28Jan 2011 76 Comments2,402 pembaca
Percobaan Pemakzulan Rezim ala Negeri Kelelawar
Ternyata bukan hal yang mudah untuk bisa hidup nyaman di negeri Kelelawar. Tak hanya persoalan ekonomi yang membuat rakyat kecil hidup dalam situasi tertekan. Politik dan hukum pun telah membuat kehidupan rakyat negeri Kelelawar kian terpenjara dalam kekangan rezim penguasa yang korup dan kehilangan kepekaan. Politik bukan dioptimalkan sebagai strategi untuk membuat kehidupan rakyat makin sejahtera, melainkan justru diperalat untuk menaikkan posisi tawar sekelompok elite demi melanggengkan kekuasaan semata. Hukum pun setali tiga uang. Rasa keadilan sudah mati di negeri Kelelawar. Aparat penegak hukum tidak lagi menenteng pedang keadilan, tetapi justru malah ikut-ikutan terlibat dalam praktik mafia peradilan yang sengaja didesain oleh para pengemplang harta negara agar bisa lolos dari jerat hukum. Dari kacamata apa pun, negeri Kelelawar agaknya makin susah dilihat aura kehormatan dan martabatnya. Semakin kabur dan gelap. Proses anomali tengah menyergap di segenap lapis dan lini kehidupan.
Yang menyedihkan, ketimpangan sosial sebagaimana yang dikhawatirkan banyak pengamat kini benar-benar nyata terjadi. Di sudut-sudut kampung dan kota, bahkan juga di pelosok-pelosok dusun yang tak pernah tersentuh kemajuan masih banyak bermunculan rakyat negeri Kelelawar yang hidup serba susah. Alih-alih cukup sandang, sekadar untuk mempertahankan hidup saja, mereka terpaksa harus makan buah-buah busuk yang sudah tersedot nilai gizinya. Situasi seperti ini berdampak buruk terhadap pertumbuhan anak-anak negeri Kelewar. Hampir sebagian besar anak-anak terjangkiti penyakit gizi buruk. Perut membuncit. Tatapan mata kosong. Banyak pengamat sosial bilang, negeri Kelelawar bakal mengalami situasi “the lost generation”. Sementara itu, mereka yang berada dalam lingkaran kekuasaan berpesta dalam gelimang kemewahan dan harta haram. Rakyat terus ditindas untuk membayar pajak, tetapi separuh lebih uang pajak dikemplang dan ditilap untuk kepentingan segelintir elite.
Situasi yang sarat anomali semacam itu membuat rakyat negeri Kelelawar geram. Seperti dikomando, rakyat dari berbagai penjuru lembah dan ngarai menyatukan tekad untuk menggulingkan rezim penguasa yang dianggap sudah tak lagi peduli terhadap nasib rakyat yang tertindas dan terzalimi. Berbagai atribut dan umbul-umbul marak terpajang di berbagai sudut kampung dan kota. Demo terus terjadi secara bergelombang dari satu titik ke titik yang lain. Eksesnya, lalu lintas sering lumpuh. Jilatan api yang berkobar dari ban-ban bekas yang terbakar membuat situasi makin memanas. Jumlah aparat kepolisian yang tak seimbang dengan jumlah pendemo kewalahan. Mereka tak sanggup berbuat apa-apa. Kejadian masa silam, ketika aparat keamanan dianggap melanggar hak asasi akibat melakukan tindakan represif terhadap para pendemo, telah membuat mereka kehilangan nyali untuk membuat para pendemo jera.
Ontran-ontran sosial di negeri Kelelawar makin sulit dikendalikan. Massa yang geram seperti mendapatkan pengakuan sosial dari berbagai komponen untuk terus melakukan aksi pemakzulan terhadap rezim penguasa.
“Rakyat yang memilih, rakyat pula yang menurunkan! Saatnya kita menyatukan tekad untuk melakukan perubahan! Ini bukan revolusi! Ini tindakan bersejarah untuk menyelamatkan bangsa Kelelawar dari cengkeraman rezim yang korup dan lembek! Negeri ini butuh pemimpin yang kuat, tegas, dan punya nyali besar untuk menghabisi koruptor. Bukan penguasa yang lembek dan cengeng!” teriak pendemo di tengah kerumunan massa yang menyemut di istana penguasa negeri Kelelawar disambung yel-yel yang gegap-gempita. Suara para pendemo dari berbagai elemen dan kelompok massa bersahut-sahutan. Istana penguasa negeri Kelelawar seperti bergetar.
Situasi chaos seperti itu membuat beberapa gelintir petualang politik yang selama ini tersingkir dari panggung kekuasaan merasa mendapatkan angin segar. Mereka, dengan berbagai tipu daya, ingin tampil sebagai pahlawan. Dengan mengatasnamakan rakyat, mereka terus menggelontorkan sejumlah dana untuk membiayai para pendemo. Di tengah situasi kemiskinan dan pengangguran yang merajalela, kelelawar mana yang tahan godaan? Maka, jadilah aksi demo yang beruntun dan bergelombang tidak murni lagi sebagai aspirasi rakyat yang selama ini terzalimi dan ternistakan, tetapi sudah diambil alih dan dikendalikan oleh beberapa gelintir elite yang merasa tersingkir dari panggung kekuasaan.
“Bagus! Sampeyan harus mampu melakukan aksi demo secara cerdas. Pastikan bahwa rakyat benar-benar berada di pihak kita! Berapa pun biayanya, Sampeyan ndak usah khawatir! Ajak semua rakyat miskin dan pemuda pengangguran untuk beraksi bersama! Tapi ingat, jangan sampai ada kelelawar lain yang tahu, kalau akulah yang berada di balik ontran-ontran ini! Paham?” seloroh kelelawar bertubuh tambun dan berjidat licin. Kedua bola matanya membeliak, memancarkan optimisme.
“Paham, Bos! Dan Bos tak usah khawatir. Serahkan semua urusan kepada saya!” sahut kelelawar berambut gondrong sambil menunduk takzim.
Syahdan, hampir sebulan lamanya, demo terus berlangsung. Namun, perubahan yang diharapkan segera terjadi itu ternyata tak kunjung tiba. Pihak istana benar-benar tak pernah menganggap demo itu ada.
“Bagaimana hasil investigasinya? Beres? Siapa sesungguhnya yang berada di balik ontran-ontran itu?” tanya sang penguasa di sebuah lorong yang sejuk ber-AC. Di lorong yang tampak sepi dari luar itu, sesungguhnya sedang terjadi sebuah rapat pleno para petinggi negeri Kelelawar yang terancam dimakzulkan. Namun, berkat kekuatan intel yang terlatih dengan dukungan fasilitas dan akomodasi serba “wah”, mereka bisa dengan mudah menyiasati gelombang demo itu.
“Ibarat main layang-layang, kita musti pintar melakukan tarik-ulur sesuai arah angin. Biarkan mereka beraksi. Tunggu sampai mereka betul-betul capek! Kekuatan mereka tidak ada apa-apanya. Apalagi, kita juga masih memiliki barisan wakil rakyat yang siap mem-back-up kita! Dus, tak perlu khawatirlah! Semua taktik dan strategi musti jalan terus!” *** (Bersambung)
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Percobaan Pemakzulan Rezim ala Negeri Kelelawar" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (28 January 2011 @ 03:13) pada kategori Negeri Kelelawar, Sastra dan telah dikunjungi oleh 2,402 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:














Feb 04, 2011 @ 05:58:29
pengembangan mental dan karakter kebangsaan, nasionalisme, patriotisme, dan idealisme memang harus ditanamkan sejak SD..biar gedenya ga jadi sampah masyarakat..
ini bukannya pembinaan sikap mental dan paham kebangsaan yang kuat, anak2 SD malah dicekoki buku2 narsisnya beye…:(
Feb 09, 2011 @ 01:20:33
wah, itu dia, mas dani. setidaknya ada 10 buku yang lolos dari pusbuk tentang pak beye. kok malah kembali lagi ke pola orba, yak!
Feb 03, 2011 @ 13:42:46
pembusukan2 marak dilakukan ya mas, oposisi hanya diartikan sebagai tukang kritik, padahal oposisi itu harusnya bikin kerja tandingan….
hmmm.. sepertinya Ki Joko Goyang kapan2 harus berkunjung ke negeri kelalawar nih
Feb 09, 2011 @ 01:13:47
hehe … bakalan rame dan seru tuh, mas deni, kalau ki joko goyang bener2 jadi berkunjung ke negeri kelelawar, keke ….
Feb 03, 2011 @ 06:55:40
hmmm.. seperti fenomena jaman edan
yen ora edan, ora keduman
jadilah tradisi korup, jadilah mafioso di semua aspek
hmm….. pemakzulan sepertinya tepat..
salam sukses..
sedj
Feb 09, 2011 @ 01:10:13
hmm …. sepertinya mesir akan mengikuti jejak tunisia, mas sedj, meski hingga berita terakhir sang penguasa belum juga mau lengser keprabon.
Feb 02, 2011 @ 10:11:24
wah.. saya setuju tuh dengan komentar Souvenia
Feb 01, 2011 @ 14:37:20
Orang gak korup bukan karena dia alim karena gak ada kesempatan aja……so KKN sudah jadi tradisi……hanya Iman dan hati yang bersih dapat menyingkirkan itu.
Feb 03, 2011 @ 14:40:22
wah saya kurang setuju mas sama pendapat mas ini,kalau mas bicara ttg KKN baru saya setuju, tapi kalau cuma korupsi saja,saya kurang setuju eh..hehe..
Feb 03, 2011 @ 16:26:25
oh, begitu, ya, bos. itu artinya, setiap orang berpotensi utk bertindak korup, ya?