Home » Fiksi » Sastra » Dan Bencana Itu

Dan Bencana Itu

Dan Bencana Itu
Oleh: Ali Syamsudin Arsi

Pulaslah dalam lelap yang tak berkesudahan. Di bawah tenda, basah oleh embun. Di kedua kelopak matamu, kita saling berdoa untuk keselamatan yang ada di sekitar kita. Maaf, bukan karena air mata sehingga lembab di setiap tetesnya. Bencana demi bencana telah membawa puisi-puisi ini tersangkut dalam reranting di pucuk daun pohon kelapa, di tepi pantai tampak porak-poranda, puisi pun terbaca;

TETESAN EMBUN
di tenda-tenda pengungsian

duh, gerimis yang turun mempertebal kabut di ujung senja
menundukkan wajah ke hamparan langit di lengkung tikungan
perjalanan memang tidak selamanya harus lurus ke depan
seperti datang tiba-tiba, mimpi pun terjebak seketika
ombak menggulung di ketinggian gelombang penuh kecepatan
gemuruh menerjang pucuk-pucuk pohon lenyap menghilang
bersama desau hempas-menghempas, gulung menggunung-digulungkan
duh, angin lembut berubah cepat, selembut embun di pagi bergetar
seperti pegas membingkas, air laut ketapel kembali melintas dalam hitungan
tak sampai 10 menit ia menghempas
lalu jerit melengkapkan daftar lolongan, keterpanaan, ketakjuban
keganasan alam di tangan kekuasaan sang pencipta ke-maha-an
sejenak geliat itu merenggangkan kejenuhan panjang
mayat pun berhamburan, berserakanlah mayat-mayat-mayat
tumpahkanlah cerita itu semampu kalian menangkap cuaca
galau seketika, sangat tidak terduga
walau di lain tempat dan waktu telah banyak gejala
“Kami telah sering merasakan getaran demi getaran, tetapi kami tak pernah
siap dengan apa yang dialami hari ini
kami tak pernah mengerti di hiruk-pikuk
hanya mampu berlari; tetapi banyak saudara, sahabat, tetangga, serta orang-orang tak pernah kembali,” seorang mencoba bersuara dengan degup di dada
di sini, ada yang kosong di kehampaan;
ke detak mana pikiran kami arahkan ke detak mana lapar kami hembuskan ke detak mana haus kami sampaikan ke detak mana luka jantung kami sembuhkan, ke detak mana?
ke detak mana gigil ini digaungkan ke detak mana demam ini ditayangkan ke detak mana ngilu ini disarungkan ke detak mana igau ini dipaparkan, ke detak mana?

duh, gerimis yang turun mempertebal kabut di ujung senja
menundukkan wajah ke hamparan langit di lengkung tikungan
perjalanan memang tak selamanya harus lurus ke depan
seperti yang datang tiba-tiba, mimpi pun terjebak seketika
ombak menggulung di ketinggian gelombang, penuh kecepatan
gemuruh menerjang, pucuk-pucuk pohon lenyap menghilang
bersama desau hempas-menghempas, gulung menggunung-digulungkan
ini masalah hidup yang harus dilanjutkan ke depan, di hamparan luasnya
padang-padang, padang-padang kesuburan itu tak mampu dinikmati
sebagaimana orang lain yang menikmati
terlalu kering ketika hidup hanya sekedar memandang
padahal tuhan menciptakan untuk dapat digunakan
apa pun alasannya, tanpa kecuali, sekedar penonton, bukan
lihat ke sini; di keriput mana lagi tangan-tangan kami galikan
di keriput mana lagi bulu-bulu mata kami mempertautkan kesaksian
di keriput mana lagi tulang-tulang kami membanting segala beban
di keriput mana lagi derap langkah-langkah kami jejakkan
di keriput mana lagi keringat-keringat kami menguraskan penat berkepanjangan, di keriput mana lagi lidah-lidah kami menadahkan harapan
di keriput mana lagi di keriput mana
hidup di padang-padang kesuburan, tapi lain yang dirasakan
air sungai kami kering disalurkan lewat pipa-pipa terowongan membentang di bawah selangkang lewat dengan wajah-wajah keangkuhan
hidup di padang-padang kesuburan, tapi lain yang dirasakan
hijau daun kami lepas melayang menuju tempat-tempat penampungan di balik bukit-bukit jauh, lepas dari pandang melayang dengan wajah-wajah keangkuhan
hidup di padang-padang kesuburan, tapi lain yang dirasakan
energi kami hampa dirembeskan ke suatu kumpulan
kumpulan nganga-nganga dari mulut busuk berbau himbauan dirembeskan dengan wajah-wajah keangkuhan
hidup di padang-padang kesuburan, tapi lain yang dirasakan
duka hidup, di padang-padang kesuburan
isi tanah, alam serta turunan hujan
selalu ke santapan orang-orang
sisa sampah galian lubang-lubang
kubur dari setiap kematian

seorang anak di dalam tenda pengungsian
tatapan kosong, seperti udara di kejauhan
mencoba menuliskan kata-kata dengan sisa air matanya
mengapa harus di sana ia berada
menulis, tidak untuk siapa-siapa, semua sudah tak ada
orang-orang asing di keranda
orang-orang asing di dalam tenda;

“Ibu, ini anakmu
dengan sisa yang masih ada, di mana ayah kita, apakah ia masih bekerja
Ibu, ini anakmu
aku tunggu engkau seperti biasa
rumah yang tiris, pagi itu, dan mengapa kita tak pernah bertemu
Ibu, ini anakmu
dengan tangan gemetar mencoba mengeringkan baju
dengan jari-jari lunglai, ingin meraih wajahmu
ibu, ini anakmu
mengapa nenek tidak lagi menjagaku dengan dongeng
sedang suara bibi di dapur, aku menjadi rindu
ibu, ini anakmu
siapa mereka, semua yang ada di sekelilingku bermata sayu
ibu, anakmu tak mengerti tentang apa yang terjadi
dan dan
dan ibu pun tak ada di sini
anakmu di sini ingin berjumpa, belai ibu sebagai bantal tidurku
dongeng nenek yang melangitkan bayang-bayang
tajam mata ayah, menyibak belukar pembuka arah
wangi lauk pauk di ujung lentik jemari bibi
anakmu di sini ingin berjumpa, desau daun jambu di halaman
anakmu tak lagi punya air mata
di dalam tenda, orang-orang asing pun menjadi sama
menjadi saudara menjadi tetangga, sama hati sama rasa
tetapi ibu tetap tak ada tetapi ayah tetap tak ada tetapi nenek juga tak ada
anakmu di sini ingin berjumpa, bibi yang sejuk mata
katakan kepada ayah, belukar dalam dongeng nenek itu
di sini nyata adanya, katakan kepada ayah mimpi harum padi
di piring-piring suguhan bibi persis dongeng nenek, seperti yang aku baca
di bangku sekolah, atau ketika rumah kita sedang sepi
ibu, di mana tumpukan buku-buku yang selalu kubaca-kueja
ibu, aku menjadi ingat wajah guruku
aku ingat suaranya, bergetar menggema, kapan ibu
kapan bisa berjumpa dan di mana
kapan semua seperti sedia kala
apa yang sedang terjadi ibu
anakmu di dalam tenda hanya mampu menunggu
berpaling pun seperti tak mampu, tetapi anakmu selalu ingat ibu
nenek di mana ibu ayah di mana ibu bibi di mana ibu di mana
di mana di mana, di manakah engkau ibu

di keranda yang mana? Ya, di keranda yang mana?

Gempita hidup di luar tenda, tanpa jendela
adalah hiruk pikuknya suara-suara gelak dan tawa
dalam gaduh seperti ini masih saja ada orang-orang tanpa mata tanpa telinga
menghitung lembar-lembar hari dengan lupa dan luka seperti riuhnya di kejauhan dengan alasan apa pun, seperti tak ada porak poranda membutakan lubang-lubang tubuh membutakan langkah-langkah membutakan celah-celah kulit membutakan gapai-gapai membutakan ayat-ayat tuhan membutakan suara-suara membutakan fungsi-fungsi kemanfaatan membutakan nurani-nurani membutakan penanda-penanda membutakan jalan-jalan

sedih memang tidak harus lama dipertahankan
tetapi mengulang tayangan bernama alfa adalah sama dengan memulai ke asal-mula keruntuhan sejarah mencatat dengan tak ada hentinya tentang lupa tentang luka-luka

sedih memang tidak harus lama dipertahankan
tetapi kesadaran untuk tidak mengulang kesalahan adalah keharusan
adalah kewajiban

dengan wajah sabar dan tenang
seorang kakek berumur 70-an
keriput kulit tangan menampilkan lengkung darah berjalan; gambaran lain di sisi yang lain, rumah tak ada, siapa-siapa tak ada, selimut badan apa adanya
tetapi senyum selalu mampu membalut luka dan ketulusan itu dibawa-bawa senantiasa di dalam tenda, kakek tua renta usia, berbincang senja
seorang pemuda di hadapannya, kepadanya mereka saling bertukar sapa
karena di dalam tenda, semua menjadi saudara, menjadi tetangga
pemuda, luka kaki luka dada luka kepala luka tangan luka tulang menganga
kakek tua batuk tak reda encok melanda asam urat menimpa, “sekarang ada yang kita sepakati, hidup memang tanpa bentuk tetapi kenyataan harus dijalani,” ucap kakek
dan pemuda mencoba menanam mimpi mencoba membenahi segala pikiran tanpa prasangka dan sakit hati, ada sesuatu, pasti, di balik kejadian ini
pun kejadian yang lain lagi

jam delapan lewat tiga puluh menit getaran itu sudah terasa
jam delapan lewat empat puluh menit debur samudera memuncak daun kelapa
jam delapan lewat lima puluh percik jerit bersatu air mata
jam sembilan sekiranya semua terpana, gemetar lutut tulang kaki kepala dada

hari minggu, pagi menjelang terang cuaca
kemarin, ada missa di gereja, kelahiran manusia pembela manusia, hari minggu, dua puluh enam di bulan akhir penanggalan, hari minggu, pagi menjelang terang cuaca, tiba-tiba semua hidup boleh meminta tapi kematian bukan pilihan karna kematian adalah ketentuan
alam pun melakukan pergerakan, seperti tuhan menciptakan dengan rahasia ke-maha-an, lalu mata hati manusia berjelaga, buka-membuka

kehidupan yang membaca setiap relung menjalar ke setiap pelosok
pelosok tanda disampaikan dari detak ke detak jantung
jantung dari gelora degup membuncah-buncah ke arus deras pasang
pasang laut bergulung menggelinding mengalir ke tujuan pasti
pasti menemukan titik temu dari langkah yang lain sasaran
sasaran membentang dipaparkan bagai melangit cermin
cermin tak terbaca maka wajarlah segala lenyap tersapu berlalu waktu
waktu, kata itu penentu, waktu yang tak mampu berbalik
berbalik dipijakan sedia kala karena waktu lenyap
lenyap di kehampaan, setumpuk apa pun ia tercatat dalam sejarah
sejarah lama dengan kepurbaan, sedang sesuatu selalu menunggu

kehidupan selalu lincir ke depan, bukan surut ke belakang

tuhan, selenyap apa lagi yang akan membisingkan suara dari setiap peingatanmu sudah sering didengungkan dari zaman ke zaman pembuktian akan kebesaran itu tidak hanya sekali ini

sejarah mencatatkan di goresan batu-batu atau lembar daun-daun kering di keabadian bersama mukjizat-mukjizat melebihi keajaiban manusia biasa; dan manusia pilihan itu selalu saja mendahului perjalanan serta pemikirannya kadang belum sempat dicerna orang-orang terlebih dahulu membalikkan tangan, pergi dengan memiringkan muka ke arah lain, hindari kata dan suara
tuhan, selenyap apa lagi yang akan membisingkan negeri di gigil ngilu
tuhan, kesempatan hidup tentu saja tidak harus menuju kesia-siaan seperti yang terlalu sering dijerat karena waktu

kehidupan selalu lincir ke depan, bukan surut ke belakang

seorang ibu bermata biru tegar bergumam menyebut nama tuhan selalu
tutup kepala berlumpur lusuh melapis debu, “kesedihan bukanlah tujuanku
hamba serahkan semua yang memang datang darimu, tuhan, betapa hebatnya ke-maha-an engkau semua kembali kepadamu tangan ini terlalu gemetar meraih kasihmu rumahku adalah langitmu bajuku adalah bumimu dan laut kekuasaanmu aku di sini hanya menunggu, seperti yang lain menunggu giliran ketika kesadaran itu singgah di malam-malam di dalam tenda semuanya berjalan sesekali kutengok juga kenangan terlalu pahit dirasakan anak-anakku hilang ditelan gelombang aku tersangkut dan hidup karena tangan-tangan kebesaranmu, tuhan seperti doaku setiap malam panjang zikirku berdengung sampai ke pembaringan di puing waktu, tak ada yang lain, selalu dan selalu namamu; langit kasihmu bumimu kasihmu lautmu kasihmu …”

pergeseran kedua lempengan lapis benua menghisap kedalaman laut, dan tiba-tiba membalik arus dengan hempasan tak terkira, takjub; terkesima
menanda kijang yang berlari ke dataran menjauh sepi
menanda unggas bergegas lepas ke padang luas
menanda capung yang enggan terkurung karna ombak akan menggulung
menanda buih turun ke arah dangkal

cakrawala
tuhan
harapan
enyahlah duri-duri
lengkung langit
tuhan
diam di dekat
mendekap hari-hari
keluasan tata surya
sepi
dingin celah batu
tuhan
bimbinganmu
sampai
tunggu
aku

hidup telah meminta tapi kematian bukan pilihan

di dalam tenda
seorang bertanya ibu dan lainnya
di dalam tenda
senyum kakek melepaskan duka lara
di dalam tenda
pemuda memunguti bunga-bunga cinta
di dalam tenda
kesabaran seorang ibu melebihi kata-kata
di dalam tenda
kehidupan itu seperti tetesan embun akan bermula
di dalam tenda
tuhan punya rencana

peristiwa ini memang sebagai bencana
dari bencana ini orang-orang menjadikannya tempat berkaca
di tempat berkaca akan menampilkan bayang-bayang luka
sejak sejarah luka terkuak, kita menjadi orang baru sebagai
manusia
manusia dari tubuh manusia dari jiwa manusia dari segala kelebihannya
ada kelebihan tetapi dengan sadar bahwa ada kekurangan
dan ketidakmampuan dan kekerdilan dan kepunahan dan

bila kesepakatan itu datang sejak lama
uluran demi uluran mengalir tanpa curiga tanpa prasangka
sangat merasakan betapa perih dan ngilunya luka-luka
gigil dingin pun terasa di bulu mata
ngilu-ngilu dan luka-luka pun duka-lara

tinggal sekarang,
bagaimana tuhan mencipta untuk berbenah hari ini
tinggal sekarang bagaimana
maukah kita memulai dengan hal-hal yang baru
dari kejauhan tanda-tanda; ngilu-ngilu luka-luka

duh, getar apa yang meluruskan pertengkaran kita
selama ini, sebagai penharapan lebih kepada
penghormatan
sebagai manusia, sebagai orang-orang biasa

duh, maafkanlah segala luka yang tergores di kening
dan dada; sebagai manusia sebagai apa saja
di dalam tenda, kita menjadi sama

Sekali bergumam dalam puisi atau puisi yang selalu bergumam. Bunga-bunga telah mulai berguguran, bunga-bunga telah pula mulai bermekaran. Bagian hidup memang ada saat paling menentukan, juga sebaliknya, ada pula saat yang paling tepat untuk menghindarinya. Apa yang telah dilakukan merupakan bagian dari yang akan dilakukan kemudian. Bunga-bunga. Mulailah kita membaca gejala alam. Bunga-bunga. Kita telah jauh berjalan. Siap untuk pulang. Mengembalikan sebiji hati itu pada tempatnya semula. Betapa bencana terus menimpa, tidaklah mudah melakukan penyadaran karena terlalu banyak lapis-lapis sebagai tembok besar dan tebal, gelap dan suram. Berlapis-lapis. Sangat berlapis-lapis. Kesadaran adalah bagian dari perjuangan. Perjuangan mengandung nilai-nilai dalam menentukan langkah ke mana arah diharapkan. Bunga-bunga. Aroma-aroma.

Dari peristiwa bencana seperti ini ada juakah kepedulian di juntaian segumpal daging kehibaan, mereka telah terkepung dengan ketidakberdayaan – teramat dalam mencekam memilukan setetes demi setetes darah dari ujung pori-pori sampai akhirnya kelopak bulu-bulu mata membeku embun – kepedihan berkepanjangan, ada juakah uluran tangan atau hanya sebagai penonton di kejauhan bahkan mendekat untuk hal-hal yang tidak terpuji, karena janji tinggallah seonggok janji. Janji menumpuk di reruntuhan, bibir-bibir lincah berucap, mulut-mulut renyah melebarkan sayap, ternyata memang tidak segampang itu, ternyata memang tidak semudah itu, kenyataan yang berbeda dari apa yang telah diuraikan semula; perjalanan menikung di entah simpang yang mana, perjalanan menikung di entah kantong mana, perjalanan menikung di entah gudang mana, perjalanan menikung di entah bagasi mana, perjalanan menikung entah di rekening bank mana, perjalanan menikung entah di perampok mana, perjalanan menikung entah di simpanan mana.

PESAN-PESAN
untuk yang kesekian kalinya

Kematian seperti apa yang harus dihadirkan pada masa-masa sulit sekarang ini, bulan redup di ujung tahun, seperti yang dahulu juga, pernah diterima sebelumnya

Sementara kesimpang-siuran kabar, agar nalar kita mampu mencerna segala kebenaran, bukan sebaliknya, tentang kedustaan sebagai tontonan dan dijual-belikan di etalase, gantungan baju, pameran, ruang-ruang pajangan, lembar-lembar iklan

Simpan air-mata-mu

Jerit-jerit apalagi yang harus ditangkap sebagai lolongan panjang membentang menelusuri celah-celah hati membatu gema dan dengung di telinga pun seperti tak ada bentuknya, tuhan telah menciptakan untuk digunakan akan ke sampah mana sisa-sisa suara akan ke sampah mana

Kematian itu pun seperti lubang-lubang galian

Alasan apalagi yang akan dihajatkan di hadapan para malaikat yang telah memutuskan kedatangan, pasti tepat pada waktunya; lalu apa yang mampu dibawa selembar angin melepaskan kain kekerdilan diri jangan tumpahkan kesedihan itu di sini tak ada tempat lagi kalau hanya sekedar mencari letakkan telunjuk di ujung jari ketika tanah-tanah retak membelah ketika awan-awan tak mampu menahan beban ketika panas-panas menyalakan api korban ketika darah ketika air mata ketika luka

Simpan air-mata-mu

Tuhan telah menetapkan memang seperti apa seharusnya menemui kematian namun kalau pun boleh memilih tentu bukan dengan cara yang lain seperti orang lain tak mau memilih

Sekarang masihkah memajang mayat-mayat di lipatan kawat-kawat suara dan kata, penyair dan isyarat kadang tak mudah ditangkap, kematian seperti apa yang ingin dihadirkan pada zaman batu sekarang ini, ketika menatap bola mata redup, tak sempurna terkatup, bocah itu sebenarnya ingin banyak bercerita, tetapi; ke sampah mana tawa-tawa polos dari pagi yang bergema ke sampah mana tengadah tangan-tangan lentik ke sampah mana wajah-wajah sepi melepaskan doa ke sampah mana canda ke sampah mana lantangnya kata-kata ke sampah mana suara-suara
Di langit embun menolak bencana di gunung menolak prahara di pulau menolak air mata, air mata air mata, siapa-siapa; tak

Mesjid dan surau sepi pelanggan orang-orang berteduh gerimis, memilih di turunan toko-toko ruko-ruko pasar-pasar swalayan-swalayan toserba-toserba supermarket-supermarket mall-mall pegadaian dan gudang pegadaian
Di rumah yang sombong
Di gedung yang sombong
Di kantor yang sombong
Di pistol yang sombong
Di kapal yang sombong
Di seragam yang sombong
Di kursi yang sombong
Di meja yang sombong

Setelah itu terjadi lalu apa artinya uluran demi uluran padahal sebelumnya lebih banyak arti bila itu dilakukan
Kematian seperti apa yang diharapkan di masa paceklik seperti ini
Duka hidup di padang-padang kesuburan
Katakan derita bukan tayangan-tayangan pemberat luka; senyum ibu sebagai mayat mengapung adalah aku tengadah tangan bayi sebagai mayat adalah aku jerit ayah menggapai sebagai mayat adalah aku tatapan kosong mata sebagai mayat adalah aku tulang-tulang patah sebagai mayat adalah aku berserak tak berbentuk adalah

Kematian seperti apa yang dikehendaki, jauhkanlah ketika ketamakkan melanda nurani jauhkanlah ketika rasa ketakcukupan melumuri ingin melanda diri jauhkanlah ketika kerasukan melanda tangan-tangan pada yang lain bagian jauhkanlah nafsi-nafsi

Daun pun luruh ke bumi, air mata menjadi batu
Yang berbaring sebagai mayat adalah aku

Kematian yang bagaimana lagi yang harus dinikmati seperti pesan-pesan yang terlalu sering didengungkan tetapi setelah ini masih saja, tetapi setelah ini tetap saja dengan alasan yang boleh jadi berbeda, padahal sama karena mayat itu adalah aku

Duka hidup di padang-padang kesuburan, kematian adalah perjanjian sementara tragedi membangun pemikiran ke arah tanda-tanda; ada yang belum lunas dibayarkan, mungkin kepada alam karena mayat itu adalah aku
Kematian itu pun seperti lubang-lubang galian menunggu giliran karena mayat-mayat itu adalah aku air mata membatu ditunggu ditunggu ditunggu selalu dan selalu karena mayat-mayat itu adalah aku

Simpan air-mata-mu

Biarkan perjalanan berlalu menuju tempat selayaknya dituju lepaskan beban antara yang ditinggalkan dan kesombongan karena keserakahan menumpuk-numpuk semakin digunung-gunungkan

Kematian adalah perjanjian tetapi bentuk dan cara kematian adalah pilihan, bila itu memang boleh dan diperkenankan maka kewajaran dari kematian menjadikannya sebuah penghormatan, kapan dan di mana pesan lain disampaikan

Berjuta-juta-ribu tayangan; sekejap datang dan hilang, datang lagi dan hilang
Datang lagi dan hilang lagi akhirnya mayat dan aku sama-sama menjadi sepi hanya mampu menunggu giliran bentuk dan caranya pun tak ada dalam mimpi entah kapan dan di mana lagi

Melangit cermin dipaparkan sudah awan bergerak menuju arah tak pernah tetap selalu berubah, melangit cermin ke langit wajah tengadah memahami kekerdilan diri tak mampu berbuat lain ketika cermin demi cermin terbelah mengaburkan tanda-tanda di wajah kematian seperti apa yang diinginkan lalu untuk apa bergunung-gunung karun itu menayangkan keangkuhan seperti senyum dan kekuasaan walau banyak suara dan kata-kata di sampahkan, entah ke sudut mana, tak pernah mau tahu bahwa ada sesuatu di baliknya

Mayat itu adalah aku sebagai lanjutan pesan demi pesan yang telah sering disampaikan untuk yang kesekian kalinya, selanjutnya adalah penyadaran membagi luka atau suka kepada sesama
Kepada sesama, karena mayat-mayat itu adalah kita

Kematian dan kepasrahan adalah satu bagian

Hilangkan pesta demi pesta apapun alasannya seperti aroma kamar yang menolak riuh gempita ada dukana memperpanjang renungan, tak berkesudahan; keranda keranda keranda keranda keranda, hilangkan pesta demi pesta, tak ada pesta sampai ke celah sepi dan luka-luka

Kematian seperti apa yang harus dihadirkan di masa sulit sekarang ini, walau tayangan pesta masih memenuhi ruang-ruang tamu, semua orang harus sabar menunggu

Kematian inikah episode terakhir sebagai penutup ending untuk memulai perjalanan baru; tanpa pesta tanpa lupa tanpa luka dari cerita nyata sebuah bangsa sebagai manusia, tuhan menciptakan untuk dapat digunakan tetapi tuhan telah banyak dengan peringatan sementara mata dan telinga masih berpundak beban; padahal itu pun cobaan, kembali ke sudut nurani biarkan aku berbaring di sini dengan caraku sendiri karena tuhan sangat memahami; doa tak pernah berhenti

Kematian
seperti apa
bagaimana rasanya
untuk apa yang sudah ada; sebab hidup boleh berkali tetapi kematian hanya cukup sekali ini

Kematian adalah pelajaran dan
katakan kepada serangga bahwa akulah mayat yang disantapnya
katakan kepada ulat bahwa akulah mayat yang dihisapnya
katakan kepada kumbang bahwa akulah mayat yang digergajinya
katakan kepada cacing bahwa akulah mayat yang dilumatnya
katakan kepada batu bahwa akulah mayat yang ditindihnya
katakan kepada parang bahwa akulah mayat yang digoroknya
katakan kepada air bahwa akulah mayat yang dihempaskannya
katakan kepada keranda bahwa akulah mayat yang diusungnya
katakan kepada tanah bahwa akulah mayat yang dibaringkannya
katakan kepada langit bahwa akulah mayat yang dilingkupnya
katakan kepada sesama bahwa akulah mayat yang tak mampu
mayat yang tak mampu, tak mampu berbuat apa-apa

Kepada tuhan
biarkan aku berkata bahwa akulah mayat yang datang
sesuai dengan rencana semula
seperti perjanjian
sama dengan rahasia
hanya pesan yang terbaca lewat tanda-tanda

Selamat tinggal dunia
Selamat tinggal manusia

Berulang datang bencana dan sebarkan tulang-tulang kemudian kita menjadi kalah dalam perang dalam hidup dalam perjalanan. Tulang menjelma debu dalam sebaran-sebaran angin cuaca menderu-deru. Sampaikan salam ini kepada siapa saja agar kita dapat merasakan sakit itu, agar tidak berkepanjangan sakit itu karena dari segala bentuk uluran tangan akan mampu menghilangkan segala macam beban dan saat yang tepat itu telah tiba ada di kelopak mata, tetapi mengapa masih saja diam, paling tidak ada pergerakan untuk melakukan sesuata yang sangat bernilai. Tanpa berbuat adalah sangat tercela dan sekali lagi jangan diam mematung raga, suara-suara semakin bergemuruh di angkasa, langit biru membuka, ada tangis yang tersangkut di rerantingnya. Awan-awan menatap tajam ke bawah, ayo, kibarkan bendera pusaka, kita jelang segala bencana yang datang dengan langkah tegap gempita seperti saat para gerilyawan berangkat terjalnya tebing dan gelapnya malam, seperti seiring seiya sekata para semut memberikan jalan bagi yang di belakang dan membangun tempat istirahat, aman demi seluruhnya, ketika musim dingin datang musim hujan tiba semua yang diperlukan telah tersedia. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Dan Bencana Itu" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (8 Oktober 2011 @ 00:10) pada kategori Fiksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 51 komentar dalam “Dan Bencana Itu

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *