Home » Fiksi » Sastra » Gumamku Tersekat Saat Menatap Minah Terjebak dalam Sekap

Gumamku Tersekat Saat Menatap Minah Terjebak dalam Sekap

(semacam taburan bunga di atas puisi ‘Minah Tetap Dipancung’ dalam buku “Atas Nama Cinta” karya Denny JA)
Oleh: Ali Syamsudin Arsy

asaPerjalananku pun sesekali terkepung oleh ingatanku sendiri yang sangat menggumpal di benak walau dalam penat, saat-saat penyelesaian akhir dari pembacaan – untuk yang kesekian kalinya – terhadap puisi esai buah karya Bung Denny JA, tersita bayang imajinasiku akan seorang Minah, terbaring gelisah, rumput liar pun menutupi atas tanahnya serasa selimut tebal yang selalu setia. Aku bergumam dan biasa itu aku lakukan. Bunga-bunga meletup-letup di ujung kelopak mata dan aliran syarafku merespon semua pencitraan dari kata-kata tersusun sebagai larik-larik puisi esaimu, di mana akan kutemukan segunduk tanah merah itu, atau akan kudapatkan secarik surat warna merah darah dari igau-igau tak berkesudahan, Engkau Minah, kabar yang tersirat di bayang-bayang cuaca saat lengkung pelangi itu tampak sebagai penanda kehadiran dari bercak-bercak jejak, sebuah sikap dalam perjalanan yang mungkin akan sama dengan yang lain, walau tak sama sebab, dan bahkan tak sama akibat.

Perjalanan zikirmu di akhir ujung tetes-dawatmu.

Jangan hiraukan, ini gumamku, mencoba terus melaju, Engkau Minah, melepaskan polos dan jernih tatap-pandang tunggal anakmu di kejauhan waktu terus menyisirkan rentang rindu yang panjang, teramat panjang, harapmu tertuju padanya, sesak desah seluruh sendi urat-urat tubuhmu karenanya, adalah demi ia sebagai Aisah, anakmu yang kini tak dapat lagi melepaskan rindu segumpal-segumpal selayaknya ia yang berhasrat duduk di bangku belajar. Rindumu adalah tawa riang nan cerianya, di celah-celah pematang sawah digadai-gadai. Seorang lelaki sebagai perkasa karena ayahmu telah merelakan hasratmu untuk menjauh langkah, bertumpu kepada telapak tangan terbuka mempersilahkan derap kakimu mendesau arah angin pikirmu, lelaki kedua adalah Ahmad, suamimu sendiri.

Angin terus saja berhembus. Matahari tetap saja terbit dan tenggelam. Cahaya demi cahaya tetap saja Engkau Minah harapkan.

Adakah sebelum Engkau Minah, bahwa segala bekal di pundak mengikut serta, atau hanya sekedar apa yang ada. Akibat demi akibat lain ternyata boleh jadi membuat simpulan-simpulan sederhana, namun sebagai akibat demi akibat tersimpan dalam rantai perjalanan yang tak pernah putus karena kelindan perih atau renyah tawa sama saja dengan apa yang diperlakukan sebagai budak.

Berjalan tanpa arah, berpijak tanpa alas.

Berjuntai mimpi untuk membahagiakan karena cuaca di ruang kamarmu telah menuntun keharuan dan kesedihan di lain pihak. Engkau Minah, terbayang sepi dan dingin bilik ruang kamarmu bersama suami serta anakmu, memberikan kesepakatan di telapak tangan terbuka lebar selebar mimpi yang terbentang.

Aroma usang dari debu itu telah tercium saat beberapa hari menepi di sekap kamar luas majikan, Engkau Minah, menempati keluasan sepi tak berkesudahan.

Kucoba memberikan goresan yang berbeda atas ruang pembacaan puisi panjang sebagai puisi esai itu di tebing-tebing pikirmu, Engkau Minah, terjungkal tubuh lepas dari kepala, di kilau tajam pedang algojo tanpa ampun dan ucap maaf sekalipun. Engkau Minah, bagai sebilah ranting kering, rapuh dan terjerembab.

Posisi itu berada tepat di kedua tebing kuasa. Kuasa Kita, dan Kuasa Mereka. Engkau Minah berada di dalam Kuasa Kita yang telah gagal membentangkan jembatan sebagai Kuasa Bersama. Kuasa Bersama sewajibnya membuka ruang-ruang dialog dengan terinci dan tidak berat sebelah untuk melunaskan keseimbangan yang memang harus hadir dengan kewajiban-kewajibannya, menjadikan fasilitas kebersamaan itu nyata dan dapat dirasakan manfaat dengan tidak memberatkan pada satu bagian untuk melemahkan bagian yang lain. Dirimu, ragamu jiwamu berada pada Kuasa Kita, tetapi ternyata Kuasa Kita begitu saja melepasmu dalam lingkup Kuasa Mereka maka terjadilah Engkau Minah sebagai barang dagangan bukan sebagai mitra kebersamaan, sebagai manusia yang seutuhnya. Engkau Minah berkuasa atas dirimu, itu benar. Engkau Minah berkuasa atas jiwamu, itu juga benar. Engkau Minah berkuasa atas kehendak dan nalurimu, itu pun tidak dapat disalahkan. Tapi, Engkau Minah, ketika Kuasa Kita melepaskan ke dalam Kuasa Mereka maka, Engkau Minah, tak punya kuasa apa-apa, menjadi kosong dan terkunci. Menjadi lunglai dan sunyi. Bahkan menjadi dirimu sendiri pun adalah sesuatu yang teramat jauh dari jangkauan sepuluh jemari.

Pisau itu memiliki kuasanya sendiri, sehingga ia menjadi salah arah atau tak menentu arah, di luar duga semula, dan sangat berhasil tepat sasar,  ujung pisau itu membalik kepada Tuannya dan Sang Tuan terkapar tak bernyawa bahkan getar-getar nadi pun pupus untuk menyampaikan cerita sebenarnya. Itulah ia, Tuan Lelakimu yang sudah berulang kali melakukan Kuasanya atas Kuasamu yang rapuh dan terjepit oleh sepi di antara derai-derai sunyi. Berkali pula terpaksa dalam pasrah pemerkosaan itu. Maka. Bertambahlah bebal Engkau Minah dalam sorot tajam dan dengki di mata Tuan Wanitamu, ia semakin menjarah urat-urat tubuhmu, ia semakin mencerca desah napasmu, ia semakin meraja atas takdirmu. Darah itu, ya darah itu wahai Engkau Minah, adalah batas antara dua tebing yang lain. Tebing kehidupan dan tebing kematian.

Sepantasnyalah Kuasa Kita dengan Kuasa Mereka bertemu dalam satu paham, dan yang paling penting dari jarak nganga kedua tebing itu adalah Hubungan Komunikasi. Hubungan Komunikasimu pun terputus oleh ketidak-becusan olah kelola sejak mula di pangkalnya. Kuasa Kita sewajibnya yang aktif melakukan wahana-wahana Hubungan Komunikasi ini, semisalnya ada hak yang tak bisa ditawar agar Engkau Minah beserta Minah-Minah-Minah lainnya dalam waktu yang ditentukan rutin dan intens saling bertegur sapa, saling bertatap wajah dan rupa. Nah, Engkau Minah, bukan kalian yang giat membenah-benah tetapi orang-orang dalam Kuasa Kitalah yang sewajibnya, tetapi Engkau Minah, lihatlah betapa bancinya mereka, betapa lunglainya mereka dalam keangkuhan dengan cepat secepat kilat menyambar banyak media dan pengeras suara, betapa angkuhnya dalam kelasanan yang sangat tidak beralasan ketika satu nyawa saja dianggap hampa tak punya apa-apa dan sebuah nyawa lusuh berjuang sendirian, tetapi ini bukan hanya satu nyawa, banyak sudah peristiwa dalam banyak cerita. Ruang cakap mereka terbuka lebar padahal mereka adalah orang-orang yang teramat bebal. Mereka tampil dengan segudang alasan walaupun hanya untuk satu persoalan.

Gumamku menjadi-jadi, tetapi tersekat saat menatap Engkau Minah terjebak dalam sekap.

Tidak penting di mana pun itu tempat. Tidak istimewa kapan pun itu terjadi. Angin tetap saja berhembus. Matahari tetap saja terbit dan tenggelam pada ruang yang memang tersedia untuknya.

Sawah itu menjadi tidak penting lagi bila kedua kakimu gemetar dan lunglai di sepilah besi tajam menghujam sebagai pemisah tabuh gigil rapuh dan menggelinding kepala dengan mata terbuka tanpa senyum lagi. Senyum yang dijadikan alasan sebagai titik awal kebejatan Tuan Lelakimu. Tudingan pun mengarah kepada wajahmu seorang, Engkau Minah.

Gumamku semakin menjadi-jadi, terbayang zikirmu yang mengatas segala deru. Gumamku adalah sebuah perjalanan alam pikirku sendiri atas penderitaan yang Engkau Minah, akh, bila gumpal-gumpal rindumu bergayut di tiang-tiang ampun maka aku pun turut tersungkur, sebab bukan hanya satu, Engkau Minah, telah berulang banyak peristiwa dan melebihi kisah-kisah tragis, Engkau Minah, sulit untuk disalahkan, tetapi ini pun merupakan kumpulan geram dalam bentuk Kristal di genggam merah membaca baja. Baja merah itu pun telah pula membakar hawa sejuk pematang sawah yang sampai detik terakir belum juga terlengkapkan dalam mimpimu sendiri, sehingga matimu pun dalam gadai yang melengkung di anak sungai tangis di pipi suamimu, anakmu, orang tuamu bahkan mungkin saja jiran dan handai tolanmu, Engkau Minah.

Zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu, entah lenguh di tutup waktu, zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu, entah entah sampai di mana kantuk matamu bahwa besok adalah sepi itu bahwa besok adalah sunyi itu, zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu, entah adakah nisan itu entahlah zikirmu zikirmu zikirmu, entah pula Aisyah semampu apa ia mengeja hurup dan angka-angka entahlah zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu, entah sampai ke batas setia macam apa relung degup di dada suamimu entahlah zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu entahlah sampai sepihak apa orang-orang yang punya Kuasa Kita mampu membaca setiap gejala, menyimak setiap suara, menyerap setiap makna entahlah entahlah zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu sampai entah para Kuasa membangun jembatan kebersamaan dalam lingkup penghormatan atas nama kemanusiaan entahlah entahlah zikirmu zikirmu zikirmu zikirmu, entah dan entahlah. Fajar tiba, Engkau Minah: Tersungkur.  ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Gumamku Tersekat Saat Menatap Minah Terjebak dalam Sekap" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (24 Juli 2012 @ 01:14) pada kategori Fiksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 21 komentar dalam “Gumamku Tersekat Saat Menatap Minah Terjebak dalam Sekap

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *