Home » Cerpen » Sastra » Gunawan Budi Susanto, Nyanyian Penggali Kubur, dan Jiwa yang Terluka

Gunawan Budi Susanto, Nyanyian Penggali Kubur, dan Jiwa yang Terluka

250Gunawan Budi Susanto, yang lebih akrab disapa “Putu”, baru saja meluncurkan kumpulan cerpen (Kuncer) terbarunya berjudul Nyanyian Penggali Kubur (NPK). Kumcer yang diterbitkan oleh Gigih Pustaka Mandiri, Agustus 2011 ini memuat tujuh cerpen, yakni “Metamorfosis Kecemasan”, “Dalam Kubur, Mereka Berdampingan”, Mbok Nah, Tong, dan Sayur Bayam”, “Seruling Pakde Mitro”, “Eksekusi”, “Langit Gelap, Tanpa Bintang”, dan “Nyanyian Penggali Kubur”.

Belakangan ini, Kumcer karya cerpenis kelahiran Padangan (Bojonegoro, Jatim), 11 Juli 1961 ini tengah “laris manis” dibedah di berbagai forum dan komunitas sastra di Jawa Tengah. Komunitas Sastra Kendal pun tak luput mengapresiasinya. Minggu, 13 November 2011, Komunitas Lereng Medini telah mengawalinya dengan membedah Kumcer tersebut di Pondok Maos Guyub, Bebengan, Boja, Kendal. Jika tak ada aral melintang, Komunitas Kebun Sastra Kendal juga akan menggelar event yang sama pada hari Minggu, 11 Desember 2011, di Balai Kesenian Remaja (BKR) Kendal. Kemudian, Selasa, 13 Desember 2011, MGMP Bahasa Indonesia SMP Kabupaten Kendal, Kang Putu bersama Budi Maryono, sengaja diundang untuk menyajikan Pelatihan Penulisan Kreatif bagi Guru Bahasa Indonesia SMP, termasuk “menguliti” proses kreatif Kang Putu ketika menulis cerpen-cerpennya yang terkumpul dalam NPK.

250NPK menarik untuk didiskusikan bukan semata-mata lantaran kekuatan literer-nya, melainkan juga kekuatan historisnya yang begitu kuat dan nyata. Bagaikan sebuah mozaik, cerpen-cerpen dalam NPK menyajikan kepingan-kepingan jiwa yang terluka akibat kebiadaban rezim yang berkuasa pasca-Gestapu. Mereka yang dianggap terlibat, tanpa ampun, tanpa melalui proses pengadilan, dengan amat sadar disingkirkan, dilukai, dieksekusi, dan dibunuh. Bahkan, anak keturunannya yang sama sekali tak berkaitan dengan peristiwa “pembiadaban” itu dengan sengaja diberikan stigma buruk hingga beberapa generasi. Kang Putu, dalam peristiwa tragis itu, tak hanya sebagai saksi, tetapi juga sekaligus korban. Itulah sebabnya, nilai historis dalam NPK mengandung nilai kesahihan sejarah yang jauh lebih jernih ketimbang buku-buku sejarah yang lebih sering didesain untuk berpihak kepada rezim yang tengah berkuasa atau liputan berita media pada zamannya yang tetap saja gagal menyuguhkan fakta-fakta elaboratif yang sesungguhnya.

NPK mampu menyuguhkan “fakta” dalam fiksi yang jauh lebih konkret. Kita menyaksikan tokoh semacam Pakde Mitro yang nggendheng setelah dia terlempar dan tercerabut dari akar keluarga dan sosialnya akibat stigma buruk yang terus disandangnya, berbagai perilaku keseharian para serdadu yang bengis pada zamannya, dan manusia-manusia yang tersisih akibat stigma yang terus dijadikan sebagai media teror sosial politik untuk menghabisi orang-orang yang dianggap terlibat dalam tragedi 1965.

Sebagai korban, Kang Putu agaknya tak bisa melupakan peristiwa-peristiwa yang nyeri dan meyesakkan dada itu. Ia begitu detil menguliti peristiwa demi peristiwa dengan sentuhan nilai humanisme yang kental. Sungguh, cerpen-cerpen yang, sadar atau tidak, telah membuat pembacanya serasa dipukul palu godam dan teriris-iris nuraninya oleh pisau sejarah yang penuh luka dan darah. Kami tunggu kehadiran Sampeyan di Kendal, Kang Putu. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Gunawan Budi Susanto, Nyanyian Penggali Kubur, dan Jiwa yang Terluka" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (9 Desember 2011 @ 00:27) pada kategori Cerpen, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 15 komentar dalam “Gunawan Budi Susanto, Nyanyian Penggali Kubur, dan Jiwa yang Terluka

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *