14Sep 2010 65 Comments1,781 pembaca
“Ritual” Mudik dan Geliat Kampung Halaman
Setiap Idul Fitri tiba, kampung halaman bagaikan magnet yang mampu menyedot jutaan orang yang selama ini mengadu peruntungan di kota. Mereka rela menempuh perjalanan jauh yang melelahkan demi “memuaskan” naluri sosialnya untuk bisa bertemu dengan sanak-kerabat di kampung kelahiran. Pusat-pusat kota bagaikan mulut sungai yang terus mengalirkan banjir pemudik ke hilir desa. Jalanan jadi padat-merayap dengan segenap dinamikanya. Mereka membentuk iring-iringan “sensasional” berbasiskan semangat “primordial” untuk bisa bersilaturahmi dengan orang-orang terdekat yang pernah membangun jalinan romantisme masa kecil. Maka, kampung pun menggeliat ketika gema takbir berkumandang hingga menyentuh ke dinding langit. Getarannya begitu terasa hingga menyentuh pusat syaraf kesadaran dan kepekaan nurani.

Sebagian masyarakat Jawa memahami bahwa “ritual” mudik mengandung kekuatan berdimensi ganda, yakni dimensi spiritual dan sosial. Dari dimensi spiritual, mudik dipahami sebagai manifestasi sikap anak yang berbakti kepada orang tua, baik yang masih hidup maupun yang sudah berada di alam keabadian. Sikap berbakti kepada orang tua yang sudah meninggal dilakukan dengan melakukan ziarah kubur sambil melantunkan doa pengampunan atas dosa dan kesalahan orang tua. Sedangkan, berbakti kepada orang tua yang masih hidup dilakukan melalui sikap sungkem kepada orang tua pada saat lebaran. Nilai sikap berbakti kepada orang tua pada Hari Raya Idul Fitri memiliki nuansa yang berbeda jika dibandingkan dengan laku yang sama pada hari-hari yang lain. Seorang anak yang bertahun-tahun lamanya tidak mudik ke kampung halaman pada saat lebaran tak jarang dipahami sebagai sikap anak yang telah “lali karo wong tuwa” (lupa kepada orang tua). Lebaran (bada) dipahami sebagai momen penting untuk menyatukan nilai kekerabatan antara anak dan orang tua sebagai upaya melanggengkan keharmonisan hidup dan menjaga “trah” keluarga dari generasi ke generasi.
Dari dimensi sosial, mudik dipahami sebagai manifestasi sikap manusia sebagai bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat komunal. Mereka tak hanya sekadar berhalal bihalal untuk saling memaafkan kesalahan dan kekhilafan, tetapi lebih daripada itu, mudik bisa menghadirkan kenangan sosial tersendiri yang tak begitu gampang dilupakan ketika romantisme masa lalu tiba-tiba muncul saat bertemu dengan sanak-kerabat dan teman-teman waktu kecil.
Dalam konteks demikian, bisa dipahami kalau pada akhirnya mudik selalu menjanjikan kerinduan rutin setiap tahun. Para pemudik rela berpayah-payah menempuh perjalanan yang berisiko. Mereka yakin bahwa nilai risiko yang harus mereka terima tak bisa dibandingkan nilai spiritual dan sosial yang terkandung di balik “ritual” mudik itu. Di kampung halaman, mereka bisa kumpul bareng dengan sanak-kerabat yang selama ini telah mereka tinggalkan. Dan dapat dipastikan, mereka akan saling bertukar cerita dan pengalaman baru, mengenang masa silam, bahkan juga merancang masa depan. Sebuah peristiwa unik dan “langka” yang (nyaris) tak pernah bisa dirasakan ketika mereka bergulat dengan berbagai kesibukan di kota. Pada saat kumpul dengan sanak-kerabat di kampung, hati dan emosi menyatu dalam sebuah pergaulan sosial yang jauh lebih egaliter, ramah, dan jauh dari intrik.
Karena geliat dan daya tarik kampung yang demikian luar biasa setiap memasuki lebaran, agaknya perlu ada upaya serius agar mudik tak terjebak dalam sebuah “ritual” belaka. Ada daya tarik lain yang selama ini belum terkelola dengan baik. Entah, sudah berapa duwit dari kota yang mengalir ke kampung halaman. Para pemudik tak jarang menjadi amat dermawan dengan membagi-bagikan duwit kepada sanak-kerabatnya. Nah, sikap dermawan ini akan makin mulia jika diimbangi dengan sikap “melu andarbeni” untuk membangun kampung halaman dengan memberikan kontribusi semampunya. Bukan semata-mata jumlahnya, melainkan yang jauh lebih utama adalah bagaimana agar para pemudik benar-benar bisa menyatukan emosinya dengan tanah kelahiran sehingga dari tahun ke tahun kampung halaman makin menggeliat dan dinamis.
Ini hanya sekadar refleksi pasca-lebaran agar mudik memiliki tiga kekuatan sekaligus, yakni daya spiritual, sosial, dan ekonomi. Bagaimana dengan kesan mudik Sampeyan di kampung halaman? Mudah-mudahan semuanya lancar dan selamat! Tidak lama lagi kita mesti berkutat dengan pekerjaan dan kesibukan yang sudah menumpuk di depan mata! Yang penting, tetap semangat dan selalu jaga spirit untuk memperjuangkan masa depan anak-cucu, hehehe …. ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "“Ritual” Mudik dan Geliat Kampung Halaman" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 September 2010 @ 21:10) pada kategori Opini, Refleksi, Religi, Sosial dan telah dikunjungi oleh 1,781 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 23, 2011 @ 11:39:56
ikkhhh serem bangettt
buat yangm au pada mudik tingkatkanlah kewaspadaan anda
agar tidak terjadi halhal yang tidak di inginkan.
Aug 10, 2011 @ 13:39:49
Tapi kalau saya
walaupun tidak berangkat/mudik,,
tetap saja idul fitri itu terasa,,
karena saat shalat ID kita langsung bersalam2an sama keluarga besar sedaerah & ziarah ke makam
juga itu sudah cukup..:)
Sep 22, 2010 @ 21:47:46
Walaupun tau bakalan ribet, tetap saja mudik memang menyenangkan…berbahagialah yg masih memliki kampung halaman
Sep 22, 2010 @ 22:30:49
betul sekali, mas. biasa mudik, kalau sekali saja ndak bertemu dengan sanak kerabat di kampung kelahiran, rasanya belum ikut merayakan idul fitri, hehe …
Sep 21, 2010 @ 15:51:56
postinganyang bagus, ditunggu kunjungn baliknya ke http://blogseven77.blogspot.com/2010/09/foto-aura-kasih-yang-kelihatan-anunya.html
Sep 21, 2010 @ 15:51:03
posting yang bagus… ditunggu kunjungan baliknya…
Sep 22, 2010 @ 22:04:49
oke, terima kasih kunjungan dan apresiasinya.