Home » Fiksi » Sastra » Gumam Asa ala Ali Syamsudin Arsy

Gumam Asa ala Ali Syamsudin Arsy

Sekadar catatan:
(Saya belum pernah bertemu langsung dengan Bung Ali Syamsudin Arsy. Sepanjang yang saya tahu, Bung Arsy –kalau boleh saya menyapanya demikian– menjadi salah satu pelanggan feed/rss blog saya. Uniknya, Bung Arsy selalu tidak lupa memberikan catatan dan apresiasi tersendiri melalui email tentang tulisan-tulisan saya yang masuk ke inbox email-nya. Sebuah “perilaku” unik yang jarang saya temukan, hehe …. 😀 Tidak jarang, Bung Arsy yang kini bermukim di kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, menyertakan catatan-catatan kecilnya untuk saya dan juga beberapa teman lain yang kebetulan memiliki minat yang sama di ranah sastra. Saya sangat menyukai dan apresiatif terhadap “perilaku” unik Bang Arsy ini.

Sebagai wujud apresiasi, berikut saya publikasikan tulisan Bung Arsy yang terangkum dalam lirik “Gumam Asa”. Lirik yang dalam amatan awam saya sungguh indah untuk dinikmati dan sungguh sayang apabila dilewatkan begitu saja. Terima kasih atas kiriman tulisannya, Bung Arsy! (worship) )

Melintas Tipis

cakrawalasastraHujan yang hadir di telapak tanganmu sejak sore hari sampai di ujung bulu-bulu mata sekian banyaknya umat dan setiap itu pula datang berganti antara gerimis hingga tak dapat lagi diperkirakan perubahan cuaca, sungguh tak mampu dibaca ke mana arah mata angin melangkah di puting-puting ranting, “kelelatu,” katamu, sambil melintas di bentangan selendang yang tipis menembus bayang-bayang; berkelebat seketika. Aku semakin mabuk, mabuk dalam rupa-rupa warna, mabuk dalam jerat-jerat akar gantung di ujung tembaga, mabuk dalam getar-getar syaraf dan segala macam kenangan purba. Batu ada di antara kerikil ada di antara pasir ada di antara Lumpur ada di antara deras ada di antara percik ada di antara bias ada di antara curah ada di antara mendung ada di antara lengkung pelangi. Wahai, kini salam bertaut di antara debur ombak dan ringkik satwa di belantara; lebatnya hutan rimbunnya daun adalah warna warni pemikiran, melintas tipis-tipis.

Lautmu semakin dalam; masuk ombak masuk karang masuk udara masuk cahaya masuk luka-luka, selalu saja ada mata memandang saat sinar terang itu tenggelam di sela-sela bayangan daun di kaki bukit, selalu saja, tetapi. Benarlah adanya, kekuasaan tak bertepi. Rahasia tetap tersimpan rapi. Selalu ya selalu saja. Hingga kita temukan sebuah dermaga perhitungan, dalam detak keabadian. Menyebut namamu, semakin tipis di belahan kedua bibir, kelu kaku tak lagi fasih hanya tatap mata nanar ke satu titik putar; cahaya cahaya cahaya. Perjalanan panjang itu akhirnya bertemu jua di titik nol; sekian kali sungai bergelora lumpurnya terus menggumpal, udara itu terus saja menderu menggiring kawanan awan ke segala penjuru di luasnya angkasa. Dalam cermin besar, nampak melintas tipis tubuhmu melayang dengan selendang. Perlahan ada melintas. Perlahan ada. Engkau bersiap menjemput. Selama itu pula penantian bertaut di luasnya teras rumah sendiri. Telapak tanganmu yang tengadah penuh kasih penuh saying penuh belai kesetiaan, sabar yang maha sabar.

Gerimis lurus dan gerai rambutmu serta lentiknya bulu matamu. Ingin aku jelajahi bersama rindu bergumpal-gumpal, selangkah demi selangkah titian batang usia menjalar ke seluruh persendian; tubuhku mulutku kulitku jantungku hatiku tulangku, sebatas apa aku mampu berlari menghampiri, maafkan segala yang telah terjadi, dan sampai sejauh apa sejarah menggoreskan catatan tentang sepi itu menjalar-jalar tentang senyap itu mengepung-ngepung tentang dingin itu melingkup-lingkup. Sekian kali pula keberpihakan yang ditunjukkan dengan segala kemampuan dan perasaan agar menjadi lebih baik dari sebelumnya, sejauh itu pula segala daya segala upaya segala potensi mencuatkan nyali ke ketinggian menara cahaya, ya menara cahaya. Naik perlahan, halus lembut penuh perasaan. Bertemu dengan sampai, berjumpai dengan gapai; dekap erat, Wahai. Ada tulang di ranting bulan di remang awan-awan.

( banjarbaru/ 11 Juli 2010 )

Puncak Capaian

Katanya pikiran itu lahir dalam cuaca mendung di penghujung tahun lalu, bahkan ketika ditelusuri masih saja ada yang mengatakan bahwa umur dari pikiran itu berabad-abad silam telah ada telah dicetuskan oleh orang-orang yang mereka kenal sebagai nenek-moyang peradaban, zaman belum ditemukannya batu sebagai alat, di genggam telapak tangan; kita tidak akan berhenti di sini menelusurinya. Dalam perjalanan akan didapat pemahaman yang seutuhnya bila memang mau memikirkan segala sesuatu bahwa disimpulkan harus ada yang melakukan aturan-aturan, tertulis bahkan tidak dituliskan, itu ketentuan alam dan berlaku secara meluas ke semua sudut perncaharian, ke semua sudut kerinduan, tanpa diam sejenak tanpa henti seketika tanpa mematung senja tanpa menutup mata. Tapi, perlu juga diingat, bila telah mampu menuju ke titik sampai, maka akan turun dengan sendirinya, tanpa harus diturunkan oleh siapa pun juga. Menggelinding. Tanpa tanpa tanpa, tanpa apa-apa.

Sejarah dari percik-percik darah pembunuhan pertama dan adanya kisah seekor burung yang menggali kubur untuk sesuatu yang diam tak bergerak adalah sebagai cermin nyata dari peristiwa penting dan terus berlangsung sampai peradaban itu mengalami sendiri perubahannya. “Engkau boleh saja mengalirkan air mata dari sudut kelopak matamu, tetapi ada yang berkelebat di juntai-juntai akar gantung pikiranmu sendiri, enyahkahlah enyahkanlah enyahkanlah, sampai tak ada lagi berkas merah darah di jalanan; sepi menelan kabut lereng bukit. Sejarah telah tertulis di garis-garis lengkuk telapak tanganmu, sejarah akan melepaskan jebaknya akan membebaskan jeratnya dan sejarah tidaklah mudah dihapuskan karena tulisannya terpampang di kanvas tanpa bingkai tanpa batas tanpa tekanan.

Sampai akhirnya berjuta puncak demi puncak kerangka beton dan baja menyibak ketenangan awan di langit biru. Sampai akhirnya garis-garis udara penuh sesak oleh berpuluh-juta-ribu-juta-juta-berkali juta pula; tak ada celah untuk sembunyi, tak ada celah, tak ada. Pikiran kita pun menari-nari dan terus menari, hingga tak tampak lagi sebagai tarian yang dulunya hening yang dulunya lengang yang dulunya damai. Kosong kembali menuju hampa. Dalam kekosongan itulah puncak capaian sebenarnya, sebab sebelum itu adalah riak-riak belaka, seperti mimpi yang teramat sulit untuk dilanjutkan ketika sadar bahwa sebenarnya kita telah menemukan mimpi. Pembangunan peradaban. Peradaban itu sendiri bermula dari desah, peradaban itu sendiri bergejolak dari gelisah, peradaban itu sendiri bermula dari awal keberanian melangkah; tanpa itu akh akh akh tanpa itu walau walau walau tanpa itu alina alina alina tanpa itu aum aum aum tanpa itu kucing kucing kucing tanpa itu telingkung telingkung telingkung tanpa itu debur debur debur tanpa itu; Wahai datang dengan sejuta kehendak. Apa yang telah manusia dapat.

( banjarbaru/ 11 Juli 2010 ) ***

Tentang Penulis:
Ali Syamsudin Arsy, lahir di Barabai, Kalimantan Selatan pada tahun 1964. Kini menetap di kota Banjarbaru. Sering menulis puisi, cerpen, esei juga terkadang naskah drama.

Puisi-puisinya juga ikut meramaikan buku-buku kumpulan puisi bersama, dari yang ada di wilayah Kalimantan Selatan, sampai pulau Jawa dan Sumatera, diantaranya: (1) Ragam Jejak Sunyi Tsunami (Medan, 2005), (2) Komunitas Sastra Indonesia, catatan perjalanan (Kudus, 2008), (3) Kenduri Puisi, buah hati untuk Diah Hadaning (Yogyakarta, 2008), (4) Tanah Pilih (Jambi, 2008), (5) Pedas Lada Pasir Kuarsa (Bangka Belitung, 2009), (6) Mengalir di Oase (Tangerang Selatan, 2010).

Bukunya yang telah terbit adalah berupa tetralogi gumam asa, yaitu (1) Negeri Benang pada Sekeping Papan (2009), (2) Tubuh di Hutan Hutan (2009), dan (3) Istana Daun Retak (2010).

Sebagai editor, telah pula menerbitkan buku-buku; (1) Bahana (kumpulan puisi, 2002), (2) Darah Penanda (antologi sastra, cerpen dan puisi hasil lomba, 2008), (3) Taman Banjarbaru (kumpulan puisi penyair Forum Taman Hati Banjarbaru, 2005), (4) Di Jari Manismu Ada Rindu (kumpulan puisi Hamamy Adabi, 2008), (5) Bertahan di Bukit Akhir (kumpulan puisi penulis Kabupaten Hulu Sungai Tengah, 2008), (6) Bunga Bunga Lentera (kumpulan puisi siswa SD dan SMP kota Banjarbaru, 2009).

Tahun 1999 menerima penghargaan sastra dari Bupati Kabupaten Kotabaru. Tahun 2005 menerima penghargaan sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan. Tahun 2007 menerima penghargaan sastra dari Balai Bahasa Banjarmasin.

tentang blog iniTulisan berjudul "Gumam Asa ala Ali Syamsudin Arsy" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (17 Agustus 2010 @ 00:37) pada kategori Fiksi, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 51 komentar dalam “Gumam Asa ala Ali Syamsudin Arsy

  1. Saya sudah pernah bertemu dengan Pak Ali Syamsudin Arsy, ketika itu ia datang ke sekolah saya, ternyata ia sangat seru dan menyenangkan :))

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *