Home » Opini » Memacu “Adrenalin” Guru dalam Menulis

Memacu “Adrenalin” Guru dalam Menulis

Kamis, 17 November 2011, Harian Warta Jateng bekerja sama dengan IKIP PGRI Semarang menggelar wokshop bertajuk “Guru Kreatif, Guru Menulis”. Acara yang berlangsung di Kampus II IKIP PGRI Semarang, Jalan Sriwijaya 29 Semarang ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Sulistyo (Ketua Pengurus Besar PGRI), Sawali Tuhusetya (Wakil Ketua Agupena Jawa Tengah), dan Sigit Setiyono (Redaktur Warta Jateng). Acara yang digelar dalam rangka menyongsong Hari Guru Nasional yang diikuti sekitar 60-an guru dari berbagai daerah di Jawa Tengah ini berlangsung pukul 09.30-15.00 WIB.

Workshop yang juga dihadiri oleh Rektor IKIP PGRI Semarang, Muhdi, S.H. M.Hum, ini diharapkan mampu memacu “adrenalin” guru dalam menulis. Lebih-lebih pada tahun 2013 nanti kabarnya akan diluncurkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya yang mewajibkan guru yang ingin naik pangkat ke golongan III-C ke atas untuk mengumpulkan angka kredit Pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB), yang meliputi angka kredit pengembangan diri, publikasi ilmiah, atau karya inovatif. Ini artinya, mau atau tidak, seorang guru mesti mengakrabi dunia kepenulisan.

Berikut adalah makalah yang saya sajikan dalam workshop tersebut.

Guru Kreatif, Guru Inspiratif, Guru Menulis *)

Oleh: Sawali

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”(Pramoedya Ananta Toer)

Guru merupakan profesi yang dinamis. Ia terus berkembang seiring dengan peradaban yang memolanya. Ranah tugas seorang guru idealnya tidak lagi dibatasi tembok-tembok ruang kelas, tetapi harus sudah mampu merambah ke “dunia lain”; dunia yang akan terus melecutnya menjadi sosok inspiratif; sosok yang mampu mengilhami peserta didik menjadi generasi masa depan yang cerdas, baik secara intelektual, emosional, spiritual, maupun sosial.

workshopworkshopwswsDi tengah rumit dan kompleksnya situasi peradaban yang kian mengarah pada atmosfer global, peran guru jelas makin sarat tantangan. Ia tidak hanya dituntut untuk mentransfer setumpuk ilmu dan teori kepada siswa didik, tetapi diharapkan juga mampu menorehkan tinta sejarah dalam ornamen peradaban. Ia tidak harus terjebak menjadi guru kurikulum yang hanya menjadikan murid sebagai “tong sampah” ilmu pengetahuan, tetapi juga mampu menjalankan peran kemanusiaannya sebagai guru inspiratif dalam kurikulum kehidupan yang sesungguhnya. Peran kemanusiaan itu mewujud dalam sebuah aksi pemikiran kreatif, kritis, cerdas, dan mencerahkan melalui tulisan sebagai media beraktualisasi dan katarsis diri di tengah meruyaknya berbagai fenomena hidup dan kehidupan yang kian anomalis, bar-bar, dan korup.

Bertahun-tahun lamanya, guru dininabobokan oleh adagium “pahlawan tanpa tanda jasa” yang –disadari atau tidak—telah melumpuhkan daya kreativitas guru sebagai pionir perubahan. Guru menjadi profesi yang monoton dan miskin dinamika. Ia terjebak menjadi “tukang ajar” untuk melahirkan generasi “anak mami” sesuai pesanan penguasa. Alih-alih menulis, diskusi dan orasi pun tak lebih hanya sekadar menyuarakan kebijakan penguasa sebagai manifestasi sikap pengabdian dan monoloyalitas terhadap atasan. Tidak berlebihan apabila aktivitas menulis makin jauh dari sentuhan perhatian seorang guru. Imbasnya, dunia pendidikan kita makin stagnan; terjebak dalam ruang hampa dan kamuflase akademik, sehingga gagal mengilhami peserta didik menjadi generasi masa depan yang cerdas dan luhur budi. Tugas keseharian guru tak lebih sekadar menyiapkan silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), implementasi pembelajaran yang miskin inovasi, atau penilaian yang sarat rekayasa.

Guru –meminjam bahasa Pramoedya Ananta Toer– boleh pandai setinggi langit, tetapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Ini artinya, sehebat apa pun guru terampil mengajar, peran kemanusiaannya tidak bisa ditunaikan dengan baik sepanjang mereka tidak mengakrabi dunia kepenulisan. Mereka hanya dikenal sebagai tukang ajar yang menerapkan kurikulum sekolah secara sempit dan belum sanggup berkiprah sebagai guru inspiratif yang menerapkan kurikulum kehidupan yang sesungguhnya. Dalam konteks demikian, menulis sejatinya merupakan “fitrah kemanusiaan” seorang guru sebagai agen pembelajaran yang harus terus-menerus memberikan pencerahan di tengah dinamika zaman.

Meskipun demikian, menulis saja tidak cukup. Perlu ada upaya serius untuk memublikasikannya melalui media cetak. Naskah tulisan yang hanya tersimpan di laci tak akan banyak maknanya bagi guru untuk beraktualisasi dan menemukan katarsis diri.

Guru Menulis, Apa Untungnya?
Setidaknya ada enam keuntungan yang bisa didapatkan oleh seorang guru yang aktif menulis dan berhasil menembus media cetak. Pertama, popularitas. Melalui tulisan, seorang guru mampu menyuguhkan pemikiran-pemikiran kritis dan kreatif kepada publik dengan jangkauan yang (nyaris) tak terbatas. Semakin banyak tulisan yang sukses menembus media cetak, nama sang penulis juga akan makin pupuler dan mendapatkan tempat tersendiri di mata pembaca. Dengan demikian, guru yang membudayakan aktivitas menulis akan mampu membangun opini publik terhadap persoalan-persoalan pendidikan yang hingga saat ini masih sarat dengan beban masalah.

Kedua, profesionalisme. Secara langsung, sebuah tulisan memang tidak bisa memberikan manfaat praktis terhadap peningkatan mutu proses pembelajaran dan bisa menyihir generasi masa depan negeri ini menjadi sosok yang cerdas dan berkarakter. Namun, secara tidak langsung, tulisan bisa dijadikan sebagai media untuk memberikan asupan dan nutrisi batin bagi guru yang bersangkutan dalam meningkatkan kompetensi dirinya. Jika dikaitkan dengan peran guru sebagai agen pembelajaran, aktivitas menulis telah menyentuh naluri seorang guru untuk membebaskan mitos peserta didik sebagai robot yang hanya bisa menjalankan perintah dan taat pada komando. Peserta didik adalah potret generasi masa depan yang harus bisa menentukan jalan hidupnya secara cerdas dan kreatif, hingga kelak mereka bukan menjadi beban bangsa, melainkan justru menjadi “katalisator” yang mampu memadukan kekuatan, baik di dalam dirinya maupun di luar dirinya, hingga sanggup melahirkan potensi dahsyat untuk melakukan sebuah perubahan.

Ketiga, aktualisasi diri. Secara internal, tulisan bisa dijadikan sebagai media untuk beraktualisasi diri. Melalui opini yang disajikan dalam sebuah tulisan, gagasan-gagasan kreatif seorang guru makin memperkokoh posisi dan legitimasi sosialnya di mata publik sehingga sosok guru makin terhormat dan bermartabat. Sebagai praktisi yang merasakan denyut kehidupan dunia pendidikan secara langsung, gagasan-gagasan kreatif dan orisinil dari seorang guru sangat dibutuhkan untuk membangun desain pendidikan yang lebih mencerdaskan dan mencerahkan. Opini guru yang terkemas dalam sebuah tulisan di media cetak makin melengkapi berbagai diskursus pendidikan yang mencuat di berbagai media.

Keempat, katarsis diri. Sebagai sosok yang berdiri di garda depan dalam dunia pendidikan, guru jelas sangat memahami silang-sengkarutnya dunia pendidikan yang hingga kini belum sanggup melahirkan generasi yang cerdas dan berkarakter. Ironisnya, guru tak jarang dituding sebagai biang penyebab rendahnya mutu pendidikan. Dalam situasi demikian, tulisan bisa dijadikan sebagai media katarsis diri untuk menyuarakan beban kegelisahan yang mengerak dalam ruang batin sang guru. Menumpuknya problem pendidikan, mulai dari Ujian Nasional, sertifikasi guru, kurikulum, limbah politik lokal pasca-otonomi daerah, hingga implementasi pembelajaran yang dinilai miskin inovasi, sesungguhnya bisa menjadi bahan tulisan yang menarik bagi seorang guru.

Kelima, mengasah kepekaan. Guru abad ke-21 tidak cukup hanya menjadi guru kurikulum yang menafsirkan kurikulum semacam “kitab suci” yang monotafsir. Ia perlu menjadi guru inspiratif yang mampu menerjemahkan kurikulum secara multidimensional. Guru perlu menjadi elemen bangsa yang memiliki kepedulian untuk ikut memperbaiki nasib bangsanya dengan memosisikan diri sebagai sumber inspirasi bagi banyak kalangan melalui sebuah tulisan. Melalui tulisan, guru akan terus terasah kepekaannya dalam menyuarakan berbagai problem pendidikan sehingga mampu berkiprah dalam menggerakkan dinamika pendidikan sesuai dengan tuntutan peradaban dan kebutuhan masa depan.

Keenam, finansial. Ini merupakan keuntungan lain yang bisa didapatkan seorang guru di balik jerih-payahnya menekuni dunia kepenulisan. Saat ini media cetak sangat menghargai tulisan karya guru yang dinilai kreatif, inovatif, dan orisinil. Rubrik media cetak pun terbuka luas bagi seorang guru untuk berkarya. Honor tulisan yang didapatkan lebih dari cukup untuk terus memacu adrenalin kepenulisan, termasuk membeli buku-buku yang dibutuhkan. Selain itu, guru yang aktif menulis akan mampu memuluskan langkahnya dalam menapaki jenjang karier, terutama kewajiban untuk memenuhi angka kredit pengembangan keprofesian berkelanjutan,  yang dinilai menjadi momok dan beban guru.

Kiat Menembus Media: Sebuah Testimoni
Menulis merupakan sebuah proses. Ia tidak hadir di ruang hampa, tanpa upaya untuk meraihnya. Seorang guru sesungguhnya sudah memiliki modal yang lebih dari cukup untuk menulis. Dalam keseharian, mereka sudah biasa melakukannya, entah menyusun silabus, RPP, proposal kegiatan sekolah, atau laporan kegiatan sekolah. Yang belum biasa dilakukan oleh sebagian besar rekan sejawat adalah keberanian menguji nyali untuk mendedahkan gagasan-gagasan kreatif dan kritis kepada publik melalui tulisan di media cetak. Selain itu, sebagian rekan sejawat juga gampang runtuh nyalinya ketika tulisan yang dikirimkan selalu ditolak redaksi.

Tulisan apa pun, termasuk tulisan di media cetak, sangat ditentukan kualitasnya oleh dua unsur utama, yakni isi dan bahasa. Dua unsur utama ini saling berkelindan dalam membangun struktur sebuah tulisan di media cetak (baca: koran). Sebagus apa pun isi tulisan jika tidak dikemas dengan bahasa yang menarik dan komunikatif, nasibnya akan berujung ke keranjang sampah. Demikian juga sebaliknya, sehebat apa pun bahasa yang digunakan dalam sebuah tulisan, tetapi miskin isi, nasibnya juga setali tiga uang. Struktur tulisan di media cetak memang sangat berbeda dengan tulisan pada umumnya. Selain isinya memiliki “nilai jual”, tulisan di media cetak mesti dikemas dengan bahasa yang memiliki tingkat keterbacaan tinggi. Hal ini bisa dipahami sebab segmen pembaca media cetak pada umumnya lintas-usia, lintas-pendidikan, dan lintas-budaya.

Setidaknya ada beberapa kiat yang bisa ditempuh agar tulisan seorang guru sukses menembus media cetak. Pertama, mengenal karakter media. Setiap media cetak pada umumnya menerapkan kebijakan dan standar penulisan yang berbeda-beda. Seringkali isi dan bahasa sebuah tulisan yang cukup terjaga kualitasnya gagal menembus media cetak karena dinilai tidak sejalan dengan kebijakan redaksi. Seorang guru yang tergerak hatinya untuk menulis di media cetak perlu memperkuat daya jelajahnya dalam membaca, menyelami karakter media cetak, dan melakukan komparasi gaya tulisan lintas-media, sehingga memiliki banyak kemungkinan untuk menghasilkan tulisan khas yang sesuai dengan “selera” media yang bersangkutan. Hal ini penting dilakukan, sebab setiap media memiliki kebijakan dan standar penulisan yang berbeda-beda.

Kedua, membuat kliping artikel media. Aktivitas ini sering diabaikan oleh rekan-rekan sejawat yang terburu-buru ingin meraih popularitas. Selain untuk mengenal karakter dan gaya tulisan media cetak, kliping artikel bisa dijadikan sebagai rujukan dan sekaligus menjaga atmosfer kepenulisan. Dengan banyak membaca artikel yang ter-kliping rapi, kita bisa mengadaptasi gaya para penulis media cetak yang sudah punya nama. Tentu saja, jangan sampai terjebak menjadi seorang plagiator yang latah meniru gaya tulisan seorang penulis besar, apalagi melakukan kopi-paste tulisan karya orang. Sesekali, buatlah perbandingan antara gaya tulisan kita dengan tulisan penulis lain yang dijadikan sebagai “kiblat” kepenulisan. Mungkin di sana kita menemukan sebuah pencerahan bagaimana seharusnya seorang penulis mengemas data, menyajikan argumen, menyusun deskripsi, atau membangun persuasi.

Ketiga, mencermati trend isu yang dikembangkan media tertentu. Isu yang tengah menjadi sorotan media bisa dijadikan sebagai sumber inspirasi untuk mengemas tulisan yang sesuai dengan karakter media yang bersangkutan. Selain untuk menjaga agar tulisan tidak basi, mengangkat trend isu dalam sebuah tulisan juga untuk memberikan kesan kepada redaksi bahwa kita benar-benar memosisikan diri sebagai pembaca yang cermat dan kritis.

Keempat, memperkaya referensi. Meskipun dikemas dengan bahasa bergaya populer dan komunikatif, tulisan di media cetak juga diupayakan agar tidak kering referensi. Gunakan rujukan dari berbagai sumber terpercaya untuk memperkaya dan mendukung opini yang kita kembangkan, sehingga tidak gampang dikategorikan sebagai penulis bombastis.

Kelima, menyunting naskah. Sebelum naskah tulisan dikirimkan ke redaksi media cetak sebaiknya disunting terlebih dahulu agar terhindar dari berbagai kesalahan yang fatal. Penggunaan ejaan dan tanda baca sebisa mungkin diusahakan mengacu pada kaidah yang berlaku. Konsistensi penulis dalam menggunakan ejaan dan tanda baca seringkali dijadikan sebagai pertimbangan redaksi untuk memutuskan layak muat dan tidaknya sebuah tulisan. Sesekali posisikanlah sebagai pembaca awam untuk menilai sendiri naskah tulisan yang hendak kita kirimkan ke redaksi. Jika masih ada beberapa pernyataan yang salah, perbaikilah segera!

Keenam, membangun kejujuran dan etika. Hal penting yang tidak boleh diabaikan seorang penulis adalah membangun kejujuran dan etika. Jangan pernah sekali pun terjebak menjadi seorang plagiator. Hal ini akan menurunkan kredibilitas kita sebagai penulis. Selain itu, usahakan untuk tidak mengirim tulisan yang sama ke beberapa redaksi media cetak. Jika kebetulan tulisan kita sama-sama dimuat di media yang berbeda, kita bisa langsung kena “daftar hitam” sebagai penulis “sampah” yang hanya sekadar memburu popularitas dan sensasi. Jika ingin mengirimkan tulisan ke redaksi lain, lakukan konfirmasi dulu kepada pihak redaksi apabila diyakini bahwa tulisan yang telah kita kirimkan dinilai tidak layak muat. Upaya membangun kejujuran dan etika juga dimaksudkan untuk menjaga hubungan baik dengan redaksi.

Ketujuh, pantang menyerah. Seorang penulis pada dasarnya juga seorang “petarung”. Ia harus siap tempur untuk bersaing dengan puluhan, bahkan ratusan penulis lain. Oleh karena itu, usahakan untuk tidak gampang menyerah ketika tulisan yang kita kirimkan ditolak redaksi. Seseorang yang bertalenta besar untuk menjadi penulis seringkali gagal mewujudkan impiannya lantaran gampang patah arang dan kapok menulis. Yang menyedihkan, kita dengan gampang menuduh redaksi “berselingkuh” dengan penulis tertentu dan dinilai tidak bisa membedakan mana tulisan yang bermutu dan mana tulisan “sampah”.

Hal-hal lain yang bersifat teknis juga jangan diabaikan. Pencantuman biodata, misalnya, menjadi hal penting untuk diikutsertakan dalam tulisan yang kita kirimkan ke redaksi. Keterlibatan penulis dalam sebuah organisasi atau komunitas dan berbagai aktivitas yang lain seringkali menjadi pertimbangan tersendiri dari pihak redaksi untuk memutuskan dimuat atau tidaknya sebuah tulisan sesuai dengan topik yang dibahas.

Kiat-kiat tersebut bukanlah “harga mati”. Yang lebih menentukan keberhasilan seorang guru menjadi penulis adalah minat, kesungguhan, keuletan, kerja keras, dan doa. Kita perlu menjadi seorang pembelajar yang tak pernah berhenti menimba ilmu dari pengalaman dan refleksi diri. Menulis, menulis, dan menulis jauh lebih bermakna ketimbang terus berkeluh kesah karena menganggap diri sendiri tak berbakat menjadi penulis.

Catatan Penutup
Menulis merupakan aktivitas dinamis yang selalu bersentuhan dengan kepekaan kita dalam merespons berbagai persoalan yang terjadi. Dalam konteks demikian, kita perlu menjaga atmosfer kepenulisan agar “adrenalin” kita untuk melahirkan tulisan-tulisan yang mencerahkan bisa terus eksis dan terjaga.

Sudah saatnya menulis menjadi kultur baru bagi para guru yang diposisikan sebagai agen pembelajaran yang harus memiliki kompetensi pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian. Peran kemanusiaan sebagai guru kreatif dan inspiratif akan cepat menguap di tengah belantara informasi apabila guru “lumpuh” menulis. Kini, pilihan terbentang di depan mata. Mau menjadi guru inspiratif yang sanggup mengilhami peserta didik menjadi sosok yang cerdas dan berkarakter melalui tulisan atau menjadi guru kurikulum yang memosisikan siswa sebagai “robot” peradaban akibat kealpaan kita dalam mengabadikan pemikiran-pemikiran kritis dan kreatif. ***

*) Disajikan pada Workshop “Guru Kreatif, Guru Menulis” dalam rangka memperingati Hari Guru Nasional yang diselenggarakan oleh Harian Warta Jateng bekerja sama dengan IKIP PGRI Semarang, Kamis, 17 November 2011.

Catatan: Mohon maaf kepada sahabat-sahabat blogger dan pengunjung kalau hampir dua pekan ini –alasan klise, haks– saya belum sempat update tulisan dan “beranjangsana” akibat menumpuknya urusan offline yang mesti diselesaikan.

tentang blog iniTulisan berjudul "Memacu “Adrenalin” Guru dalam Menulis" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (17 November 2011 @ 21:59) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 59 komentar dalam “Memacu “Adrenalin” Guru dalam Menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *