Home » Fiksi » Sastra » Lelaki Bulan Mei

Lelaki Bulan Mei

Lelaki Bulan Mei

Gumam Asa 8

Tentang Lelaki di bulan-bulan berlewat. Bulan-bulan yang terus melewati catatan sejarah. Kelebat riuh menunggu terpancar jelas di redup bola mata bocah-bocah bertumpu. Saat ini adalah sangat tepat untuk memulai latihan dan bercakap, kita buka lembar-lembar puisi kembali, di sini, saat ini. Bermula dengan suara-suara pelan lirih dan biasa-biasa saja, sebatas engkau mampu, “Wahai anak-anakku,” Lelaki Bulan Mei memulai dengan tatap dan senyum, terselip pengharapan yang jauh sampai tak terjangkau lagi oleh panjangnya benturan-benturan segala macam mimpi. Lelaki yang mencoba meniti di bentangan duri-duri mimpi, sebab mimpi di sini belum sempat menemukan titik pasti, seperti api dalam janji. “Ayolah, anak-anakku, kita menuliskan sebiji demi sebiji. Kata demi kata, entah bunga yang ada di benakmu, entah pasir yang ada dalam pikiranmu, entah bulan yang melintas di kelopak matamu, entah daun jendela yang terdengar bunyinya melaju melewati daun telingamu, entah boneka yang sedang berkedip di ranjang kesayanganmu, atau kamarmu yang belum juga rapi sebelum ocehan ibu memburu dari bilik dapur di kepul-asap kompor atau tentang kebunmu yang masih belum tertata, ayolah anak-anakku, sekarang kita memainkan pensil kecilmu memainkan ujung penamu, kita menuliskan kata demi kata, sesukamu, dan ingatlah tak ada yang salah dalam coretan kalian, sekali lagi tak ada yang salah. Kalian akan pasti berani untuk memulai, mari. Tarikan pikiranmu, mari tarikan ujung pencilmu, mari meliuklah sampai ke batas-batas yang kamu suka. Jangan ragukan kemampuan cemerlangmu.” Tentang Lelaki yang terus saja mengalirkan suara-suara lewat senyum dan tawa-tawa, mengalirkan daya demi daya, mengalirkan kekuatan demi kekuatan. Deru mobil berpuluh lipat sudah melintas. Jarum jam tak mau berkhianat. “Kapan kita mulai membacanya?” Ada nada bergejolak yang datang tiba-tiba dan sangat menghentak, sebuah tuntutan yang tentu saja bukan datang dengan ukuran cepat atau lambat, tetapi telah sering bermula dengan sesuatu yang mungkin awalnya asing. Lelaki Bulan Mei, tak mau melepaskan senyum sebelum ada yang menjalar di benaknya, ini sebuah rencana, seperti juga perjalanan jauh, panjang dan pasti akan sangat melelahkan, tetapi berhadapan dengan redup bola mata- bola mata yang berharap adalah sebuah perjuangan yang harus dijalani dengan suka cita bukan sebaliknya karena apa yang mereka alami bukan berarti harus kandas hanya karena sebuah tuntutan berdasarkan kepentingan jarak dekat saja, ini perjalanan panjang. Jangan sampai terjebak oleh angka. Dan jangan sampai terkurung olehnya. “Ayolah, anak-anakku, kita mulai dengan memberikan kelembutan pada suara-suara, kita mulai dengan kelembutan untuk mencapai kejernihan dan tentu saja kita harapkan agar semua yang kita baca akan berjalan dalam kejelasan. Ayolah anak-anakku, setiap kata terbagi oleh beberapa suku-kata, ya setiap kata terbagi oleh beberapa suku-kata.” Tentang Lelaki yang berjalan pada bulan-bulan jauh, berjalan membelakang waktu. Catatan sejarah telah menawarkan dirinya di lembar-lembar lapisan angin. Terbanyak pada waktu menjelang senja, lelaki yang berjalan selalu saja melewati pucuk-pucuk suara. Dengarlah anak-anaknya berseru-menderu bagai gelombang, karena selalu saja dimulai dengan kebersamaan agar tidak ada rasa takut itu, agar menjadi berani itu, agar tidak terkepung oleh malu itu. “Kalian berjumlah 30 orang, mari kita bersama-sama kalahkan ketakutan itu, mari kita kepung rasa malu itu. Ayolah anak-anakku, kita mulai lagi dengan mengulang, berkali-kali. Dari yang paling pelan dari yang paling tak terdengar suaranya, dari yang paling sepi suaranya. Ayolah anak-anaku, berulang kita suarakan setiap ada suku-kata, ya dari suku-kata, agar pembacaan kita terbiasa dengan mempertahankan yang namanya kejelasan. Ayolah anak-anakku, kita mulai dengan pembacaan yang sejelas-jelasnya. Jangan takut dan jangan malu.” Lelaki Bulan Mei, menderapkan langkah, berpijak pada gema yang memantul dari banyaknya suara. Tentu saja tidak semua akan mau memulai bila hanya untuk yang pertama, bersuara kecil saja sesak terasa dan takut itu dan malu itu masih menjerat erat di kerongkongan mereka walau mereka akan mengepungnya bersama-sama dengan jumlah yang tidak sedikit, dengan jumlah ketiga-puluh macam suara, tentu saja harus dimulai dengan tenang dan senyum tak pernah melepaskan daya, tak akan melarikan pukaunya sejak semula. Lelaki Bulan Mei, sebelum bergumam. Lalu ada yang keluar dengan merdu dan pasti bahwa, “ Bila kamu telah memiliki satu kata ‘daun’ maka ucapkan dengan persukuan da – un, dan bila kata yang ada pada catatan kamu adalah ‘matahari’ maka ucapkanlah dengan ma – ta – ha – ri, begitulah kepada yang lainnya.” Berulang lagi untuk menuliskan kata demi kata, berulang lagi untuk mengucap kata demi kata lewat persukuannya. Akh, engkau Lelaki, ada saja yang tercetus dalam lingkaran yang menampakkan awal mula, titik nol dari garis panjang dalam warna-warna, lukisan perjalanan yang dibuka menghamparkan padang-padang dari tanah-tanah jauh. Dari daun jendela terbuka, jarum jam yang tak pernah khianat terhadap waktu sesekali datang juga menyapa dan salam berkepanjangan. Bukan beban tetapi terus ke depan dengan tawa kemudian menepiskan bayang-bayang sunyi. Terdengar gemuruh bertumpang-tindih, satu sama lainnya,” … -ma-ka-bu-kan-i-tu-wa-lau-sa-at-a-ku-ber-la-ri-bu-lan-su-dah-ki-ni-ti-ba-da-un-le-ma-ri-se-pi-la-gi-ra-mai-o-leh-o-rang-di-lu-ar-sa-tu-sa-tu-ter-deng-ngar-mem-ba-ca-lang-ngit-a-yam-ku-te-lah-per-gi-ka -re-na-a-da-ha-ri-mau-di-ke-bun-pa-man-dan-a-ku-pas-ber-la-ri-ka-re-na-ta-kut-se-ka-li-…” Ruangan menjadi sesak juga pada akhirnya. Penuh suara. Bergema suara. Saling sahut saling melemparkan gelombang. Mulanya adalah enggan dan diam, bahkan sunyi membentang. “Okey, kita bermula kembali seperti apa yang ada di belakang. Mulai mengucapkan satu kata, resapi dan rasakan kekuatan apa yang hadir darinya, nikmati dan renungkan kekuatan apa yang melingkupinya. Walau hanya satu kata, tetapi dari sanalah kita semua akan bermula dan untuk selanjutnya adalah perjalanan panjang. Senyum dan tawa tetaplah kita jaga bersama. Ayo, mana satu kata yang engkau miliki. Ayo, satu kata di mana ia sembunyi. Buka catatanmu dan kita ucapkan kata itu.” Lelaki Bulan Mei sejenak bernapas dalam, matanya melibas pandang ke seluruh ruangan. Pandang-pandang mulai menatap tajam dan mempersilahkan agar tidak ragu lagi untuk menjadi lantang. Salam untuk kita semua yang ada di ruang ini. Dan suara pun bergema kembali, satu-satu telah mulai asyik dengan kata yang dimiliki, “ … da-un …”, terdengar lirih dari mungilnya kedua belahan bibir kecil, mencoba untuk tidak ke lain tatapan karena matanya bertumpu di lembaran catatan buku bergaris dalam kesederhanaan. “ .. ma-ta-ha-ri.., “ sayup pula menyusul suara di bagian belakang. Sayup pula banyak kata yang terdengar di belahan ruang, bahkan ada-ada saja dengan gelak tawa ketika sejumlah kata, mungkin masih ada yang sangat asing di lekuk-lekuk daun telinga. Suara-suara semakin ramai menjelajah dan tanpa ragu tanpa takut tanpa malu, sebuah pengepungan dari bocah-bocah yang ketiga puluh berjumlah. “Semoga keceriaan terus saja berkalung, sampai mereka pulang dan bercerita banyak tentang apa yang baru saja terjadi. Semoga saja orang-orang di rumah tidak menghalangi apa yang akan terjadi selanjutnya karena masih jauh dari sebuah perjalanan yang teramat panjang. Memulai dari tarian ujung pensil dan pena yang mungil, memulai dengan suku-kata dalam ucapan yang keluar dari bibir-bibir mungil dan mata ceria.”

”Pilihlah Aku sebagai Presiden Negeri Ini.” Lelaki Bulan Mei dengan mantap dengan telunjuk penuh keyakinan telah sebagian menyampaikan bahwa semua orang memiliki hak dan tanggung jawab yang sama atas kedamaian negeri ini, punya hak dan tanggung jawab yang sama untuk menjalankan pemerintahan atas negeri ini, memilki beban yang sama atas melanjutkan perjuangan para pahlawan bangsa ini agar semua menjadi lebih baik dari yang sudah baik dan akan membentuk yang baik pada bagian-bagian pada belahan belahan tanah air ini yang tentunya belum sempat merasakan apa itu namanya kesejahteraan, kedamaian, kemakmuran, kebercukupan, kemajuan dan segala macam kemudahan. “Pilihlah Aku sebagai Pemimpin di Negeri Ini. Memang benar tanah kita yang subur ini belum sepenuhnya dapat dirasakan secara merata dan apakah hanya untuk segelintir orang saja, dengan alasan apa pun, kita semua berhak merasakan apa yang seharusnya dirasakan. Tentu saja kita tidak ingin ada yang tercerai-berai kalau kita merupakan satu kesatuan yang benar-benar utuh dan tentu saja tidak ada yang menjadi terlupakan. Serendah apa pun kemampuan orang-orang yang ada di sekeliling kita tentu saja bukan hanya bangunan rumah kita sendiri yang menjulang sementara orang-orang sekeliling merasakan keruntuhan dan kehancuran dari sisa puing-puing keangkuhan yang dipertahankan sebagai alasan dari tayangan-tayangan untuk mempertontonkan betapa mirisnya kesenjangan. Lihatlah apa yang dirasakan oleh wilayah-wilayah sebagai penghasil kekayaan alam, dan itu semua adalah ketidak-adilan yang selalu saja membelenggu dan selalu saja dinistakan. “ Lelaki Bulan Mei, lelaki yang telah mencoba membuka pemikiran bahwa, negeri kita terlalu sibuk dengan persoalan hutang-hutang yang tercatat dalam daftar teramat panjang dan kita harus berjuang menjadi pelunas segala macam penderitaan, apakah hanya segelintir orang saja yang pantas menikmati tentang suburnya tanah-tanah garapan, dan kita selalu bahkan terus menerus selalu dijinakkan sebagai penonton dengan mulut menganga terbuka tanpa mampu berbuat apa-apa, badan yang lunglai dari isi perut yang kosong. Oh, tubuh-tubuh tanpa daya, tubuh-tubuh tanpa makna. Tubuh dengan bagunan bertulang yang hilang kekuatan tulang. Tubuh kosong kehilangan juang. Sejarah sakit ini tentu saja tak akan pantas untuk diulang sampai akhirnya para penyihir itu datang tanpa beban dan merasa tanpa ada apa-apa karena semuanya dianggap biasa-biasa saja. Salah satu penyebab paling besar mengapa negeri kita sangat akrab dengan kemiskinan. Hanya beberapa gelintir orang saja yang menikmati kesuburan tanah air ini. “Nah, cobalah dengan cara mengumpulkan data-data persoalan yang ada itu, kita mulai tampil ke depan sebagai orang yang memang pantas untuk menjadi pilihan, ayo anak-anakku berpidatolah kalian agar kalian mampu belajar berdemokrasi sejak dini, lihatlah kenyataan bahwa kita harus bersaing ke depan. Secara spontanitas kita rebut titik mimbar dan kita raih sebiji mikropon atau alat pengeras suara itu kita harus mampu sebagai orang yang mendapat dukungan, dan jangan takut untuk memulai serta jangan takut untuk kalah tetapi yang lebih penting adalah kita telah benar-benar siap menjadi orang pilihan, didasari keakraban satu kesatuan saling menduklung dan saling bahu membahu, bergotong royong untuk kemajuan bersama untuk kedamaian bersama untuk keterbukaan bersama. Ayolah anak-anakku, kepalkan tangan kalian dan arahkan ke depan. Kita harus lebih baik dari waktu-waktu yang telah lewat itu.” Gelegar suara lelaki, seorang lelaki yang lagi-lagi pemicu semangat untuk maju. “Ayo, lepaskan takutmu, singkirkan malu itu. Kita di sini, kita sedang memulai untuk yang lebih baik lagi. jangan kita selalu dijajah oleh ketakutan kita sendiri, kita selalu terkepung oleh malu kita sendiri.” Teks pidato itu pun mulai dibaca dalam hati, dibaca diam. Diingat-ingat dan mulai dihapal-dikuasai agar penampilan di atas podium menjadi total dan akan menawan. Tatapan tajam mata ke depan, raut muka disesuaikan dengan kata-kata yang diucapkan dan mempertimbangkan nada suara tempo lambat atau tempo cepat, garang, mendayu-dayu, protes bertujuan untuk meyakinkan bahwa semua yang disampaikan adalah benar adanya dan berharap agar orang lain, siapa saja yang, menyaksikan yang menyimak yang mengikuti sepenuhnya dapat tergiring dan menjadi sepaham dengan apa yang diinginkan, akhirnya sebagai puncak semua adalah kemenangan sebagai buah hasil dari perjalanan panjang. Teks pidato itu memang sepantasnya untuk ditampilkan sebagai bentuk ekspresi dan juga pembelajaran bahwa kandungan dari tema pidato, pembelajaran demokrasi, pembelajaran tentang seorang pemimpin di kemudian waktu. Pembelajaran tentang kesiapan untuk menjadi pemenang dan sebaliknya pembelajaran untuk siap dikalahkan, pembelajaran untuk siap bekerja sama baik ketika tampil sebagai pemenang ataupun ketika harus menjadi yang kalah dan selalu siap bekerja sama dengan kelapangan sebagai pihak yang kalah dalam persaingan. Dan Lelaki Bulan Mei memperhatikan setiap penampil yang bergiliran. Sebelumnya telah pula berlatih bersama dengan membacakan dari nada yang rendah, dengan nada yang sedang dan dengan nada yang tinggi. Seperti yang telah pula disampaikan sebelumya bahwa latihan dasarnya adalah bagaimana agar suara atau vokal menjadi maksimal. Maksimal yang tentu saja disesuaikan keperluan, situasional dengan tetap menjaga unsur kejelasan serta harmonisasi dari tema dan kondisinya. Setelah memantapkan latihan dasar-dasar mengolah suara, yang berikutnya adalah latihan pergerakan tubuh, tepatnya seluruh anggota tubuh; tangan-kaki-bahu-kepala-leher-punggung-pinggul. Rentangan tangan, langkah kaki, posisi kaki, kemiringan badan, bahu kiri dan bahu kanan, kepala bergerak-gerak, jemari-jemari, posisi tubuh berdiri, posisi tubuh pada saat duduk, posisi tubuh yang miring ke depan, dan lain sebagainya. Berulang-ulang. Untuk mencapai kelenturan seluruh anggota tubuh, untuk menancapkan kekuatan kelembutan dan daya pukau dari konstruksi tubuh yang terbentuk dan ketika berada di atas pentas berada di depan khalayak berada di hadapan para penonton akan menampilkan daya dan kharismanya sendiri. Berulang-ulang latihan tentunya. Sebelumnya, setiap bentuk latihan, adalah melakukan pemanasan terlebih dahulu, dimulai yang ringan-ringan. Dan yang paling penting untuk direnungkan oleh kalian semua adalah, saya akan berjuang keras dan mengusulkan kepada bangsa ini agar ibukota negeri ini setiap 50 tahun ke depan harus berpindah tempat, jangan hanya di tempat yang ada sekarang ini. Sebagai tahap awal akan saya pindahkan ke salah satu kawasan di wilayah pulau. Pada 50 tahun berikutnya akan ditentukan sejak awal bahwa ibu kota negeri ini akan dipindahkan kembali pada kawasan di salah satu pulau lain pula. Begitu seterusnya sehingga masing-masing pulau besar di seluruh negeri ini akan mengalami pemerataan pembangunan dengan mengalami dampak pemindahan pusat pemerintahan itu. Oleh karena itu pilihlah saya sebagai presiden kalian yang akan membawa kepada tahap-tahap pemerataan. Dan akan kita upayakan agar penempatan kawasan pusat pemerintahan ibu kota negeri ini nanti berada pada kawasan kosong dan termiskin di sekitarnya agar menjadi berkembang, agar tidak sampai kiamat tetap saja menjadi kantong wilayah yang miskin dan terus-menerus terbengkalai. Tidak pernah diperhatikan. Selalu terbengkalai dan kearifan lingkungan adalah prioritas utama sebagai syarat yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Oleh sebab itu maka pilihlah saya sebagai pemimpin kalian dan bersama orang-orang pilihan dengan semangat membangun bangsa yang tidak diragukan lagi. jangan hanya kekayaan tanah air yang sangat luas dan melimpah ini dikuasai oleh orang-orang yang jauh dari kesuburan itu, hanya dikuasai oleh orang-orang yang segelintir itu. Bunyi-bunyinya saja untuk kesejahteraan rakyat tetapi rakyat yang mana tetapi untuk segelintir rakyat yang mana. Ya, setiap 50 tahun sekali maka pusat pemerintahan ibu kota negeri ini wajib berpindah wilayah dan pasti akan berdampak sangat positif kepada wilayah sekitar yang baru itu. Pasti itu, tentu saja dengan perencanaan yang sangat matang, tentu saja dengan semangat membangun yang sangat matang, tentu saja dengan kejujuran yang sangat matang, tentu saja dengan kesiapan aparat yang sangat matang, tentu saja dengan tingkat pelaksanaan pembangunan sarana dan prasarana yang sangat matang dan diawasi dengan tingkat pengawasan yang sangat hati-hati dan matang. Pembangunan kita adalah pembangunan dengan jangka waktu yang sangat panjang, bukan hanya untuk yang sesaat saja. Ya, setiap 50 tahun maka sebuah kawasan yang terletak di pulau-pulau terbesar tersebar di wilayah negeri ini akan sangat mengalami kemajuan itu, bukan hanya dirasakan oleh satu wilayah yang itu-itu saja. Kesiapan mental aparatnya sangatlah menentukan dan tidak hanya mengumbar alasan-alasan-alasan-bahkan dengan berbagai alasan yang sekali lagi mencoba menahan dengan alasan dan alasan yang ternyata untuk bertahan pada satu titik alasan yang lagi-lagi mencoba menahan berdasarkan alasan-yang-alasan. Ternyata kepentingan pribadi dan kelompok atau sebuah kemauan partai atau sekelompok partai secara hitungan jual-beli kepentingan, bukan untuk kepentingan seluruh wilayah yang jelas-jelas menutup mata bahwa pada titik-titik tertentu ditelantarkan, kekayaan yang bertumpu pada hanya satu wilayah saja dan itulah hati pada sekeping papan. Nah, para pemilih, jangan lupa pilihlah saya. Saya telah memasang gambar pada tempat-tempat yang telah ditentukan. Ayo, jangan ragu, pilihlah saya sebagai pemimpin kalian. “Nah, anak-anakku, naskah pidato itu sekedar sebagai contoh. Tetapi bila di antara kalian yang mau dan mampu menambahkan poin-poin penting atau catatan-catatan yang kalian anggap lebih penting dari itu maka silahkan saja. Tentu itu akan menjadi lebih baik lagi.” Lelaki Bulan Mei menghela napasnya panjang sekali, seakan baru saja berlari dengan daya tempuh yang teramat jauh dan teramat melelahkan.

Menulis untuk dilanjutkan, dan selanjutnya menulis lagi. kita membentuk kelompok berpasangan, dua-dua, dan masing-masing menyiapkan alat tulisnya sendiri. Lelaki Bulan Mei memberikan aba-aba, di saat yang telah ditentukan maka hasil tulisannya akan segera diserahkan kepada pasangannya dan setelah dibaca dengan seksama maka diberikan komentar singkat sesuai waktu yang disediakan, setelah selesai hasil tulisan atau komentar tersebut diserahkan kembali kepada pasangan masing-masing, dibaca lagi dan diberi ulasan selanjutnya. Berulang-ulang, berulang-ulang. Persoalan tema boleh jadi dibebaskan boleh jadi ditentukan boleh jadi atas dasar kesepakatan bersama.

Membaca sambil duduk, Membaca sambil berdiri di lantai, Membaca berdiri di atas kursi, Membaca berdiri di atas meja, Membaca berjalan dan berlari-lari. Membaca teks sastra, baik itu puisi cerita atau naskah drama sederhana yang berupa cuplikannya saja dilakukan pada mulanya dengan cara duduk di kursi, “Ayo anak-anakku, bacalah dengan suara yang pelan-pelan saja. Jangan takut jangan ragu. Jangan malu, kita bersama-sama tak ada orang lain di sini semua kawan semua orang-orang kita juga, ayolah anak-anakku, bacalah dengan memulai menggerakan tangan sebelah kanan, angkat lebih tinggi ya lebih tinggi lagi, rentangkan ke depan, tatapan lurus pada satu titik pandang. Baca kembali dan mulai pula menggerakkan tangan sebelah kiri, rentangkan melebar dan meninggi, semakin melebar ke kanak dan ke kiri, rentangkan keduanya ke depan. Bergoyang-goyang, kepala boleh jadi dimiringkan sidikit ke arah kiri atau ke arah kanan. Nah, semua kini berdiri, jadi tidak ada yang duduk lagi. ayolah anak-anakku, kita baca kembali tulisan yang telah tersedia. Berulang kita lakukan dengan suara yang dimulai pelan, meninggi, pelan lagi dan meninggi lagi, terus saja menjaga agar pembacaan tetap jelas dan mantap. Badan bergerak, tangan direntangkan melebar dan arahkan pula ke depan. Sekarang kita baca dan semuanya mulai berani naik ke atas bangku. Ayolah anak-anakku, jangan takut jangan ragu dan jangan malu. Hati-hati, kita kuasai diri dahulu agar berdirinya aman dan tenang. Ayo kita coba untuk turun kembali. Ya, satu dua tiga, naik lagi bersama-sama.

Menyimak lalu Mencatat cerita kawan, Bercerita tentang apa yang baru saja dicatat, Memberikan komentar tentang cerita yang baru saja disampaikan. “Kita bagi dalam beberapa kelompok, satu kelompok boleh terdiri dari tiga orang, satu orang dari setiap anggota kelompok itu bercerita kepada kedua temannya, satu orang dari kedua penyimak bertugas mencatat apa yang disimaknya, bagi yang menyimak tadi menyampaikan secara lisan kepada kawan yang seorang dari mereka. Seorang sebagai penyimak terakhir tadi akan menyampaikan ceritanya kepada kelompok yang lain.

Membaca tanpa suara, gerak tangan, bahu, punggung, mata ke depan untuk mendekatkan kepada yang namanya penghayatan lebih ke dalam maka latihan membaca tanpa suara adalah sangat mendukung, “Ayo anak-anakku, mari membaca yang bergerak hanya kedua belah bibir berkomat kamit sesuai teks yang ada, ayolah coba sekali lagi, berulang kali lakukan pergerakan tangan kanan, baca lagi tanpa suara dan lakukan pula pergerakan tangan sebelah kirinya, pada anggota tubuh yang lain, bahu dan punggung ikut melakukan, mata menatap ke depan, ya coba lagi. Ayo, anak-anakku, coba lagi membaca, kedua tangan ikut dalam gerakan, bahu, punggung dan anggota badan yang lain, kuasai seluruh teks yang ada, hayati setiap ucapan dan suara-suara.”

Seperti roda berjalan, akhirnya tulisan itu kembali. Bila ada sejumlah anak yang memulai untuk belajar, yang memulai untuk maju dan membuka cakrawala pemikiran maka sejumlah itu pula hasil tulisan akan berjalan dari satu anak kepada anak yang lainnya. “Ya, kita mulai dengan menuliskan ‘apa yang kamu lihat sekarang ini’, tulislah, atau kamu juga boleh memulainya dengan ‘apa yang kamu dengar sekarang ini’, tulislah, bahkan di luar dari apa yang telah ada, karena kamu masing-masing telah memiliki rencana sendiri untuk menuliskannya, sampai hitungan sepuluh maka kita akan berhenti untuk menulis. Ya, silahkan menulis apa saja yang ada terlintas di pikiran kalian atau yang ada di pelupuk mata kalian bahkan yang sedang hinggap di gendang telinga kalian. Pertanyaan juga boleh, pernyataan juga boleh, bahkan tentang mimpi tadi malam di saat kalian tidur pun juga boleh, dan apa yang kamu tulis ‘tidak ada yang salah’, ya jangan takut jangan malu, dalam hitungan sepuluh kalian akan berhenti menulis, dan berhentilah ujung pensilmu dan berhentilah ujung penamu menari-nari di atas selembar kertas itu.

Memetik bunga, Mencatat tentang bunga, Menulis puisi dengan judul “Oh, Bunga”. Lelaki Bulan Mei berucap untuk membangkitkan semangat, aktif dan selalu kreatif,”Seperti pada bulan-bulan yang lain, tetapi pada bulan Mei ini ada yang lebih istimewa, dan kita akan mengalami proses untuk menjadi lebih baik dari yang sudah ada sekarang ini. Pada bulan ini pula sejarah tak bisa melupakan bahwa telah terjadi revolusi pemikiran dan dunia proses yang lebih panjang harus selalu digelorakan. Bulan kebangkitan dan kita harus sadar bahwa dengan adanya generasi yang menjalani masa-masa pendidikan akan menjadi siap untuk tidak sekedar dirongrong oleh hutang-hutang bangsa ini kepada bangsa lain. Kita harus bersiap untuk melakukan sendiri, menjadi tuan rumahnya sendiri atas ladang-ladang garapan, atas tanah-tanah yang sekarang sudah banyak berlubang dan menyakitkan.”

Benda-benda yang sangat disuka. “Tentu saja kalian punya benda yang sangat disukai, di rumah atau di mana saja, bahkan mungkin benda itu sedang kamu bawa saat ini. “ Lelaki Bulan Mei memulai lagi dengan memberikan ruang di alam pikir anak-anaknya untuk membentuk bayang-bayang pada benda tertentu, masing-masing akan berupaya mengingat masing-masing akan berupaya untuk dapat menghadirkan benda apa yang mereka pilih sebagai kesayangan yang sangat disukainya, boleh jadi berbeda atau bahkan ada yang sama.

Menjadi juri ketika kawan berlomba Membaca di depan. Tetapkan pilihan bahwa memang yang terbaiklah yang akan menjadi bernilai dalam pandangan sebagai juri, entah siapa dia, entah apapun yang terjadi dengan jarak dekat atau jauh hubungannya. Juri akan menentukan yang tertinggi penilaiannya dengan kesepakatan bersama. Akumulasi nilai dan hasil kesepakatan pembicaraan akan menentukan bahwa yang terbaik akan tampak. Memulai dengan keseriusan memperhatikan segala unsur dalam penilaian. Suaranya bagaimana, penghayatannya bagaimana, dan gayanya bagaimana. Tentu saja lebih rinci lagi setiap unsur dari ketiga garis besar itu ada, masing-masing akan lebih banyak mempengaruhi batas pandang untuk memberikan penekanan dalam menentukan angka. Belajar menjadi penilai tentu saja boleh jadi menyiapkan argumentasi secara lisan bila memang diperlukan.

Aku harus tampil ke depan. Inilah saat yang paling tepat untuk memperebutkan tempat yang memang seharusnya untuk diperjuangkan. Tidak boleh hanya berdiam duduk dengan tenang. “Ayo, siapa yang berani tampil ke depan.” Suara Lelaki Bulan Mei terdengar sangat merdu. Aku akan membaca dengan gaya dan nada yang biasa-biasa saja, tidak harus tampil dengan sepenuh-penuh emosi dan penghayatan mendalam segala, okey, yang pertama adalah keberanian kaki kiri atau kaki kanan ini melangkah dan bergerak maju ke depan, dan aku harus berani menatap kawan-kawan, yang jelas harus aku biasakan apa yang akan menjadi pengalaman terbaik dalam hidup ini, inilah saatnya aku berani maju dan membuktikan bahwa berdiri di depan itu tidaklah menyakitkan, ya tidaklah menjadi beban, semua akan biasa-biasa saja. “Okey, yang penting kalian berjalan dari tempat dudukmu, berdiri, melangkahkan kaki dan terus berjalan dengan pasti lalu sampai pada titik tengah panggung ini, ya bangku kecil ini akan kita jadikan panggung untuk kamu berdiri, jangan takut jangan malu, teruslah berjalan, dan layangkan pandang matamu ke segala penjuru.” Lagi-lagi suara lelaki itu terdengar sangat merdu merayu-rayu. Belum ada yang bergerak, oh sangat belum. Terlihat ada yang menahan napas, ada yang celingak-celinguk agar orang lain terlebih dahulu yang maju. Oh, sangat menarik dan merupakan tantangan asyik bagi lelaki itu untuk menjadi mampu, dan nanti akan ada yang terjadi sebagai perubahan sikap. Lelaki Bulan Mei sangat merasakan bahwa segala sesuatu harus dilakukan berulang kembali dari titik yang telah dimulainya. “Kalian berdiri, kemudian melangkahkan kaki perlahan ke depan, berjalan dengan tenang dan melewati bangku ini lalu memutarkan badan setelah itu kembali lagi ke tempat semula. Di depan ini tidak harus kalian melakukan sesuatu, ayo berjalanlah dan bergeraklah., okey, kalian juga boleh melakukan sesuatu, misalnya dengan bermain ‘ci-lub-baaaa’, sekali lagi ‘ci-lub-baaaa’.” Lelaki Bulan Mei telah mencairkan degup di dadaku. Jadi, tidak ada alasan aku menjadi takut untuk tampil ke depan. Berjalan dan berputar di sekitar bangku itu. Bahkan aku bisa ucapkan kata-kata yang sederhana saja dahulu. Akh, hanya maju saja, siapa takut.

Jendela rumahku, Terbuka. Terkuak menjadi sangat lebar. Banyak awan di atas sana, yang selalu saja berubah bentuk dan sangat cepat dalam hitungan angka-angka. Angin pun menerpa masuk membawa hawa segar di dalam ruang berjendela. Mata terbuka, telinga terbuka. Daun-daun memantulkan bias cahaya. Jendela rumahku terbuka. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Lelaki Bulan Mei" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (25 Oktober 2011 @ 02:48) pada kategori Fiksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 24 komentar dalam “Lelaki Bulan Mei

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *