Home » Blog » Kehilangan Akun Google » 33647 views

Kehilangan Akun Google

Kategori Blog Oleh

Menjelang berakhirnya Ramadhan yang lalu, saya kehilangan akun google. Akun sawali64[at]gmail[dot]com yang sudah menemani saya sejak tiga tahun yang lalu itu tiba-tiba ngambeg. Setiap kali memasukkan username dan password, berkali-kali saya direkomendasikan untuk meminta kode konfirmasi lewat SMS. Saya pun melakukannya. Namun, hingga berhari-hari lamanya hingga sekarang, saya tak pernah mendapatkan kiriman pesan kode konfirmasi untuk membuka email saya. Akhirnya, saya berkesimpulan bahwa akun gmail saya sudah mati.

Sedih? Tentu saja. Tiga tahun memiliki akun gmail bukanlah waktu yang singkat. Bersama media surat elektronik tersebut, saya sudah berhasil membangun interaksi dan komunikasi dengan banyak sahabat dan saudara. Entah, sudah berapa surat dan file yang melayang ke tempat lain. Kini, satu huruf pun tak lagi tersisa. Selain itu, akun gmail tersebut juga saya manfaatkan untuk akun paypal –meski jumlah dolar yang masuk masih tergolong sangat kecil– dan beberapa akun jejaring sosial atau direktori yang lain.

googleSurat elektronik besutan Mbah Google tersebut juga memiliki multifungsi. Semua produk virtual milik google hampir bisa dipastikan bisa diakses hanya dengan menggunakan satu akun gmail. Saya sudah memanfaatkannya untuk mengakses google-reader, picasa web album, adsense, google webmasters, feedburner, blogger, dan lain-lain. Ratusan gambar yang saya simpan di picasa juga raib, sehingga gambar yang terpublikasikan di blog pun tak lagi terlihat jejaknya. Sungguh merepotkan kalau harus mengedit ulang satu persatu secara manual. Yang tak kalah menyedihkan, empat blog ber-engine blogspot yang telah saya migrasi dengan menggunakan domain co.cc, yakni www.pojoksastra.co.cc, www.pelangipendidikan.co.cc, www.cintabahasa.co.cc, dan www.sawali.co.cc sudah dihapus, padahal, saya belum sempat mem-back-up content-nya. Meski tidak bisa konsisten saya update, keempat blog tersebut memiliki sejarah panjang tentang perkenalan saya dengan dunia per-blogger-an.

Akhirnya, saya harus menyerah atas “penganiayaan” dan “pembiadaban” yang telah dilakukan entah oleh siapa? Ketika saya menyampaikan kabar “duka” tersebut kepada beberapa sahabat, termasuk kepada Pak Maman S. Mahayana, dosen dan pengamat sastra Fakultas Ilmu Budaya UI yang kini menjadi dosen tamu di Hankuk University of Foreign Studies, Korea, beliau sempat mengabarkan pernah mendapatkan email dari sawali64[at]gmail[dot]com yang tak jelas isinya. Hmm … ini artinya, akun gmail tersebut telah “dicaplok” orang; bukan lantaran menyalahi Term of Services (TOS) yang telah ditentukan Mbah Google.

Saya khawatir, akun gmail tersebut akan dan telah disalahgunakan untuk berbagai keperluan dan kepentingan yang tidak jelas dan tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, jika kebetulan ada sahabat yang mendapatkan kiriman pesan dari sawali64[at]gmail[dot]com, mohon untuk tidak direspon, karena akun tersebut sudah bukan milik saya. Apa boleh buat! Peristiwa menyedihkan ini sudah telanjur terjadi. Semoga sahabat-sahabat blogger tidak akan pernah mengalaminya.

Agaknya, para pemilik akun gmail perlu bersikap hati-hati dan waspada, terutama ketika mendapatkan pesan yang tak jelas isinya, apalagi yang masuk pada kotak spam. Akan lebih bagus didiamkan, jika perlu beri tanda check-list, lantas dihapus untuk menjaga keamanan dan kenyamanan dalam memanfaatkan akun gmail. Terima kasih dan tetap jaga spirit untuk memperjuangkan masa depan anak-cucu! ***

Seorang guru, penggemar wayang kulit, dan penikmat sastra. Dalam dunia fiksi lebih dikenal dengan nama Sawali Tuhusetya. Buku kumpulan cerpennya Perempuan Bergaun Putih diterbitkan oleh Bukupop dan Maharini Press (2008) dan diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada hari Jumat, 16 Mei 2008 bersama kumpulan puisi Kembali dari Dalam Diri karya Ibrahim Ghaffar (sastrawan Malaysia).

72 Comments

Tinggalkan Balasan

Your email address will not be published.

*

Tulisan terbaru tentang Blog

Setelah 9 Tahun Ngeblog

Juli 2007 merupakan saat pertama saya belajar ngeblog (=mengeblog). Sering berganti-ganti engine,

Enam Purnama Tanpa Jejak

Sudah enam purnama, saya tidak meninggalkan jejak di blog ini. Sejatinya, enam
Go to Top