Home » Esai » Sastra » Banjir Puisi dalam Sehari

Banjir Puisi dalam Sehari

Minggu, 8 Agustus 2010, publik sastra Kendal cukup “dimanjakan” oleh dua agenda “Apresiasi dan Bedah Puisi”. Pertama, apresiasi dan bedah puisi “Tuhan, Ke Mana Cinta” karya Handry TM yang digelar di Gedung Wanita, Kompleks Pendapa Kab. Kendal. Kedua, apresiasi dan bedah puisi karya Farhan Satria yang berlangsung dalam sebuah tajuk “Sastra Kebun”. Jujur saja, setelah sekian lama Kendal vakum oleh agenda kesastraan, kedua acara itu cukup membangkitkan adrenalin sastra buat para penikmat, pemerhati, dan pencinta sastra.

bedah puisibedah puisi
bedah puisibedah puisibedah puisibedah puisibedah puisibedah puisi

Apresiasi dan bedah puisi “Tuhan, Ke Mana Cinta” yang berlangsung pukul 09.30-12.30 WIB, juga dimeriahkan dengan musikalisasi dan baca puisi oleh awak Teater Semut yang sekaligus menjadi penggagas acara. Bedah puisi yang dihadiri sang penyair (Handry TM) dan Achiar M. Permana, jurnalis dan penggiat sastra itu, harus diakui menjadi sebuah event yang memiliki daya tarik tersendiri, sehingga membuat sekitar 60-an peserta yang hadir tak beranjak dari tempat duduk hingga acara usai. Diskusi yang kebetulan saya sendiri yang didaulat untuk memandunya berlangsung hangat dan akrab. Setidaknya ada sekitar 10-an peserta yang tampil bergantian untuk berdialog secara langsung dengan sang penyair.

Setting panggung yang dirancang secara teatrikal oleh awak Teater Semut membuat suasana lantai II Gedung Wanita itu cukup memancing adrenalin sastra para peserta untuk terlibat secara intens dalam atmosfer sastra. Terlebih ketika musikalisasi puisi yang diselingi dengan tayangan slide. Kerinduan para pencinta sastra Kendal terhadap agenda sastra bermutu pun seakan-akan bisa terobati.

Pada malam harinya, berlangsung apresiasi dan bedah puisi karya Farhan Satria yang berlangsung mulai pukul 20.00-23.30 WIB. Meski karya-karyanya belum terbukukan, tetapi sekitar 50 peserta yang hadir mengakui, Farhan memiliki “talenta” sebagai penyair masa depan yang hebat. Dalam acara yang disebut oleh penggagasnya, Kelana –penyair yang lebih suka menyebut dirinya Kelana Bukan Penyair di facebook-nya– sebagai sastra kebun itu memang “tampil beda”. Suasana malam di kebun sebelah rumah sang penggagas acara bagaikan ruang yang begitu bebas dan terbuka untuk mengapresiasi dan mendiskusikan puisi-puisi karya Farhan yang mengaku mulai intens menulis puisi sejak 2008 itu. Hampir semua peserta menanggalkan status kesehariannya dan lebur dalam suasana sastra kebun yang serba egaliter.

Maka, jadilah malam itu bagaikan sebuah “ritual” yang hendak menahbiskan “kepenyairan” Farhan Satria. Hampir semua peserta, dengan tingkat kepekaan dan apresiasinya masing-masing, memberikan “legitimasi” atas kepenyairan Farhan Satria yang sebagian besar puisi karya dimuat di blog pribadinya dan facebook.

bedah puisibedah puisi
bedah puisibedah puisibedah puisibedah puisibedah puisibedah puisi

Saya pun mempunyai catatan khusus tentang puisi-puisi karya anak muda kelahiran Kendal, 18 Februari 1988, yang saya sampaikan dalam diskusi tersebut. Berikut ini catatan selengkapnya.

Melacak Jejak Kepenyairan Mochamad Farhan
Oleh Sawali Tuhusetya

Seorang penyair, konon, tak pernah terlahir dalam situasi yang kosong. Ia akan terus berproses mengikuti derap dan dinamika zaman yang memolanya. Tanpa persentuhan dengan geliat dan dinamika zaman, konon pula, seorang penyair akan tergeletak di pinggir peradaban. Dalam konteks demikian, eksistensi seorang penyair akan sangat ditentukan oleh keseriusan sang penyair itu sendiri dalam membebaskan dirinya dari berbagai belenggu yang membelit dan membelenggu kreativitasnya. Oleh karena itu, seorang penyair harus mampu memberikan makna bagi dirinya sendiri dan terutama bagi karya-karyanya, karena ia mengemban amanat besar untuk mengomunikasikan realitas psikologis maupun sosiologis dari dirinya sendiri, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari masyarakatnya.

Tak terkecuali Mochamad Farhan (Farhan). Sebagai penyair muda yang tengah berproses menemukan jati dirinya, dia pun tak luput dari proses kreativitas semacam itu. Ia mesti bersentuhan dan bergulat secara terus-menerus dan simultan dengan berbagai persoalan dan dinamika yang terjadi di tengah-tengah kehidupan masyarakatnya. Ia tidak bisa berdiri di atas puncak menari gading kepenyairan untuk menghasilkan karya-karya yang “liar” sekaligus mencengangkan.

Dari puluhan sajak yang ia hasilkan, baik yang terpublikasikan lewat blog pribadinya, http://farhantaqwa.wordpress.com/, facebook, maupun di beberapa media cetak, saya melihat Farhan masih belum menunjukkan pergulatan yang intens dan total dengan dunia sekelilingnya. Ia masih bersikutat dan “berselingkuh” dengan persoalan-persoalan internal di dalam dirinya. “Aura” kepenyairan yang terpancar dalam dirinya belum sepenuhnya dioptimalkan untuk bersentuhan dengan berbagai fenomena dan problem-problem sosial yang seharusnya ia sentuh dan ia akrabi.

Simak saja lirik-liriknya –sekadar untuk menyebut beberapa judul”– dalam “Kasidah Airmata”, “Kasidah Air Mata 2”, “Bulan Mengigil 2”, “Tentang Air Mata Penghapus Rindu”, “Berharap Engkau Mati”, “Kaukah Itu”, “Bunga Temaramku Bunga Cintaku”, “Satria”, “Bantu Aku, Malam”, “Menatapmu di Kursi Pelaminan”, “Menyelami Dinginmu”, “Di Antara Cermin, Hilir dan Hati”, “Penantian Ini”, ”Bersamamu Meniti Pelangi”, “Dalam Kekosonganku”, ”Tegar”, “Sekarat Cintaku”, ”Sepenggal Pesan untuk Ibu”, “Tlah Kubaca”, “Masih Adakah”, “Aku Pulang”, “Semalam Bermimpi”, “Demikianlah Kita Sepakat”, “Setia Pada Laut”, atau “Bulan Menggigil”.

Saya belum menemukan idiom-idiom “liar” dan mencengangkan yang bisa menahbiskan seorang Farhan sebagai penyair yang dengan amat sadar ingin keluar dari “zona personal” menuju “zona global” yang sanggup memperkokoh dirinya sebagai penyair “berkelas”. Dari sekian puluh puisi yang keluar dari tangannya, bisa jadi “Ibu Kota, Ibu Siapa Saja”, “Jangan Diam”, atau “Kami dan Juni” yang bisa mewakili dirinya sebagai penyair masa depan yang memiliki sikap responsif terhadap persoalan-persoalan di luar dirinya.

Sekadar perbandingan, coba kita simak dua puisi berikut!

Menyelami Dinginmu
//ingat pertemuan kita/semalaman menatap dingin udara/kita hanyut dalam alunan/dendang kampas rem pesakitan//di sana aku rapi/menyusun rangkaian kata-kata yang mulai menjamur/dimulut balita merengek/minta permen namun/tiada terbeli jua//kutatap hampa bungamu/harum menebar penolakan/pada aku yang kumbang/bulan mengambang/hingga pagi berkumandang//biarlah semuanya melumut/agar memahat batu menumpuk/entah sampai usiaku lapuk//ku ingin ikut menyelam/dalam dinginmu yang makin kelam//

Jangan Diam
Akankah kita diam?/bila batik tak lagi membumi/angklung tak lagi mengalun/reog tak lagi menari/pendet yang dicopet?//Masihkah tetap diam?/bila kartini negri/disiksa dan dibunuh tanpa gaji/hilang tanpa arti/atau menggelantung di koran pagi?//Sampai kapan terus diam?/ayo bertindak/jangan diperbudak/atau menunggu rakyat meledak?//satukan tekad untuk Indonesia/ayo ganyang tetangga kita//

Secara tematik, puisi yang pertama mewakili “daya personalitas” Farhan yang masih terkungkung ke dalam proses “persetubuhan” yang (nyaris) belum mencapai puncak “orgasme” penciptaan. Sedangkan, puisi kedua, Farhan telah berusaha mencoba untuk melepaskan diri dari belitan dan ikatan primordial sebagai anak muda yang sadar akan jati dirinya sebagai bagian anak bangsa yang peduli terhadap nasib kultur bangsanya. Dengan kata lain, Farhan tak lagi berada di atas puncak menari gading penciptaan, tetapi sudah mencoba “membumi” dengan mengangkat persoalan-persoalan riil yang terjadi di tengah-tengah dinamika kehidupan masyarakat dan bangsanya.
***

tentang blog iniTulisan berjudul "Banjir Puisi dalam Sehari" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (9 Agustus 2010 @ 04:55) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 81 komentar dalam “Banjir Puisi dalam Sehari

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *