Home » Esai » Sastra » Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra Ke-8 di Kota Banjarbaru

Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra Ke-8 di Kota Banjarbaru

Catatan: Beberapa waktu yang lalu Bang Asa (Ali Syamsudin Arsi), sastrawan yang kini bermukim dan menetap di kota Banjarbaru, mengirimi saya dua buah tulisan lewat email. Salah satu di antaranya mengabarkan tentang agenda Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra Ke-8 di Kota Banjarbaru (Ramadhan 1432 H/Agustus 2011). Sebuah agenda yang layak diapresiasi untuk menandai jejak-jejak kepenyairan di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, yang hingga kini masih dan akan terus menggeliat di ruang-ruang publik sastra. Namun, mohon maaf, baru kali ini saya sempat memublikasikannya. Berikut tulisan selengkapnya

Malam Lintas-Jejak Kepenyairan:

Muhammad Syarkawi Mar’ie, Sri Supeni serta Yuniar M. Ary

Dihimpun oleh:

Ali Syamsudin Arsi

Agenda :

 Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra ke-8

Di Kota Banjarbaru

Ramadhan 1432 H/ Agustus 2011

Tempat :

Taman Air Mancur

Kota Banjarbaru

Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga

Kota Banjarbaru, bekerja-sama dengan

Dewan Kesenian Kota Banjarbaru

Pembuka

Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra tahun 2011 di bulan Ramadhan ini adalah pelaksanaan yang kedelapan kalinya. Sejak tahun 2004 ia bergulir dengan berbagai agenda yang membingkainya, tetapi hal yang pokok adalah sebuah ruang terbuka untuk siapa saja yang bersiap tampil ke atas pentas, membaca puisi ciptaan sendiri atau membacakan karya penulis lain, berorasi tentang proses kreatif atau segala sesuatu tentang dunia seni sastra, tampilan berkelompok seperti musikalisasi puisi, dramatisasi puisi bahkan puisi yang disenandungkan, pernah pula drama secara utuh dihadirkan.

Pelaksana Tadarus Puisi tahun ini adalah kerjasama antara Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga Kota Banjarbaru dengan Dewan Kesenian Kota Banjarbaru. Didukung pula oleh kelompok dan sanggar seni yang ada di kota Banjarbaru.

Agenda yang membuka hamparan silaturrahmi, jumpa rekan, bertatap kepada lapisan-lapisan generasi; yang paling tua, yang tua, setengah tua, dewasa, muda bahkan sampai kepada anak-anak, semua berbaur penuh semangat, semangat bersastra dalam semangat ber-shaum, semangat ibadah puasa.

Pernah berapresiasi kepada jejak kepenyairan Jafry Zamzam(2007), Eza Thabry Husano dan Hamami Adaby (2008), M. Rifani Djamhari (2009), Arsyad Indradi Si Penyair Gila (2010). Kemudian di tahun ke-8 Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra yang dilaksanakan pada malam tanggal 19 ke 20 Agustus nanti akan pula memberikan penghormatan kepada 3 (tiga) penyair kota Banjarbaru yang telah meninggal dunia, yaitu : 1) Muhammad Syarkawi Mar’ie, 2) Sri Supeni, dan 3) Yuniar M. Ary.

Apresiasi dan Doa kepada mereka di bawah tajuk : Malam Lintas-Jejak Kepenyairan: Muhammad Syarkawi Mar’ie, Sri Supeni dan Yuniar M. Ary.

Berikut data singkat dan beberapa karya sastra (puisi) mereka:

Muhammad Syarkawi Mar’ie
Dilahirkan di Kandangan, HSS pada 2 Februari 1938. Kepenyairan Pensiunan PNS Depsos 1994 ini mulai berkembang ketika bergabung dengan Kelompok Sastrawan di Surakarta Jawa Tengah pada tahun 1954 – 1958. Di kota ini pula ia sempat menjabat Sekretaris PERPENA (Persatuan Pencinta Alam) Surakarta tahun 1956 – 1958 dan mengikuti Temu Sastrawan Surakarta pada Juni 1957 di bawah pimpinan Mansur Samin, Armaya, Abdul Hadi, WS Rendra, dan B. Sutiman. Pada tahun 1959 ia kembali bermukim di kota kelahirannya dan bergabung dengan Kelompok Seniman Kandangan  yang dipimpin D. Zauhidie, Rustam Effendi A.B., dan Thamrin Ristafana (nama lain Drs. H.M. Hoesni Thamrin, Wakil Pimpinan Redaksi Skh. Banjarmasin Post) hingga tahun 1961. Kemudian sejak tahun 1994 ia meloncat lagi bergabung dengan Kelompok Sastrawan Banjarbaru “Kilang Sastra Batu Karaha” hingga meninggal. Puisi beliau terhimpun di buku antologi “Jendela Tanah Air (1995), “Rumah Hutan Pinus” (1996), “Gerbang Pemukiman” (1997), “Bentang Bianglala” (1998), “Cakrawala” (2000), “Bahana” (2001). Beliau meninggal di Banjarbaru 9 Oktober 2002, dimakamkan di kota Banjarbaru.

Muhammad Syarkawi Mar’ie
BENAMKAN DIRIMU DI BUMI YANG SEPI

benamkan dirimu di bumi yang sepi
walaupun tanganmu meraih bintang
berjalanlah tanpa melengking
ada bekas tanganmu di bambu runcing

benamkan dirimu di bumi yang sepi
kamu berjalan berkaki satu
tetap tegak tanpa sendu
gugur satu maju seribu

dadamu tegar menahan badai
walaupun buih-buih laut memukul pantai
tetap menyepi
bersama angin dan bunga-bunga
tidak melukis langit dan memahat nama

benamkan dirimu di bumi yang sepi
walaupun sudah menyiram tanah-tanah kering
dan mengusir kawanan serigala
yang tidak pernah tidur
dan tidak pernah lupa

banjarbaru, agustus 1996
(Buku: Gerbang Pemukiman, hal 39)

Muhammad Syarkawi Mar’ie
TERUSKAN PERJUANGANNYA

tidak peduli saat cahaya bintang atau bulan purnama
kita tetap berkumpul untuk suatu renungan yang suci
mengenang mereka yang pergi dan tidak kembali lagi

denyut nadi yang belum berhenti mata kita merenung bumi
batang tubuh kita tidak ada luka
padahal darah beku ada di telapak kaki
bisikan gaib merasuk ke lubuk hati menyampaikan tanda-tanda
bayangan nyawa yang meninggalkan rasa yang terluka

pengorbanan tiada tara untuk kemerdekaan bangsa dan
kemerdekaan itu bukan sekedar nama
bukan sekedar bendera dan bukan sekedar bala tentara

renungan suci di malam yang sepi dan
gulita bukan sekedar doa, karena
perjalanan panjang belum tiba pada titik kemakmuran dan
keadilan yang merata

teruskan perjuangan mereka yang sudah tiada
lahir dan batin kita berjanji
tanpa sorak dan gempita
hutang kepada bumi dan matahari akan dilunasi

banjarmasin, 1995
(Buku: Jendela Tanah Air, hal. 56)

Muhammad Syarkawi Mar’ie
P U I S I

Puisi itu bukan sepotong roti
tapi gula dalam secangkir kopi
resapkan manisnya

Puisi itu bukan setangkai bunga
tapi kembang-kembang di taman kota
warna-warni keindahannya

Puisi itu lagu-lagu klasik
seumur biola tua
dihayati terbuai asyik

Puisi itu bukan penyamun
tidak dijaga dengan bedil
jangan takut padanya

Puisi itu hati nurani
berbisik seumur bumi
hutan perawan ada di sini

(Buku : La Ventre de Kandangan, hal. 105)

Muhammad Syarkawi Mar’ie
MERPATI LAUT

Merpati laut, merpati laut
terbang dari pulau seberang
setiap bulan sabit
dan wajah langit yang muram
ada perawan di pulau karang
menantikan merpati laut
membawa surat titipan bunda

Membaca aksara tanda zaman
mendekatkan setiap sudut bumi
yang semakin sempit
dan anak perawan menatap langit
menggapai bintang-bintang

Merpati laut, merpati laut
kedatangannya bagaikan titik air
di gurun sahara dan angin semilir
bagaikan cemeti di punggung kuda
terus berlari dan memacu
melalui tonggak-tonggak harapan ibu

(Buku : La Ventre de Kandangan, hal. 102)

Sri Supeni
Lahir di Magelang 14 Mei 1951. Pertama kali tertarik kepada sebuah puisi yang ditulis oleh seorang taruna AKABRI. Sejak itu ia sering menulis di mading SPG Negeri Malang. Hobi membaca tetap berlanjut hingga kini. Awal tahun 1980-an banyak penyair di Banjarmasin bermunculan, ikut bergabung dengan mereka dalam HPMB (Himpunan Penyair Muda Banjarmasin) antara lain: Micky Hidayat, Tarman Effendi Tarsyad, Maman S. Tawie, Kony Fahran, M. Rifani Djamhari, Eko Suryadi WS, Tajudin Noor Ganie. Sri sering menulis esai dan puisi di harian Banjarmasin Post. Puisi-puisinya juga dikirim ke “Untaian Mutiara” RRI Nusantara III Banjarmasin.

Menurut Sri, “Yang paling berkesan dalam hidup saya tentang menulis puisi, ketika saya mengirim puisi ke majalah Topik di Jakarta dengan tema tentang hutan Kalimantan yang kritis (1983). Tak lama kemudian, setelah puisi saya dimuat, majalah Topik dibredel. Saya sangat menyesal, kasihan. Ternyata untuk sebuah puisi memakan banyak korban.” Beliau meninggal di kota Banjarbaru pada tanggal 5 Agustus 2005 dan dimakamkan di Kotabaru.

Sri Supeni
TERBANGLAH JOK

pesisir telah melepaskanmu ke laut lepas
daratan telah menenggelamkan diri
mempertahankan barang pusaka

kau telah kehilangan rumah
kau telah kehilangan ramah
sebagai lelaki layak “menahan hati”
biarpun angin penyejuk kembali menghempaskanmu

inilah hidup
terbanglah!
kau tahu apa arti lebih tinggi

bjm, 12-3-1983
(Buku: Cakrawala, hal. 41)

Sri Supeni
BANTI MURUNG

Yus … aku ingat kamu
dimana kupu-kupu manis terkurung bingkai
menatap kita tanpa kejap

Yus … ingatkah kamu?
tika aku harus membuang sesuatu
di balik semak di atas bukit tanpa air
aqua di tanganmu kau ulurkan padaku

Banti Murung, 20 Oktober 1995
(Buku: Bentang Bianglala, hal. 64)

Sri Supeni
APEL DAN PUISI
(Buat: M, trim’s ketika aku sakit)

Apel yang di telapak tanganmu
kuiris dengan jantung
beribu makna
mengharu suasana

separuh melepak pada hati
separuh melepak pada puisi

banjarbaru, 81
(Buku: Notasi Kota 24 Jam, hal. 81)

Sri Supeni
PERJALANAN

Ujung Pandang
Hari-hari merajut canda dan tawa
mengisi ruang dan waktu
di pelatar hatiku ada buku baru
terpuruk di sudut
hatiku tersenyum padamu

28 September 1995

Yuniar M. Ary

Pulang ke tanah huma pada Agustus 1999, dan bergabung dengan Komunitas Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru. Di waktu senggang, terutama Sabtu dan Minggu, dengan tantaran unjun (joran pancing) ia berkelana dari pantai ke pantai, ke tengah rawa-rawa juga ke padang galam untuk menuntaskan hobinya  maunjun (memancing). Bagi Yuniar, dengan memancing dapat melihat secara langsung kehidupan masyarakat miskin Kalsel (baca= makan babagi lawan tangis), juga, kadang, ia menemui sesuatu yang gaib, yang tidak dapat dicerna akan dan pikiran. Yuniar dilahirkan 19 September 1942, di Pelabuhan Lama Banjarmasin. Pada tahun 1960 – 1964 sering menulis di Sanggar Karya asuhan alm.  Samsul Suhud di Suara Kalimantan, Mingguan Yogyakarta dan Majalah Sastra. Pernah menjabat sebagai Ketua Seni Sastra dan Research LESBUMI Banjarmasin (1967 – 1968). Akhir tahun 1968 hijrah ke Surabaya bergabung dengan Muhammad Ali, Sabrot D Malioboro, D. Zawawi Imron penyair jalanan kota Buaya. Kadang-kadang menulis di Mingguan Jaya, Jawa Pos, Memo dan Surya. Aktif sebagai pengurus KNPI, AMPI di Surabaya dan terakhir sebagai Wakil Sekretaris FSPI Jawa Timur sampai tahun 1999. Beliau meninggal dan dimakamkan di kota Banjarbaru.

Yuniar M. Ary
BANJARBARU

Di dadamu
kuberteduh
di hatimu
kumengeluh
dan di jantungmu
aku kan berlabuh

(menunggu ajal menjemput)
(Buku: Menggoda Kehidupan, hal. 74)

Yuniar M. Ary
SURAT BUAT WALIKOTA

kutulis surat ini
ketika langit lembayung selintas kota
kesepian mencengkram
gemerisik jatuh daun
kemarau – mengusik lamunan
ketika kota kita
desa kecil di kaki
bukit mandiangin
ketika daun ilalang
terbakar
dan sedan ford tua
batuk dan berasap
terhuyung menuju martapura
ketika abahmu
menangis
kalah main kelereng
denganku
itu enam puluh tahun lalu

kini …
desa kecil di kaki bukit mandiangin
menjadi
kota metropolitan
beribu ruko megah
beribu mobil mewah
beribu truk iblis dari utara
berlomba
mengencingi kota
dan kau …
boleh bangga
di surga abahmu bertepuk dada
tuh anakku
dengan gagah
menata kota ……

(banua permai awal kemarau )
(Buku: Menggoda Kehidupan, hal. 70-71)

Yuniar M. Ary
B A R I T O

di deras arusmu
dukaku berlabuh
dengan air mata darah
yang terhempas
dari gubuk-gubuk
digelontor banjir

nafas-nafas yang sesak
memanggil
kedinginan, menerjang
dada
tangis-kelaparan
limbung
mendongak kesakitan
mengguncang
puing-puing
kemiskinan

coklat airmu
coklat bibirmu menerobos
hati yang
terkoyak mencibir
dalam
duka yang panjang

didera arusmu
dukaku berlabuh
didera arusmu air mataku berteduh …

(pelabuhan lama, sepuluh puasa)
(Buku : Kugadaikan Luka, hal. 90)

Yuniar M. Ary
DENDAM

dengus napas
ribuan kuda besi dari utara
melibas kota
lenguhan panjang
kelelahan
menghambur
debu-debu hitam beracun
gemerisik berlari
menghantam
mahluk alam roh
neraka – kematian
pelan-pelan akan datang

pusaran angin
getaran bumi
dentuman petir
membias
membelah langit
bulan
merah terbakar
meraung-raung
dendam
dalam alam kubur
bocah-bocah keracunan
gas batu bara

(simpang empat awal puasa)
(Buku: Kugadaikan Luka, hal. 88)

Penghimpun:
Ali Syamsudin Arsi, lahir di Barabai tahun 1964, sejak 2001 menetap di kota Banjarbaru, aktif di Dewan Kesenian Kota Banjarbaru. Telah menerbitkan buku Gumam-Asa: 1) Negeri Benang Pada Sekeping Papan (2009), 2) Tubuh di Hutan Hutan (2009), 3) Istana Daun Retak (2010), dan 4) Bungkam Mata Gergaji (2011). Bersama rekan-rekan dan didukung kuat oleh Bang Ogi Fajar Nuzuli, Erwin Dede Nugroho, Sandi Firly serta restu dari Bang Dewa Pahuluan pada tahun 2004 memulai membuka ruang pertemuan sebagai ajang silaturrahim para seniman (khususnya sastra) dan sampai saat ini acara ini berlanjut, adalah Tadarus Puisi & Silaturrahmi Sastra di Kota Banjarbaru, saat ini memasuki agenda tahun ke-8. Semoga tetap berlangsung di tahun-tahun berikutnya. Amin. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra Ke-8 di Kota Banjarbaru" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (6 September 2011 @ 00:05) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 40 komentar dalam “Tadarus Puisi dan Silaturrahmi Sastra Ke-8 di Kota Banjarbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *