naluri” mudik Lebaran ke kampung halaman, Jumat (17/8/2012), saya bersama keluarga ikut larut dalam perjalanan “ritual” menemui sanak-kerabat dan handai taulan. Secara lahiriah, Pulang kampung (Pulkam) sejatinya tak jauh berbeda ketika kita melakukan perjalanan ke tanah kelahiran pada umumnya. Arah dan rute yang ditempuh pun yang itu-itu juga. Namun, secara rohaniah, mudik Lebaran memiliki “sensasi” tersendiri. Iring-iringan perjalanan bersama saudara-saudara senasib yang hendak memenuhi panggilan tanah kelahiran memiliki makna “emosional” yang sulit diterjemahkan dengan kata-kata.

Perjalanan mudik, dengan demikian, bisa dimaknai sebagai sebuah perjalanan sarat risiko demi memperkokoh jalinan silaturahmi dengan sanak-kerabat dan handai taulan. Begitulah, mudik di negeri telah menjadi budaya yang melampaui batas-batas sejarah. Mereka yang kebetulan berhalangan tak bisa mengikuti “ritual” mudik, jauh di tanah perantauan seperti menggenggam kerinduan luar biasa. Nurani kita terharu-biru ketika gendang telinga kita menangkap kumandang takbir, tahlil, dan tahmid.

Berkaitan dengan perjalanan mudik tersebut, dalam beberapa hari ini, saya tidak melakukan aktivitas ngeblog. Pada kesempatan ini pula izinkan saya dan keluarga mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI

MINAL AIDIN WALFAIZIN

MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN

Semoga Allah SWT berkenan mengembalikan kita semua kepada fitrah-Nya, amiiin. ***

Tags:

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

40 Comments

  1. mudik merupakan waktu yg tepat untuk pulang kampung karena libur dan bagi kebanyakan orang yang bekerja ada uang THR untuk ongkos pulang, bawa oleh2 bahkan untuk berbagi dengan orang lain. selain untuk merayakan idul fitri bersama dan menjalin silatuhrami orang tua, sanak saudara dan kerabat. walaupun biasanya hari hari biasapun bisa. tetapi bertemu dengan keluarga pada waktu mudik lebih terasa indah.

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Budaya

Pilpres, Mudik, dan Lebaran

Oleh: Sawali Tuhusetya Suasana Ramadhan tahun ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya.
Go to Top