Home » Opini » Resolusi 2011: Jadikan Korupsi sebagai Musuh Bersama

Resolusi 2011: Jadikan Korupsi sebagai Musuh Bersama

Ibarat naik menara, dua kaki kita saat ini sudah berada di anak tangga yang baru. Namun, jejak-jejak kaki kita di tangga sebelumnya masih begitu terasa getarannya. Dan jika kita menengok ke bawah, betapa dengan jelas masih bisa kita saksikan jejak-jejak kaki kehidupan setahun silam. Ada yang mampu menumbuhkan sikap optimis, tetapi tidak sedikit juga aspek kehidupan yang membuat dada kita terasa sesak; pesimis sekaligus ironis. Dengan nada sedih harus kita kita katakan, dalam kehidupan berbangsa, kita tak memperoleh kemajuan berarti. Kasus korupsi yang sudah dinyatakan sebagai “musuh bersama”, misalnya, justru makin menunjukkan fenomena gunung es. Satu kasus terungkap, makin banyak kasus lain yang mencuat ke permukaan.

Ya, ya, kasus korupsi di negeri ini agaknya memang sudah menggurita dari berbagai lapis dan lini birokrasi. Ketika otonomi daerah (Otoda) digulirkan, banyak kalangan menyambutnya dengan sikap optimis. Rasa muak dan trauma terhadap kekuasaan monolitik yang bertumpu di Jakarta, disadari atau tidak, telah melahirkan “era baru” yang dinilai akan sanggup menyejahterakan rakyat. Otoda diharapkan mampu menumbuhkembangkan potensi genius-lokal sehingga kesenjangan ekonomi antardaerah bisa terkurangi. Tingkat kesejahteraan makin merata; rakyat makin makmur, bangsa kian mandiri, dan muncul semangat lokal berbasis global untuk memicu adrenalin-adrenalin baru dalam membangun pranata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Namun, apa yang terjadi? Sungguh di luar dugaan. Semenjak Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah ini digulirkan, daerah justru menjadi sarang korupsi yang kian sulit terkontrol. Bupati/walikota bagaikan adipati baru yang menggunakan “pedang kekuasaan” secara sewenang-wenang untuk memanjakan naluri dan kemaruk politik. Siklus Pilkada lima tahunan menjadi ajang kompetisi “sesat” untuk bersaing menggunakan aji-aji ilmu permalingan dengan menghalalkan segala cara ala Machiavelli. Mereka yang diuntungkan secara politik makin pongah dan menepuk dada. Sementara, mereka yang dianggap sebagai “saingan” politik harus disingkirkan dari percaturan kekuasaan di tingkat lokal.

Maka, makin sempurnalah negeri ini digerogoti virus korupsi. Virus ganas ini makin kuat menjalar dari daerah hingga ke pusat. Kekuatan tubuh bangsa untuk melawan virus ini makin keropos dan tak berdaya. Rakyat makin kelimpungan di tengah pesta-pora para koruptor yang bergelimang kemewahan dan harta haram. Anak-anak miskin dan telantar, sebagaimana amanat UUD 1945, yang seharusnya dipelihara oleh negara, justru makin merangkak tajam. Kaum gelandangan dan pengemis, yang juga menjadi bagian tak terpisahkan dari bangsa ini, makin ternistakan. Mereka tidak diberdayakan melalui pendekatan-pendekatan yang manusiawi dan merakyat, tetapi dikebiri dan “dimusnahkan” lantaran dianggap sebagai “sampah masyarakat”. Satpol-PP yang seharusnya menjadi pengawal untuk melindungi dan menjaga keamanan, justru telah tersihir menjadi “predator” yang menggusur hak-hak rakyat yang tertindas dan ternistakan.

Maka, makin tambah usia, wajah bangsa ini makin keriput dan penuh bopeng digerogoti virus korupsi. Nilai-nilai kearifan lokal yang sarat dengan pasemon dan sindiran sudah tak sanggup lagi menjadi penjaga moral bangsa. Kaidah-kaidah religius berbasiskan ajaran Samawi telah diselimuti kabut tebal sehingga gagal mencerdaskan dan mencerahkan bangsa. Institusi pendidikan pun gagal menjalankan perannya sebagai pusat peradaban dan kebudayaan akibat makin membadainya praktik-praktik sesat yang menenggelamkan keluhuran budi dan keagungan moral. Adagium “Sembah ke atas injak ke bawah, sikut kanan-kiri” bukan lagi sebuah pasemon, melainkan benar-benar telah menjadi praktik hidup nyata keseharian.

lawan korupsi

Tidak salah kalau inilah.com membuat sebuah ilustrasi menarik: “Resolusi 2011: Lawan Habis KKN dan Hukum Berat Pelakunya”. Gerakan melawan korupsi memang perlu terus dikumandangkan. Penyakit inilah yang telah membuat mata batin bangsa ini gagal melihat nilai-nilai kebenaran secara hakiki. Sikap kemaruk terhadap harta dan kekuasaan telah membutakan hati-nurani sehingga tega tertawa ngakak di atas bangkai sesamanya. Resolusi 2011: Jadikan Korupsi sebagai Musuh Bersama mungkin bukan lagi sebagai hal yang baru. Namun, bangsa yang besar ini memang perlu terus diingatkan. Novelis Cekoslowakia, Milan Kundera, pernah bilang, salah satu penyakit yang terberat adalah penyakit melawan lupa.

Berikut adalah sepenggal pernyataan Milan Kundera ketika diwawancarai Philip Roth, tentang Novelnya “Kitab Lupa dan Gelak tawa” (The Book of Laughter and Forgetting) dan pernah dimuat diharian Riau Pos, Januari 1997, yang saya kutip dari sini.

Novel adalah sepotong prosa sintesis yang panjang yang didasarkan pada permainan dengan tokoh-tokoh yang diciptakan. Prosa ”sintesis” sebagai keinginan novelis untuk memahami subyeknya dari segala sisi dan dalam kelengkapannya yang paling penuh. Kekuatan sintesis menyatukan “Esai ironis, narasi novelistis, penggalan otobiografis, kenyataan historis, aliran fantasi” menjadi kesatuan tunggal. Hingga kekuatan sintesis novel ini sanggup mengkombinasikan segala hal ke dalam kesatuan tunggal seperti bebunyian dari musik polifonis. Kesatuan novel tidak harus berasal dari plot, tapi bisa disediakan oleh tema, seperti novel saya, ada dua tema, “gelak tawa dan lupa”. Saya mempelajari nilai humor selama masa teror Stalin. Saya bisa mengenali stalinis atau bukan dari caranya tersenyum.

Rasa Humor adalah tanda pengenal yang layak dipercayai, saya takut pada dunia yang kehilangan rasa humornya. Dalam “Kitab Lupa dan Gelak Tawa” ada dua tema. Yang pertama adalah perjuangan terberat kita adalah perjuangan melawan lupa. Yang kedua adalah tentang gelak tawa malaikat dan gelak tawa iblis.
Iblis tertawa karena dunia Tuhan tampak tak berarti baginya, malaikat tertawa karena segala sesuatunya dalam dunia Tuhan memiliki arti. Hingga kehidupan manusia itu dibatasi oleh dua jurang: fanatisisme di satu sisi,dan skeptisisme absolut di sisi lain. Orang senang mengatakan bahwa revolusi itu indah, hanya teror yang muncul darinya yang jahat, itu tidaklah benar. Yang jahat memang sudah ada dalam yang indah, neraka memang sudah terdapat dalam impian mengenai surga. Dan kalau kita ingin memahami esensi neraka kita harus meneliti esensi surga yang melahirkannya. Dan “Lupa” merupakan sebentuk kematian yang hadir dalam kehidupan, yang juga merupakan masalah besar dalam politik. Bangsa yang kehilangan kesadaran akan masa lalunya perlahan-lahan akan kehilangan dirinya .

Peristiwa dasar di novel Kitab Lupa dan gelak tawa adalah cerita tentang Totaliratianisme. Totalitarianisme melepaskan orang dari memori dan karenanya menjatuhkan mereka ke dalam bangsa anak-anak. Novelis mengajari pembacanya untuk memahami dunia sebagai sebuah pertanyaan, ada kebijaksanaan dan toleransi dalam hal ini. Dalam dunia yang dibangun di atas kepastian-kepastian keramat, novel menjadi mati. Orang-orang zaman sekarang lebih suka mengadili ketimbang memahami, menjawab ketimbang bertanya. Dan suara novel hampir tak bisa didengar di tengah ketololan keyakinan manusia yang hiruk- pikuk.

Begitukah? ***

ttd
tentang blog iniTulisan berjudul "Resolusi 2011: Jadikan Korupsi sebagai Musuh Bersama" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 Januari 2011 @ 18:45) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 79 komentar dalam “Resolusi 2011: Jadikan Korupsi sebagai Musuh Bersama

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *