01Sep 2010 73 Comments1,937 pembaca
Ketika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh
Dalang: Sawali Tuhusetya
Dewi Kunti tercenung di kamarnya. Perempuan cantik bertubuh sintal itu tiba-tiba merasakan jantungnya berdebar tak karuan. Semula, dia hanya iseng saja, memanfaatkan fasilitas handphone pemberian Prof. Durwasa, guru besar yang tak pernah mau “berselingkuh” dengan politik dan kekuasaan. Konon, handphone pemberian sang guru besar itu memiliki jaringan khusus dengan kehidupan para dewa. Hanya dengan menekan nomor tertentu, Dewi Kunti bisa menjalin kontak secara langsung dengan para dewa, sosok yang selama ini hanya sekadar bisa dipahami lewat dunia mimpi dan imajiner. Lantaran penasaran, dia pun menekan sembarang tombol.
Sungguh di luar dugaan, begitu nomor handphone itu ditekan, mendadak langit berubah gelap. Mendung tebal bergulung-gulung ditingkah gelegar guntur yang membadai. Bersambung-sambungan. Dari balik gumpalan mendung tebal itu mendadak muncul sosok perkasa dan wibawa dengan wajah diselubungi cahaya berpendaran. Dewi Kunti tersentak. Dadanya yang sintal turun-naik. Napasnya tersengal. Tiba-tiba saja dia seperti berada di dunia lain yang belum pernah dijamahnya. Anehnya, dia seperti merasakan kenikmatan yang luar biasa. Seumur-umur belum pernah dia merasakan kenikmatan eksotis semacam itu. Sekujur tubuhnya gemetar. Keringat dingin meleleh di antara pori-pori dan bulu-bulu lembutnya.
“Kunti, kamu tidak usah khawatir, Sayang. Ini aku, Bathara Surya, datang dari alam kadewatan untuk memenuhi panggilan lewat handphone saktimu!” kata sosok misterius yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapan Kunti dengan segenap pesona kegagahan dan keperkasaannya. Wajahnya yang tampan tak henti-hentinya memancarkan cahaya lembut. Cahaya lembut itu, lantas tak henti-hentinya menggerayangi pusat kepekaan syaraf Kunti dengan getaran yang membuai dan melenakan. Kunti tergeragap.
“Mmm …maaf, apa yang telah Tuan lakukan terhadap saya hingga membuat tubuh saya bergetar tak karuan?” kata Kunti dengan wajah malu-malu. Menunduk. “Mohon maaf, saya telah berlaku lancang hingga membuat Tuan datang kemari. Saya hanya iseng saja menekan tombol handphone pemberian Prof. Durwasa,” lanjutnya terbata-bata.
“Tidak apa-apa Kunti, Sayang. Aku suka melakukannya, kok?”
“Memang apa yang telah Tuan lakukan?”
“Sudahlah, Kunti, Sayang! Peristiwa ini berlangsung amat singkat, di luar kendali saya, dan semua telah terjadi. Saya telah menaburkan benih kejantanan ke dalam rahimmu dan kelak kamu akan melahirkan anak saya!”
“Hah? Jadi, saya sudah tidak suci lagi dan akan melahirkan anak dari hubungan gelap ini?”
“Ya. Anggap saja ini takdir hidup yang mesti kamu jalani. Dan kamu tidak usah khawatir. Meski hamil, kamu tetap gadis yang suci. Kamu masih tetap virgin!” Usai berkata demikian, tiba-tiba saja langit kembali gelap ditingkah dengan guntur yang membadai. Lantas, tubuh Bathara Surya tenggelam dan lenyap di balik gugusan awan tebal yang bergulung-gulung.
Dewi Kunti hanya bisa melongo. Kedua bibir mungilnya seperti terkunci. Tubuhnya lemas seketika. Dia tak tahu lagi harus berbuat apa setelah mengetahui kalau dia baru saja melakukan hubungan gelap dengan lelaki yang sama sekali tak pernah dikenalnya. Haruskah dia membunuh janin yang ada dalam kandungannya? Atau tetap merawat dan membesarkannya dengan risiko harus menanggung aib seumur hidup? Tanpa terasa, dari sudut matanya mengalir air bening yang meleleh di sela-sela pipi ranumnya. Dia menyesal telah iseng menekan tombol handphone pemberian Prof. Durwasa itu. Ingin sekali dia membuang benda yang menjadi sumber malapetaka itu jauh-jauh. Namun, dia juga sangat paham atas kebaikan sang guru besar itu. Mustahil Prof. Durwasa menghadiahi benda yang sangat berharga itu kalau hanya ingin menjerumuskannya ke dalam kubangan aib. Sungguh, dia sama sekali tak punya keberanian untuk menolak pemberian itu, apalagi membuangnya.
Tiba-tiba saja, Dewi Kunti merasakan rasa sakit yang luar biasa dari balik janin yang dikandungnya. Rasa sakit itu terus menjalar hingga ke pusat syarat telinganya. Mendadak, dari telinganya keluar sesosok janin mungil yang menenteng seperangkat senjata seperti matahari. Karena lahir dari telinga, bayi mungil itu diberi nama Karna yang konon kelak akan menjadi senapati perang yang mahasakti. Lantaran bingung dan tak mau menanggung aib seumur hidup, diam-diam Dewi Kunthi memasukkan Karna ke dalam sebuah kotak yang tertutup rapat, lantas menghanyutkannya ke sebuah sungai.
***
Tak ada yang tahu kalau Dewi Kunti telah mengalami sebuah peristiwa tragis dan tak mungkin bisa dilupakan seumur hidup, termasuk orang tua angkatnya, Kunthibhoja. Dewi Kunti juga tak ingin larut ke dalam peristiwa tragis dan penuh aib itu. Biarlah kehidupan terus mengalir mengikuti kehendak sang takdir. Kalau toh suatu ketika aibnya terbuka seiring dengan pertumbuhan Karna yang makin besar dan dewasa, biarlah kelak sang waktu yang akan “menghukum”-nya. Dewi Kunti tak ingin terjebak ke dalam perangkap masa lalu yang justru akan terus menelikung kehidupannya sendiri.
Walhasil, Dewi Kunti pun bisa melalui masa-masa yang pahit itu dengan “sempurna”. Hubungan dengan teman-temannya masih cukup terjaga dengan harmonis. Aktivitasnya juga terus padat mengalir. Undangan talk-show di berbagai stasiun televisi juga bisa diatur dengan baik. Dewi Kunti juga tahu kalau diam-diam banyak cowok tampan dan kaya yang jatuh hati kepadanya. Sudah banyak cowok yang jujur dan terus terang menyatakan perasaan cinta kepadanya. Namun, belum satu pun yang berkenan di hatinya. Dengan cara yang halus dan santun, perempuan semampai yang selalu berbau wangi itu bisa menolaknya.
Sikap Dewi Kunti yang dingin dan selalu menolak berpacaran justru membuat resah orang tua angkatnya, Kuntibhoja. Meski bukan darah dagingnya sendiri, Kuntibhoja merasa memiliki tanggung jawab untuk membesarkan dan menikahkannya, hingga kelak anak saudara sepupunya itu bisa membangun bahtera rumah tangga yang bahagia, lahir dan batin. Sudah berbagai cara Kuntibhoja membujuk Dewi Kunti agar memilih salah satu cowok idamannya, siapa pun dia. Namun, dengan berbagai cara pula, Dewi Kunti selalu sanggup menolaknya.
“Kunti, jujur saja, ayah sangat mendambakan kamu segera menikah dan punya keturunan. Sudah bertahun-tahun lamanya rumah ini kosong, tidak ada suara celoteh dan tangis bocah. Aku sangat merindukan suasana semacam itu, Kunti!” kata Kuntibhoja pada suatu senja yang gerimis.
“Maafkan saya, Ayah! Bukannya saya menolak keinginan Ayah, tetapi sampai saat ini belum ada cowok yang sreg di hati. Saya takut nanti salah pilih. Yang lebih saya takutkan lagi, cowok pilihan saya tidak sesuai dengan keinginan Ayah!” sahut Dewi Kunti sambil menunduk.
“Hmm …,” Kuntibhoja mengambil napas. “Sesungguhnya lelaki seperti apa yang kamu inginkan, anakku?”
“Aduh, Ayah! Saya sulit menjawab pertanyaan semacam itu. Yang jelas, suami Kunti tidak hanya cerdas, tetapi juga harus peduli pada nasib rakyat kecil. Satu lagi yang Kunti inginkan, kalau jadi pejabat, dia harus punya track-record yang bagus, belum pernah dan tidak akan pernah korupsi atau tersandung persoalan hukum.”
“Aha! Ini dia yang Ayah suka! Ayah setuju dengan tipe lelaki idolamu itu. Tapi, jujur saja, memilih tipe lelaki semacam itu pada zaman sekarang bukan hal yang mudah. Hmm … bagaimana kalau kita gelar audiensi? Semacam fit and proper test begitu, hehe …. agar cowok yang terpilih benar-benar sesuai dengan keinginanmu?”
“Aduh, Ayah! Apa itu tidak terlalu berlebihan? Fit and proper test hanya sekadar untuk memperebutkan Kunti?”
“Eit, jangan lupa, Kunti! Kamu memang layak diperebutkan dengan superketat! Selain cantik, kamu juga cerdas dan keturunan keluarga baik-baik. Kamu tidak usah khawatir, semua serahkan kepada Ayah untuk mengaturnya. Bagaimana?”
“Aduh, Ayah! Kunti jadi malu, nih! Semua terserah Ayah, deh!” sergah Kunti malu-malu.
***
Walhasil, audiensi dan fit and proper test pun digelar. Cowok dengan berbagai tipe mengajukan lamaran. Berkas menumpuk di meja Panitia Pelaksana (Panpel). Penguji yang dilibatkan dalam kepanitiaan juga bukan sosok sembarangan. Mereka direkrut dari berbagai kalangan yang benar-benar kredibel dan berintegritas tinggi.
Seleksi yang superketat pun dimulai. Seleksi yang berlangsung lebih dari sepekan itu pun makin mengerucut. Banyak lelaki kaya dan tampan berguguran hingga akhirnya hanya tinggal satu lelaki yang dinilai Panpel memenuhi syarat untuk menjadi pendamping Dewi Kunti, yakni Pandu. Berdasarkan penilaian Panpel, lelaki yang satu ini, selain berasal dari keluarga baik-baik, juga cerdas dan memiliki track-record yang bagus. Dia berasal dari trah alias keturunan Bangsa Bharata yang termasyhur. Perjalanan kariernya tak pernah dinodai perilaku busuk dan sarat intrik. Dia tak pernah terindikasi melakukan korupsi. Dia juga sangat peduli terhadap nasib rakyatnya. Selama menjadi pejabat teras di Hastinapura, rakyat hidup dalam suasana yang penuh kedamaian, toleran, dan sangat menghargai perbedaan. Seluruh rakyat merasa terlindungi. Tak ada ledakan “bom elpiji”, teror, konflik berbau SARA, atau konfik di daerah perbatasan. Juga tak ada Ormas yang suka mengumbar arogansi dengan menenteng pedang dan pentungan di ruang-ruang publik. Semua persoalan bisa diselesaikan dengan penuh kearifan tanpa meninggalkan sikap tegas dan wibawa.
Dewi Kunti mengembangkan senyumnya. Diam-diam, dia mengagumi lelaki yang dinyatakan lolos fit and proper test itu. Tak ada pilihan lain baginya, kecuali menerimanya dengan penuh ketulusan dan kebesaran hati. Demikian juga ayah angkatnya, Kuntibhoja. Berkali-kali, lelaki tua itu melemparkan senyum kebahagiaan ke wajah anak angkatnya, Dewi Kunti.
Maka, tibalah hari pernikahan itu. Dewi Kunti dan Pandu duduk di atas pelaminan dengan penuh kemegahan dan pesta. Berbagai stasiun TV menayangkan moment itu secara langsung. Rakyat dari berbagai penjuru menahbiskannya sebagai pesta pernikahan terbesar abad ini. Meski demikian, Dewi Kunti tak sanggup menepis kegundahan hatinya. Tiba-tiba, dia ingat Bathara Surya, sosok lelaki misterius yang pernah menjalin hubungan gelap dengannya. Dia juga ingat nasib anaknya, Karna, yang kini entah berada di mana.
Kuntibhoja juga tak sanggup menekan kegelisahan yang terus mengusik ketenangan batinnya. Di tengah ratusan tamu yang mengucapkan selamat kepadanya, pikirannya menerawang. Usai pernikahan itu, rumahnya yang besar dan megah akan kembali sepi. Kerinduannya akan celoteh bocah mustahil bisa terwujud, sebab Pandu akan memboyong putri angkat semata wayangnya itu ke Hastinapura. (Tancep kayon). ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Ketika Dewi Kunti Harus Memilih Jodoh" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 September 2010 @ 00:03) pada kategori Sastra, Wayang dan telah dikunjungi oleh 1,937 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 23, 2011 @ 12:24:36
meski saya orang jawa, saya dengan wayang itu biasa-biasa aja, bahkan cenderung nggak tertarik. tapi membaca cerita ini kok kayaknya menarik ya..
Aug 10, 2011 @ 11:02:15
Benar juga
kata pak ali
.,
Aku setuju dengan pendapatnya..
Jul 22, 2011 @ 13:58:06
sepakat dengan pendapatnya mz ali..
di film-kan tambah bagus itu,,,
Sep 07, 2010 @ 23:47:14
but smuanya coba difilem kan aja………..
tau dokumenter o.v.j
Sep 05, 2010 @ 00:38:45
cerita yg aneh zaman dulu kok ada handphone ya
Sep 06, 2010 @ 01:06:51
Buat Sdr. bani: hehehe … namanya juga wayang slengekan, mas, hehe ….
Sep 03, 2010 @ 12:53:48
hehe..
klo di sunda, denger-denger kata “kunti” itu, identik dengan hantu,…hehehe..jadi serem ya, tp lucu..soalnya, ada “kunti” cari jodoh..Ga laku-laku kayanknya.. (lmao)
Sep 05, 2010 @ 01:49:26
Buat Sdr. Miharties: hehe … kunti, ternyata dalam bahasa sunda berarti hantu, hmmm … baru tahu saya, mbak, hiks.
Sep 02, 2010 @ 21:39:06
hmm sayang sekali .. saya sekarang jarang liat wayang kulit.. dulu setiap malem minggu psti ada di beberapa stasiun televisi.. dari tengah malem sampe pagi..
Sep 05, 2010 @ 01:41:21
Buat Sdr. aldrix.info: oh, ya? salut juga nih, mas aldrix.
Sep 02, 2010 @ 21:25:42
dari kemarin mencerna aktor yang dikiaskan siapa ya heheheheh (rofl)
Sep 05, 2010 @ 01:40:36
Buat Sdr. pututik: hehe … menurut mas putut siapa, ya?
Sep 02, 2010 @ 16:04:39
cerita wayang yang diceritakan dengan latar modern … sukses bikin denuzz ngakak !!!! ….
makasih , kak, udah menghibur sembari menunggu buka puasa …
salam akrab dari burung hantu …
Sep 05, 2010 @ 01:40:08
Buat Sdr. Denuzz BURUNG HANTU: hehe … terima kasih support dan apresiasinya, mas denuz.
Sep 02, 2010 @ 15:33:11
hm, lakonnya apa pak mantap?
Sep 05, 2010 @ 01:39:50
Buat Sdr. joe: hiks, kok rada2 berbau iklan toh, mas, hehe…
Sep 02, 2010 @ 14:50:36
Hemm harus segera mencari pacar baru lagi pak
Sep 05, 2010 @ 01:39:25
Buat Sdr. Jidat: hehe …. ada2 saja toh, mas jidat ini, hiks.
Sep 02, 2010 @ 14:25:21
Thanks ceritanya, nambah pengetahuan saya juga tentang kebudayaan..
btw jd dewi enak gak ya?hehe..
Sep 05, 2010 @ 01:39:02
Buat Sdr. Puspita: hehe … coba tanyakan sama dewi kunti, mbak, hiks.
Sep 02, 2010 @ 13:47:24
jangan sampai memilih yang ternyata “busuk inside”
wajah cantik bukan patokan (nottalking)
Sep 05, 2010 @ 01:38:38
Buat Sdr. gadgetboi: setuju, mas gadget.
Sep 02, 2010 @ 13:31:56
dewi kunti pake BB apa android yah? hehehe (rofl) (lmao)
Sep 05, 2010 @ 01:38:12
Buat Sdr. gadgetboi: hehe …. yang penting hp, mas gadget, hiks.
Sep 02, 2010 @ 11:10:35
wah wayang…ceritanya memang bagus ya pak..saya ga pernah lho lihat dalang bermain wayang..hehe
Sep 05, 2010 @ 01:37:46
Buat Sdr. julicavero: hehe … dalang bermain wayang? hmm …
Sep 02, 2010 @ 11:00:48
Semoga pemilihan ketua KPK menghasilkan pemimpin yang jujur dan amanah dalam memberatas korupsi di Indonesia.
Sep 05, 2010 @ 01:37:11
Buat Sdr. Dahrun Marada: hehe …. yang saya quote hanya kisah tempelan, mas marada, hehe ….
Sep 02, 2010 @ 10:56:18
wuih rame juga pa……selalu ada yang baru. terima kasih kunjungannya pa
Sep 05, 2010 @ 01:32:40
Buat Sdr. Arka: sama2, pak arka.
Sep 02, 2010 @ 10:38:52
jadi kangen nonton wayang,,, udah lama nie ngga lihat pementasan wayang
Sep 05, 2010 @ 01:32:21
Buat Sdr. info solo: tinggal di solo kan, mbak? pasti banyak pertunjukan wayang kulit.
Sep 02, 2010 @ 10:01:56
Sebagai orang yang juga maniak wayang sejak kecil, saya jadi terharu membaca tulisan ini, apalagi goresan pena yang sedikit punya arti untuk mengingatkan sebuah kejujuran, luar biasa, dua kali baca tulisan ini sampai lupa posting blog sendiri, Hebat Pak, mohon ijin copy paste. Salam Sejahtera dari Pekalongan
Sep 05, 2010 @ 01:31:46
Buat Sdr. teguhsasmitosdp1: mangga, pak teguh, terima kasih support dan apresiasinya.
Sep 02, 2010 @ 05:49:49
saya selalu menunggu pak dalang sawali manggung
(banana_rock)
masih menunggu kisah2 selanjutnya pak
Sep 02, 2010 @ 05:19:08
saya selalu nunggu pak dalang sawali maggung
seperti kerinduan saya nunggu figur pemimpin seperti pandu
masih ditunggu kisah2 selanjutnya pak
Sep 05, 2010 @ 01:31:22
Buat Sdr. masndol: hehe … terima kasih support dan apresiasinya, masndol.
Sep 01, 2010 @ 22:12:20
Barangkali setiap orang tua yang memiliki anak putri, berkehendak putrinya seperti Dewi Kunti dalam lakon ini. Menjadi wanita yang sungguh bijak dalam memilih pasangan hidup.
Salam kekerabatan.
Sep 05, 2010 @ 01:30:54
Buat Sdr. Sungkowoastro: salam kekerabatan juga, pak. ada benarnya juga tuh, pak.
Sep 01, 2010 @ 21:55:42
pak bagi tips dong gimana caranya biar gambar bisa memperbesar kayak gini..?
Sep 05, 2010 @ 01:30:29
Buat Sdr. TUKANG CoLoNG: hehe …. itu pakai scipt expando, mas. bisa dicari kok di internet.
Sep 01, 2010 @ 21:32:32
Terus terang…, sebelumnya aku tak tahu cerita tentang wayang. Tapi membaca kisahnya disini… ternyata seru juga.
Sep 05, 2010 @ 01:29:56
Buat Sdr. catatan kecilku: hmmm … terima kasih support dan apresiasinya, mbak.
Sep 01, 2010 @ 21:30:43
Ternyata dalam dunia perwayangan ada juga cerita hamil di luar nikah to..? Tapi anaknya jadi orang sakti ya..?
Sep 05, 2010 @ 01:29:38
Buat Sdr. the others…: hehe …. namanya saja kisah slengekan, mbak, hehe …
Sep 01, 2010 @ 20:44:08
mantap.. serasa nonton wayang langsung nih
Sep 05, 2010 @ 01:29:10
Buat Sdr. Goyang Karawang: hehe …. masa iya sih, mas, hehe ….
Sep 01, 2010 @ 17:20:21
semua butuh fit and proper test untuk mendapatkan yg terbaik
cuman sayang di negeri ini justru fit and proper test mendapatkan yg terjelek (doh)
Sep 05, 2010 @ 01:27:49
Buat Sdr. ciwir: hehe …. kok bisa, yak? hehe ….
Sep 01, 2010 @ 16:01:42
Ini yang khas dari Pak Guru Sawali,
Perpaduan dunia wayang dengan dunia sekeliling kita… (applause)
Kisah ini bersambung apa tidak ya,,,?
Karena masih belum nemu garis besar pesan kisah ini. (funkydance)
Sep 05, 2010 @ 01:27:24
Buat Sdr. ImamS: hehe …. saya kisahkan dg model fragmen, mas imam.
Sep 01, 2010 @ 14:20:23
ternyata dewi kunti sudah kenal dengan teknologi canggih
Sep 05, 2010 @ 01:26:22
Buat Sdr. Pencerah: hehe …. namanya saja kisah slengekan, mas pencerah, hiks.
Sep 01, 2010 @ 13:54:54
Pak Sawali memang selalu kreatif, cerita yang seperti ini ternyata bisa dipadukan dengan dunia modern
Sep 05, 2010 @ 01:26:01
Buat Sdr. riFFrizz: walah, biasa saja, mmas rifky, jangan terlalu berlebihan, hehe ….
Sep 01, 2010 @ 13:28:46
menceritakan kembali wayang dengan sedikit keluar pakem dan menyesuaikan dengan kondisi sekarang mudah-mudahan bisa mengenalkan wayang pada generasi muda, setelah kenal biarlah mereka mencari cerita pakem yang asli…
saya tunggu terus ki cerita wayangnya.. Jangan lupa bawa sinden nya juga
Sep 05, 2010 @ 01:25:18
Buat Sdr. purwanto: amiin, memang seperti itulah harapan saya, mas pur, hehe ….
Sep 01, 2010 @ 08:58:53
memperkenalkan kebudayaan memang dapat dilakukan dengan berbagai cara,bahkan dengan kesan modern.
semoga kebudayaan indonesia semakin berkembang ya pak,dan semakin banyak yang peduli.semangat m/
Sep 05, 2010 @ 01:24:54
Buat Sdr. jangkrik: amiin, terima kasih support dan apresiasinya, mas.
Sep 01, 2010 @ 08:32:23
Ternyata saya baru menyadari betapa indahnya lakonan wayang diceritakan dengan versi yang modern. Tidak pernah terpikir sebelumnya hubungan antara Dewi Kunti pada sosok lampau dangan Handphone yang identik dengan kemodernan. Namun dalam cerita ini, Dewi kunti dan handpone menjadi satu kesatuan yang pas berpadunya.
Sep 05, 2010 @ 01:24:35
Buat Sdr. Ifan Jayadi: hehe …. terima kasih support dan apresiasinya, mas ifan.
Sep 01, 2010 @ 07:12:37
menemukan referensi jagad wayang di blog ini
sangat menarik, saya juga pecinta wayang
kreatif sekali Bung Syawali
salam kenal.. and sukses selalu..
sedj
http://sedjatee.wordpress.com
Sep 05, 2010 @ 01:24:19
Buat Sdr. sedjatee: oh, ya, terima kasih support dan apresiasinya. salam kenal dan salam sukses juga, mas.
Sep 01, 2010 @ 06:01:58
tulisannya menarik Ki..
meski saya orang jawa, saya dengan wayang itu biasa-biasa aja, bahkan cenderung nggak tertarik. tapi membaca cerita ini kok kayaknya menarik ya..
Sep 05, 2010 @ 01:23:49
Buat Sdr. muntaha: walah, terima kasih terima kasih support dan apresiasinya, mas mun.
Sep 01, 2010 @ 02:57:36
Pak Sawali,kalao nggak salah nanti anaknya Kunthi Broto seno ya
Sep 01, 2010 @ 13:30:50
urun njawab mas, anaknya Kunti ada 4 : , 1. karno, 2. yudhistira, 3. Brotoseno alias bima, 4. arjuna
Sep 05, 2010 @ 01:25:40
Buat Sdr. purwanto: betul sekali, mas pur.
Sep 05, 2010 @ 01:23:08
Buat Sdr. ikhsan: iya, mas ikhsan, brotoseno salah satu anak dari 3 anak yang dilahirkan kunti dengan pandu.
Sep 01, 2010 @ 00:26:28
Selama ini saya hanya mengenal Slamet Gundono dan Sujiwo Tejo saja yang menuliskan ceritera wayang dalam versi kekinian. Saya baru tahu Ki Sawali pun luar biasa menuliskannya. Salam hormat Ki.
Sep 05, 2010 @ 01:22:19
Buat Sdr. yansDalamJeda: hehe … salam hormat juga, mas yans. hmm … saya hanya bisa nulis dg gaya slengekan, mas, hiks.
Sep 01, 2010 @ 00:22:22
Mari kita dukung Indonesia http://prasutan.blogspot.com/2010/08/saya-blogger-indonesia-anti-malaysia.html
Sep 05, 2010 @ 01:21:38
Buat Sdr. Ka Damar: setuju, ka damar!