Home » Fiksi » Sastra » Sejumlah Puisi dan Gumam Asa Bang Ali Syamsudin Arsi

Sejumlah Puisi dan Gumam Asa Bang Ali Syamsudin Arsi

Sekadar Catatan:
Untuk ke sekian kalinya, Bang Ali Syamsudin Arsi (Asa) mengirimi saya sejumlah karya kreatifnya lewat email. Kali ini ada sejumlah Gumam Asa dan puisi yang (konon) ditujukan buat Ubud Writers-Readers Festival – Bali Tahun 2011. Saya sangat mengapresiasinya. Untuk itu, sejumlah karyanya saya publikasikan di blog ini. Semoga ada manfaatnya untuk menambah “asupan gizi batin” dalam khazanah rohaniah kita. Terima kasih Bang Asa dan salam budaya! ***

Kepada
Ubud Writers-Readers Festival – Bali
Tahun 2011

Salam budaya.
Kesempatan yang sangat berharga. Jenius dan Utama. Sebelumnya, tepat di tahun 2008 saya, Ali Syamsudin Arsi pernah mengirimkan buku gumam-asa yang pertama berjudul “Negeri Benang pada Sekeping Papan”
Kini, di tahun 2011 saya juga telah mengirim paket berisi 2 buku karya saya sendiri berjudul “Istana Daun Retak” dan pula 2 buku kumpulan puisi karya siswa SD dan SMP yang ada di wilayah kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

Mohon kabar bila paket tersebut telah sampai. Saya kirim ke alamat Ubud Writers-Readers Festival Jalan Raya Sanggingan Ubud 80571.

Semoga perayaan sastra yang digelar semakin semarak dan sukses, salam budaya. Berikut ini saya kirim data penulis secara singkat juga beberapa karya tulis saya berupa gumam-asa dan puisi-puisi serta alamat email saya adalah alisyamsudinarsy@yahoo.co.id

Semoga berkenan, Banjarbaru, 22 Januari 2011

Salam hormat dan tetap merdeka.

Ttd.
Ali Syamsudin Arsi

Penulis Gumam asa

Ali Syamsudin Arsi, lahir di Barabai, Kalimantan Selatan pada tahun 1964. Kini menetap di kota Banjarbaru. Sering menulis puisi, cerpen, esei juga terkadang naskah drama.

Puisi-puisinya juga ikut meramaikan buku-buku kumpulan puisi bersama, dari yang ada di wilayah Kalimantan Selatan, sampai pulau Jawa dan Sumatera, diantaranya: (1) Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Medan, 2005), (2) Komunitas Sastra Indonesia, catatan perjalanan (Kudus, 2008), (3) Kenduri Puisi, buah hati untuk Diah Hadaning (Yogyakarta, 2008), (4) Tanah Pilih (Jambi, 2008), (5) Pedas Lada Pasir Kuarsa (Bangka Belitung, 2009), (6) Mengalir di Oase (Tangerang Selatan, 2010), (7) Percakapan Lingua Franca (Tanjungpinang, Kepulauan Riau, 2010), (8) Beranda Senja, setengah abad Dimas Arika Mihardja (Jakarta, 2010)..

Bukunya yang telah terbit adalah berupa tetralogi gumam asa, yaitu (1) Negeri Benang pada Sekeping Papan (2009), (2) Tubuh di Hutan Hutan (2009), dan (3) Istana Daun Retak (2010).

Sebagai editor, telah pula menerbitkan buku-buku; (1) Bahana (kumpulan puisi, 2002), (2) Darah Penanda (antologi sastra, cerpen dan puisi hasil lomba, 2008), (3) Taman Banjarbaru (kumpulan puisi penyair Forum Taman Hati Banjarbaru, 2005), (4) Di Jari Manismu Ada Rindu (kumpulan puisi Hamamy Adabi, 2008), (5) Bertahan di Bukit Akhir (kumpulan puisi penulis Kabupaten Hulu Sungai Tengah, 2008), (6) Bunga Bunga Lentera (kumpulan puisi siswa SD dan SMP kota Banjarbaru, 2009), (7) Tugu Bundaran Kota (kumpulan puisi siswa SD dan SMP kota Banjarbaru, 2010).

Tahun 1999 menerima penghargaan sastra dari Bupati Kabupaten Kotabaru. Tahun 2005 menerima penghargaan sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan. Tahun 2007 menerima penghargaan sastra dari Balai Bahasa Banjarmasin. Rencana buku gumam-asa berikutnya berjudul “ Bungkam Mata Gergaji” (2011).

Gumam asa

Puncak Capaian

Katanya pikiran itu lahir dalam cuaca mendung di penghujung tahun lalu, bahkan ketika ditelusuri masih saja ada yang mengatakan bahwa umur dari pikiran itu berabad-abad silam telah ada telah dicetuskan oleh orang-orang yang mereka kenal sebagai nenek-moyang peradaban, zaman belum ditemukannya batu sebagai alat, di genggam telapak tangan; kita tidak akan berhenti di sini menelusurinya. Dalam perjalanan akan didapat pemahaman yang seutuhnya bila memang mau memikirkan segala sesuatu bahwa disimpulkan harus ada yang melakukan aturan-aturan, tertulis bahkan tidak dituliskan, itu ketentuan alam dan berlaku secara meluas ke semua sudut perncaharian, ke semua sudut kerinduan, tanpa diam sejenak tanpa henti seketika tanpa mematung senja tanpa menutup mata. Tapi, perlu juga diingat, bila telah mampu menuju ke titik sampai, maka akan turun dengan sendirinya, tanpa harus diturunkan oleh siapa pun juga. Menggelinding. Tanpa tanpa tanpa, tanpa apa-apa.

Sejarah dari percik-percik darah pembunuhan pertama dan adanya kisah seekor burung yang menggali kubur untuk sesuatu yang diam tak bergerak adalah sebagai cermin nyata dari peristiwa penting dan terus berlangsung sampai peradaban itu mengalami sendiri perubahannya. “Engkau boleh saja mengalirkan air mata dari sudut kelopak matamu, tetapi ada yang berkelebat di juntai-juntai akar gantung pikiranmu sendiri, enyahkahlah enyahkanlah enyahkanlah, sampai tak ada lagi berkas merah darah di jalanan; sepi menelan kabut lereng bukit. Sejarah telah tertulis di garis-garis lengkuk telapak tanganmu, sejarah akan melepaskan jebaknya akan membebaskan jeratnya dan sejarah tidaklah mudah dihapuskan karena tulisannya terpampang di kanvas tanpa bingkai tanpa batas tanpa tekanan.

Sampai akhirnya berjuta puncak demi puncak kerangka beton dan baja menyibak ketenangan awan di langit biru. Sampai akhirnya garis-garis udara penuh sesak oleh berpuluh-juta-ribu-juta-juta-berkali juta pula; tak ada celah untuk sembunyi, tak ada celah, tak ada. Pikiran kita pun menari-nari dan terus menari, hingga tak tampak lagi sebagai tarian yang dulunya hening yang dulunya lengang yang dulunya damai. Kosong kembali menuju hampa. Dalam kekosongan itulah puncak capaian sebenarnya, sebab sebelum itu adalah riak-riak belaka, seperti mimpi yang teramat sulit untuk dilanjutkan ketika sadar bahwa sebenarnya kita telah menemukan mimpi. Pembangunan peradaban. Peradaban itu sendiri bermula dari desah, peradaban itu sendiri bergejolak dari gelisah, peradaban itu sendiri bermula dari awal keberanian melangkah; tanpa itu akh akh akh tanpa itu walau walau walau tanpa itu alina alina alina tanpa itu aum aum aum tanpa itu kucing kucing kucing tanpa itu telingkung telingkung telingkung tanpa itu debur debur debur tanpa itu; Wahai datang dengan sejuta kehendak. Apa yang telah manusia dapat.

( banjarbaru/ 11 Juli 2010 )

Gumam asa

Lombok Hadijah

Setiap makanan siap tersaji di hamparan tikar purun warna merah buram dengan anyaman dari jemari-jemari terampil orang-orang pahuluan, bahan dari batang pohon purun, selalu saja ada yang menuntut untuk mendapatkan rasa pedas di sajian semula. Engkau selalu meminta untuk sebiji atau dua biji bahkan sampai tiga-empat biji,”Adakah masih tersisa Lombok Hadijah,” serunya di sela-sela persiapan rutin dilakukan di rumah dekat pemanas kompor di dapur bagian belakang rumah.

Lombok Hadijah. Lombok Hadijah. Lombok Hadijah.

“Ini bukan asal tanam saja, tetapi memang diniatkan untuk orang lain dapat menikmati hasilnya. Jangan sungkan-sungkan bila memang berminat merasakan nikmatnya Lombok Hadijah,” dan Hadijah berlalu dari kran pembersih dekat dapur di bagian belakang rumah. Masih berdinding alumunium. Atapnya juga sama jenisnya. Kemudian lanjutnya,” Setiap hari, dapur adalah bagian dari perjalanan hidupku,” ucapnya seraya merapikan duduk agar tidak menjadi kusut ujung kemeja.

Batangnya lumayan tinggi, tidak seperti biasa. Biji-biji lombok itu sendiri menjuntai-menjuntai, bahkan ada yang sampai menyentuh permukaan tanah. Ukuran tanah hanya sebatas turunan hujan di ujung atap rumah. Tidak lebih dan tidak kurang, “Ya tentu saja sangat sempit dengan ukuran seadanya ini. Ayo, mari kita upayakan agar lahan yang lebih luas dan kita akan menanam berbagai jenis tanaman lain, tentu jangan lupakan Lombok Hadijah,” salam bersambut salam.

Lombok Hadijah. Lombok Hadijah. Lombok Hadijah.

Terasa juga pedasnya, terasa juga nikmatnya, bila secuil saja akan memberikan keinginan untuk nasi bertambah, akan memberikan keinginan agar sayur-sayur berkubang kuah, agar menjadi indah seindah senyum Hadijah.

Bayangan pun melayang ketika orang-orang dalam istana nun jauh di seberang sana melahap berkubik-kubik lombok, tentu saja bukan lombok Hadijah. Orang-orang dengan lahapnya menuntaskan rasa pedas hanya dengan memaparkan wacana-wacana pembenaran bahwa tak ada yang dapat dilakukan selain menahan rasa pedas itu seraya berjalan melambaikan tangan, dan sebarkan pesona.

“Akh, betapa sulitnya para pendemo yang menuntut hidup layak, hidup lebih baik, ternyata diabaikan dengan cara mengunci semua pintu dan tak ada tempat bicara.”
Rasa pedas cabe itu pun menjalar cepat di antara kepal-kepal tangan mereka.

/asa, banjarbaru, 24 agustus 2010

Gumam asa

Melintas Tipis

Hujan yang hadir di telapak tanganmu sejak sore hari sampai di ujung bulu-bulu mata sekian banyaknya umat dan setiap itu pula datang berganti antara gerimis hingga tak dapat lagi diperkirakan perubahan cuaca, sungguh tak mampu dibaca ke mana arah mata angin melangkah di puting-puting ranting, “kelelatu,” katamu, sambil melintas di bentangan selendang yang tipis menembus bayang-bayang; berkelebat seketika. Aku semakin mabuk, mabuk dalam rupa-rupa warna, mabuk dalam jerat-jerat akar gantung di ujung tembaga, mabuk dalam getar-getar syaraf dan segala macam kenangan purba. Batu ada di antara kerikil ada di antara pasir ada di antara lumpur ada di antara deras ada di antara percik ada di antara bias ada di antara curah ada di antara mendung ada di antara lengkung pelangi. Wahai, kini salam bertaut di antara debur ombak dan ringkik satwa di belantara; lebatnya hutan rimbunnya daun adalah warna warni pemikiran, melintas tipis-tipis.

Lautmu semakin dalam; masuk ombak masuk karang masuk udara masuk cahaya masuk luka-luka, selalu saja ada mata memandang saat sinar terang itu tenggelam di sela-sela bayangan daun di kaki bukit, selalu saja, tetapi. Benarlah adanya, kekuasaan tak bertepi. Rahasia tetap tersimpan rapi. Selalu ya selalu saja. Hingga kita temukan sebuah dermaga perhitungan, dalam detak keabadian. Menyebut namamu, semakin tipis di belahan kedua bibir, kelu kaku tak lagi fasih hanya tatap mata nanar ke satu titik putar; cahaya cahaya cahaya. Perjalanan panjang itu akhirnya bertemu jua di titik nol; sekian kali sungai bergelora lumpurnya terus menggumpal, udara itu terus saja menderu menggiring kawanan awan ke segala penjuru di luasnya angkasa. Dalam cermin besar, nampak melintas tipis tubuhmu melayang dengan selendang. Perlahan ada melintas. Perlahan ada. Engkau bersiap menjemput. Selama itu pula penantian bertaut di luasnya teras rumah sendiri. Telapak tanganmu yang tengadah penuh kasih penuh sayang penuh belai kesetiaan, sabar yang maha sabar.

Gerimis lurus dan gerai rambutmu serta lentiknya bulu matamu. Ingin aku jelajahi bersama rindu bergumpal-gumpal, selangkah demi selangkah titian batang usia menjalar ke seluruh persendian; tubuhku mulutku kulitku jantungku hatiku tulangku, sebatas apa aku mampu berlari menghampiri, maafkan segala yang telah terjadi, dan sampai sejauh apa sejarah menggoreskan catatan tentang sepi itu menjalar-jalar tentang senyap itu mengepung-ngepung tentang dingin itu melingkup-lingkup. Sekian kali pula keberpihakan yang ditunjukkan dengan segala kemampuan dan perasaan agar menjadi lebih baik dari sebelumnya, sejauh itu pula segala daya segala upaya segala potensi mencuatkan nyali ke ketinggian menara cahaya, ya menara cahaya. Naik perlahan, halus lembut penuh perasaan. Bertemu dengan sampai, berjumpai dengan gapai; dekap erat, Wahai. Ada tulang di ranting bulan di remang awan-awan.

( banjarbaru/ 11 Juli 2010 )

Ali Syamsudin Arsi

Gugat: Diang Ingsun

selembar harapkah yang terbayang ketika restumu membuka jalannya
menuju harum tanah, tanah seberang
Segumpal salahkah yang membentang ketika badai itu merintang langkahnya
menuju diam, diam sediam batu

seperti kabar telah disampaikan bahwa kedatangan putramu
mengetuk daun-daun pintu, sebelum terbuka lantaran angin menderu
engkau telah bertahun-tahun penantian; rumah tak lagi berpintu,
jendela, perintang cahaya pagi, terbuka selalu
mata lusuh sampai ke batas-batas kelu
alas bantalmu, alas bantalmu; adalah wajahnya yang engkau tunggu

naluri seorang ibu, harum baju dan lambai karena restumu
dahulu, sejarah yang itu menuju kekosongan waktu
ujung jemari yang kian gemetar, tegak melurus lidi sapu

“… anakku anakku, ia yang berdiri itulah anakku
singkirlah ke tepi, dermaga ini telah lama mati
selaksa hari yang memenuhi hari-hari
hanya menanti, tak ada yang lain, hanya menanti
biji-biji kapuk di bantalku bertumbuhan daun-daun
air mataku telah menghumuskan pembaringan
antara gerai rambutku yang terselip di sela-sela bayangmu
pelupuk mata ini tak dapat berpejam sebelum hadir
aroma tubuh kecilmu, teramat kukenal selalu … “

di langit, elang mengepak berputar-putar
kulik-kuliknya menyambut putramu di balik bukit perahu

di sini, di rerimbun daun dan gemericik air di batu-batu
sejarah, entah dalam catatan siapa, telah terbaca beragam aksara
tentang hebatnya gemuruh samudera
dari gigil yang dilontar, dalam tengadah

“… anakku anakku, ia yang berpaling itulah anakku
singkirlah ke tepi, dermaga ini telah lama mati !!!”

/asa, banjarbaru, 12 januari 2011

Ali Syamsudin Arsi

Pagat

susunan batu-batu, batu hitam dihempas-hempas
dingin suasana, di bawah bukit akar-akar berjuntai
mengalirlah wahai mengalirlah

irama kecipak di batu-batu, batu hitam didetak-detak
meliuk menuju akar-akar sampai ke ujung hulu
melesaplah wahai melesaplah

membaca prasasti di balik bukit menjulang ini
teringat kembali, sombong dari seorang lelaki
lelaki batukah yang berwarna hitam dalam balutan lumut-lumut licinku
lelaki batukah itu, wahai, lelaki batukah

rakit-rakit pun teruslah melampiaskan debur
di setiap arus yang menghela turun meniti
anak-tangga, anak-tangga susunan batu
lumut-lumut yang terhampar dalam dingin

/ asa, banjarbaru, 12 januari 2011

Ali Syamsudin Arsi

Gumam di Kapal Pecah

Kabar tentang pecahan kapal yang tersungkur saat orang-orang datang menyaksikan dan termangu sama dengan kagum menyelimuti diam hanya nanar mata serta hembus napas tersengal turun naik antara sadar dan tidak, bulan naik pertanda pasang gelombang, telunjukmu, wahai lelaki bernama Raden Pengantin, telah mengarahkan ke lain arah; sementara tidakkah engkau saksikan di keluasan laut samudera ada yang kekeringan air mata tersisa, bahkan bantal tempat sandaran kepalanya telah bertumbuhan batang-batang pohon bermacam jenis ragam dengan bertahun rindu bertahun rindu bertahun rindu

Sekeping dari pecahan kapal itu menancap di lereng bukit dan tanpa aksara namun orang-orang dapat membaca apa yang telah terjadi sebagai bagian dari cerita dan mengambil puah serta makna di balik segala peristiwa demi peristiwa

/asa, banjarbaru, 13 januari 2011

Ali Syamsudin Arsi

Tubau, Saat Kenangan Kembali

sesekali aku kembali
kenangan hadir menghampiri

kita pernah bermain bersama di sepanjang sungai kecil
memungut kijing-kijing terinjak kaki-kaki
pasir kerikil di banyu dangkal

sesekali aku kembali
teringat akan jamban-jamban bambu
tempat kita bersama mandi

tubau, tubau, masihkah jalan setapak
seperti selalu aku lalui
tempat menampung embun setiap pagi

tubau, tubau,
sesekali aku kembali

/asa, banjarbaru, 13 januari 2011

Ali Syamsudin Arsi

Durian Gantang, Suatu Pagi

Embun masih segar di telapak daun
tengadahkan wajahnya ke arah terbit matahari

Dingin masih suntuk menimbun
suara pikuk piaraan kejar-mengejar menghampiri

durian gantang, suatu pagi
pohon-pohon masih segar berdiri

/asa, banjarbaru, 13 januari 2011

Ali Syamsudin Arsi

Gumam Gunung Batu Tangga

Melenting kabar akan keruntuhan bukit di perbatasan ketika orang-orang yang pergi menggembalakan ternak mereka menghalau dingin di lereng dan batang-batang pohon telah lama terpendam gumpal asap di kejauhan, engkau pagi dan engkau adalah sepi sesaat kita mencari suara yang sekian tahun tersangkut di ranting batang kesturi, kuini, walau; akankah secarik kenangan yang tertinggal di dahan-dahan

Melenting kabar akan beterbangan debu-debu
sudah sekian tahun menahan sakit, akan bertambah tahun di atas segala jerit
bila terus saja berdiam di keramahan, sembunyi di segala penerimaan
tak dapat dipungkiri segala kepunahan

Orang-orang setia menghilang, entah ke bagian bukit yang mana
karena bukit tinggallah di secarik nama; bergegaslah kita kepalkan tangan
dengan telunjuk mengarah ke bagian dada
hidup di sini adalah hidup bagian diri kita sendiri

/asa, banjarbaru,13 januari 2011

tentang blog iniTulisan berjudul "Sejumlah Puisi dan Gumam Asa Bang Ali Syamsudin Arsi" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (26 Januari 2011 @ 02:52) pada kategori Fiksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 52 komentar dalam “Sejumlah Puisi dan Gumam Asa Bang Ali Syamsudin Arsi

  1. Oleh-oleh dari banjarbaru ini rupanya cukup banyak, sepintas saja sudah terasa aroma sastra bermutu dan pembawa kudapan jiwa, Bpk Ali Syamsudin Arsi dengan begitu ikhlas untuk dihidangkan. Ijinkan melahap kudapan jiwa ini secara perlahan dan menikmatinya sambil ngobrol bareng dengan yang lain 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *