Home » Blog » GDM Banyumas dan Ikon “Desa Global”

GDM Banyumas dan Ikon “Desa Global”

GDMSabtu, 30 Juni 2012, saya diundang Mas Pradna dan sahabat-sahabat blogger Banyumas untuk hadir dalam acara “Juguran Blogger Banyumas” yang berlangsung di Kedungbanteng, Banyumas. Agenda “juguran” yang dihadiri oleh perwakilan komunitas blogger dari berbagai daerah, pemerintah daerah, dan pemuda/pelajar yang berlangsung tanggal 30 Juni-1 Juli 2012 ini diharapkan dapat mengangkat potensi desa di berbagai media.

Agenda yang bertujuan mengangkat potensi desa melalui peran blogger dan edukasi untuk warga desa dengan format acara “Wisata Desa, Sarasehan, dan kelas-kelas edukasi untuk warga desa” ini, menurut hemat saya, tak sekadar ingin tampil beda. Dengan jaringan yang kuat dan dukungan para pemangku kepentingan kemajuan desa di wilayah Banyumas, acara “juguran” setidaknya telah berhasil menyamakan visi dan “kemauan positif” untuk menjadikan kawasan pedesaan tidak lagi menjadi sebuah “Indonesia” yang tertinggal di ranah global.

GDMGDMPaling tidak, ada tiga kesan yang amat kuat ketika saya berbaur bersama para penggerak Gerakan Desa Membangun (GDM) Banyumas, blogger Banyumas, dan tokoh-tokoh masyarakat setempat dalam sebuah acara sarasehan. Pertama, kuatnya suasana egaliter, persaudaraan, dan kebersahajaan. Sedulur-sedulur Banyumas yang terlibat dan berkolaborasi dalam GDM ternyata sangat heterogen, baik dari sisi usia maupun latar belakang pendidikan. Kepala desa dan perangkat desa, tokoh-tokoh masyarakat, mahasiswa, dosen, dan kaum muda pedesaan, terjalin dalam satu ikatan yang mengagumkan. Mereka amat bersemangat ketika berbicara tentang kemajuan dan kemandirian desa dalam suasana kebersamaan yang sarat dengan sentuhan sikap egaliter, akrab, bersahaja, dan toleran. Tak ada kesan “berjarak” lantaran batasan-batasan jabatan dan usia.

Kedua, kuatnya jaringan “sosial” lintasmedia. Dalam usia “gerakan” yang masih amat muda (sekitar enam bulan), GDM mampu merangkul berbagai kalangan untuk ikut berkiprah bersama dalam membesarkan Banyumas yang sebagian besar terdiri dari wilayah pedesaan. Para “pioner” gerakan tak hanya mampu meyakinkan media-media “mainstream”, tetapi juga sanggup merangkul media kontemporer yang selama ini masih menjadi sesuatu yang “awam” bagi masyarakat pedesaan. Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (Pandi), misalnya, dengan amat sadar mendukung GDM dengan menyediakan domain berekstensi [dot] id sebagai manifestasi sikap bangga terhadap produk negeri sendiri. Demikian juga halnya dengan Infest Yogyakarta yang dengan amat intens memberikan dukungan penuh terhadap pengelolaan portal GDM.

Ketiga, kuatnya passion para penggerak dan segenap pemangku kepentingan GDM untuk menggunakan sistem operasi open source dalam perangkat teknologi dan informasi (TI). Pada saat sarasehan “juguran” berlangsung, para aktivis GDM juga mendistribusikan sistem operasi “BlankOn Pattimura” yang bisa digunakan secara gratis. Mereka tak mau menggunakan sistem operasi lain yang pada kenyataannya justru telah menjebak sebagian besar penggunanya untuk menjadi “pembajak” lantaran harga OS asli yang masih tergolong mahal. Yang mengagumkan, mereka juga akan mengembangkan “BlankOn” ini menjadi lebih berwarna lokal dengan menggunakan bahasa Jawa Banyumasan sebagai pendukung bahasa sistem operasi di dalamnya. Dengan cara demikian, kelak diharapkan sistem operasi ini akan lebih memasyarakat bagi warga masyarakat Banyumas dengan idiom-idiom lokalnya, sehingga mereka mampu menjadi warga masyarakat global tanpa harus meninggalkan nilai-nilai kultural yang telah menyejarah dari generasi ke generasi.

Sungguh, rintisan GDM Banyumas bisa menjadi ikon “desa global” yang mampu menjelajah berbagai belahan dunia tanpa harus meninggalkan jejak-jejak kearifan lokal yang telah lama menyatu secara emosional bagi warga Banyumas. Wilayah kabupaten yang beribukota di Purwokerto ini sungguh beruntung memiliki tokoh-tokoh masyarakat dan kaum muda yang memiliki kesadaran kolektif dan terus gigih berjuang menemukan kemandiriannya. Aset desa yang demikian tinggi “nilai jual”-nya jelas akan lebih terangkat dan mencuat ke permukaan sebagai “mutiara desa” yang nampu mengangkat marwah dan martabat daerah.

Kepedulian dan kesadaran kolektif para aktivis GDM Banyumas dalam memperjuangkan kemandirian desa di ranah global bisa menjadi bukti bahwa desa tidak identik dengan keterbelakangan dan ke-“katrok”-an. Melalui kerjasama dan kolaborasi intensif dengan Poltama (Polteknik Pratama Purwokerto), GDM siap mengglobalkan Banyumas ke tengah belantara peradaban yang terus berputar dan bergerak seiring dengan dinamika zamannya. Semoga GDM Banyumas bisa terus eksis berkiprah dalam memajukan desa sekaligus mampu menginspirasi daerah-daerah lain untuk melakukan hal yang sama. Bravo GDM Banyumas! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "GDM Banyumas dan Ikon “Desa Global”" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (2 Juli 2012 @ 23:15) pada kategori Blog. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 43 komentar dalam “GDM Banyumas dan Ikon “Desa Global”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *