Rabu, 23 April 2014

Wednesday, 16 March 2011 (00:46) | Opini | 14055 pembaca | 105 komentar

Ketika perhatian publik tersedot oleh dampak tragedi tsunami Jepang dan pemberitaan dua media massa Australia terhadap kredibilitas Presiden SBY alias Tsunami Jepang dan “Tsunami” Indonesia, tiba-tiba saja kita disentakkan oleh teror bom yang dikemas dalam sebuah kiriman paket buku. Sebagaimana diberitakan banyak media, kiriman paket tersebut ternyata berisi bom dan meledak di Kantor Berita Radio 68H, Utan Kayu, Matraman Jakarta Timur, Selasa (15 Maret 2011) pukul 16.05, yang mengakibatkan tiga orang anggota kepolisian terluka. Konon, paket tersebut ditujukan kepada aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL), Ulil Abshar Abdalla, yang kini menjadi salah satu Ketua DPP Partai Demokrat.

ulilSpekulasi pun bermunculan. Ada yang mengaitkannya dengan ranah politik dan taktik pengalihan isu, tetapi tak jarang yang mengaitkannya dengan aktivitas lelaki kelahiran Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967 itu, yang sering membela kelompok minoritas dan tak jarang berselisih paham dengan kelompok Islam fundamentalis. Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Inspektur Jenderal (Purn) Ansyaad Mbai, pelaku bom Utan Kayu jelas teroris.

”Pelaku itu membutuhkan keahlian khusus. Lihat saja, begitu rapi. Pasti punya organisasi. Ada yang mengantar, ada yang merakit. Ada juga yang membungkus itu jadi paket dan mengantarnya. Ini semua membutuhkan perencanaan, jam berapa kamu antar, caranya mengantar bagaimana, dan sebagainya,” ujar Ansyaad kepada para wartawan di Kementerian Politik, Hukum, dan Keamanan, Jakarta, Selasa (15 Maret 2011) sebagaimana dikutip kompas.com. Dikatakan, pola pengiriman bom secara personal ini telah menjadi tren internasional. Mantan Kepala Desk Antiteror ini pun menjelaskan, kasus serupa pernah terjadi di Inggris, Italia, dan Amerika. Kantor Kanselir Jerman Angela Merkel pun pernah dikirimi paket bom.

”Dan kalian juga sudah tahu kan siapa yang dianggap menghambat itu adalah musuh dan darahnya halal? Dan kalian ingat kan serangan atau target terhadap Ulil bukan yang pertama walau ada pernyataan bahwa selama menjabat di parpol, ini yang pertama kali. Bahkan, pada tahun 2004 sempat ada fatwa bahwa darah Ulil halal,” tutur Ansyaad. Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Marsudi Suhud pun mengecam keras pengirim paket bom yang meledak itu. Menurut Marsudi, sebagaimana dikutip okezone.com, kekerasan dengan alasan apa pun tidak dibenarkan sekaligus meminta agar aparat kepolisian mengusut tuntas motif maupun dalang pengiriman bom tersebut.

Marsudi khawatir teror melalui pengiriman paket bom tersebut membuat warga takut dan trauma. “Yang terpenting itu jangan sampai masyarakat kehilangan rasa aman, maka aparat harus menindak tegas siapa pelaku maupun dalang dari aksi teror itu,” ungkapnya. Mengenai keterkaitan aksi bom tersebut dengan pembelaan Ulil Abshar Abdala terhadap Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), menurut Marsudi, tetap tidak bisa dibenarkan, sebab penyelesaian kasus Ahmadiyah tidak harus menggunakan cara-cara kekerasan, tetapi yang terpenting adalah mengedepankan dialog. Dia kembali menegaskan bahwa berdakwah tidak harus dengan cara-cara kekerasan.

“Ingat dakwah yang efektif itu menggunakan cara-cara damai melalui dialog untuk menyelesaikan perbedaan,” tegasnya.

Sementara itu, Ulil Abshar Abdalla, berita selengkapnya bisa dibaca di okezone.com, mengaku teror bom yang ditujukan kepadanya sangat sarat dengan kepentingan politik. Hal itu dikatakan Ulil usai menjenguk korban ledakan bom dalam paket buku di Kantor JIL, yang dirawat di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta Pusat.

“Saya anggap motif politik hitam dalam peristiwa ini, selain juga terkait dengan advokasi dan aktivitas saya selama ini yang menyuarakan isu pluralisme dan kebebasan bergama, tapi saya merasa ada politik yang kental di sini,” paparnya kepada wartawan. Ulil juga mengaku prihatin atas peristiwa tersebut dan meminta agar pemerintah segera mengusut tuntas agar tidak semakin memperkeruh isu kerukunan umat beragama di Tanah Air.

Ironis dan menyedihkan memang. Untuk ke sekian kalinya, negeri yang multikultur dan plural ini kembali digoyang teror dan kekerasan. Taruhlah ada pihak tertentu yang berseberangan pendapat dengan pihak lain, haruskah dituntaskan dengan cara naif dan tidak manusiawi semacam itu? Haruskah fanatisme kelompok dibangun dengan cara melenyapkan kelompok lain yang dianggap tidak sepaham?

Kalau memang benar teror bom Utan Kayu dilandasi motif “kebencian” terhadap Ulil Abshar Abdalla yang mustahil bisa “dipaksa” dengan cara apa pun untuk memberangus paham yang dianutnya, apakah dengan sendirinya JIL akan mati lewat teror bom? Saya kira tidak! Ulil tidak sendirian dalam menggerakkan jaringannya. Lebih dari itu, ini menyangkut persoalan keyakinan yang tak mungkin bisa dipaksa-paksakan. Ibarat belitan gurita, cengkeramannya sudah menyatu ke dalam setiap aliran darah dan sumsum tulang. Hampir mustahil bisa membunuh sebuah ideologi dengan cara melenyapkan nyawa pemiliknya. Secara pribadi, saya kurang begitu mengenal Ulil dan JIL. Saya hanya sebatas mengapresiasi pandangan-pandangannya yang lebih moderat; lebih mengedepankan sikap humanis ketimbang otoritarian, inklusif dan tidak pernah menganggap dirinya paling benar ketika berdiskusi dan melontarkan wacana-wacana publik.

Negeri yang multikultur dan plural ini mungkin akan terasa lebih damai dan menyejukkan apabila membiarkan setiap orang meyakini paham dan ideologinya masing-masing. Sungguh amat tidak menguntungkan bagi bangsa kita yang sudah sarat dengan persoalan yang rumit dan kompleks jika terus diperkeruh oleh “konflik ideologi” berbasiskan sentimen dan fanatisme sempit. Bangsa kita yang majemuk ini akan terus berkutat di balik semak belukar jika terus digoyang oleh konflik akibat perbedaan paham, agama, dan keyakinan yang sejatinya menjadi hal yang paling asasi setiap warga negara. Kapan kita sempat membangun kekuatan genius-lokal? Sementara, negara lain yang sudah mampu membebaskan diri dari mitos-mitos keyakinan tertentu sudah berjalan mulus di jalan tol peradaban dunia.

Atau, jangan-jangan mereka yang suka melakukan teror dan kekerasan berbau SARA memang memiliki skenario agar nilai-nilai pluralisme di negeri ini mati? Wallahu a’lam! ***

Tulisan berjudul "Teror Bom Utan Kayu dan Ancaman Pluralisme" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (16 March 2011 @ 00:46) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Hari Ibu dan Nasib TKW yang “Ternistakan” (Thursday, 22 December 2011, 66414 pembaca, 47 respon) Hari ini, Kamis, 22 Desember 2011, seharusnya kaum perempuan di negeri ini terbebas dari segala macam bentuk kekerasan dan penindasan. Pada hari yang...

Menggelorakan Semangat “Historia Vitae Magistra” (Monday, 12 December 2011, 51106 pembaca, 12 respon) Ada yang menarik dalam bedah Kumcer Nyanyian Penggali Kubur (NPK) karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) yang digelar Kebun Sastra Kendal di Balai...

Di Balik Kematian Muammar Khadafi (Friday, 21 October 2011, 53382 pembaca, 33 respon) Apa respon dunia begitu mendengar kematian Muammar Khadafi? Ya, ya, selalu saja muncul dua sikap yang kontras; empati atau antipati, di balik...

Ada apa dengan Kandidat Intelektual Kita? (Saturday, 24 September 2011, 41909 pembaca, 45 respon) Untuk ke sekian kalinya dunia pendidikan kita kembali tercoreng ulah kaum pelajar dan mahasiswa yang mempraktikkan aksi premanisme dan bar-bar. Para...

Bimasena: Antara Keperkasaan dan Kelembutan Hati (Tuesday, 24 May 2011, 30809 pembaca, 24 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Penduduk Ekacakra resah. Mereka hidup dalam tekanan dan ketakutan. Maut mengintai dari berbagai sudut kampung dan kota. Bau...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

105 komentar pada "Teror Bom Utan Kayu dan Ancaman Pluralisme"

  1. saya juga jadi takut baca buku. takut bukunya meledak

  2. Kapan berhenti ya…..? teror teror macam itu…kita semua jadi ketakutan kalau nerima Paket

  3. Detiker says:

    Soal ancaman bom di indonesia,saya ga heran lagi,krena sdh dari dulu hal ini sy dengar2 dan liat sendiri bom bom bom di indonesia.Mungkin para pelakunya mengangap indonesia tempat yang paling cocok dan aman untuk ancaman bom.
    Semoga dpt pelakunya.

  4. Detiker says:

    Soal ancaman bom di indonesia,saya ga heran lagi,krena sdh dari dulu hal ini sy dengar2 dan liat sendiri bom bom bom di indonesia.Mungkin para pelakunya mengangap indonesia tempat yang paling cocok dan aman untuk ancaman bom.

  5. situsonline says:

    Aku kurang yakin kl itu pengalihan isu.menurut saya itu memang bener2 ancaman pada kesatuan RI,saya ga berani bilang itu teroris atau apalah,yang penting itu bom,salah satu cara untuk menghancurkan indonesia.Apalagi bom yang di kemas dalam bentuk buku,gmn dengan anak2 sekolah,apakah ini tidak membuat kekhawatir mereka takut akan buku…?
    Semoga ini semua bisa terungkap motifnya oleh pihak yang berwajib.

Leave a Reply