29Dec 2011 36 Comments1,532 pembaca
Kurikulum Tetap Sama Produknya
Catatan Pendidikan Akhir Tahun (Bagian II)
Selain persoalan UN yang masih silang-sengkarut, kurikulum juga menjadi perangkat pendidikan yang tak kalah memicu kontroversi. Sejak Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) diluncurkan oleh Mendiknas No. 22, 23, dan 24 Tahun 2006, hingga kini dinilai masih dalam tataran konsep. Implementasinya masih jauh dari harapan. Banyaknya “kurikulum tersembunyi” yang harus diintegrasikan ke dalam kurikulum pendidikan kita juga menimbulkan masalah tersendiri. Sebut saja, pendidikan karakter, nasionalisme, kesetaraan gender, atau tata tertib lalu lintas. Ibarat kereta, laju kurikulum pendidikan kita agak tersendat akibat banyaknya “penumpang titipan” sebelum masuk stasiun.
Dari sisi konsep, KTSP yang berbasis kompetensi sesungguhnya jauh lebih baik daripada kurikulum 1994 yang disempurnakan melalui suplemen tahun 1997. KTSP yang merupakan buah reformasi –seiring dengan digulirkannya otonomi pendidikan– didesain untuk memberikan kemandirian dan kebebasan kepada setiap satuan pendidikan (baca: sekolah) agar mampu berkreasi menyusun kurikulum yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan sekolah. Hal ini amat berbeda dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya yang “siap pakai”. Guru dan praktisi pendidikan hanya menjalankan kurikulum yang sudah didesain oleh orang pusat. Dengan kata lain, pada kurikulum sebelumnya, sekolah dan guru tak lebih dari sebuah robot yang dikontrol melalui remote komando yang dikendalikan oleh orang-orang pusat. Nah, dalam KTSP, sekolah dan guru dituntut bersikap kreatif untuk mendesain kurikulum sekolah yang sesuai dengan dinamika, kebutuhan, dan kondisi lokal.
Agaknya situasi transisi semacam itu menimbulkan kondisi “gegar budaya” dalam dunia persekolahan kita; dari situasi yang terbiasa taat komando, lantas dituntut kreatif untuk menyusun kurikulum sekolah sendiri. Dalam situasi transisi seperti itu, tidak sedikit sekolah yang “kelimpungan” mendesain kurikulum sendiri sehingga harus repot-repot mengadopsi kurikulum dari sekolah lain yang sudah lebih dulu menyusunnya. Model kopi-paste pun menjadi budaya baru dalam penyusunan kurikulum sekolah. Yang lebih mencemaskan, model kopi-pastenya “sungguh terlalu” sampai-sampai identitas sekolah “asal” tidak sempat di-delete dan diganti dengan identitas sekolahnya sendiri. Hal itu terungkap ketika dalam sebuah monitoring pelaksanaan kurikulum di sekolah A. Ketika tim monitoring melakukan pengecekan, ternyata footer dokumen I kurikulum yang dijadikan sebagai bukti fisik itu masih berlabelkan sekolah B.
Tidak berlebihan jika ada yang “memplesetkan” singkatan KTSP menjadi Kurikulum Tetap Sama Produknya. KTSP yang seharusnya menggambarkan karakteristik dan kultur sekolah justru terjadi duplikasi dokumen secara berjamaah. Kurikulum satu sekolah dengan sekolah lain sama sekali tidak ada perbedaannya. Padahal, mestinya kurikulum disusun melalui proses analisis konteks oleh tim pengembang kurikulum sekolah dengan melibatkan pemangku kepentingan yang ada, sehingga kurikulum yang dirancang benar-benar menggambarkan situasi, kondisi, dan kebutuhan sekolah secara nyata.
Dokumen II KTSP tentang silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) pun mengalami proses yang tidak jauh berbeda. Kopi-paste perangkat pembelajaran yang seharusnya sekadar dijadikan model, justru dikopi habis-habisan, termasuk tanda titik dan komanya. Ketika implementasi KTSP memasuki tahun pertama (sekitar tahun 2007), model kopi-paste agaknya masih bisa dimaklumi. Namun, ketika sudah memasuki tahun ketiga dan keempat model kopi-paste masih terus berlangsung, makin terbukti bahwa KTSP belum bisa membumi dalam dunia persekolahan kita. Idealnya, model kopi-paste alias tahap adopsi dilakukan pada tahun pertama dan kedua, tahun ketiga sudah masuk pada tahap adaptasi (KTSP sudah disesuaikan dengan sikon dan kebutuhan sekolah meskipun masih “berbau” kurikulum sekolah lain), sedangkan memasuki tahun keempat, KTSP benar-benar sudah memasuki tahap mandiri (KTSP murni disusun secara mandiri berdasar sikon dan kebutuhan sekolah).
Tahun 2012 sudah membentang di depan mata. Itu artinya, implementasi KTSP sudah memasuki tahun ke-5. Bahkan, kisi-kisi soal Ujian Nasional Tahun 2012 benar-benar sudah menggunakan Standar Isi (KTSP) dan tidak lagi menggunakan model irisan seperti UN tahun-tahun sebelumnya. Jika implementasi KTSP masih dalam tahap adopsi, masih terus meraba-raba, dan mencari-cari bentuk, kapan peserta didik kita menjadi cerdas dan berkarakter? Akan menjadi sebuah ironi apabila KTSP yang sudah saatnya memasuki siklus revisi lima tahunan, justru masih berjalan stagnan. Yang lebih ironis, KTSP sudah setengah windu diimplementasikan, tetapi upaya penyeragaman daya nalar dan pola pikir peserta didik melalui Ujian Nasional masih terus berlanjut. Duh, quo-vadis dunia pendidikan kita? ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Kurikulum Tetap Sama Produknya" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (29 December 2011 @ 00:13) pada kategori Edukasi dan telah dikunjungi oleh 1,532 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:














Dec 30, 2011 @ 16:06:01
Terimakaih informasinya mas sawali
Dec 30, 2011 @ 13:20:45
Kalau banyak kalangan pendidikan mengatakan KTSP sebagai Kurikulum Tetap Sama Produknya, saya yang bukan kalangan pendidikan, setelah baca kiriman Pak Sawali di atas kok jadi melihat KTSP itu sebagai Kurikulum Tidak Siap Pakai. Sejak 2006 diluncurkan kok sampai sekarang banyak sekolah belum mampu bikin kurikulum dan malah salin-menyalin dari kurikulum sekolah lain…
Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah tugas negara. Itu tidak boleh ada yang membantah. Sudah menjadi kewajiban negara untuk menyediakan pendidikan yang bermutu dan terjangkau bagi warga negara. Untuk urusan kurikulum ini, apabila memang yang diujinegarakan hanya mapel terntentu, sebaiknya Negara menyediakan kurikulum untuk mapel yang diujinegarakan. Untuk mapel yang lain, biarlah diserahkan ke daerah/sekolah sehingga setiap sekolah mampu membangun kompetensi yang unik sesuai karakter budaya daerah tersebut. Muatan-muatan titipan sebaiknya jangan dipaksakan.
Mengenai komersialisasi dunia pendidikan, yang sangat saya sayangkan adalah Negara (dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional — namanya benar nggak? Gonta-ganti bikin bingung…) seakan tutup mata melihat hal tersebut. Buat apa coba Anggaran Pendidikan sebesar 20% dari APBN? Konon jajaran Kemendikbudnas saja bingung mau menghabiskan anggaran itu caranya bagaimana? Ha mbok untu membiayai Pendidikan Dasar gratis total saja… Uang rakyat kembali ke rakyat gitu loh!
Maaf jadi curcol di sini, Pak.
Dec 31, 2011 @ 00:58:30
KTSP memang didesain tidak siap pakai, mas arif, hehe …. karena semuanya diserahkan ke sekolah. sekolah yang tidak siap, ya akhirnya sulit utk mengimplementasikannya. yang muncul adalah fenomena kopipes berjamaah itu. dengar2 kurikulum akan didesain seperti itu, mas arif, sehingga nanti sebagian ada mapel yang diurus pusat, provinsi, dan sekolah. tapi malah makin membingungkan karena hingga saat ini kepastian informasi itu belum ada. ttg penggunaan anggaran –kini kemendikbud– saya sepenuhnya sepakat utk pendidikan gratis kalau pada akhirnya banyak anggaran yang “mangkrak” lantaran bingung menghabiskannya.
Dec 30, 2011 @ 12:10:43
betul gan, kurikulum yang kita adopsi saat ini hanya memberikan kemungkinan2 yang tdk beretika bagi siswa.. adik2 tempat saya praktek sering menanyakan “bagaimana cara nya agar bisa lulus dr UN, di mana saya bisa mendapat bocoran soal, apa yang harus saya lakukan”. terkadang mereka melakukan segala hal hanya untuk lulus dr UN tersebut. ini membuat generasi bangsa lebih tidak berkarakter..
kunjungi jg blog cupu ane gan http://www.protechhakaisha.blogspot.com
Dec 31, 2011 @ 00:51:55
sungguh menyedihkan memang kalau imbas kurikulum malah sampai sejauh itu. ini artinya, kurikulum pendidikan kita memang belum sanggup membuat peserta didik jadi cerdas dan jujur.
Dec 30, 2011 @ 10:06:09
seperti tak punya pekerjaan lain selain membuat kurikulum.
hah
mampir rekan2 semua
ardiansyah-nomore.blogspot.com
saya juga sedang mencari refrensi untuk
lunrikasi mesin kendaraan roda dua
mohon bantuannya rekan semua
terimakasih dan salam kenal
Dec 31, 2011 @ 00:50:31
ketika KTSP diluncurkan, membuat kurikulum justru jadi kewajiban setiap sekolah, mas.
Dec 30, 2011 @ 09:42:54
Idem dengan Kang Wali juga Pak Deny.
jujur saya sendiri ikut merasakan ” klenger ” melihat mapelnya anak saya sendiri yang masih duduk di SMA kls 2.Di tambah lagi dengan banyaknya Buku2 tambahan yg katanya sebagai penunjang Kurikulum yang harus dimiliki siswa.
Dec 31, 2011 @ 00:46:23
bisa dibayangkan, ya, mas, betapa repotnya anak2 kalau pas ulangan harian bareng2.