Home » Fiksi » Sastra » Gumam dalam Tafsir Rindu

Gumam dalam Tafsir Rindu

Catatan: Gumam Asa, diakui atau tidak, telah menjadi genre tersendiri dalam kesusastraan Indonesia mutakhir. Bang Ali Syamsudin Arsi (Asa), dengan demikian, bisa diposisikan sebagai seorang sastrawan pembaharu lewat karya-karya gumamnya yang khas. Saya lebih suka menyebut karya-karya gumamnya sebagai sebuah pseudo-puisi yang menggabungkan gaya bertutur naratif sekaligus puisi dalam mengekspresikan geliat batin, perasaan, pikiran, imajinasi, dan intuisinya. Totalitas penciptaan dan kreativitas Gumam Asa bisa dinikmati lewat teks berikut ini.

Gumam Dalam Tafsir Rindu
Oleh: Ali Syamsudin Arsi

Ya, inilah saat yang tepat untuk menyatakan rindu itu. Rindu kepada apa yang telah dicita-citakan, menemukan sesuai dengan harapan. Tidak mudah memang, doa dan pengorbanan panjang upaya demi upaya, perjalanan keong meniti jembatan sepanjang batas di kedua tebing sungai-sungai rindu selalu menuntun di sepanjang hasrat. Maaf, saat ini biarkan aku merindu agar tak ada yang mengganggu. Tak sedikit sejarah telah mencatat kegagalan atas nama pencapaian, walau sekedar penglihatan mata-mata yang kasat, sebab pada ujung perhitungan siapa yang dapat menentukan. Yang. Terbayang. Antara. Sinar. Bulan. Atau. Tak. Ada. Apa. Apa. Sementara matahari tetap saja menawarkan diri kepada siapa saja yang telah siap untuk melunaskan sepi ke arah rindu itu sendiri.

Dalam tafsir rindu yang berkepanjangan ini aku lebih memilih untuk merunduk dan mengikuti arus dalam perjalanan waktu. Ada yang maha kuat membimbing setiap langkah ada yang maha dahsyat dari sekedar kehendak hatiku sendiri dan semua telah terpampang garis yang akan menentukan walau di layar lebar mataku bukan sesuatu yang mudah untuk menentukan pilihan, ada jebak yang membuat aku terperosok lebih jauh menjauh ke lorong semakin jauh dan menelusuri parit-parit usang bau amis dan terhinakan. Ini bukan pilihan yang menguntungkan tetapi kesadaran untuk menghindarinya haruslah mendapat dorongan lebih kuat agar menghindar dengan segala kesehatan pikiran.

Perindu perindu perindu, perindu berseru-seru. Perindu menarikan puisi dalam hening-hening di cakrawala bulan-bulan bersatu. Perindu perindu perindu, perindu berseru-seru. Perindu melantunkan nyanyian puisi-puisi dalam sepi dalam gaduh, hanya namamu, hanya namamu. Perindu perindu perindu, di selimut malam terjaga bulan bulan  bersama, hanya namamu hanya namamu hanya namamu. Perindu dalam langkah tanpa kepal di tangan tanpa duri di pinggang tanpa belati di mata tajam tanpa raung di jerit kemilau, kemilau bukan berbatu-batu, perindu. Hujan enyah ke laut biru enyah ke malam kelabu enyah ke kutub sembilu. Perindu perindu perindu, hanya namamu disebut-sebut selalu, hanya namamu hanya namamu hanya namamu. Perindu perindu perindu, dari buai sampai ke bilik sepi dingin dan sunyi. Perindu perindu perindu, kepasrahan yang melingkupi. Perindu perindu perindu, dalam badai tetaplah hening di telapak tangan, walau badai tetaplah namamu diseru-seru, hanya namamu hanya namamu hanya namamu hanya namamu, perindu perindu perindu. Mabuk dalam belai, perindu sampai diam terkulai. Perindu perindu perindu, mengalir di arus-arus tanpa riak dan gelombang. Perindu perindu perindu. Akhir ke batas-batas membumbung segala debu, peindu perindu perindu. Meretas jalan hanya namamu diseru-seru, hanya namamu hanya namamu hanya namamu. Perindu itu.

TAFSIR RINDU
Karya Ali Syamsudin Arsi

Mendamai hati dalam gaduh-gemuruh;
            darah untuk Yahya, sembahyang terakhir
            dan ngilu tubuh batang pohon, gergaji perih tubuh Zakaria
            tetapi tetap bernyanyi. Nyanyian semakin tinggi
            membelah malam, menembus siang
            ke tingkap langit, lewat dingin api Ibrahim, tenang

Mendamai hati dalam gaduh-gemuruh;
            damai, damai, damai, Perindu, Perindu, Perindu
            getar kilat pedang Ibrahim, Ismail terlentang, Wahai
            langkah tenang, kata-kata tenang
            Perindu mengenang mata tajam, Muhammad tenang
            pelayaran di atas riak gelombang, laju deru layar Nuh

Mendamai hati dalam gaduh-gemuruh;
            damai Yusuf dingin dasar bumi
            Yakup melangkah di terang jalan, aroma jauh dalam kebutaan
            ngingir kuman di tubuh Ayub. Sendiri dan sendiri
            sendiri Yunus dalam lendir perut ikan
            para nabi, para rasul bernyanyi dan bernyanyi

Menanti putusan terakhir di peraduan telanjang;
            bagai tanah retak mencium bau gerimis
            di ujung musim kemarau. Hujan, datanglah hujan
            datang, datanglah datang
            bukan hanya gerimis di siang. Bukan hanya bayang
            ditempa sudah, diperam sudah, dicambuk sudah

Menjadi diri-sendiri ditempa diam Wahai;
            Perindu membentuk-dibentuk, memusnah-dimusnah
            dalam diam segala diam. Dalam diam ternyata ada Wahai
            ada gerak memahat jiwa, melukis sukma
            o, Perindu menatap rembulan, perlahan menghilang
            kemudian terbit siang. Mengerti adanya pergeseran

Mendoa di segala sikap;
            ya, Wahai, tak ada yang dilupa untuk Wahai
            segala dari Wahai. Tubuh ini, jiwa ini
            segala dari Wahai. Langit ini, bumi ini
            segala dari Wahai. Perputaran ini, tata surya ini
            ya, Wahai, tak ada yang dilupa, selalu doa

Mengekalkan nama di pasir berombak;
            Perindu merebahkan tubuh di hamparan pasir
            menulis nama Wahai, di sana, datang ombak
            datang laut. Tulisan lenyap tak dikehendak
            menulis lagi. Sebuah nama hapal dieja
            datang ombak, datang laut. Tulisan lenyap. Tulis lagi

Merajut serat-serat benang Kekasih;
            benang-benang merah memulun hati, bergumpal
            mencari pangkal, menangkap ujung
            bergumul-menggumul. Perindu, penenun abadi
            mencipta kain, tak tampak helainya
            sebab untuk jiwa, siapa yang dapat menatapnya?

Merenungi lingkup kaki langit;
            mengerti kecil, paham yang besar
            mengerti buta, paham akan pengertian
            siapa di dalam, silahkan keluar
            siapa di luar, silahkan masuk, tetap menunggu
            Perindu menggenggam keyakinan hakikat kaki langit

Mendulang ke dasar bumi, merabuk batu murni;
            menembus lapisan demi lapisan. Cakar dibuka-bentang
            tangkap membayang bagai sayap mengembang
            mata tajam menembus sinar terang
            sambil berzikir, bercakap pada sumber
            oh, perindu, tak kenal lelah, bebatuan, dasar lautan

Menyelam ke dasar lautan;
            meraih debu laut, bagai ganggang melayang
            tertangkaplah jejak kerang. Mutiara di dalam
            dari debu, pasir, mengeras gerah, Wahai
            membatu berselimut cahaya
            di dasar, Perindu, tersenyum menatap ingin

Melangit harap terhampar di bumi bergulung;
            tak ubah tangis bayi, tangan mengulur pinta
            semuanya harus tercipta. Perindu membayang angan
            enggan berganti, enggan membagi, enggan berbagi
            dengan langkah lain pun sukar mempercayai
            sebelum dapat Wahai dalam pelukan

Mengulur timba sampai ke pucuk-lunas;
            terasa ada yang tersisa. Masih
            bila hanya mengukir di tepi-kali-luka, di luar
            ke dalam menghirup sari pati
            puncak segala puncak, pucuk segala pucuk
            yakin bahwa dalam biji masih ada lembaga dan jiwa

Membilas wajah di bening telaga-danau;
            di zaman debu
            walau mengepul asap mengatas deru
            hutan dunia menjadi ladang berburu
            keruh segala keruh, lusuh segala lusuh
            di gersang zaman debu. Setelah dapat mati tak apa

Berwudhu kumpulan embun, mencair di telapak;
            manusia menghisap darah manusia
            selain Perindu, Wahai, dan Kekasih
            adalah mengental nanah dimamah, akh
            Perindu berwudhu
            membayang kerabat celaka, menimpa jauh dari Wahai

Berhembus ketika diam bunga;
            rumput kering di muka, api di tangan membara
            terkejut. Diam seketika. Kagum bertatap tiba-tiba
            Kekasih. Datang, selalu datang
            dan kemilau salam, gemamu tertangkap di taman
            pertemuan tak terduga. Musim hujan, bunga

Menyibak kabut, mengurai benang kusut;
            ketika badai mengamuk, bergelombang, bersahut
            dengan cahaya membelah gumpalan hitam. Darah siapa
            selain duri dan debu
            ternyata luka hari pun mengikuti
            dan waktu selalu memburu. Bahkan di muka ia menyeru

Mengisi lapar dengan batu kali-jalanan;
            mengerti lapar tak kenal lapar
            menggelepar. Wajah dipajang. Kotak kaca, oh, kejam
            mulut menganga, membuih senyum berkembang
            tengadah. Kaki bersila di tikar. Basah dari atas puja
            tak ada yang lain, hanya Wahai Kekasih

Menggurun langkah-kaki telanjang;
            mengerti panas, tak kenal panas
            pasir batu lembah sumur kering haus duh duh
            menyingkirkan asap dupa. Tak ada siapa-siapa
            Perindu, gila dalam kesendirian. Alfa untuk yang lain
            bebas menyiksa. Batin termakan bisa, memakan bisa

Menepis waktu;
            bila sudah begini, Perindu tak dapat dikekang
            walau waktu. Hari-hari pun lepas dari pandang
            sepi bergelut. Sendiri, sampai sendiri
            tak kenal tepi. Menangkap untuk segera berhadap
            Perindu selalu lekat, tak lepas dari dekap

Membunuh raga, menyalakan jiwa;
            darah dari jantung, menetes luka, bukan apa-apa
            segalanya untuk Wahai. Berseru, mencipta gema
            memantul di setiap sudut, untuk Wahai
            Perindu menyeru, memanggil deru
            enyahkan serpih-serpih debu, untuk Wahai

Bergumam dalam mimpi;
            datang, datang, datang. Tak jauh, tak pergi
            Perindu tidur nyenyak dihembus angin
            hanyut dalam badai, tak kenal badai
            hangus dalam api, tak kenal api
            akh, mari, ke sana- ke mari, untuk, dan … aakkhhh

Menembus batas-jalan kawat berduri;
            dalam perang, Perindu tertembak, luka, limbung granat
            lalu tertusuk panah, membiru, bercecer darah di pundak
            datang pedang membabat, mencencang tulang
            luka demi luka belum kering, perindu berucap:
            “Bertemu di sini, Kekasih,” tersenyum menatap Wahai

Menyimak suara-suara dalam tangis bayi;
            “Oh, janjiku pada dunia. Berwarna, bersilang
            setujuku berarti hidupku. Dari Wahai aku ada
            perjanjian hidupku adalah tanggung-jawab diriku
            aku, bagaimanapun juga akan menuju sendiri
            yang lai adalah udara untuk napas-hidupku.”

Menyimak suara-suara dalam tangis bayi;
            “Oh, tatapku yang pertama, tangisku, air mata luka
            jalanku di dunia. Jalan harapku di sana, Wahai
            jalan yang berliuk-garis. Lekuk-melekuk, Wahai
            bercabang, beranting. Lurus, meliuk, melingkar
            tak terduga, samar pada mata terbuka-telanjang.”

Menyimak suara-suara dalam tangis bayi;
            “Oh, biarkanlah aku melangkah ke diriku yang aku
            setiap engkau adalah dermaga yang sementara
            begitu pula dermaga-dermaga yang lain
            di ujung perjalananku, di sana, bersama Wahai
            ada aku yang setia menunggu, sampai aku tiba.”

Menata diri dalam dekap sepi;
            di tempat yang sepi, diriku berdiri, sendiri
            berbenah dan menata bekal, menuju peristiwa diri
            untuk sebuah jaringan perjalanan, bulat-berbelit
            setiap langkah adalah lingkaran
            setiap buhul adalah istirahat yang tidak kekal

Menyusun kata di dinding angin;
            ia adalah saksi setiap perjalanan
            ia adalah bukti adanya kehidupan
            tak akan hilang. Abadi. Ya, abadi
            karena angin selalu ada. Bergerak. Ya, derap
            penyampai pesan antara bumi dan langit

Melayang di arus tata surya;
            alam bunga, alam bunga, alam bunga. Zikir ditata
            simaklah dengung nurani bergema. Cahaya
            bersimpuh. Mata terkatup, duh, Kekasih
            putar-berputar. Bagai gabus, tenang di muka air
            hanyut bersama cahaya matahari dan bulan

Berselimut dingin cuaca;
            dalam kamar remang, telanjang diri, bercakap sepi
            membuang cakar, enggan berbagi
            oh, dingin. Perindu membaca diri pada cermin masa lalu
            yakin tak kuasa, tapi menguasai-dikuasai
            memeluk Wahai. Oh, matahari di kamar ini

Meneguk duri sari bunga;
            tak bertanya di mana kini. Mabuk, mabuk cuaca
            mata-angin pun tak peduli, siapa
            melingkup kelopak bunga, memamah durinya
            seteguk bertambah teguk untuk mabuk. Racun diteguk
            Perindu duduk-bersila, mengucap zikir, sebut-menyebut

Menangis bahagia, kuntum teratai;
            maaf menghapus dusta, teratai
            air mata menjelma bening danau. Tampak dasar
            berbatu, perindu membungkam keruh. Tenanglah teratai
            berkuncup putih, kuning sinar di tengah
            daun melebar mengundang datang, Wahai

Berulang menatap rupa di telaga;
            tanpa menyentuh permukaan, bening dan tenang
            menikmati riak kecil gelombang, ditiup angin
            sehelai daun jatuh melayang, pelan
            tanpa mengusik keasyikan. Malam dan siang
            mengenal sampai ke lekuk-lekuk. Rupa demi rupa

Menata debu, pasir dan batu, seakan bisu;
            membayangkan berdirinya istana dan menara di sana
            sinar lampu di puncak. Tinggi menyebar bunyi
            apa, siapa, mengapa, di mana, untuk apa, dari mana
            Perindu bekerja sendiri, lalu sendiri, seakan bisu
            Perindu membuta sekeliling, semua dianggap gila

Menantang maut di jalan sepi;
            menolong sudah, ditolong sudah
            berdiri di titik kosong. Ada yang ditunggu, datang
            petuah sudah, nasihat sudah
            tegak, pasti. Tak akan berpaling, datanglah
            juga tak akan undur, walau selangkah

Tafakur dalam setiap ruang-waktu;
            dari sendiri kembali sendiri
            dalam pikuk pun tetap di tengah sepi
            mengerti gaduh, tak kenal gaduh
            mendengar lalu menyimak, mencari lalu menangkap
            berzikir tentang diri, sadar akan kembali

Berdesir membisik angin;
            Wahai, Perindu di sini, tak berbilang kata untukmu
            di luar dan di dalam sama. Rata diputar cuaca
            menyimak titik-titik embun
            membercik ke lantai kamar gerimis
            sebelum hujan. Salam untukmu, Wahai, Perindu di sini

Menabur benih di ladang;
            sebagai tempat berhadap. Di taman, Perindu datang
            semua warna ada. Jangan tinggalkan, Wahai
            bisik desau di dahan
            kembang kuncup merekah semai
            Perindu akan segera menuai

Melingkar jalan di titik putar;
            sapa dan salam, bermula dari jauh, untuk sampai
            bentangan harap sudah panjang, sejak mengerti
            ketika lupa arah semula. Kembali ke pangkal
            bayangan tak lepas, sinar dan cahaya
            pertanda Perindu paham di mana sumber

Menolak bias jalan hujan keabadian;
            Perindu menadah lurus jalan. Dari atas ke bawah
            bukan percik yang diraup
            langsung ke sumber, inti pati, jatuh, lurus
            tegak dari atas ke bawah. Bukan dari tangan lain
            sejuk Wahai Kekasih. Tak ada yang lain, walau bayang sendiri

Bertolak dari jauh menuju dermaga istana Wahai;
            riak demi riak, mendekat
            ombak demi ombak, mendekap
            dermaga, istana Wahai, menggapai-gapai
            mesra menyambut. Samar-samar tertawa
            mengecup duh senyum tanah pijak, tanah harap

Menyusun tulang-belulang sendiri di pusara;
            di tengah ruang sempit ini, ya, pusara
            tak ada yang dapat melepaskan pengikat jiwa
            kulit hancur, daging hancur
            tinggallah tulang-belulang tersebar, sementara
            kemudian disusun ke aslinya. Lalu lenyap juga

Meniti di tangga tingkap langit biru;
            satu-satu dilewati-melewati
            sampai ke batas puncak paling tinggi
            di sana bernyanyi, mengucap salam
            Perindu datang, sendiri-sendiri
            Wahai membalas salam, membalas nyanyi

Durian Gantang 1989  awal tulisan, penyelesaian di daerah Sebamban 1991

Setajam rindu yang kini mulai menghujam. Sendi-sendi indera terbungkam. Semakin runcing menghujam. Dosa-dosa masa lalu semakin ingin selalu dekat dengan kerinduan padamu, Wahai. Air mata ketulusan agar segala bentuk pengampunan, atas semua kesalahan. Rindu ini, Wahai, kuat mengepung dari segala titik kaki diam bisu berpijak. Kaku kelu teramat berat untuk bergerak. Mataku lembab. Basah oleh air mata dalam kristal-kristal embun, semoga kesejukan yang datang dari ke-maha-an engkau Wahai dapat melapangkan jalan untuk kembali meraih sebiji hati yang teramat lama ditinggalkan, sebiji hati yang tertancap di sekeping papan. Perjalanan panjang terseok-seok kalah dan semakin melebarkan sayap-sayap luka. Bersiap pulang walau tanpa penyambutan di kiri dan kanan karena Perindu sendiri melayah padang-padang ilalang, sendiri merambah batang-batang, menghalau duri-duri, menepis panas gurun-gurun, selalu saja menyingkirkan debu-debu, sampai akhirnya tak jua sampai kepada mampu, tetapi perjalanan semakin meruncing menusuk lubang-lubang luka semakin melebarkan nganga, tak mampu lagi walau sampai di gapai-gapai, hanya kepadanya memohon perlindungan hanya kepadanya memohon pengampunan hanya kepadanya berharap kasih sayang. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Gumam dalam Tafsir Rindu" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (8 September 2011 @ 00:05) pada kategori Fiksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 50 komentar dalam “Gumam dalam Tafsir Rindu

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *