13Aug 2010 69 Comments1,884 pembaca
Perubahan Gaya Hidup di Bulan Ramadhan
Konon, puasa di bulan Ramadhan merupakan manifestasi ibadah yang memiliki dimensi personal dan sosial. Dari dimensi personal, hanya kita yang bisa berkata dengan jujur kepada Sang Khalik tentang perilaku “religius” yang tengah kita jalankan. Sedangkan, dari dimensi sosial, orang lain tak pernah tahu se-intens dan sedalam apa ibadah puasa yang kita jalankan. Bahkan, orang lain pun tak pernah tahu kalau sejatinya kita sedang pura-pura berpuasa. Kita bisa saja menipu orang lain dengan memperlihatkan perilaku yang sangat lapar dan haus di tengah-tengah pergaulan sosial. Kita juga bisa berpura-pura memperlihatkan bibir yang mengering atau bau mulut yang tidak sedap kepada orang-orang di sekitar kita.

Maka, saya pun tidak heran ketika Ramadhan dijadikan sebagai momentum untuk melakukan perubahan gaya hidup. Lihat saja tayangan religi yang bertaburan di layar gelas kita. Hampir setiap detik kita disuguhi tayangan bernuansa Islami dengan menampilkan artis-artis berjilbab; sebuah pemandangan yang (nyaris) langka kita temukan di luar Ramadhan. Bahkan, iklan yang selama ini terkesan “glamor” pun mendadak berubah jadi “religius minded”. Tak hanya sebatas tampilan visualnya, lagu-lagu pengiringnya pun sangat kental dengan nuansa Islami.
Lihat juga perhentian lampu bangjo, tempat yang biasa dijadikan sasaran para peminta-minta. Kita demikian gampang menyaksikan orang-orang dari balik kaca mobil yang mendadak berubah jadi dermawan. Mereka dengan mudah mengulurkan selembar uang yang sengaja disediakan buat kaum dhuafa. Sebuah pemandangan yang agak langka juga kita saksikan di luar Ramadhan. Situasi seperti ini agaknya juga ditangkap dengan jitu oleh para peminta-minta “gadungan”. Mereka mendadak suka memelas dan berpenampilan ala pengemis sungguhan yang bertentangan secara diametral dengan hidup keseharian mereka. Kota-kota besar pun jadi “incaran” dan dibanjiri para pengemis, entah karena benar-benar hidup kesrakat atau sengaja memanfaatkan momen Ramadhan untuk mengais rezeki dari para dermawan dadakan.
Hmm … Ada yang salahkah dengan perubahan gaya hidup yang terjadi selama Ramadhan? (thinking)
Saya kira tidak. Ramadhan memang perlu dijadikan sebagai momentum untuk melakukan perubahan. Allah juga menjanjikan pahala berlipat-ganda terhadap semua amal baik yang kita lakukan selama bulan suci ini. Meskipun demikian, alangkah bagusnya jika perubahan gaya hidup itu bisa berlangsung konsisten dan istiqamah hingga pasca-Ramadhan agar puasa kita selama Ramadhan tak terjebak dalam “ritual” belaka. Nah, bagaimana? (worship) ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Perubahan Gaya Hidup di Bulan Ramadhan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (13 August 2010 @ 02:03) pada kategori Budaya, Religi, Sosial dan telah dikunjungi oleh 1,884 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Sep 20, 2011 @ 09:37:25
semoga saja lepas dari bulan ramadhan, mereka juga tetap bersikap seperti di bulan ramadhan..
Aug 23, 2011 @ 12:49:56
kita harus lebih baik lagi membenahi diri kita di bulan ramadhan yangpenuh berkah ini, karena bulan ramadhan datang cuma satu tahun sekali.
Aug 10, 2011 @ 09:08:09
Emang Betul-betul aneh orang-orang zaman sekarang
Bertaubat hanay sementara saja…
Padahal yang bagus itu selama hidup kita.
Aug 22, 2010 @ 22:17:07
smoga hidup setelah ramadan ini lewat semakin baik dari tahun2 sebelumnya, Amin
Aug 22, 2010 @ 23:56:32
Buat Sdr. joen: amiiin, semoga hal itu bisa terwujud, ya, mas. (worship)
Aug 22, 2010 @ 10:09:39
semoga segala hal baik itu bisa bertahan di luar bulan ramadhan
Aug 22, 2010 @ 21:39:41
Buat Sdr. munir ardi: amiiin, mudah2an hal itu bisa terwujud, ya, pak. (worship)
Aug 16, 2010 @ 16:17:20
Gaya hidup orang yang hidup di jaman orang modern.. semua serba instan, tobatnya pun instan (seperti tayangan TV, tayangan film, presenter, infotainment hanya tobat di bulan ramadhan). walah..
Aug 17, 2010 @ 01:45:24
Buat Sdr. Fendik: walah, mudah2an perubahan gaya hidup selama ramadhan bisa terus berlanjut sesudahnya, pak fendik.
Aug 16, 2010 @ 14:51:18
.bener banget tuuh,,, (nottalking)
.di satu sisi patut disyukuri karna sigma orang baek jadi tambah banyak menghiasi bumi ini, (worship)
.tapi tetep aja setelah ‘bulan istimewa’ ini lewat, (highfive)
.kenapa ‘kebaikan’ itupun jadi angin lalu aja ya?? (mmm)
.hhehe, ada baiknya kita mulai perbaikan tu dari diri sendiri dulu yuuuk,, (scenic)
Aug 17, 2010 @ 01:44:10
Buat Sdr. rosa: semoga perbuatan baik bisa terus berlanjut pasca-ramadhan, mas.
Aug 14, 2010 @ 22:34:30
Bulan Romadhon emang unik dan beraura, hampir sebagian besar orang mendadak alim, terlepas itu hanya tampilan luar atau niat dari dalam. semoga mendapat berkah..
Aug 14, 2010 @ 23:02:55
Buat Sdr. muntaha: itulah yang kita harapkan, mas muntaha. terima kasih support dan apresiasinya. (worship)
Aug 14, 2010 @ 16:21:49
Tetapi di negeri ini memang lebih terasa sebagai ritual ritaul saja, sudah pada lupa akan esensi yang sebenarnya….
Selamat puasa…
Aug 14, 2010 @ 22:56:04
Buat Sdr. Sriyono Asli Semarang: hmmm …. semoga kita ndak terjebak ke prosesi ritualnya belaka, mas sri, hehe …
Aug 19, 2010 @ 14:35:36
Setuju mas..Katanya mengekang hawa nafsu,menahan lapar dan dahaga, “setan” dibelenggu, tapi kok harga dipasar malah naik, konsumsi ramadhan malah gila-gilaan? Ibu-ibu semakin sulit mengendalikan tingkat konsumsi menandakan kita masih suka berlebih-lebihan…Padahal Allah dan Rasul melarang keras hal tersebut? Ramadhan kali ini bisa saya rasakan lebih sekedar ritual saja dan dipastikan tidak ada perubahan berarti setelah Ramadhan. Semoga saja itu hanya terjadi di negeri bedebah.
Aug 22, 2010 @ 21:10:46
Buat Sdr. resep: itulah fenomena sosial yang terjadi di negeri ini, mbak. semoga saja ramadhan bisa menjadi momen yang bagus utk melakukan introspeksi dan refleksi. (worship)
Aug 14, 2010 @ 04:49:22
Maaf pak baru s4 berkunjung, iya bener banget pak gambar yang ke dua soalnya saya sendiri ngelihat makin banyak yang di s4
Aug 14, 2010 @ 22:35:35
Buat Sdr. Indahnya Kebersamaan: ndak apa2, mas tri. itulah fenomena yang terjadi belakangan ini.
Aug 13, 2010 @ 23:25:07
wah artikelnya menarik sekali
pak …..
tapi pengemis sekarang ini perasaan kenapa nambah banyak ya…
Aug 14, 2010 @ 00:25:29
Buat Sdr. Bahasa Pena: walah, biasa saja, mas, hiks. hmm …. bisa jadi mereka tahu kalau selama ramadhan banyak orang yang berubah jadi dermawan, mas, hiks.
Aug 13, 2010 @ 22:40:38
eh mas sawali, aku mau nanya . apakah memberi uang kepada pengemis itu dosa ?
Aug 14, 2010 @ 00:24:46
Buat Sdr. yusrond: hehe … kalau menurut saya jelas bukan dosa, mas. malah saya ndak pernah membedakan mereka pengemis sungguhan atau tidak.
Aug 14, 2010 @ 15:07:21
tapi di alqur.an sudah dijelaskan lo mas sawali kalau mengasihi kepada pengemis itu malah kita yg dapat dosa . bagaimana menurut anda ?
Aug 14, 2010 @ 22:54:33
Buat Sdr. yusrond: walah, saya kok malah belum mendapatkan penjelasan dari al-quran yang seperti itu, mas yus. tolong di-share ke saya. habis tadarusan tadi saya juga sempat ngomong2 dg ustadz di mushola, kok belum diketemukan, hehe …
Put Selamat berbuka to work for you!
Aug 13, 2010 @ 19:35:56
[...] Perubahan Gaya Hidup di Bulan Ramadhan » Catatan Sawali Tuhusetya [...]
Tweets that mention Catatan Sawali Tuhusetya -- Topsy.com
Aug 13, 2010 @ 18:20:48
[...] This post was mentioned on Twitter by Sawali Tuhusetya, Sawali Tuhusetya. Sawali Tuhusetya said: Perubahan Gaya Hidup di Bulan Ramadhan http://is.gd/eeRb2 [...]
Aug 13, 2010 @ 17:58:01
kenapa ya kok di bulan ramadhan pengemis membanjiri jakarta
Aug 14, 2010 @ 00:23:44
Buat Sdr. jayadi: hmmm … bisa jadi mereka tahu kalau ramadhan banyak orang yang berubah jadi dermawan, mas jayadi, hehe ….
Aug 13, 2010 @ 17:03:10
thx yaa…
Aug 14, 2010 @ 00:21:27
Buat Sdr. haidar: ok, sama2, terima kasih kunjungannya.
Aug 13, 2010 @ 16:55:44
Mari kita manfaatkan momentum bulan suci ini dengan niat betul2 dengan iimanan wahtisaban, dengan keimanan dan mencari pahala.
Aug 14, 2010 @ 00:21:09
Buat Sdr. ade truna: sebuah ajakan yang simpatik, mas. setuju banget. (worship)
Aug 13, 2010 @ 16:03:29
semoga gaya hidup yang mengarah ke kebaikan dunia akhirat ini tidak hanya timbul di saat ramadhan… amin
salam akrab dari burung hantu
http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/08/12/pilih-pilih-pilih-yang-mana/
Aug 14, 2010 @ 00:20:38
Buat Sdr. Denuzz BURUNG HANTU: amiiin, salam akrab juga, mas. mudah2an memang bisa demikian, meski bukan hal yang mudah.
Aug 13, 2010 @ 14:38:06
kalau boleh berandai-andai:
andai seluruh bulan adalah bulan Ramadhan…
Aug 14, 2010 @ 00:18:27
Buat Sdr. kiky: terus gimana mbak rosy? hehe ….
Aug 13, 2010 @ 13:51:40
Alangkah indahnya, ya Pak, hidup ini jika berderma kepada yang membutuhkan tak hanya menjadi gaya sesaat, tapi menjadi kebiasaan/budaya hidup.
Salam kekerabatan.
Aug 14, 2010 @ 00:18:00
Buat Sdr. Sungkowoastro: salam kekerabatan juga, pak. amiin, mungkin itu akan jauh lebih baik, pak, meskipun bukan hal yang mudah.
Aug 13, 2010 @ 13:11:24
semoga saja perubahan itu bisa konsisten terus berlanjut sampai ramadhan usai, sampai bertemu ramadhan selanjutnya dan terus begitu
Aug 14, 2010 @ 00:17:11
Buat Sdr. pelintas batas: wew… lintasbatas.org itu ternyata mas alief juga, yak, adminnya, hehe …. komennya hampir sama, hiks.
Aug 13, 2010 @ 12:57:26
semoga saja fenomena tersebut bisa terus berlanjut setelah ramadhan usai ya pak…
Aug 14, 2010 @ 00:16:26
Buat Sdr. alief: amiiin, meskipun memang jalan menuju ke sana bukan hal yang mudah, mas alief, hehe ….
Aug 13, 2010 @ 12:02:18
Betul pa harusnya perubahan gaya hidup itu bisa berlangsung konsisten diluar Ramadhan, tp apa mungkin bisa, lebih baik ke diri kita sendiri dl kira az orang lain ngikutin,(hee.. emang artis?) mksh infox..
Aug 14, 2010 @ 00:15:40
Buat Sdr. NgePas: iya, nih, mas, ini juga sekadar refleksi. semoga perubahan gaya hidup religius yang berlangsung selama ramadhan bisa berlanjut pascaramadhan juga.
Aug 13, 2010 @ 10:56:31
perubahan gaya hidup kearah yg lebih baik pak sawali
Aug 14, 2010 @ 00:14:46
Buat Sdr. julicavero: bener sekali, mas ginting. perubahan ke arah yang lebih baik itulah yang diharapkan.
Aug 13, 2010 @ 10:52:36
Kelihatannya saya terasa disindir nih (lmao) mohon bantuannya pak sawali dalam kontes yang saya ikuti (worship)
Aug 14, 2010 @ 00:14:08
Buat Sdr. Reza Saputra: hehe … ndak bermaksud menyindir siapa2 kok, mas reza, haks. iya, nih, saya kemarin mencoba komen di fb, ternyata kolom komen-nya ndak muncul.
Aug 13, 2010 @ 10:40:29
Wah bagus banget nich webnya pake jsquery yach.. gambar dan tulisannya seperti hidup… di sharing dunk..
Aug 14, 2010 @ 00:13:24
Buat Sdr. sariful: hehe … lagi mencoba, mas. belum sempat utk men-share. mudah2an saya tidak lupa, hehe …. terima kasih apresiasinya, mas sariful.
Aug 13, 2010 @ 08:25:25
logika sederhananya : barangsiapa yang pura2 puasa maka dia akan mendapatkan pahala yang pura2 juga. barangsiapa yg pura2 dermawan maka dia akan mendapatkan yang didermawani juga pura2 miskin. Semoga semua bisa iklash menjalankan momentum perubahannya…
Aug 14, 2010 @ 00:12:19
Buat Sdr. kang Ton: semoga kita terhindar dari sikap berpura-pura itu, mas pur.
Aug 13, 2010 @ 07:23:25
bener om, manusia seharusnya konsisten tidak hanya dibulan ramadhan saja giat melakukan ibadah, tapi sebaiknya keseharian juga.
Aug 14, 2010 @ 00:11:29
Buat Sdr. bhogey: amiiin, mudah2an kita bisa mencoba utk melakukannya, mas.
Aug 13, 2010 @ 06:41:59
ralat: maksud saya, 180 derajat, kok jadi ngetik 160 yah.
Aug 14, 2010 @ 00:10:50
Buat Sdr. Filsafat Konseling: ok, mas, dengan senang hati, ralat diterima, hehe ….
Aug 13, 2010 @ 06:39:54
Saya, dulu, pernah punya pendapat bahwa orang yang mendadak berubah menjadi lebih religius ketika memasuki bulan puasa, kemudian ketika bulan puasa berlalu kembali ke sikap sebelumnya, orang semacam itu munafik. Tepi itu dulu, lama sekali, masa awal masuk pesantren, jadi masih bau kencur (banana_rock)
Saya, sekarang, salah satu orang yang tidak setuju dengan sikap penilaian seseorang atas perubahan orang banyak ketika bulan puasa yang perubahannya 160 derajat berbeda hari biasa. Ada beberapa alasan yang dijadikan pertimbangan:
Pertama, Allah yang Mahabijaksana itu mengetahui kemampuan manusia, ada yang ok, cukup ok, ok banget, biasa saja, tidak biasa saja, di bawah rata-rata, jelek, kurang, dan semacamnya. Dengan demikian, agar ibadah dapat diakses oleh setiap orang yang memiliki kualitas ruhaniah dan jasmani berbeda satu sama lain, jelas perlu ada bagian ajaran agama yang bisa dilakukan setiap orang, jadi tidak ada alasan untuk tidak melakukannya.
Kedua, agama itu berpegang pada prinsip kemudahan.
Ketiga, Allah itu Mahapemaaf sampai-sampai Dia menegaskan agar kita jangan berputus asa akan rahmat-Nya.
Dari ketiga alasan itu, sebenarnya ada banyak alasan, bisa saya menyusun sikap berikut:
Buat para wali, agak wali, hampir wali, calon wali, orang soleh/ah, agak soleh/ah, hampir soleh/ah, calon soleh/ah, dan sejenisnya, jelas gak ok kalo pascapuasa sikapnya kembali jahil. Tetapi itu kan ukurannya terlalu tinggi jika itu kita terapkan pada orang yang buruk, agak buruk, hampir buruk, calon buruk. Kalo kita hari ini shalat, ternyata esoknya tidak, tentu itu buruk, tapi tingkatan buruknya sampai mana? Buat orang yang tidak pernah shalat, mendadak mau shalat, jelas itu dahsyat, meski sekali saja. Tapi, siapa yang tahu bukan kalo ibadahnya yang sekali itu ternyata khusyuk banget dan diterima dibanding denga kita yang sudah belasan tahun atau puluhan tahun tapi pas sholat masih kebayang soal kerjaan atau utang. Barangkali bisa disanggah begini, kalo dia khusyuk, seharunsya dia tetap shalat kan? Iya, itu dari satu sudut tertentu. Dari sudut lain, enggak gitu juga.Misal, pernahkah kita melakukan kesalahan? Secara umum, kita pernah berbuat salah, dan kadang mengulangnya. Nah, ketika kita mengulangnya, apa lantas hidup kita selesai di situ? Apa makna maksim bahwa yang baik itu ketika menyadari kesalahan dan berupaya untuk mengubahnya ketika seseorang gak boleh melakukan kesalahan yang sama lebih dari sekali?
Dan, lantaran Allah itu mahapemaaf, itu juga menyiratkan bahwa bukan kesalahan yang jadi masalah, melainkan ketika berbuat salah tapi tidak minta maaf. Itu serupa dengan pemaknaan tobat. Tetapi, kalo udah minta maaf dan tobat masih ngulang kesalahan yang sama, buat apa? O, seperti kata Tuhan yang mahabijaksana itu, kita jangan berputus asa dari rahmat-Nya. Misalnya, apa semua shalat yang pernah kita lakukan itu benar-benar bebas dari gangguan seperti mendadak ingat hal lain di luar shalat? Jika pernah, apakah itu lebih dari sekali? Jika lebih dari sekali, apa itu lantas membuat kita tidak melakukan shalat lagi? Buat orang yang melakukan shalat sejak pertama kali sampai sekarang cuma tidak khusyuk sekali, itu sangat dahsyat, tetapi bagaimana dengan yang belum bisa seperti itu? Apakah orang seperti itu tidak bakal mendapatkan rahmat dan rahman Tuhan? Buat orang yang sekarang puasa dan setelah puasa tetap istikomah, itu dahsyat. Tapi bagaimana yang lain yang belum bisa? Apa orang kayak gitu udah bakalan enggak dapet lagi rahmat dan rahman dari Tuhan?
Selama orang-orang yang kehidupannya soleh/ah selama puasa, tetapi berubah jadi gak soleh seperti sebelumnya setelah ramadan, jika mereka itu belum meninggal, kasih sayang dan maaf Allah masih terbuka untuk mereka.
Betapapun, tidak berarti saya tidak rewel dengan fenomena yang Mas Sawali sebutkan itu. Titik rewel saya bukan pada perubahan sikap keagamaan mereka, tetapi pada eksploitasi kapital di baliknya atau komersialisasi agama (ini khusus untuk selebritas dan pengusaha yang mengiklankan produknya jadi berbau religius). Kerewelan saya itu sepintas lalu menimbulkan kesan sama bahwa saya juga mengecam perilaku orang yang sikapnya beda ketika bulan puasa dan tidak. Tidak. Yang saya tekankan soal relitas yang ditawarkannya. Misal, “Puasa Anda belum afdhal jika tidak berbuka dengan sirup XXX”, “Silaturahmi Anda belum sempurna jika tidak menggunakan XXX”, dan iklan lainnya. Tawaran itu menjadikan puasa sebagai sesuatu yang hiper, yang melampaui rujukan aslinya. Puasa yang hiper atau hiperpuasa tidak berpijak pada realitas puasa itu sendiri melainkan citraan yang ditampilkan dari tindak puasa itu. Keberatan saya besar pada titik hiper itu bukan pada perubahan sikap yang mendadaknya.
Betapapun, semoga ini bulan puasa ini menjadi wahana bagi setiap orang, baik itu untuk orang yang superbejad dan supersoleh/ah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, sekecil apapun itu kebaikannya.
Aug 14, 2010 @ 00:10:19
Buat Sdr. Filsafat Konseling: wah, respon yang sangat mencerahkan, mas, terima kasih banget tambahan infonya. bisa saya jadikan sebagai rujukan di tengah pengamatan awam saya ttg perubahan gaya hidup yang berlangsung selama ramadhan. maklum, pengetahuan saya tentang masalah agama sungguh pendek lantaran tak pernah menimba ilmu di pondok pesantren. (thinking)
Aug 13, 2010 @ 05:10:49
Pengaruh suasana Ramadhan memang sangat pas untuk merubah gaya hidup pak, sedangkan di bulan lain suasananya jauh berbeda sehingga prilaku manusianya pun mengikuti suasana sekelilingnya
Aug 14, 2010 @ 00:07:59
Buat Sdr. achmad sholeh: mudah2an saja perilaku baik selama ramadhan bisa terus berlanjut pascaramadhan, ya, pak?
Aug 13, 2010 @ 04:43:06
salam pak guru …
Ramadhan memang menjanjikan madrasah ruhaniah yang siap menempa kita untuk menjadi alumni yang bertakwa dengan ijazah langsung dari Allah … dalam proses menempuh insan bertakwa memang banyak cara dan upaya yang harus dilakukan, mulai dari menahan lapar, haus, birahi hingga berlaku derma, mengasihi sesama dan yang lainnya. semuanya dilakukan demi penyempurnaan diri nan mala menuju insan yang fitri di akhir Ramadhan ini. sebulan ditempa, semoga di sebelas bulan lain dapat menerapkan apa yang telah dipelajari dan dilatih di bulan mulia ini. laiknya diklat dan workshop, bulan Ramadhan adalah bulan pendidikan dan latihan yang materi-materinya baik yang sifatnya teoretis maupun praktis akan kita aplikasikan setelah diklat/Ramadhan. semoga Allah menjadikan kita hamba-Nya yang bertakwa. ammin
Aug 14, 2010 @ 00:07:19
Buat Sdr. belajar investasi: salam juga, mas. analoginya oke banget nih, mas. puasa di bulan ramadhan ibarat diklat dan workshop, hmmm … terima kasih tambahan infonya. (worship)
Aug 13, 2010 @ 04:25:16
patokannya sederhana, kalau ramadhan saja tidak berubah, maka pada hari lainnya kayak gimana ya ?
jadi perubahan dalam ramadhan, tetap kita tangkap sebagai isyarat positif bahwa perubahan ke arah kebaikan itu bisa,
he2 .. ramadhan : ketika preman pun tarawih …
Aug 14, 2010 @ 00:06:07
Buat Sdr. Hatta Sy: iya nih, mas hatta, terima kasih banget tambahan infonya. (worship)
Aug 13, 2010 @ 03:34:13
Semoga macet!!!M Juga puasa
Aug 14, 2010 @ 00:05:27
Buat Sdr. Ka Damar: maksudnya gimana nih, ka damar? hehe ….
Aug 13, 2010 @ 03:21:01
Saya setuju banget menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan ke arah kebaikan..
, bagi saya tidak hanya menjadi lebih baik dalam hal beribadah saja pak, tp bisa juga untuk hal-hal positif lainnya..
, alhamdulillah udah seminggu bebas dari rokok ni pak.. (sebelum ramadhan udah mulai coba berhenti), doain mudah-mudahan kuat bisa berhenti total ya pak.., tidak hanya pada ramadhan saja, tp untuk seterusnya.. amieen.. (worship) (maaf pak.. jadi curhat komengnya.. he2.. lagi excited aja dengan target saya.. (banana_rock) )
Misal untuk Ramadhan kali ini.. saya jadikan momentum untuk bisa berhenti merokok total.. he2..
Aug 14, 2010 @ 00:04:54
Buat Sdr. spydeeyk: (applause) woi … sebuah resolusi yang mantab dan layak dicontoh nih, mas haris, hehe …. sementara saya baru bisa puasa merokok saat siang hari, hiks. (thinking)