Home » Opini » ALNI: Film Satire tentang Indonesia “Kontemporer”

ALNI: Film Satire tentang Indonesia “Kontemporer”

Deddy Mizwar kembali unjuk kreativitas. Lewat film terbarunya, Alangkah Lucunya Negeri Ini (ALNI) –digarap bareng dengan Musfar Yasin– ia membidik secara satire tentang Indonesia “kontemporer” yang sarat beban: ideologi, politik, sosial, budaya, pendidikan, kriminalitas, generasi muda, bahkan juga agama. Film berdurasi 105 menit ini agaknya ingin menunjukkan betapa karut-marut Indonesia sejatinya berawal dari mis-match antara dunia pendidikan dan kenyataan sosial-budaya yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Desain dunia pendidikan seringkali tidak sinkron dengan dinamika dan perkembangan masyarakatnya, sehingga gagal memberikan pencerahan dan pencerdasan kepada anak bangsa.

Film ini bertutur tentang seorang pemuda bernama Muluk (Reza Rahadian) yang menyandang gelar Sarjana Manajemen, tetapi gagal memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bidang keahliannya. Muluk kerap kali ditantang dan disindir untuk mendapatkan pekerjaan hingga akhirnya Muluk dipertemukan dengan seorang pencopet kecil bernama Komet. Kesulitan mendapatkan pekerjaan mendorong Muluk untuk berbuat sesuatu terhadap Komet dan teman-teman pencopetnya yang berusia belasan tahun. Dia melakukan kesepakatan dengan bos mereka, Jarot, untuk membantu para pencopet itu agar berkembang dengan ilmu manajemen yang ia miliki. Syaratnya, 10% dari seluruh hasil mencopet harus diserahkan ke Muluk setiap harinya.

Impian Muluk begitu besar. Dia ingin, suatu ketika anak-anak pencopet yang jauh dari sentuhan perhatian dan kasih sayang orang tua itu berhenti dari pekerjaannya dan menjadi wirausahawan. “Pendidikan itu alat untuk melompat,” ujarnya. Menurut dia, menjadi pedagang asongan adalah lompatan pertama, sebelum lompatan-lompatan yang lebih tinggi seperti membuka kios, dan akhirnya membuka mall.

Dalam aksi operasionalnya, kelompok copet ini dibagi menjadi tiga kelompok kecil, yakni pencopet mall, pencopet pasar, dan pencopet angkutan umum. Setiap kelompok memiliki jargon: “Di mall kita usaha, di pasar kita jaya, di angkot kita kaya”. Untuk memuluskan misinya, Muluk menyatu dan lebur ke dalam kehidupan para pencopet itu. Meski demikian, misi Muluk bukanlah pekerjaan yang mudah. Ia menghadapi banyak permasalahan pelik, mulai ketidakpercayaan anak-anak, ketidakinginan diatur, hingga tantangan dari ayah mereka ketika mengetahui anak-anaknya mendapatkan uang dari hasil mencopet.

Berkat keuletannya, Muluk berhasil mengumpulkan uang hasil copetan dengan jumlah yang lumayan besar. Sebagian digunakan Muluk untuk membeli beberapa keranjang asongan sembari menyemangati agar anak-anak beralih profesi dari pencopet ke pedagang asongan. Namun, sebagian besar anak-anak menolak karena berdagang asongan lebih melelahkan dengan hasil yang tidak menjanjikan dibandingkan dengan mencopet. Meski demikian, dengan berbagai cara dan pendekatan, Muluk terus berusaha mengambil hati anak-anak yang kekurangan perhatian dan kasih sayang itu.

Untuk mendukung misinya, Muluk mengajak Syamsul (Asrul Dahlan), seorang sarjana pendidikan, tetapi kesehariannya hanya diisi dengan bermain gaple, dan Pipit (Tika Bravani), seorang pengangguran yang hobinya mengikuti undian, untuk memberikan pencerahan dan pencerdasan di tengah markas para pencopet yang kumuh. Muluk, Syamsul, dan Pipit, pada akhirnya menjadi bagian hidup dari 18 pencopet itu. Setiap hari, mereka datang untuk memberikan pendidikan, termasuk pendidikan Pancasila, moral, dan agama.

Ahamdulillah, berkat kesabaran dan keuletannya, Muluk, Syamsul, dan Pipit, secara bertahap berhasil mengubah kebiasaan dan karakter anak-anak. Sebagian besar anak-anak mulai berhasil dikendalikan, terutama setelah Pipit yang cantik itu berhasil mendekati mereka dengan sentuhan perhatian dan kasih sayang. Bahkan, anak-anak yang semula menolak menjadi pedagang asongan mulai tergerak untuk meninggalkan pekerjaan lamanya.

Namun, ketika misinya sudah mulai menunjukkan hasil, tantangan berat justru datang dari ayah Muluk dan Pipit. Mereka merasa tertipu setelah mengetahui bahwa uang yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari berasal dari uang hasil copetan. Menangislah kedua orang tua yang dikenal amat religius ini ke hadapan Tuhan. Mereka terpukul dan kecewa terhadap anak-anak mereka.

Kejadian itu membuat Muluk merasa sedih dan bersalah. Ia memutuskan untuk menghentikan misinya. Semua uang hasil copetan yang selama ini dia tangani diserahkan kepada Jarot. Ia memutuskan untuk menjadi seorang sopir. Keputusan Muluk membuat Syamsul kecewa berat. Setelah ia berhasil memberikan pencerahan di kalangan pencopet, ia merasa telah membuat hidupnya lebih bermakna dengan mengabdikan ilmunya untuk mengentaskan para pencopet. Ia juga telah berhasil menghilangkan kebiasaan lamanya yang hobi berat main gaple. Tak heran kalau ia pun berteriak-teriak membandingkan ulah koruptor yang suka mengemplang uang rakyat dengan pencopet amatir.

Muluk makin merasa serba salah. Lebih-lebih ketika melihat Komet dan kawan-kawannya yang menjadi pedagang asongan dikejar-kejar petugas Satpol PP. Lantaran tak ingin anak-anak itu berurusan dengan pihak yang berwajib, Muluk datang melindunginya, hingga akhirnya dia merelakan diri untuk dibawa ke markas Satpol PP.

AlniYa, ya, sebuah film yang layak ditonton; membidik Indonesia yang “lucu” dengan gaya satire. Semua perangkat negara ada, mulai presiden, anggota DPR, hingga rakyat jelata. Di permukaan, mereka menjalankan tugasnya, membangun negeri untuk menyejahterakan rakyat. Semua memiliki hak yang sama untuk sekolah dan mendapatkan pekerjaan. Namun, di mata aktor film Deddy Mizwar, negeri ini tampak sangat lucu. Bagaimana mungkin di kota besar lulusan sarjana menganggur dan luntang-lantung mencari pekerjaan. Bagaimana mungkin pada saat pemerintah gencar mempropagandakan sekolah gratis, terutama menjelang kampanye, banyak anak-anak tidak bisa sekolah, bahkan terjebak menjadi pencopet pula. Yang tak kalah ironis, bagaimana mungkin rakyat kecil yang mencopet untuk mempertahankan hidup dikejar dan dinistakan hingga babak belur, sementara koruptor yang menumpuk kekayaan untuk kepentingan perutnya sendiri justru tak jarang mendapatkan tempat terhormat dan diperlakukan istimewa.

Tercatat setidaknya ada sembilan nama peraih piala citra yang berkolaborasi dalam film ini, yakni Slamet Rahardjo, Deddy Mizwar, Tio Pakusadewo, Rina Hassim, Aria Kusumadewa, Yudi Datau, Musfar Yasin, dan Zairin Zain. Jika tak ada aral melintang, film bertema pendidikan ini akan didiskusikan dalam sebuah forum seminar dengan pembicara utama Deddy Mizwar pada tanggal 30 November 2010 di Kendal. Diskusi ini merupakan kerja bareng antara MGMP Bahasa Indonesia SMP Kab. Kendal dan Mitra Edukatifa Semarang. Semoga berjalan lancar dan sukses! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "ALNI: Film Satire tentang Indonesia “Kontemporer”" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (8 November 2010 @ 03:19) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 92 komentar dalam “ALNI: Film Satire tentang Indonesia “Kontemporer”

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *