Tahun Baru Hijrah dan Semangat Perubahan

Kategori Pendidikan Oleh
Catatan Sawali Tuhusetya

Oleh: Sawali Tuhusetya

Setiap pergantian tahun menjelang, setidaknya ada dua hal penting yang perlu dimaknai. Pertama, melakukan refleksi berdasarkan peristiwa dan pengalaman hidup setahun silam. Kedua, menentukan langkah perubahan untuk setahun mendatang. Ya, ya, tahun baru memang senantiasa membawa semangat perubahan. Pertautan antara peristiwa masa silam dan apa yang akan terjadi setahun mendatang merupakan sebuah siklus kehidupan yang mesti dilalui. Peristiwa masa lalu menjadi sebuah pengalaman berharga sebagai “modal” kehidupan untuk menjalani dinamika hidup pada tahun-tahun mendatang.

Dalam situasi “transisi” semacam itu banyak komunitas dan kelompok masyarakat tertentu yang menggelar berbagai agenda malam tirakatan atau doa bersama sebagai pengejawantahan sikap religius yang diyakini akan mampu menumbuhkan kekuatan baru untuk memasuki tahun baru. Bahkan, tak jarang orang menempuh berbagai “laku” spiritual untuk mendapatkan “kekuatan” baru guna menumbuhkan semangat dan optimisme hidup. Meski secara rasional seringkali laku-laku spiritual, semacam kungkum, nyepi, dan semacamnya, dinilai tidak logis dan “nyleneh”, namun sebagian orang memaknainya sebagai sebuah “sugesti” untuk menumbuhkan semangat perubahan itu.Tradisi dan laku spiritual semacam itu memang tidak harus dipahami secara sempit sebagai sebuah kelatahan budaya. Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam memasuki momen pergantian tahun. Nah, bagaimana cara Sampeyan menyambut Tahun Baru 1433 Hijrah?

Terlepas dari cara dan laku penyambutan apa pun yang kita lakukan, semoga Tahun Baru 1433 Hijrah benar-benar membawa semangat perubahan dan menjadi sebuah “entry point” untuk menggapai masa depan yang lebih baik. Nah, selamat memasuki Tahun Baru 1433 Hijriyah, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada kita semua sebagai khalifah di muka bumi. ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Pendidikan

Go to Top