Kamis, 23 Oktober 2014

Wednesday, 22 December 2010 (08:18) | Opini | 26046 pembaca | 78 komentar

Di tengah euforia bangsa menyambut kemenangan Tim Garuda yang lolos ke final dalam Piala AFF 2010, momentum Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember tahun ini nyaris terlupakan. Sudut-sudut kampung dan kota bertaburan sanjungan dan pujian terhadap Christian Gonzales, dkk. Lagu “Garuda di Dadaku” berkumandang di seantero negeri, seperti tengah terlepas dari beban “mahaberat” yang selama ini menelikung bumi nusantara. Mereka dianggap telah mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa di tengah carut-marut kehidupan yang sarat beban. Kekerasan, korupsi, mafia hukum, kasus TKI, dan berbagai kasus anomali sosial lainnya yang terus menenggelamkan bangsa ke dalam lumpur kenistaan dan kemiskinan, seolah-olah mampu tereduksi oleh “keperkasaan” Timnas yang menghadirkan suguhan permainan menarik di atas lapangan hijau.

kaum perempuankaum perempuankaum perempuanYang tidak kalah menarik, jelas pertandingan babak final yang mempertemukan Timnas dengan Tim Malaysia. Banyak pengamat bilang, final ini bukan semata-mata urusan sepak bola, melainkan juga berkaitan dengan harga diri, kehormatan, dan martabat bangsa. Sebagaimana diketahui, hubungan antara bangsa kita dan negeri Jiran itu terus memanas. Bukan hanya persoalan daerah perbatasan, melainkan juga persoalan budaya. Bahkan, para TKI yang sedang mengadu nasib di sana, tak jarang harus menghadapi cacian, bahkan juga kekerasan yang makin merendahkan kehormatan bangsa. Sangat beralasan kalau laga final benar-benar akan menjadi suguhan yang panas, sarat fanatisme, dan kegeraman. Semua elemen bangsa sangat mengharapkan, Timnas bakal tampil ngedan dan ngedap-edapi untuk membuktikan bahwa harga diri dan kehormatan bangsa itu belum mati.

Harapan untuk bisa menggapai puncak prestasi dalam ajang AFF 2010 memang masih amat terbuka lebar, meski bukan hal yang mudah. Tim Merah Putih memang sukses menggulung Malaysia dengan skor telak 5-1 pada babak penyisihan group. Namun, hal itu tidak bisa jadi ukuran kalau Timnas bakal menang dengan mudah. Buktinya, dalam semi final, Tim negeri jiran itu mampu memukul sang juara bertahan Vietnam dengan agregat 2-0. Itu artinya, kemenangan Timnas pada babak penyisihan tidak bisa diartikan bahwa Tim Malaysia bakal dengan mudah dihadapi di babak final. Kita semua berharap, kerinduan bangsa ini akan prestasi sepakbola tanah air yang selama ini selalu “memble” bisa terobati. Tidak berlebihan kalau semua elemen bangsa ini sangat berharap, Timnas harus menang, berapa pun jumlah golnya.

Lantas, apa hubungannya dengan Hari Ibu? Secara langsung tidak ada memang. Namun, cobalah kita lihat kiprah kaum ibu dan perempuan pada umumnya di tengah perhelatan bola di lapangan hijau. Jika mau jujur, kaum ibu memberikan andil yang tidak sedikit. Dengan caranya sendiri, mereka berupaya memberikan support kepada tim yang tengah berlaga. Bahkan, hampir setiap event bola “bergengsi” selalu ada ikon perempuan yang muncul di sana. Entah dengan tarian-tarian khasnya, teriakan-teriakan khasnya, atau gerakan-gerakan penyemangat yang bisa memacu “adrenalin” sang pemain dalam beraksi. Dari sisi ini, agaknya event pertandingan bola tak lagi meriah apabila tidak ada ikon kaum perempuan yang hadir di sana.

Sensasi kaum perempuan tentang bola juga tidak terlepas dari nalurinya untuk dekat sang bintang lapangan. Kini, kaum selebritis tak melulu muncul dari layar kaca dan layar lebar, tetapi juga lahir dari tengah lapangan hijau. Pemain bola yang memiliki keterampilan brilian, cerdas, tampil atraktif, bisa dipastikan akan menjadi idola baru bagi kaum perempuan.

Nah, apakah sensasi kaum Ibu dan juga kaum perempuan pada umumnya tentang sepak bola masih akan terus berlanjut menjelang dan pasca-digelarnya laga final panas antara Tim Garuda dan Tim Malaysia? Sekadar menjadi bagian dari “euforia” bangsa atau memang secara naluriah kaum ibu juga memiliki kecintaan tersendiri terhadap dunia bola?

Sebelum pertanyaan tersebut terjawab, izinkan saya mengucapkan Hari Ibu buat seluruh Kaum Perempuan di Indonesia! Semoga Ibu-ibu makin maju, kreatif, dan inovatif dalam ikut berkiprah membangun peradaban bangsa! Konon, maju mundurnya sebuah negara akan sangat ditentukan kiprah kaum ibu. Begitukah? Nah, Dirgayahu Ibu Indonesia! ***

Tulisan berjudul "Hari Ibu, Sepak Bola, dan “Euforia” Bangsa" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (22 December 2010 @ 08:18) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Keunikan Publik Sepak Bola dan Piala Eropa 2012 (Friday, 8 June 2012, 36503 pembaca, 52 respon) Negeri ini memiliki publik sepak bola yang unik. Tingkat fanatisme mereka terhadap sebuah klub atau tim luar negeri terkesan melebihi fanatisme...

Garuda Senior Memalukan, Garuda Muda Tak Berdaya (Saturday, 10 March 2012, 48963 pembaca, 71 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Saya bukan pengamat bola, lebih-lebih pemain. Namun, setiap kali Tim Garuda main, baik dalam event regional maupun dunia,...

Hari Ibu dan Nasib TKW yang “Ternistakan” (Thursday, 22 December 2011, 134863 pembaca, 47 respon) Hari ini, Kamis, 22 Desember 2011, seharusnya kaum perempuan di negeri ini terbebas dari segala macam bentuk kekerasan dan penindasan. Pada hari yang...

Juara Umum Tanpa Mahkota (Tuesday, 22 November 2011, 40653 pembaca, 42 respon) Bisa jadi itulah ungkapan yang tepat untuk Indonesia dalam SEA GAMES XXVI Tahun 2011. Dengan perolehan 170 lebih keping emas, 140-an perak, dan...

Sepakbola dan Pendidikan Karakter Bangsa (Thursday, 3 March 2011, 36647 pembaca, 70 respon) Dalam sepekan terakhir ini, publik tanah air disuguhi drama kepengurusan sepakbola yang cukup menyita perhatian banyak kalangan. Kesan yang muncul,...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

78 komentar pada "Hari Ibu, Sepak Bola, dan “Euforia” Bangsa"

  1. khamiL says:

    jangan patah semangat
    maju terus sepak bola indonesia
    tunjukan semanat mu…

  2. Nuraeni says:

    Hari Ibu Akan Selalu DI Kenang…

  3. akhnayzz says:

    maaf terlambat,, yang penting sudah mampir,,,
    hidup bangsa indonesia…

  4. job says:

    Harapan saya Timnas akan menang melawan Malaysia.
    Soalnya ini bukan hanya masalah pertandingan olahraga tapi juga sudah menyangkut martabat bangsa

Leave a Reply