Home » Esai » Sastra » Menghadirkan “Nyanyian Penggali Kubur” di Ruang Kelas

Menghadirkan “Nyanyian Penggali Kubur” di Ruang Kelas

Menghadirkan Nyanyian Penggali Kubur di Ruang Kelas *)
Oleh Sawali Tuhusetya

NPKIbarat cermin retak, sejarah di negeri ini sudah tidak mampu lagi memantulkan kebenaran-kebenaran faktual. Sejarah bisa demikian mudah ditafsirkan secara sepihak oleh penguasa. Sejarah yang seharusnya menjadi sesuatu yang niscaya untuk membangun grand-design sebuah bangsa yang berperadaban tinggi telah tereduksi oleh penafsiran-penafsiran naif sang penguasa. Kemudian, atas nama kebenaran sejarah, proses “pencucian otak” anak-anak bangsa terus berlangsung dari generasi ke generasi. Melalui buku-buku sejarah –yang dijadikan sebagai rujukan baku di berbagai institusi pendidikan— anak-anak bangsa negeri ini dilatih dan dibekuk ala pelatihan binatang sirkus untuk meyakini kebenaran “dogmatis” dan komando yang diteriakkan secara masif oleh penguasa. Walhasil, bertahun-tahun lamanya, anak-anak bangsa negeri ini dibutakan mata batinnya dari kebenaran sejarah hakiki.

Beruntung negeri ini masih menyisakan ruang untuk berekspresi. Para pelaku, saksi, dan korban “pembiadaban” sejarah –yang sudah muak terhadap kepalsuan dan kemunafikan– masih memiliki kejernihan nurani untuk menyuarakan kebenaran sejarah otentik melalui karya-karya literer yang sarat dengan sentuhan nilai kemanusiaan. Melalui kepekaan intuitifnya, para pengarang berupaya membangkitkan kesadaran kolektif bangsa terhadap nilai-nilai kebenaran yang dengan amat sadar sengaja dikaburkan dan digelapkan oleh kekuasaan tirani yang membangun tahtanya dengan luka, air mata, darah, dan nyawa.

Martin Aleida adalah salah seorang cerpenis yang dengan amat sadar pula melawan pemalsuan sejarah tentang tragedi 1965 melalui kisah-kisah humanismenya dengan gaya tuturnya yang lugas dan bergaya realis (realisme sosial) yang memikat. Mati Baik-baik, Kawan (Akar Indonesia, 2009) kumpulan cerpen karyanya, misalnya, dengan amat jelas membidik prahara politik 1965 sebagai tema sentral untuk mengungkap sisi kelam sejarah yang melumpuhkan akal sehat bangsa. Ia tak henti-hentinya mengeksplorasi kisah dan kesaksiannya untuk melawan kepalsuan sejarah yang dijustifikasi sebagai sebuah kebenaran versi rezim yang berkuasa mulai kisah “Mangku Mencari Doa di Daratan Jauh” hingga “Ratusan Mata di Mana-mana”.

Demikian juga dengan Gunawan Budi Susanto. Melalui Kumcer terbarunya, Nyanyian Penggali Kubur (NPK) yang diterbitkan oleh Gigih Pustaka Mandiri (Agustus 2011) –dalam penafsiran awam saya– juga lahir atas kesadaran intuitifnya untuk mengeksplorasi kisah-kisah tragis yang dialami para pelaku, saksi, dan korban pembiadaban kemanusiaan yang dengan amat sadar dilakukan oleh antek-antek penguasa untuk menghilangkan jejak sejarah otentik negeri ini. “Metamorfosis Kecemasan”, “Dalam Kubur, Mereka Berdampingan”, “Mbok Nah, Tong, dan Sayur Bayam”, “Seruling Pakde Mitro”, “Eksekusi”, “Langit Gelap, Tanpa Bintang”, dan “Nyanyian Penggali Kubur” adalah dedahan kisah memilukan, menyerikan, sekaligus mengharukan.

NPK menarik bukan semata-mata lantaran kekuatan literer-nya, melainkan juga kekuatan historisnya yang begitu kuat dan nyata. Bagaikan sebuah mozaik, cerpen-cerpen dalam NPK menyajikan kepingan-kepingan jiwa yang terluka akibat kebiadaban rezim penguasa. Mereka yang dianggap terlibat, tanpa ampun, tanpa melalui proses pengadilan, dengan amat sadar disingkirkan, dilukai, dieksekusi, dan dibunuh. Bahkan, anak keturunannya yang sama sekali tak berkaitan dengan peristiwa “pembiadaban” itu dengan sengaja diberikan stigma buruk hingga beberapa generasi. Gunawan BS, dalam peristiwa tragis itu, tak hanya sebagai saksi, tetapi juga sekaligus korban. Itulah sebabnya, nilai historis dalam NPK mengandung nilai kesahihan sejarah yang jauh lebih jernih ketimbang buku-buku sejarah yang lebih sering didesain untuk berpihak kepada rezim yang tengah berkuasa atau liputan berita media pada zamannya yang tetap saja gagal menyuguhkan fakta-fakta elaboratif yang sesungguhnya.

