Home » Sastra » Menggelorakan Semangat “Historia Vitae Magistra”

Menggelorakan Semangat “Historia Vitae Magistra”

Ada yang menarik dalam bedah Kumcer Nyanyian Penggali Kubur (NPK) karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) yang digelar Kebun Sastra Kendal di Balai Kesenian Remaja (BKR), Minggu, 11 Desember 2011, yang lalu. Seperti membuka luka lama, forum diskusi seperti tak sanggup menahan keperihan dan kepedihan. Diawali dengan pemutaran film dokumenter The Mass Grave Indonesia (2001-sutradara Lexy Junior Rambadeta) yang mengisahkan tentang penggalian jasad korban tragedi 1965 di Hutan Siturup, Desa Dempes, Kaliwiro, Wonosobo, Jawa Tengah yang difasilitasi oleh YPKP dan Solidaritas Anak Bangsa atas permintaaan Sri Muhayati –ahli waris salah seorang korban—dan pembacaan cerpen “Nyanyian Penggali Kubur”, imbas politik peristiwa Gestapu seperti hadir di tengah-tengah forum diskusi. Torehan dan luka batin yang timbul akibat tragedi 1965 kembali terbuka. Pak Sapuan, saksi dan korban kebiadaban rezim Orde Baru, mengungkapkan testimoninya dengan mata berkaca-kaca.

“Saya termasuk orang yang menjadi korban kekejaman penguasa saat itu. Untung saja ketika tragedi itu terjadi (baca: tahun 1965) umur saya baru 24 tahun, sehingga fisik saya masih kuat. Saya tidak tahu lagi apa yang akan terjadi seandainya umur saya sudah tua. Habis pulang dari laut, saya dijemput paksa oleh tentara, kemudian dijebloskan ke penjara tanpa melalui proses hukum,” tuturnya di depan puluhan peserta diskusi yang hadir. Karuan saja, suasana jadi hening. Ruang diskusi yang tertimpa gerimis dari luar membuat suasana makin mengharukan. Para peserta diskusi seperti tertohok ulu hatinya ketika menyimak penuturan lelaki usia 73 tahun yang ekspresif itu.

Suasana kian hening dan mengharukan ketika Kang Putu dengan dada tertahan mengungkapkan nasib keluarganya yang terkucilkan setelah ayahnya diseret ke penjara. Ibunya yang aktivis Gerwani pun tak luput jadi sasaran. Kang Putu yang saat itu masih kanak-kanak tak sanggup melupakan peristiwa pahit itu hingga bertahun-tahun lamanya. Hampir setiap saat pada masa kecilnya, dia menyaksikan aliran bengawan yang coklat kehitaman penuh dengan puluhan mayat yang tidak utuh lagi. Sedemikian kuatnya tikaman luka itu hingga dia tak tahu lagi harus berbuat apa agar jiwa dan batinnya tenang dan tak lagi dihantui trauma berkepanjangan.

“Setiap kali ketemu dengan teman-teman cerpenis, seperti S. Prasetyo Utomo, Triyanto Triwikromo, atau Budi Maryono, selalu saya kisahkan peristiwa tragis itu agar ditulis ke dalam sebuah cerpen. Namun, setiap kali saya tagih, mereka selalu menjawab tidak sanggup,” kenangnya. “Karena itu, sebisanya saya berusaha untuk mengabadikannya melalui cerpen-cerpen buatan saya sendiri. Cerpen-cerpen tersebut, bagi saya, merupakan bentuk katharsis saya agar secara perlahan-lahan bisa melupakan peristiwa pahit itu,” lanjutnya.

bedah kumcerbedah kumcerbedah kumcerbedah kumcerbedah kumcerbedah kumcerbedah kumcerbedah kumcer

Suasana ketika Bedah Cerpen Kumcer Nyanyian Penggali Kubur berlangsung di Balai Kesenian Remaja Kendal (Minggu, 11 Desember 2011)

Untuk melengkapi kesaksian dan testimoni, Muchlisin, guru sejarah SMAN 2 Kendal, mengungkapkan tentang latar belakang tragedi 1965 itu dari sisi historis dengan mengambil setting daerah Blora dan Purwodadi. Sementara itu, saya yang juga didaulat untuk membedah cerpen dari sisi kesastraan, mencoba menawarkan alternatif untuk menghadirkan “Nyanyian Penggali Kubur” di ruang kelas. Di tengah atmosfer dunia pendidikan yang tengah terancam proses involusi budaya dan terus dikepung oleh kepalsuan-kepalsuan sejarah, tidak ada salahnya jika NPK dihadirkan ke ruang-ruang kelas sebagai bahan ajar. Kebudayaan kita, diakui atau tidak, telah kehilangan daya rem moral dan hanya menyisakan asesoris lahiriah yang sering terpolitisasi. Dalam konteks demikian, kesadaran kolektif bangsa untuk menguak kebenaran-kebenaran sejarah otentik perlu terus digencarkan dan dibumikan melalui institusi pendidikan.

Suasana diskusi kian menarik ketika moderator melemparkan sesi tanya-jawab kepada audiens. Meski demikian, hanya beberapa pertanyaan saja yang langsung terkait dengan topik diskusi untuk membedah Kumcer NPK. Selebihnya, membidik peristiwa tragis yang telah menelan banyak tumbal. Bahkan, ada juga yang mempertanyakan tentang perbedaan antara komunisme dan atheisme yang selama ini sering dicampuradukkan.

Menanggapi beberapa respons audiens, Pak Sapuan kembali menegaskan bahwa ideologi komunis yang berasal dari kata komunal sejatinya berupaya untuk menghilangkan kekerasan manusia atas manusia yang lain. Persoalan komunis ditafsirkan sebagai atheis itu terserah mereka yang menafsirkan. “Toh para penganut ideologi komunis banyak juga yang rajin shalat dan pintar baca al-Quran,” tegasnya.

Sementara itu, Kang Putu menegaskan bahwa ia menulis cerpen-cerpen itu agar dia bisa berdamai dengan masa lalu, mampu menghapus dendam dan kebencian. “Jujur saja, saya selalu emosional dan capek ketika ingat peristiwa-peristiwa tragis itu. Saya tidak pernah punya pretensi untuk menjadikan cerpen-cerpen saya sebagai upaya untuk meluruskan sejarah. Untuk apa sejarah dilurus-luruskan kalau pada akhirnya sejarah bisa demikian mudah dibengkok-bengkokkan oleh penguasa. Pelurusan sejarah merupakan tugas sejarawan semacam Anhar Gonggong, Aswi Marwan Adam, atau Muchlisin,” katanya.

Bagi Kang Putu, cerpen-cerpennya dibaca dan diapresiasi orang sudah lebih dari cukup setelah semua keluarganya dihadirkan dan merestui peluncurannya di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang beberapa waktu yang lalu. “Kalau keluarga saya tidak mengizinkannya, maka saya pun minta kepada penerbit untuk tidak memasarkannya. Saya yang akan mengganti ongkos produksinya,” sambungnya. Dia menegaskan bahwa jangan sampai kekerasan terus terjadi dan berulang hanya karena perbedaan agama, keyakinan, suku, atau ideologi. Diskusi yang dimulai pukul 10.00 WIB itu pun berakhir pukul 13.00 WIB setelah Prof. Mujahirin Thohir –dosen sejarah UNDIP yang menyempatkan hadir– menyampaikan pernyataan penting bahwa kita semua perlu kembali kepada “fitrah” manusia untuk mencintai sesamanya.

Ya, ya, meski secara langsung tidak mampu melakukan sebuah perubahan, setidaknya bedah cerpen siang itu mampu membuka ingatan kolektif bangsa bahwa di negeri ini pernah terjadi pembantaian dan pembiadaban secara politis terhadap orang-orang yang dicurigai terlibat dalam tragedi Gestapu dan rezim Orde baru dengan amat sadar melakukan propaganda politik dengan memberikan stigma buruk terhadap anak-cucu para korban. Sudah saatnya negeri ini kembali menggelorakan semangat “Historia vitae Magistra” –sejarah adalah guru kehidupan– agar tragedi kemanusiaan itu tidak kembali terulang. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Menggelorakan Semangat “Historia Vitae Magistra”" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (12 Desember 2011 @ 02:46) pada kategori Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 12 komentar dalam “Menggelorakan Semangat “Historia Vitae Magistra”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *