Home » Opini » Komodo dan Ironi Nasionalisme

Komodo dan Ironi Nasionalisme

Sebuah negeri yang besar, menyimpan situs bersejarah yang luar biasa mengagumkan, memiliki kekayaan hayati yang melimpah ruah, tetapi tenggelam dan terpuruk dalam pentas keajaiban dunia. Itulah ironi negeri kita, Indonesia. Borobudur, misalnya, yang dulu dikagumi dunia, kini tidak lagi tercatat sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia versi new7wonders untuk kategori keajaiban dunia hasil budaya manusia (man made). Kegagalan Borobudur menembus barikade keajaiban dunia berdasarkan hasil polling dunia oleh New 7 wonders pada tahun 2007, diikuti dengan tidak lolosnya Gunung Anak Krakatau dan Danau Toba untuk kategori keajaiban alam.

“Kekalahan” Borobudur menjadi sebuah pelajaran berharga, betapa negeri ini membutuhkan jejaring yang amat kuat. Promosi dan dukungan perlu terus digerakkan ke seantero negeri. Akan menjadi sebuah ironi nasionalisme apabila modal demografi yang luar biasa dengan jumlah penduduk lebih 220 juta jiwa tidak dioptimalkan untuk menggapai “singgasana” pariwisata yang “menggoncangkan” dunia.

Babak baru telah kembali digelar. Adalah New 7 Wonders Foundation (Yayasan Pendiri 7 Keajaiban Dunia Baru ) yang berbasis di Zurich, Switzerland, didirikan pada tahun 2000, dengan Bernard Weber (kebangsaan Kanada-Swiss) sebagai pendiri sekaligus presiden kampanye N7WS. Ide Bernard untuk menggalang masyarakat global lebih berperan aktif dalam dunia maya direalisasikan dengan menjelajahi antero dunia menggalang kampanye pemungutan suara, untuk memilih tempat yang memiliki nilai historis budaya yang tinggi hingga lebih 2000 tahun yang lampau dan ditopang dengan keindahan pesona alam yang menakjubkan, bahkan di luar batas nalar otak manusia. Selama 7 tahun,voting dilakukan secara global di seluruh penduduk dunia melalui dunia maya, dengan supervisi para ahli di bidang terkait. Dengan menggenggam 100 juta suara, hasil pertama dukungan suara global diumumkan pada deklarasi N7WS diresmikan di Lisbon, Portugal pada tanggal 07-07-2007, dihadapan 50.000 penonton dan jutaan pemirsa televisi seluruh dunia. Pada kesempatan ini ditetapkan 7 Keajaiban Dunia Buatan Manusia hasil polling secara acak, yakni Tembok Besar China, Petra, Chichen Itza, Patung Kristus Penebus, Colosseum, Machu Picchu dan Taj Mahal.

Selanjutnya, N7WS menggelar kampanye dalam kategori Keajaiban Alam Dunia yang Baru ( New 7 Wonders of Nature ). Untuk kategori ini Kementrian Budaya dan Pariwisata mendaftarkan tiga lokasi andalan Tanah Air Indonesia, yakni Taman Nasional Komodo (TNK), Danau Toba, dan Gunung Anak Krakatau. Pada tahap pertama sejak desember 2007, Indonesia harus bersaing dengan 440 lokasi dari 220 negara yang berpartisipasi. Dengan dukungan polling global yang ketat, tanggal 7 July 2009, akhirnya terpilih 77 nominasi yang lolos untuk tahap berikutnya termasuk Taman Nasional Komodo. Dari kandidat tersebut pada tanggal 21 juli 2009 komodo berhasil unggul masuk menjadi 28 calon finalis. Menurut rencana kompetisi untuk tahun ini akan digelar pada tanggal 11-11-2011 yang akan meloloskan para nominator terpilih.

28 finalis yang akan berkompetisi untuk mendapatkan pengakuan sebagai 7 keajaiban dunia, antara lain: (1) Amazon (Bolivia, Brazil, Kolombia, Prancis, Guiana, Guyana, Peru, Suriname, Venezuela); (2) Angel Falls (Venezuela); (3) Bay of Fundy (Kanada); (4) Black Forest (Jerman); (5) Bu Tinah Island (Uni Emirate Arab); (6) Cliffs of Moher (Irlandia); (7) Dead Sea (Israel, Yordania, Palestina); (8) El Yungque (Puerto Rico); (9) Galapagos (Ekuador); (10) Grand Canyon (Amerika Serikat); (11) Great Barier Reef (Australia, Papua Nugiuni); (12) Halong Bay (Vietnam); (13) Iguazu Falls (Argentina, Brazil); (14) Jeita Groto (Libanon); (15) Jeju Island (Korea Selatan); (16) Kilimanjaro (Tanzania); (17) Komodo (Indonesia); (18) Maldives (Maldibves); (19) Masurian Lake District (Polandia); (20) Matterhorn (Italia, Swiss); (21) Milford Sound (New Zealand); (22) Mud Volcano (Azerbajian); (23) Puerto Princesa (Filipina); (24) Sundarbans (India); (25) Table Mountain (Afrika Selatan); (26) Uluru (Australia); (27) Vesuvius (Italia); dan (28) Yushan (Taiwan).

Perjalanan Pulau Komodo mencapai puncak 7 Keajaiban Dunia Baru tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak kerikil tajam yang harus dihadapi dalam derap langkahnya. Segala polemik tersebut diharapkan tidak memupuskan harapan bangsa mengusung Taman Nasional Komodo menuju kejayaan impian. Komodo tidak pernah tercoret dalam daftar N7WS dan masih berada dalam 28 besar teratas dunia.

Untuk mendukung kampanye pemenangan Komodo dari Indonesia dibentuk Komunitas Pendukung Pemenangan Komodo yang secara resmi dipercaya oleh N7WS untuk menyelenggarakan vote dan polling pemilihan Komodo. Organisasi ini diprakarsai oleh Emmy Hafild sebagai aktivis lingkungan dan anti korupsi berserta tim, bekerja sama dan didukung berbagai pihak. Komunitas yang memiliki lisensi official  N7WS ini akan selalu memberikan berita-berita terbaru ihwal kegiatan yang berhubungan dengan promosi dan dukungan penuh komodo sebagai kandidat teratas 7 Kejaiban Dunia Baru kategori Alam. Kampanye ini akan berlangsung dan mengikuti berbagai tahapan yang ditetapkan N7WS (disarikan dari pilihkomodo.com).

Komodo, Mega Predator Menuju Puncak Keajaiban
Orang banyak menyebutnya kerabat dinosourus dari Timor. Dulu bahkan ada yang mengira sebagai naga raksasa yang menyeramkan. Bukan sekedar dongeng atau mitos, inilah bukti kebenarannya. Komodo, satu-satunya warisan dan saksi purbakala yang masih bertahan hingga kini hanya dapat dijumpai di Taman Nasional Komodo, yang terletak di sebuah selat antara Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ciri Fisik Komodo
komodokomodokomodokomodoKomodo menyandang nama latin Varanus komodoensis merupakan kadal terbesar di dunia, dengan rata-rata panjang 2 hingga 3 meter. Penduduk setempat menyebutnya dengan nama Ora, dikenal juga dengan sebutan naga komodo (komodo dragon) dan biawak komodo ( komodo monitor). Komodo memiliki lidah yang panjang, berwarna kuning dan bercabang. Komodo jantan lebih besar daripada komodo betina. Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki massa sekitar 70 kilogram. Lebih dari itu, fauna yang dapat melihat sampai 300 meter ini bahkan sering mempunyai bobot tubuh lebih besar bila dipelihara di penangkaran. Tercatat spesimen liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3,13 meter dan berat 166 kilogram. Panjang cakar mencapai 10 cm. Perenang yang baik dan bisa menyelam dalam air sampai kedalaman 5 meter. Satwa yang tidak punya kemampuan untuk mendengar ini mempunyai inteligensi yang bagus, terlihat pada saat berburu atau mencari mangsa, dan itu bukan berasal dari hidung melainkan dari lidahnya yang selalu menjulur keluar untuk mendeteksi rasa dan mencium stimuli. Bahkan lebih dahsyat lagi, sang predator puncak ini dianugrahi bisa dan air liur yang mematikan. Bila ada mangsa seperti rusa, kerbau atau babi hutan yang terkena gigitan komodo, maka pada umumnya korban naas ini hanya akan bertahan hidup selama satu minggu dan langsung binasa. Pada kondisi tertentu, Komodo dapat berperilaku kanibal dengan memangsa komodo lainnya.

Regenerasi Komodo
Sebagai hewan dalam kelas reptil, komodo berkembang biak dengan bertelur. Musim kawin berlangsung antara bulan Juli hingga Agustus. Komodo jantan akan bertempur memperebutkan betina. Satu bulan setelah musim kawin sang betina akan mencari lubang di tanah untuk bertelur. Sekali bertelur umumnya komodo mengeluarkan 15-30 butir telur dengan masa inkubasi antara 8-9 bulan. Anak-anak komodo yang menetas akan berlindung di atas pohon untuk menghindari predator dan kanibalisme dari komodo dewasa.

Fakta mengejutkan pun terkuak. Menambah daftar keajaiban satwa pelintas zaman ini. Penelitian di London membuktikan komodo dapat beregenerasi dengan cara partenogenesis, yakni pembuahan yang terjadi tanpa adanya perkawinan. Namun disinyalir proses dari partenogenesis ini akan selalu menghasilkan seekor komodo jantan. Dan ini mungkin merupakan salah satu cara guna melindungi komodo dari ancaman kepunahan.

Evolusi dan Sejarah Komodo
Sekitar 40 juta tahun silam di Asia, muncul spesies komodo yang dimulai dengan marga veranus, yang kemudian bermigrasi ke Australia. Selanjutnya 15 juta tahun yang lalu para biawak raksasa ini kemungkinan bergerak menuju wilayah yang dikenal sebagai Indonesia sekarang, karena pertemuan lempeng benua Australia dan Asia Tenggara. Komodo diyakini berevolusi dari nenek moyang Australia sekitar 4 juta tahun yang lampau, dan meluas penyebarannya sampai sejauh Timor.

Ketika tahun 1910 armada kapal Belanda menemukan makhluk misterius yang diduga “Naga” mendiami wilayah Kepulauan Sunda Lesser. Selanjutnya oleh Letnan Steyn Van Hensbroek, seorang penjabat Administrasi Kolonial Belanda di kawasan Flores temuan ini ditindaklanjuti. Pada tahun 1912, Peter A. Ouwens, direktur Museum Zoologi di Bogor mempublikasikan komodo kepada dunia lewat papernya. Dalam pemberitaannya, Ouwens memberi saran nama kadal raksasa ” Varanus komodoensis” untuk komodo, sebagai pengganti julukan Komodo Dragon (Naga Komodo). Dipercaya sebagai hewan unik dan langka, pada tahun 1915 pemerintah Belanda akhirnya menetapkan Pulau Komodo sebagai wilayah konservasi.

Habitat, Konservasi, dan Ekowisata
Hidup di padang savana yang gersang nan tandus, komodo membentuk negerinya sendiri di Taman Nasional Komodo, dan tersebar di Pulau Komodo (1700 ekor), Pulau Rinca (1300 ekor), Pulau Gili Montang (100 ekor), serta Gili Dasami (100 ekor). Hewan titisan era jurasic yang menyukai tempat panas ini akan menjaga panas tubuhnya di malam hari dengan membuat sarang dalam lubang sedalam 1-3 meter.

Dengan populasi yang kian menyusut, menyeret komodo masuk dalam daftar IUCN (International Union for Conservation of the Nature). Perubahan iklim akibat ulah tangan usil manusia seperti pembabatan serta pembakaran hutan liar, limbah bahan pertambangan, dapat mengancam keberlangsungan hidup mega reptil ini. Ditambah lagi kecerobohan manusia dalam berburu rusa secara berlebihan, dapat membahayakan keseimbangan ekosistem di kawasan pulau komodo. Oleh karena itu pemerintah pada tahun 1980 menetapkan Taman Nasional Komodo sebagai wilayah konservasi. Selanjutnya sebagai pengakuan dunia atas kekayaan alam ini, kawasan seluas 1.817 kilometer persegi ini dikukuhkan sebagai Cagar Manusia dan Biosfir pada tahun 1986 serta Situs Warisan Dunia (World Heritage) oleh UNESCO pada tahun 1991.

Taman Nasional Komodo yang lebih populer dengan sebutan Pulau Komodo menyimpan berjuta pesona panorama alam dan keunikan tersendiri. Kawasan di Kabupaten Manggarai Barat ini selain terdapat hutan savana, juga terdapat hutan tropis musim yang di dominasi pohon lontar (Borassus flabellifer), hutan bakau serta terumbu karang. Bukan hanya itu, perairan di Pulau Komodo dengan luas 1.214 kilo meter merupakan salah satu kawasan laut terkaya di dunia. Keindahan pemandangan bawah laut yang eksotik,ribuan spesies ikan hias, gunung laut, bunga karang, terumbu karang dan teluk semi tertutup menambah panjang barisan andalan potensi wisata di tanah komodo ini. Keindahan bahari ini begitu sempurna mengingat perairan ini merupakan migrasi 5 jenis paus, 10 lumba-lumba dan duyung.

Satwa warisan purba berikut hamparan keindahan alam yang luar biasa di belahan timur bumi pertiwi memang merupakan suatu keajaiban sesungguhnya. Hingga saat ini, komodo masih berkompetisi meraih gelar bergengsi di ajang Internasional untuk masuk dalam 7 Keajaiban Dunia Baru (new7wonders).

Ayo cepat! Berikan cinta untuk negeri dengan sumbangsih suaramu. Satu suara sangat berarti selamatkan ribuan komodo dan mengangkat citra bangsamu (Dikutip dari pilihkomodo.com).

Beragam Fakta tentang Keajaiban Taman Nasional Komodo

  • Taman Nasional Komodo yang berdiri 1980 merupakan satu-satunya wilayah konservasi dimana didalamnya terdapat habitat asli satwa purbakala endemik Komodo.
  • Selain Komodo terdapat 25 spesies hewan darat dan burung yang dilindungi, juga flora langka seperti Kayu hitam (Diospyros javanica) dan bayur (Pterospermum diversifolium).
  • Merupakan Situs Warisan Dunia dan Cagar Biosfir oleh UNESCO sejak tahun 1986
  • Kondisi alamnya unik, terdapat ekosistem pantai, ekosistem hutan bakau, ekosistem padang rumput, ekosistem hutan hujan tropis,  ekosistem air laut, dan ekosistem savanna dalam satu wilayah Taman Nasional Komodo
  • Terdapat komunitas hutan mangrove/ bakau  yang berguna sebagai penghalang atau benteng fisik alami terhadap erosi dan akarnya menjadi tempat pembiakan dan daerah perlindungan bagi kepiting,udang dan moluska
  • Di kawasan ini anda dapat menjumpai 253 spesies terumbu karang yang merupakan salah satu pesona biota terindah didunia, ditambah lagi 1.000 spesies ikan yang menambah semarak panorama laut.
  • Bagi anda yang gemar berwisata bahari,  disini anda dapat berenang, snorkeling, menyelam atau pun berjemur menikmati keunikan hamparan pasir merah dengan bebatuan berwarna-warni yang luar biasa indah di Pink Beach, salah satu kawasan andalan di TNK.
  • Anda dapat menjelajahi Goa Alam Batu Cermin sepanjang 200 meter dimana terdapat aneka rupa staglatit dan staglamit yang masih terpelihara dengan baik. Disini juga anda dapat menemukan sejumlah fosil terumbu karang dan penyu yang telah membatu. Fosil ini memberi isyarat bahwa Goa Batu Cermin merupakan bagian dari palung laut pada masa lampau. Dinamakan Batu Cermin karena batu-batunya memancarkan kemilau sinar yang sangat indah.
  • Di pulau Komodo terdapat sejumlah suku yang hidup berdampingan sejak ratusan tahun silam dengan reptil raksasa yaitu Suku Modo.

Masih banyak lagi keindahan dan keunikan Taman Nasional Komodo yang lain. Kini saatnya bagi anda untuk berpartisipasi mendukung kemenangan komodo dan habitatnya hingga mencapai peringkat teratas 7 Keajaiban Dunia Baru Kategori Alam (New 7 Wonders of Nature).

Saatnya Bersatu, Indonesia! Ketik: KOMODO & kirim ke 9818
Untuk berjuang memenangkan KOMODO menjadi finalis 7 Keajaiban Dunia Baru kategori alam dibutuhkan kurang lebih 120 juta suara. Anda bisa memberikan dukungan sebanyak-banyaknya melalui SMS dengan cara: Ketik: KOMODO & kirim ke 9818. Saatnya Bersatu, Indonesia, teruslah berjuang untuk meraih singgasana terbaik. Bagi yang telah memilih 100x (Rp 1/sms) dapat mendaftarkan nama yang akan diabadikan di Monumen Komodo sebagai saksi sejarah!

Selain itu ada program yang tidak kalah menarik dan luar biasa! Para kreator ditantang untuk membuat artikel/foto/film yang spektakuler tentang keajaiban komodo. Khusus bagi Anda yang akan mengirimkan karya berupa film, Anda dapat berpartisipasi mengirimkan karya Anda lebih dari satu film (maksimal 5 film dengan setting yang berbeda). Setiap artikel/foto/film tersebut akan diberikan kenang-kenangan spesial berupa satu buah T-Shirt bergambar Komodo dengan beragam tanda tangan dari para duta komodo. Dan yang lebih penting, semua artikel/foto/film yang dikirimkan akan diseleksi oleh tim juri pendukung pemenangan komodo. Bagi Anda yang terpilih dan tercatat sebagai pemenang, nama Anda layak tercatat dalam Monumen Komodo.

 Kita butuh minimal 120 juta suara!! Jadi dukungan suara anda sangat dinantikan untuk meloloskan Komodo menjadi 7 besar nominator. Kirim terus sms dan polling suara anda melalui situs www.new7wonders.com hingga 11-11-2011 mendatang. Mari kita saksikan kejayaan Komodo dalam ajang bergengsi 7 peringkat Keajaiban Alam Dunia Baru Kategori Alam. Satu sumbangsih suara anda dapat memberi nafas panjang bagi kehidupan Komodo, sekaligus penghormatan untuk Tanah Air tercinta (Disarikan dari pilihkomodo.com)

Jangan sampai terjadi, Komodo mengikuti jejak Borobudur. Kini, saatnya yang tepat untuk membangun citra Indonesia di mata dunia. Jangan lupa: Saatnya Bersatu, Indonesia! Ketik: KOMODO & kirim ke 9818!

Komodo

tentang blog iniTulisan berjudul "Komodo dan Ironi Nasionalisme" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (23 Oktober 2011 @ 03:20) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 24 komentar dalam “Komodo dan Ironi Nasionalisme

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *