Selasa, 16 September 2014

Saturday, 18 February 2012 (03:48) | Pendidikan | 24880 pembaca | 61 komentar

Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Djoko Santoso, 27 Januari 2012 telah meluncurkan Surat Edaran (SE) Nomor: 152/E/T/2012, tentang Publikasi Karya Ilmiah. Tiga poin utama dalam SE tersebut antara lain: (1) untuk lulus Program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah; (2) untuk lulus Program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti; dan (3) untuk lulus Program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional. Kebijakan tersebut diberlakukan terhitung mulai kelulusan setelah Agustus 2012.

Seperti melempar “bola panas”, luncuran SE langsung memancing sejumlah reaksi. Pro dan kontra pun bermunculan. Ada yang setuju, tetapi tidak sedikit pemangku kepentingan yang menolaknya. Ada kekhawatiran sejumlah kalangan apabila SE itu benar-benar diterapkan mulai kelulusan setelah Agustus 2012. Selain infrastruktur publikasi karya ilmiah (baca: jurnal) yang masih belum merata di sejumlah perguruan tinggi, “pemaksaan” pemberlakuaan SE juga dikhawatirkan akan membuka celah terjadinya “booming” karya ilmiah “abal-abal”. Bisa jadi, duplikasi karya ilmiah dan plagiasi pun akan marak terjadi. Karya ilmiah yang dipublikasikan cenderung “asal jadi” sekadar menggugurkan kewajiban untuk memenuhi syarat yang telah ditentukan.

blog guru

Surat Edaran Dirjen Dikti Nomor: 152/E/T/2012

Dari ranah dinamika keilmuan, kewajiban memublikasikan karya ilmiah di sebuah jurnal sebagai syarat lulus program sarjana, magister, lebih-lebih program Doktor, sesungguhnya tidak terlalu penting untuk diperdebatkan. Sebagai ikon kemajuan peradaban yang menggembleng kandidat-kandidat intelektual, sudah seharusnya kampus menjadi ruang yang tepat dan strategis untuk menumbuhkembangkan budaya meneliti. Berbagai temuan hasil riset bisa dijadikan sebagai “starting point” untuk menggali kreativitas pemikiran insan kampus sehingga akan muncul dinamika keilmuan yang terus tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan.

Namun, melihat geliat dan dinamika kampus selama ini, selalu saja menumbuhkan pesimisme. Kampus tak pernah berada di ruang hampa. Kehadiran kampus tak pernah bisa “steril” dari situasi kontekstual yang berlangsung di sekitarnya. Misi kampus sebagai agen perubahan agaknya telah membuat para insan kampus terus bergerak mengikuti arus yang terjadi di tengah-tengah masyarakat dan bangsanya. Slogan “agen perubahan” telah dimaknai secara sempit dengan menggunakan cara-cara yang tidak intelek dan jauh dari dinamika keilmuan untuk melakukan sebuah perubahan. Para mahasiswa, khususnya pasca-reformasi, punya hobi baru turun di jalan sambil berorasi dan meneriakkan yel-yel perubahan. Demo anarkhis sambil membakar ban sudah menjadi pemandangan yang galib. Yang menyedihkan, tidak jarang terjadi tawuran antar-kelompok mahasiswa yang sama sekali tak berhubungan dengan geliat dan dinamika akademik.

Bagaimana mungkin kaum muda mahasiswa kita saat ini akan sanggup bersentuhan langsung dengan dinamika keilmuan kalau rutinitas keseharian mereka selalu dipenuhi agenda demo dan mobilitas massa? Bagaimana mungkin mahasiswa tingkat akhir sanggup menyusun karya ilmiah di sebuah jurnal kalau mereka tak pernah memiliki tradisi menulis dan meneliti untuk didiskusikan dalam forum seminar bermutu?

Kondisi itu diperparah dengan miskinnya keteladanan para dosen dalam penyusunan karya ilmiah di jurnal bergengsi? Minimnya penghargaan dan honorarium yang diberikan kepada para peneliti, disadari atau tidak, telah melumpuhkan semangat meneliti di kalangan dosen. Mereka yang masih memiliki idealisme, lebih suka mengembangkan “naluri” keilmuannya ke luar negeri karena jaminan masa depan dan penghasilan yang jauh lebih menjanjikan. Situasi seperti itu secara berangsur-angsur membuat kampus kehilangan banyak dosen hebat dan berkelas. Imbas lebih lanjut, kampus tak ubahnya sebuah mesin penghasil sarjana yang kehilangan taji. Ribuan sarjana diproduksi setiap tahun, tetapi sumbangsihnya terhadap bangsa dan negara masih menimbulkan tanda tanya besar.

Dalam konteks demikian, keluarnya SE Dirjen Dikti tentang publikasi karya ilmiah jika dipaksakan dikhawatirkan hanya akan memunculkan “karya-karya ilmiah” sampah. Alih-alih calon sarjana, calon guru besar yang seharusnya menjadi teladan dalam menghasilkan karya ilmiah bermutu pun diduga masih tergoda untuk melakukan plagiasi. Belum lagi godaan politik yang saat ini ditengarai sudah gencar menyusup di tengah-tengah kampus. Jika situasinya demikian, haruskah SE Pak Dirjen Dikti itu masih terus dipaksakan, meski diyakini memiliki landasan filosofis yang amat rasional dalam meningkatkan gengsi dan marwah akademik di kalangan insan kampus? ***

Tulisan berjudul "Melempar “Bola Panas” Publikasi Karya Ilmiah" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (18 February 2012 @ 03:48) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Kiprah dan Peran XL dalam Melahirkan Sosok Pemimpin Masa Depan (Thursday, 14 June 2012, 30675 pembaca, 38 respon) Persembahan XL untuk Memajukan Negeri XL Meluncurkan Program XL Future Leaders “Berikan aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari...

Bu Ismi: Guru Besar yang Rendah Hati (Tuesday, 20 December 2011, 42401 pembaca, 46 respon) Nama lengkapnya Prof. Dr. Ismi Dwi Astuti Nurhaeni, M.Si. Namun, lebih suka disapa Bu Ismi. “Jangan sampai jabatan dan gelar menjadi penghalang...

Menanggapi Tuduhan sebagai Penjiplak (Thursday, 10 July 2008, 17944 pembaca, 69 respon) Selama tiga hari, aktivitas mengeblog saya agak terganggu karena kondisi kelelahan fisik yang memuncak. Usia di atas kepala 4, agaknya tak mau diajak...

Lingkaran Kekerasan dalam Institusi Pendidikan (Thursday, 19 June 2008, 17433 pembaca, 41 respon) Tragedi kekerasan di lembaga pendidikan yang berujung maut kembali terungkap. Beberapa waktu yang silam, Clift Muntu, seorang mahasiswa IPDN harus...

Cukup Satu Malin Kundang Saja! (Tuesday, 27 May 2008, 40251 pembaca, 64 respon) Baru saja kita menyaksikan sebuah adegan drama di atas panggung kehidupan sosial. Tragis dan ironis sekaligus. Tragis lantaran harus ada korban....

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

61 komentar pada "Melempar “Bola Panas” Publikasi Karya Ilmiah"

  1. maman says:

    moga aja kedepannya negara kita makin banyak para doktor dan praktisi keilmuan yang kompeten dibidangnya..

  2. lintang says:

    mungkin yang paling awal untuk diterapkan di sekolah-sekolah sekarang adalah hobi menulis karya ilmiah. hal ini lebih bermanfaat untuk masa depan lulusan sarjana.

  3. giewahyudi says:

    Nah, ini ada scan surat asli dari Dirjen Dikti.
    Semoga ini menjadi motivasi bagi para akademisi untuk lebih banyak menulis tentang keilmuannya..

  4. memang peneliti di Indonesia ni kurang dihargai,makanya banyak hasil penelitian yang justru dipublikasikan di luar negeri. Ini juga harus dipikirkan agar para peneliti berminat untuk publikasikan karya ilmiahnya di negeri sendiri.

  5. Sukajiyah says:

    Sebelum ada surat edaran itu pun sudah menjamur jasa/biro pembuatan skripsi dan tesis di kalangan kampus, jangan2 besok menjamur jasa publikasi jurnal dan publikasi ilmiah. Semoga saja tidak ya pak..

Leave a Reply