NPK mampu menyuguhkan “fakta” dalam fiksi yang jauh lebih konkret. Kita menyaksikan tokoh semacam Pakde Mitro yang nggendheng setelah dia terlempar dan tercerabut dari akar keluarga dan sosialnya akibat stigma buruk yang terus disandangnya, berbagai perilaku keseharian para serdadu yang bengis pada zamannya, dan manusia-manusia yang tersisih akibat stigma yang terus dijadikan sebagai media teror sosial politik untuk menghabisi orang-orang yang dianggap terlibat dalam tragedi 1965.

Sebagai korban, Gunawan BS agaknya tak bisa melupakan peristiwa-peristiwa yang nyeri dan meyesakkan dada itu. Ia begitu detil menguliti peristiwa demi peristiwa dengan sentuhan nilai humanisme yang kental. Sungguh, cerpen-cerpen yang, sadar atau tidak, telah membuat pembacanya serasa dipukul palu godam dan teriris-iris nuraninya oleh pisau sejarah yang penuh luka dan darah.
***

Di tengah atmosfer dunia pendidikan yang tengah terancam proses involusi budaya dan terus dikepung oleh kepalsuan-kepalsuan sejarah, tidak ada salahnya jika NPK dihadirkan ke ruang-ruang kelas sebagai bahan ajar. Kebudayaan kita, diakui atau tidak, telah kehilangan daya rem moral dan hanya menyisakan asesoris lahiriah yang sering terpolitisasi. Dalam konteks demikian, kesadaran kolektif bangsa untuk menguak kebenaran-kebenaran sejarah otentik perlu terus digencarkan dan dibumikan melalui institusi pendidikan.

Melalui tokoh semacam Pakdhe Mitro atau sang penggali kubur, misalnya, secara tidak langsung para peserta didik akan tersentuh kepekaan nuraninya untuk belajar berempati terhadap derita orang lain. NPK mampu menghadirkan sejarah secara nyata tanpa harus terjebak ke dalam hafalan-hafalan yang pada kenyataannya hanya membuat peserta didik menjadi robot peradaban. Mereka hafal angka-angka tahun, tetapi tidak pernah bisa menyelami nasib hidup kaum tertindas yang terus dibebani stigma buruk secara turun-temurun.

Sebagai “sastra kesaksian” –meminjam istilah Martin Aleida– tentu saja Gunawan BS tak sekadar mengalihkan fakta ke dalam bentuk fiksi. Sebagai sebuah genre cerpen, NPK telah mengalami proses pengendapan, transfigurasi, dan sentuhan imajinasi khas sang pengarang, sehingga bisa lebih menukik dan jauh menyusup ke kedalaman perenungan dan refleksi diri. Suasana kekejaman, kebengisan, kebiadaban, kemunafikan, atau kegetiran hidup tidak lagi terasa vulgar, tetapi justru mampu menghadirkan suasana yang lebih indah dan subtil. Teks-teks semacam inilah yang langka hadir di ruang-ruang kelas. Buku-buku teks yang ada hanya menghadirkan angka-angka, rumus-rumus, dan tahun-tahun sejarah yang mesti dihafalkan hingga akhirnya ruang kelas gagal melahirkan generasi masa depan yang cerdas dan berkarakter.

Ketika belajar di ruang kelas, idealnya anak-anak negeri ini bukan hanya “bagaimana belajar sejarah”, melainkan “bagaimana belajar dari sejarah” sehingga mampu menemukan nilai-nilai kearifan hidup yang akan sangat bermakna dalam upaya membangun peradaban bangsa yang jauh lebih terhormat, bermartabat, dan berbudaya. Nah, selamat berdiskusi! ***

*) Disajikan dalam Diskusi Kumpulan Cerpen Nyanyian Penggali Kubur karya Gunawan Budi Susanto yang digelar oleh Kebun Sastra di Balai Kesenian Remaja, Kendal (Minggu, 11 Desember 2011)

tentang blog iniTulisan berjudul "Menghadirkan “Nyanyian Penggali Kubur” di Ruang Kelas" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (11 Desember 2011 @ 03:58) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 25 komentar dalam “Menghadirkan “Nyanyian Penggali Kubur” di Ruang Kelas

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *