Rabu, 23 April 2014

Thursday, 23 December 2010 (19:13) | Esai, Sastra | 12928 pembaca | 63 komentar

Apresiasi sastra di negeri ini agaknya masih menjadi sebuah Indonesia yang tertinggal. Dari sekitar 220-an juta penduduk yang menghuni bumi Indonesia bisa jadi hanya sekitar 10% yang memiliki kadar apresiasi sastra yang memadai. Selebihnya, masih terperangkap dalam pemujaan budaya pop; sebuah budaya yang berkiblat pada penikmatan dunia seni berdasarkan selera massal. Tesis ini memang tidak didasarkan pada hasil survey atau penelitian mendalam.

buku sastraNamun, kalau kita mau jujur, harus diakui bahwa sastra di negeri ini masih amat dimarginalkan. Lihat saja teks-teks sastra, seperti cerpen atau puisi yang bertaburan di media massa cetak pada setiap edisi Minggu. (Nyaris) teks-teks tersebut hanya sebatas dibaca beberapa gelintir orang saja. Berita-berita perselingkuhan, kekerasan, politik, hukum, olahraga, atau ekonomi, masih memiliki nilai jual tinggi ketimbang cerpen atau puisi. Tak berlebihan kalau banyak koran yang terpaksa harus menutup rubrik sastra lantaran sepi peminat. Katup bisnis kaum pemilik modal mungkin akan terasa lebih nyaman apabila koran yang dikelolanya memiliki space iklan atau berita-berita bernilai jual tinggi, sehingga tak sedikit pun berkenan menyisakan sedikit ruang kontemplasi melalui lembar budaya dan sastra. Belum lagi nasib buku-buku sastra yang (nyaris) lapuk tak tersentuh di rak-rak perpustakaan yang berdebu. Tak berlebihan pula kalau banyak penerbit yang merasa “alergi” untuk menerbitkan buku-buku sastra lantaran tak memiliki nilai jual.

Mengapa apresiasi sastra menjadi demikian penting dipersoalkan? Ya, ya, pertanyaan ini memang bukan hal yang mudah untuk dijawab. Apresiasi sastra sangat erat kaitannya dengan pengalaman estetik, imajinatif, personal, dan kemampuan menggerakkan syaraf-syaraf intuitif untuk bersentuhan dengan beragam fenomena hidup dan kehidupan. Ia (baca: apresiasi sastra) tak bisa disamakan ketika seseorang menyantap hamburger atau menenggak bir yang bisa langsung terasa di kerongkongan atau tenggorokan. Proses apresiasi sastra sangat erat kaitannya dengan ranah emosional dan pengalaman batiniah. Meski demikian, tidak lantas berarti bahwa proses apresiasi sastra menjadi sesuatu elitis dan soliter. Ia bisa digeluti, digauli, dan diakrabi oleh siapa pun tanpa membedakan status, jabatan, dan atribut-atribut sosial yang lain. Apresiasi sastra sah menjadi hak setiap orang. Ia akan sangat ditentukan oleh faktor minat dan kemauan politik untuk menyentuhnya.

Dengan kadar apresiasi sastra yang memadai, kita menjadi lebih toleran, peka, dan tak gampang terperangkap untuk melakukan tindakan-tindakan konyol yang bisa menodai citra keharmonisan hidup. Apresiasi sastra menjadi lorong yang tepat untuk membangun manusia yang lebih berbudaya, utuh, dan manusiawi. Melalui pengalaman-pengalaman hidup yang terungkap dalam teks sastra, pembaca akan mendapatkan asupan gizi batin yang cukup sehingga secara tidak langsung akan terus mengendap ke dalam gendang memori. Jika proses apresiasi sastra terus dilakukan secara intens dan total, kita makin kaya pengalaman hidup dan terus bersemayam ke dalam nurani, sehingga tak gampang menyakiti dan menistakan orang lain.

Dalam konteks demikian, saya jadi merasa risih sekaligus sedih setiap kali mendengar pernyataan pejabat dan kaum elite kita yang kurang berempati dan demikian gampang mengobral statement yang bisa melukai hati pihak lain. Berlarut-larutnya pembahasan RUU Keistimewaan Yogyakarta, misalnya, sebuah bukti betapa kurang sensitifnya penguasa di negeri ini terhadap nilai-nilai kearifan lokal. Taruhlah hal itu sudah menjadi program yang harus dijalankan, tetapi akan lebih arif jika dilontarkan ketika rakyat Yogyakarta sudah bisa hidup tenang setelah wilayahnya hancur berantakan dihantam badai erupsi Merapi. Petinggi PSSI juga setali tiga uang. Keberhasilan Timnas diklaim secara sepihak sebagai buah keberhasilan kepemimpinannya. Hal itu tampak jelas ketika ruang stadion Gelora Bung Karno yang menjadi ruang publik untuk memberikan dukungan kepada Tim Garuda yang tengah berlaga, justru dinodai spanduk sang petinggi PSSI yang narsis dan suka mencium tangan RI I itu. Yang menyedihkan, bagaimana bisa mengklaim diri bahwa mereka bisa mengurus PSSI dengan baik apabila menjual tiket saja amburadul. Animo publik untuk bisa menyaksikan tim sepak bola kebanggaannya yang digadang-gadang bakal mendulang sukses dalam ajang perebutan Piala AFF 2010 justru gagal terakomodasi di Senayan. Saya curiga, jangan-jangan kaum elite kita tidak pernah membaca karya sastra sehingga demikian mudah berpongah diri dan gampang menistakan pihak lain.

Perangkap budaya pop dan apresiasi sastra yang merana juga tampak jelas di layar kaca dengan bejibunnya sinetron picisan yang suka menguras air mata dan memuja hantu. Kisah yang disuguhkan makin jauh dari realitas dan tidak membumi. Namun, ironisnya, justru sinetron semacam itu yang disukai penonton. Pengelola stasiun TV agaknya paham benar dengan ledakan budaya massa yang semacam itu, sehingga tak mau melirik kisah-kisah pilihan yang mampu menyuburkan sikap empati penonton. Buat apa susah-susah membuat sinetron yang bagus kalau pada kenyataannya justru sepi penonton dan iklan?

Entah sampai kapan apresiasi sastra di negeri ini terus terpinggirkan. Dunia pendidikan yang diharapkan mampu menjadi benteng untuk menyelamatkan apresiasi sastra di kalangan generasi masa depan pun agaknya makin tak berdaya akibat demikian kuatnya gerusan budaya pop di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Sementara itu, menunggu keteladanan para pejabat dan kaum elite kita untuk mencintai dan mengakrabi sastra agaknya juga sebuah utopia bagaikan Menunggu Godot. Kalau sudah begini, bagaimana bisa memberangus korupsi kalau sikap empati dan peka terhadap nasib wong cilik sudah diberangus oleh ledakan budaya pop? ***

Tulisan berjudul "Budaya Pop dan Apresiasi Sastra yang Merana" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (23 December 2010 @ 19:13) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Pelajaran Bahasa Indonesia: Antara Sains dan Humaniora (Friday, 20 December 2013, 187017 pembaca, 15 respon) Kurikulum 2013 yang kontroversial itu sudah diberlakukan di sekolah-sekolah sasaran pada tahun pelajaran 2013/2014. Pada tahun pelajaran 2014/2015...

Maman S. Mahayana dan Tanggung Jawab Moralnya sebagai  Seorang Kritikus Sastra (Wednesday, 20 November 2013, 62198 pembaca, 5 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Nama Maman S. Mahayana dalam dunia sastra Indonesia bukanlah sosok yang asing. Kiprahnya dalam ranah kritik sastra Indonesia...

Perempuan yang Menggelisahkan ASA (Thursday, 7 November 2013, 62024 pembaca, 13 respon) Oleh Nailiya Nikmah JKF “Bukankah kau perempuan?” …. “Aku? Perempuan? Pertanyaan apa itu.”   1 Ada dua hal yang menjadi kebutuhan...

Jalan Puisi: Kembalikan Daulat Sungai (Monday, 21 January 2013, 36974 pembaca, 25 respon) Pengantar Diskusi Sastra Malam Sabtu Jalan Puisi: Kembalikan Daulat Sungai “Selamat datang Aruh Sastra Kalsel X di kota Banjarbaru tahun...

Repertoar “Kursi” dalam Pentas Teater Gema IKIP PGRI Semarang (Monday, 5 November 2012, 32214 pembaca, 27 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Jika tak ada aral melintang, Teater Gema IKIP PGRI Semarang akan menggelar pentas teater dengan mengusung repertoar...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
1 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

63 komentar pada "Budaya Pop dan Apresiasi Sastra yang Merana"

  1. khamiL says:

    sanagt di sayangkan sekali kini budaya budaya indonesia hampir sebagan daerah adat dan tradisinya sudah mulai punah bahkan ada juga yang sampai di hilangkan,,, karena terpengaruh dari budaya budaya luar (asing)

  2. Uchan says:

    Menurut paham mimesis, sastra itu realitas sosial dan cerminan budaya masyarakat

    kalo siswa ga suka sastra, mungkin menurut mereka sastra di sekolah itu malah “bukan sastra”

    susah melawan globalisasi yg udah nyuci otak pelajar,

    kenapa sastrawan ga mencoba berdamai dgn globalisasi dan bikin “sastra yg sastra”

    halah bahasa saya :D

  3. Elong Bujang says:

    Setuju sekali Pak …tapi kita jangan pernah berhenti berkarya dan berusaha

Leave a Reply