09Aug 2010 80 Comments6,413 pembaca
Banjir Puisi dalam Sehari
Walhasil, saya masih punya banyak harapan terhadap Farhan sebagai penyair “bertalenta” yang akan terus mengisi ruang-ruang kebudayaan dan kesenian, terlepas apa pun media publikasi yang hendak ia tempuh. Ia perlu terus bergerak dalam menyuarakan geliat batinnya yang tertindih oleh berbagai persoalan hidup di tengah fenomena “anomali” sosial yang membadai dan membusuk dalam kubangan peradaban yang sakit. Ia perlu terus berproses dan mesti sesering mungkin bersentuhan dengan persoalan-persoalan sosio-kultural yang terjadi di sekitarnya. Ia tak boleh berhenti dan harus terus-menerus bergesekan dengan berbagai kekuatan “kata-kata” sebagai medium untuk mengekspresikan suara batin dan nuraninya.
Otoritas kata dalam sajak harus dikembalikan pada fleksibilitasnya, yaitu pada kemampuannya untuk menyatakan dirinya sendiri dalam bentuk apa pun yang ia inginkan. Tidak saja secara verbal yang dapat bertransformasi atau bermetamorfosis sesuai dengan yang ia kehendaki, tetapi juga di dalam wujud visualnya, khususnya dalam soal tipografi sebagai wadah atau bentuk dari sebuah sajak yang berfungsi untuk menyampaikan apa yang tersurat dari apa yang tersirat. Dengan demikian, maka sajak-sajak akan tampil dengan lebih komunikatif dan jauh lebih atraktif serta menemukan tempat berpijak yang kokoh untuk bersaing dengan berbagai media komunikasi. Sajak tidak akan berhenti sebagai sebuah bacaan semata. Sudah tiba pula saatnya agar ia dapat dilihat dan kalau perlu bisa disentuh dalam wujudnya sebagai simbol-simbol atau tanda-tanda yang merepresentasikan keberadaan dirinya sendiri, yaitu dalam bentuk tipografi-tipografinya yang paling konkret yang merupakan bagian ekspresif dari sajak yang tidak sekedar mengusung bentuk, tetapi juga harus memiliki maksud tertentu. Sudah seharusnya tipografi sajak menjadi sebuah tanda lahir, sebuah jejak yang diterakan sendiri oleh tangan sang penyair.
Yang tidak kalah penting, proses penulisan Farhan harus mampu mencapai kondisi yang sublim yang membius pikiran dan perasaannya sebagai sebuah perwujudan intensi yang kuat, gelora perasaan, gelombang hasrat yang menyentuh intuisi dan kepekaan puitik dalam diri seorang penyair, sebuah kegelisahan yang menerbitkan api kreativitas. Proses ini bisa terjadi secara spontan manakala penyair dihadapkan pada suatu realitas yang memicu sebuah pengalaman puitik dalam dirinya, tetapi dalam karya-karya kontemplatif seringkali membutuhkan selang waktu beberapa lama untuk mencapai pengendapan yang sublim. Dalam kondisi demikian, Farhan perlu terus mengasah bakat dan kepekaannya, bagaimana hatinya dapat tergerak oleh sentuhan peristiwa-peristiwa kecil sederhana, seperti, gugur dedaunan, bocah bermain, rintik hujan, atau lolongan anjing. Demikian pula proses kepenyairan yang dibangun melalui perenungan atas kehidupan, kematian, keimanan, atau gugahan rasa atas peristiwa tertentu yang melanda si penyair semacam kesedihan, kemarahan, atau kegembiraan. Farhan perlu terus berproses menemukan jati dirinya sebagai penyair masa depan yang diperhitungkan.
Banyak orang ingin menjadi penulis karena ingin dikenal oleh publik, demikian pula banyak orang ingin menjadi penyair karena ingin menjadi terkenal. Namun, apakah mereka menyadari hakikat kepenyairan yang sesungguhnya? Menjadi seorang penyair sesungguhnya merupakan panggilan hidup, lantaran di tengah kultur dan gaya hidup masyarakat kita yang makin konsumtif dan hedonis, tampaknya masih belum memungkinkan untuk menjadikan kepenyairan sebagai sebuah profesi. Dengan kata lain, masih terlalu banyak kendala untuk menggantungkan kehidupan semata-mata pada profesi kepenyairan. Dalam konteks demikian, kepenyairan perlu dimaknai sebagai sebuah bentuk kecintaan. Hampir mustahil rasanya menjadi seorang penyair tanpa memiliki perasaan kecintaan yang mendalam kepada sajak dan puisi pada khususnya serta sastra pada umumnya.
Di tengah terpaan zaman yang makin abai terhadap persoalan kesenian dan kebudayaan, sekali lagi, saya sangat berharap Farhan bisa menjadikan puisi sebagai bagian dari panggilan hidup, bukan lantaran sikap kenes atau latah yang justru akan membunuh “talenta” besar yang ada dalam dirinya. Nah, salam budaya!
***
Semoga dua agenda ini bisa menjadi awal yang bagus untuk membuat sastra Kendal kembali menggeliat di tengah atmosfer peradaban yang dinilai makin abai terhadap ranah kesenian dan kebudayaan. ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Banjir Puisi dalam Sehari" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (9 August 2010 @ 04:55) pada kategori Esai, Sastra dan telah dikunjungi oleh 6,413 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:














Aug 23, 2011 @ 12:52:34
wihh hebat,,,
terus kembangkan kreatifitas mu,,,