Merajut “Khittah” Toleransi yang Terkoyak

Kategori Opini Oleh

Bertubi-tubi “khittah” toleransi antarumat beragama di negeri ini mendapatkan ujian. Berbagai perilaku kekerasan yang mengatasnamakan agama sempat mencuat di atas panggung sosial bangsa ini. Bahkan, tidak sedikit yang menjadi korban, baik secara fisik maupun psikis. Benturan antarkelompok agama gampang terjadi hanya lantaran persoalan-persoalan primordial yang dipahami secara sempit. Semangat multikultural yang jelas-jelas menjadi basis awal berdirinya negara-bangsa pun sempat ternoda. Sikap eksklusif vis a-vis hidup berdampingan secara damai menjadi bagian dari wajah toleransi yang terkoyak.

BhinekaIronisnya, di tengah makin menguatnya konflik yang mengatasnamakan agama, negara seolah-olah tak sanggup berbuat apa-apa. Benih-benih kekerasan seperti terus dibiarkan menjadi bahaya laten yang setiap saat gampang tersulut menjadi api yang kian membesar. Jika situasi seperti ini terus terjadi, landasan hidup berbangsa yang beragam di bawah panji-panji Bhineka Tunggal Ika akan semakin terancam. Kelompok minoritas yang menjadi bagian inherent dari negara akan makin tersisih akibat pemahaman sikap eksklusif yang cenderung berlebihan. Mereka yang merasa dirinya menjadi bagian dari kelompok mayoritas makin terjebak ke dalam pasungan nilai-nilai primordialisme sempit, sehingga tak segan-segan melakukan aksi massa secara masif untuk menindas kelompok minoritas.

Berlarut-larutnya konflik antara jemaat HKBP dengan beberapa orang yang diidentifikasi sebagai ormas salah satu agama, misalnya, dinilai tidak berpijak dari ruang kosong. Kasus itu bermula dari persoalan keinginan mendirikan rumah ibadah oleh jemaat HKBP. Keinginan ini direspon warga sekitar dengan melakukan protes dengan beralaskan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri bahwasanya pendirian tempat ibadah harus memenuhi persayaratan administratif dan teknis. Sayangnya, konflik antar kedua pihak berlarut-larut dengan absennya negara sebagai penjaga tegaknya rasa damai bagi para warganya. Tanpa bermaksud untuk mengungkit-ungkit luka lama, situasi chaos seperti itu akan bisa dihindari jika negara berperan utuh untuk menyelamatkan warganya yang terancam dari penindasan dan kekerasan.

Semangat keindonesiaan adalah satu untuk semua dan semua untuk satu (one for all and all for one). Kita layak mengapresiasi kearifan para pendiri negara yang dengan amat sadar dan visioner memandang Indonesia bukan sebagai negeri mono-agama dan monokultur, melainkan sebagai negara ber-bhineka yang memiliki kekayaan keyakinan, budaya, kearifan lokal, dan berbagai atribut lokalitas lain. Perbedaan-perbedaan semacam itu justru perlu dikelola secara arif sehingga bisa dirajut menjadi sebuah kekayaan hidup berbangsa dan bernegara. Jika kenyataan seperti ini diingkari, maka semangat keindonesiaan itu makin lama makin memudar. Imbas yang muncul kemudian adalah semangat untuk saling menguasai dan menindas. Negara akan makin tak berdaya apabila situasi seperti itu mengakar dan memfosil dari generasi ke generasi.

Merajut “khittah” toleransi yang terkoyak perlu kita serukan kembali ketika saudara-saudara kita umat Kristiani tengah merayakan Natal yang sarat dengan pesan-pesan kasih sayang dan kedamaian. Kesadaran kolektif terhadap situasi kebhinekaan perlu terus ditumbuhkan dan ditanamkan kepada segenap anak bangsa di berbagai lapis dan lini kehidupan masyarakat. Bisa jadi ada benarnya kalau ada yang bilang, bahaya laten yang mengancam keutuhan bangsa saat ini bukan lagi komunisme, melainkan kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Nah, selamat merayakan Natal buat saudara-saudara kita, umat Kristiani, yang merayakannya. Semoga nilai cinta kasih dan kedamaian senantiasa tumbuh dan hidup di tengah-tengah kehidupan masyarakat kita. ***

ttd

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

42 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Opini

Go to Top