Selasa, 23 September 2014

Wednesday, 27 October 2010 (18:36) | Opini | 34635 pembaca | 69 komentar

SOEMPAH PEMOEDA
Pertama :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGAKOE BERTOEMPAH DARAH JANG SATOE, TANAH AIR INDONESIA
Kedua :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA, MENGAKOE BERBANGSA JANG SATOE, BANGSA INDONESIA
Ketiga :
- KAMI POETRA DAN POETRI INDONESIA MENGJOENJOENG BAHASA PERSATOEAN, BAHASA INDONESIA

Djakarta, 28 Oktober 1928

Begitulah teks Soempah Pemoeda yang dibacakan pada waktu Kongres Pemoeda yang diadakan di Waltervreden (sekarang Jakarta) pada tanggal 27 – 28 Oktober 1928.

Panitia Kongres Pemoeda terdiri dari :

Ketua : Soegondo Djojopoespito (PPPI)
Wakil Ketua : R.M. Djoko Marsaid (Jong Java)
Sekretaris : Mohammad Jamin (Jong Sumateranen Bond)
Bendahara : Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond)
Pembantu I : Djohan Mohammad Tjai (Jong Islamieten Bond)
Pembantu II : R. Katja Soengkana (Pemoeda Indonesia)
Pembantu III : Senduk (Jong Celebes)
Pembantu IV : Johanes Leimena (Jong Ambon)
Pembantu V : Rochjani Soe’oed (Pemoeda Kaoem Betawi)
Peserta :

No. Nama No. Nama

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

Abdul Muthalib Sangadji

Purnama Wulan

Abdul Rachman

Raden Soeharto

Abu Hanifah

Raden Soekamso

Adnan Kapau Gani

Ramelan

Amir (Dienaren van Indie)

Saerun (Keng Po)

Anta Permana

Sahardjo

Anwari

Sarbini

Arnold Manonutu

Sarmidi Mangunsarkoro

Assaat

Sartono

Bahder Djohan

S.M. Kartosoewirjo

Dali

Setiawan

Darsa

Sigit (Indonesische Studieclub)

Dien Pantouw

Siti Sundari

Djuanda

Sjahpuddin Latif

Dr.Pijper

Sjahrial (Adviseur voor inlandsch Zaken)

Emma Puradiredja

Soejono Djoenoed Poeponegoro

Halim

R.M. Djoko Marsaid

Hamami

Soekamto

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

61

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

Jo Tumbuhan

Soekmono

Joesoepadi

Soekowati (Volksraad)

Jos Masdani

Soemanang

Kadir

Soemarto

Karto Menggolo

Soenario (PAPI & INPO)

Kasman Singodimedjo

Soerjadi

Koentjoro Poerbopranoto

Soewadji Prawirohardjo

Martakusuma

Soewirjo

Masmoen Rasid

Soeworo

Mohammad Ali Hanafiah

Suhara

Mohammad Nazif

Sujono (Volksraad)

Mohammad Roem

Sulaeman

Mohammad Tabrani

Suwarni

Mohammad Tamzil

Tjahija

Muhidin (Pasundan)

Van der Plaas (Pemerintah Belanda)

Mukarno

Wilopo

Muwardi

Wage Rudolf Soepratman

Nona Tumbel

Catatan :
Sebelum pembacaan teks Soempah Pemoeda diperdengarkan lagu”Indonesia Raya” gubahan W.R. Soepratman dengan gesekan biolanya.

  1. Teks Sumpah Pemuda dibacakan pada tanggal 28 Oktober 1928 bertempat di Jalan Kramat Raya nomor 106 Jakarta Pusat sekarang menjadi Museum Sumpah Pemuda, pada waktu itu adalah milik dari seorang Tionghoa yang bernama Sie Kong Liong.
  2. Golongan Timur Asing Tionghoa yang turut hadir sebagai peninjau Kongres Pemuda pada waktu pembacaan teks Sumpah Pemuda ada 4 (empat) orang, yaitu :
    a. Kwee Thiam Hong
    b. Oey Kay Siang
    c. John Lauw Tjoan Hok
    d. Tjio Djien kwie

(Sumber: sumpahpemuda.org)
***

sumpah pemudaKini, setelah peristiwa Soempah Pemoeda melewati usia lebih dari delapan dasawarsa, pertanyaan bernada pesimis pun bermunculan. Masihkah guratan historis yang tersirat dari balik peristiwa heroik tersebut membekas dan mengakar dalam nurani bangsa kita? Masih adakah rasa cinta dan bangga bertanah air, berbangsa, dan berbahasa Indonesia? Kalau mau jujur, dengan nada sedih kita harus mengatakan bahwa semangat yang tersirat di balik ikrar Sumpah Pemuda itu kini makin memudar. Bagaimana tidak kalau sesama bangsa saja suka cakar-cakaran, saling menista, dan saling menaburkan kebencian hanya karena masalah-masalah primordial yang ditafsirkan secara sempit? Bagaimana pula kita bisa bilang kalau kita masih cinta dan bangga berbangsa Indonesia kalau kita tak berkutik ketika harga diri bangsa diinjak-injak di negeri orang? Masihkah kita mengaku menjunjung tinggi bahasa Indonesia kalau dalam peristiwa tutur sehari-hari kita justru merasa lebih terpelajar dan terhormat dengan menggunakan setumpuk istilah asing?

Para pendahulu negeri yang dulu mengikrarkan Sumpah Pemuda bisa jadi akan meratap sendu dan menangis ketika menyaksikan situasi Indonesia masa kini yang makin jauh bergeser dari “khittah” perjuangannya. Lihat saja betapa para penguasa terlalu sibuk “tabur pesona” dan membangun citra untuk meraih simpati politik hingga melupakan amanat untuk menyejahterakan rakyat! Saksikan juga kiprah kaum elite kita yang (nyaris) kehilangan kepekaan terhadap nasib sesamanya yang makin terpuruk dalam kubangan kemiskinan dan kebodohan! Cermati juga para penegak hukum kita yang tak berdaya ketika diseret ke atas panggung drama oleh para bromocorah dan mafia hukum dalam sebuah persekongkolan busuk!

Dari sisi mana pun agaknya Indonesia masa kini (nyaris) tak sanggup menampilkan potret yang jelas dan tegas. Integritas kebangsaan dan sikap kenegarawanan kaum elite kita, diakui atau tidak, telah terkontaminasi oleh kepentingan-kepentingan sempit dan sesaat. Kaum politisi kita yang seharusnya bisa menjadi “pionir” kerakyatan justru makin tenggelam ke dalam kubangan permainan politik yang tidak beretika. Para pejabat kita juga (nyaris) kehilangan sikap wisdom, kearifan, dan keteladanan dalam mengelola negara. Sungguh tak berlebihan kalau atmosfer semacam itu menimbulkan imbas sosial yang luar biasa secara horisontal di kalangan akar rumput. Masyarakat jadi gampang marah dan kalap seperti onggokan rumput kering yang mudah terbakar oleh percikan api.

Banyaknya rakyat kecil yang menjadi “korban” lemahnya penegakan hukum membuat masyarakat makin tenggelam ke dalam perilaku anomali dan kekerasan. Nilai-nilai primordial sempit makin menguat dan menggeser nilai-nilai nasionalisme yang seharusnya terus dipupuk dan dikembangsuburkan. Maka, yang kemudian terjadi adalah kian merajalelanya perilaku anarkhis, bar-bar, vandalistis, dan berbagai aksi kekerasan yang tak jarang berujung jatuhnya korban tak berdosa. Ironisnya, pemerintah terkesan melakukan pembiaran terhadap berbagai bentuk pembiadaban yang menimpa rakyat yang nyata-nyata menodai nilai keharmonisan, kedamaian, dan kerukunan hidup.

Tak hanya persoalan dalam negeri yang carut-marut, diplomasi kita pun dikenal amat lemah dan memiliki posisi tawar yang rendah. Martabat dan harga diri bangsa terkesan makin tak bernilai ketika bangsa kita tak berdaya menghadapi sentimen negeri jiran yang tak pernah berhenti melakukan provokasi dan agitasi. Keutuhan wilayah negara kesatuan yang seharusnya menjadi “harga mati” justru dipertaruhkan melalui aktivitas diplomasi yang serba lemah dan tidak tegas.

Dalam situasi seperti itu, kaum muda yang selalu tampil di garda depan pada setiap perubahan, harus lebih optimal dalam menyuarakan nilai-nilai Sumpah Pemuda yang kini ditengarai sudah mulai kehilangan kesakralannya. Di tengah situasi krisis keteladanan yang menggejala di setiap lapis dan lini kehidupan, memang bukan hal yang mudah untuk merevitalisasi nilai-nilai Sumpah Pemuda secara riil. Meski demikian, bangsa kita pernah memiliki sosok kaum muda pendobrak pada zamannya yang sanggup melakukan perubahan drastis di tengah suasana represif yang terus dilakukan secara masif oleh pemerintah kolonial. Sosok semacam Soegondo Djojopoespito, R.M. Djoko Marsaid, Mohammad Jamin, Amir Sjarifuddin, dan tokoh-tokoh pergerakan lainnya bisa dijadikan sebagai tokoh imajiner sekaligus tokoh inspiratif untuk terus merevitalisasi nilai-nilai Sumpah Pemuda di tengah kondisi peradaban yang sedang “sakit”.

Jangan sampai terjadi, legitimasi terhadap bangsa, tanah air, dan bahasa Indonesia yang sudah terpahat di atas prasasti kebangsaan akhirnya harus luntur dan kabur akibat sikap abai dan masa bodoh. Kini saatnya, “khittah” perjuangan para pendahulu negeri ini kita revitalisasi dan kita bumikan secara terus-menerus dan simultan dari generasi ke generasi. Tujuannya? Agar bangsa kita yang besar ini tetap memiliki spirit dan etos kebangsaan untuk memaknai bangsa, tanah air, dan bahasa Indonesia sebagai “harga mati” yang tak boleh digadaikan dengan alasan dan motif apa pun. ***

Tulisan berjudul "Haruskah Sumpah Pemuda Kehilangan Kesakralannya?" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (27 October 2010 @ 18:36) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Pelajaran Bahasa Indonesia: Antara Sains dan Humaniora (Friday, 20 December 2013, 259305 pembaca, 17 respon) Kurikulum 2013 yang kontroversial itu sudah diberlakukan di sekolah-sekolah sasaran pada tahun pelajaran 2013/2014. Pada tahun pelajaran 2014/2015...

Diskusi “Penggunaan Bahasa Indonesia di Blog dan Jejaring Sosial” melalui Akun Twitter @guraruID (Tuesday, 23 October 2012, 72535 pembaca, 37 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Senin, 22 Oktober 2012 yang lalu, @guraruID kembali mendaulat saya untuk menjadi narasumber dalam sebuah diskusi di twitter...

Daya Pikat Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Internasional (Friday, 19 October 2012, 60048 pembaca, 41 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbanyak ke-4 di dunia setelah RRC (± 1.298.847.624 jiwa), India (± 1.065.070.607...

Bangga Berbahasa Indonesia, Haruskah Menjadi Retorika Belaka? (Sunday, 14 October 2012, 47928 pembaca, 17 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Pertanyaan yang tersurat dalam judul tulisan ini selalu saja menarik dan menggelitik untuk diperbincangkan. Lebih-lebih...

Memosisikan Bahasa Indonesia sebagai Sarana Pemerkuat Nilai Kerukunan Hidup (Tuesday, 9 October 2012, 44163 pembaca, 44 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, Bahasa Indonesia (BI) sudah berusia 84 tahun; rentangan usia yang sudah tak bisa...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

69 komentar pada "Haruskah Sumpah Pemuda Kehilangan Kesakralannya?"

  1. Fendik says:

    Skarang sudah normal pak tampilannnya.. mungkin akses saya emang trouble.. hehehehe.. ngapunten pak sawali.. :)

  2. Fendik says:

    Maaf sebelumnya, komentar saya ndak nyambung dengan tulisan pak sawali. cuma tanya, ini tampilan blog sawali di komputer saya kok berantakan ya.. ndak seperti biasanya.. apa akses saya yang trouble. tp buka blog yang lain ndak masalah.. ada apa nih pak sawali?

  3. koeshariatmo says:

    kok saya kurang merasakan ‘soul’ hari sumpah pemuda kemarin ya?
    adakah yang salah?

  4. Selamat hari sumpah pemuda. Semoga pemuda Indonesia dapat terus berprestasi.

    Sukses selalu

    Salam ~~~ “Ejawantah;s Blog”

  5. Abang Nonki says:

    Nuwunsewu,
    Mohon ijin share mas Sawali.

Leave a Reply