Home » Fiksi » Sastra » Menari Puisi-puisi

Menari Puisi-puisi

Gumam asa 9
Menari Puisi-puisi
Oleh: Ali Syamsudin Arsi

Ayo, puisi-puisi, mari menari, melingkar pada titik putarmu. Ayo, puisi-puisi, mari kita ikut menikmati, seperti mereka yang melepaskan sebiji hati dalam istananya sendiri. Sebiji hati memanggil pulang, melambai tangan, berharap banyak kepada Tuannya, adalah kita, yang sedang melakukan perjalanan entah ke mana arahnya; ada yang melakukan perjalanan ke liang-liang, ada yang melakukan perjalanan ke sarang-sarang, ada yang menuju bencana demi bencana, ada yang ke lunas-lunas samudera, ada yang ke luasnya angkasa raya, ada yang hanya mengirim doa-doa ke tempat doa-berdoa pula, ada yang tafakur dalam hening di senja jingga merona, ada yang mengunyah buah segala buah, ada yang menari-nari seperti puisi dalam lingkaran rindu dan hasrat untuk bertemu, tuhan, inilah tarian puisi dan puisi yang ditarikan, tak akan sampai di sini, masih panjang garis-lintas yang akan dilewati-dilalui. Menarilah wahai puisi-puisi. Sampai. Kepada. Temu. Sampai. Kepada. Jumpa. Tak sia-sia. Ayo, pukul itu gendang suara, melagukan irama. Irama rindu sampai ke dasar-dasar tak berbatas, rindu sampai ke lunas-lunas. Getarkan ujung jemari mengikuti, langkahkan ujung telapak kaki, sampai ke denyut jantung dan hati, syaraf-syaraf mengirim irama ke ubun-ubun, menari menari menari, ke siang hari ke malam hari ke pagi-pagi. Tipis-tipis turun hujan mengepung di luar lingkaran kita. Angkasa. Penuh. Kata-kata. Samudera. Meluas. Kanvas. Gemuruh. Suara-suara. Bulan. Dan. Matahari. Kekuasaan. Tangan-tangan. Sebagai. Tanda-tanda. Berseru. Atas. Segala. Segala. Atasnya. Tarian semakin melingkar membumbung naik ke pelaminan bunga-bunga, mengepung dupa-dupa asap dan mimpi pun mulai melepaskan jebak-jebak di udara. Puisi-puisi menari-nari puisi-puisi bernyanyi-nyanyi puisi-puisi menepis sepi puisi-puisi bersusun rapi-rapi puisi-puisi masuk ke dalam diri puisi-puisi enyahkan nafsi-nafsi puisi-puisi memetik harum di embun pagi puisi-puisi lepaskan hitungan hari-hari puisi-puisi lingkaran semakin meninggi, puisi-puisi. Lambaian ranting-ranting kering di hutan sampai pula gersangnya batu-batu di gurun pasir atau liuk-liuk pohon perdu di padang-padang sabana serta telanjang ikan di kolam lautan dan bunyi yang telah berkumandang sampaikan salam hingga tak terhingga jabat tangan kita sebagai persahabatan sebagai persaudaraan sebagai ikatan saling mengingatkan dan apa yang engkau kerjakan sekarang ini adalah sebagai tarian jari-jemari dari kesekian hitungan. Waktu telah berpihak kepada yang namanya keabadian, di batas-batas ruang. Mendesis. Mendesis. Mendesis. Ular-ular meliukan badan dalam keranjang sepi sebagai sebuah tawaran di kepul-kepul asap dan bunyi-bunyi. Hai, orang-orang puisi, orang-orang yang sedang menari, orang-orang yang sedang bernyanyi. Tarian igau di antara kilat pedang dan belati, lihatlah keculasan itu telah merancang sebuah kemenangan, dan dengarlah raungan kesepakatan terselubung siap sedia menawarkan jebak-jebak dan luka-luka. Luka dalam istana. Hanya orang-orang puisi yang mampu menahan lajunya, hanya orang-orang yang sedang menari yang mampu menampilkan luka-luka, hanya orang-orang yang sedang bernyanyi yang mampu meredam segala bentuk ragam hasratnya. Ayo, puisi-puisi, menarilah kita di atas pucuk-pucuk menara. Menara istana luka. Derita-derita demikian juga derita sampai kepada derita dan derita. Derita tanpa suara akan selalu diragi dalam peram-peram sampai menjamur kemudian lenyap tanpa asap di pembaringannya, sedang mahkota-mahkotanya berlumut dimakan usia; lapuk lusuh dan akh, sirna. Sirna tanpa jejak kaki di perjalanan, sirna di bawah gundukan gurun-gurun, mimpi yang menelan sepi. Gelisah menbuncah-buncah. Gumam pun merambah-rambah, jelajah demi jelajah. Tak ingin terjebak, tak ingin terkepung, tak ingin kalah. Gerimis di ujung jemari meneteskan nada-nada, melahirkan puisi-puisi, berpuing di tebing sepi. Gemakan pantulkan sampai melewati batas hari batas pagi. Gerimis meniti di tiang-tiang di dahan-dahan di ranting-ranting di cadas-cadas batu ada karang ada tajamnya tombak tetap di hadang kita bersama menarikan gelombang pasang, oh bulan redup di pangkuan malam-malam dan siang-siang lenyap di balik awan saat angin berhembus pelan-pelan. Tanah kehilangan humus dan mega-mega berjalan perlahan. Antara berhenti memanggil-manggil orang-orang yang lewat dengan seruan agar mendekat dan apa pun yang kita lakukan maka semuanya harus pula dapat merasakan manfaat, entah nikmatnya sampai ke tulang-tulang atau hanya sampai di juntaian kuku-kuku jemari. Lapisan bawah tanah terbongkar saat kita lelap dalam mimpi menjebak di lena-lena waktu. Puisi yang berani membongkar di lunas-lunas cahaya bulan, kesadaran akan memulai untuk kembali kepada asal mula persoalan dan menghitung mundur setiap kerugian. Puisi, dengan segala ketajamannya, akan mampu menerobos ke sumsum relung hati dan kebijakan yang menggila yang hanya mampu bergerak sebagai mesin perontok serta-merta puisi pula yang mengasah ketajaman dengan lemah gemulai namun dapat menikam, ayo menarilah puisi-puisi di setiap relung dan ceruk-ceruk terdalam agar langkah kaki agar tatap mata agar gendang-gendang telinga agar syaraf-syaraf agar urat-urat agar setiap rencana agar setiap ucap tak sampai kepada wilayah-wilayah lena. Menari puisi-puisi di tiang pangcang tempat papan ditancapkan. Ayo, engkaulah puisi-puisi itu, berhadap kita dalam pelaminan. Sejak itu pula dunia yang kita huni ini menjadi mempelai dalam lamunan di setiap sudut mimpi-mimpinya. Sejak diketahui semula ternyata dengan mimpi-mimpi yang penuh keberanian itu pula maka dunia dapat ditegakkan di atas telapak tangan, kita menjadi yang berada di dalam mimpi dan keberanian itu pun mengikuti selalu dalam jengkal perjalanan, di antaranya adalah perjalanan puisi-puisi dengan menari-nari dan; ”Hei, apa yang sedang kalian pikirkan terhadap buramnya cuaca di atas puncak menara istana. Istana daun retak, mimpi rebah ke arah yang tak jelas kejatuhannya. Bulan redup dalam setangkai ranting yang baru saja patah dari dahannya”.

Semakin jelas peranan mimpi di rimbun puisi-puisi. Kita menjadi wajib bermimpi agar kehidupan tidak sepi dan karenanya ada yang harus diraih sebelum segalanya lapuk, kering, retak, dan gerimis perlahan memasuki kepompong sepi sunyi sendiri. Menarilah puisi-puisi, saksikan dan suarakan tentang istana-istana yang masih saja angkuh berdiri. Dalam tarian puisi-puisi, membersihkan kerumitan mimpi.

Peranan yang harus tetap diperjelas, sekeruh apa kondisi yang telah terjadi selama ini ketika ruang publik dikuasai oleh sekelompok pasukan orang dengan tidak mau berbagi tempat kepada yang lain padahal orang lain juga memiliki saham di neraca usahanya, sedikit apa pun namanya, bila ruang tampil untuk publik itu maka jelas bukan karena mendapat kesempatan sesaat itu saja yang mengakibatkan kekuasaan menjadi angkuh dalam kesombongan, kemewahan dari dampak kekuasaan mengatas-namakan dalil-dalil pembenaran sehingga orang lain yang berada di luar wilayah jangkauan kekerabatan atau jejaring mereka menjadi tersisih, tersisih ke tebing-tebing cakrawala, asap mengepul naik membumbung, turun menukik setajam mata elang menuju sasaran, tangkap segala macam pengacau tangkap segala jenis pemberontak, penghalang jalan, padahal kepastian berpijak untuk apa mereka dipilih, kekuasaan mesin kelompok, menjadi penentu langkah selanjutnya, menjadi penentu kebijakan selanjutnya, balas jasa, belas kasih, orang-orang pengusung tandu. Di antara ruang sempit sebagai pilihan itu maka tak jua menyadarkan kita kepada tujuan semula dalam konsep catatan, selalu saja di tengah perjalanan menemukan kepentingan lebih besar sebagai dorongan untuk melakukan jalan-jalan menikung – entah di simpang mana – membelokan arah – entah agar berbeda dari garis lurus – dengan bersusah payah dibangun sedikit demi sedikit, pada puncaknya kita sendiri yang meruntuhkan. Selama ini sejarah keruntuhan itu sudah banyak berulang, di bagian mana ketidakadilan itu diperjuangkan sepenuh hati, di bagian mana kemiskinan itu dielu-elukan agar geloranya sampai ke puncak ubun-ubun kita, selalu saja ada jalan-jalan menikung itu dipertontonkan, karena garis lurus seakan merupakan aib untuk diteruskan. Berganti nama berganti wajah berganti kebijakan berganti pula penindasan. Istana daun retak pun semakin jelas menayangkan kehancurannya. Dan ketika menari puisi-puisi, maka orang-orang tak sedikit mencibir tak sedikit memalingkan wajah memalingkan ucap, padahal ketika itu pula aura dari tarian puisi-puisi itu menuntun kita kepada penyadaran sejati, celah-celah suara dari celah-celah makna dari celah-celah ucap dan bicara. Sebagai Tuan dari puisi-puisi. Menarilah puisi-puisi.

Bersama puisi-puisi, menari, liuk-liuk putaran semakin naik meninggi. Bersama puisi-puisi, menari, liuk-liuk kepal tangan menanti. Bersama puisi-puisi, menari, liuk-liuk suara siap ditumbangkan. Bersama puisi-puisi, menari, liuk-liuk kuasa siap diruntuhkan. Bersama puisi-puisi, menari, liuk-liuk istana siap dibumi-hanguskan. Baru saja menyantap lauk-pauk sebagai kawan duduk berhadap di hamparan daun-daun pandan, menikmati semilir lereng gunung danau-danau pinggiran. Ayo, Tuan-Tuan bersanding di pelaminan puisi-puisi – dalam janjinya sebagai penghapus keruh – tampilkan peranmu di zaman debu-batu-batu berserak berpencar bergumpal berhamburan tak menentu arah tujuan, sebelum Tuan-Tuan kembali pada sekeping papan. Bersaksi kita ketika orang-orang mulai menggali situs-situs kepurbakalaan di tepi sungai ujung benua. Hutan belantara memyelimuti timbunan sejarahnya. Batu-batu menutup jalan. Lubng-lubang digali kembali, bersama puisi-puisi, menari membersihkan kotornya udara, kotornya cuaca. Bersama puisi-puisi, menari. Tarian semakin tinggi. Semakin meliuk-meliuk-meliuk-meliuk. Semakin, bertambah semakin.

Di ketinggian catatan, sejarah kejayaan. Puisi-puisi bertebaran, namun terlalu rapat menutup lubang-lubang; aksara kata dan makna telah pula disuguhkan, namun terlalu tebal dinding-tembok istana didirikan, dengan keangkuhan orang-orang bebal. Fonem hurup suku-kata kata kalimat serta alinea paragraf dan berjuta-juta-ribu-juta-juta-ribu-juta wacana didengungkan, dibacakan, diperdengarkan, namun terlalu dalam untuk menghidar tiang-tiang pancang bangunan istana, selalu saja berkelit dengan alasan kekuasaan sebagai tameng dan kekuatan sebagai landasan berpikir serta tajam mata luka untuk selalu membungkam. Menari puisi-puisi, menyiram luka di titik luka paling menentukan. Tarian semakin tinggi dalam putaran membumbung mengikuti arah ujung telunjuk kepada satu tujuan. Satu titik, walau dengan beragam asal-muasal. Mencapai kebermaknaan.

Istana daun retak, mimpi rebah ke arah yang tak dapat ditentukan, ke mana. Ke mana, ke mana arah rentang cahaya. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Menari Puisi-puisi" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (17 Oktober 2011 @ 01:47) pada kategori Fiksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 16 komentar dalam “Menari Puisi-puisi

  1. assalamualikum wr. wb
    saya mahasiswa UNESA 2011, jurusan pend. bhs & sastra indonesia. saya mendapat tugas dari dosen Sejarah Sastra untuk menganalisa kumpulan puisi dan saya memilih karya bapak. Bolehkah saya meminta alamat e-mail bapak untuk bertukar fikiran??
    terima kasih sebelumnya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *