05Aug 2010 79 Comments2,457 pembaca
Pelatihan Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender
Selasa, 3 Agustus 2010, saya didaulat untuk menyajikan materi Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender bagi guru se-Jawa Tengah yang berlangsung di Gedung Yayasan Bina Dharma, Jalan Bukit Sawo, Bugel, Salatiga. Dalam pelatihan yang berlangsung selama empat hari itu, saya “ketiban sampur” untuk menyajikan materi Pembelajaran Berwawasan Gender yang diikuti sekitar 40 guru dari mata pelajaran PKn, PAI, IPS, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Penjas, dan pengembangan diri (BK).
Interpretasi dan kesan rekan-rekan sejawat memang beragam. Ada yang sudah berkali-kali mengikuti kegiatan serupa, tetapi tidak sedikit juga yang baru pertama kali mengikuti pelatihan semacam ini. Pengarusutamaan Gender (PUG) bidang Pendidikan sudah memiliki “payung hukum” yang jelas seiring dengan dikeluarkannya Peraturan Mendagri No. 15 Tahun 2008 tentang Pedoman Umum Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender di Daerah dan Permendiknas No. 84 Tahun 2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan. Selain itu, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) juga sudah menjadikan kesetaraan gender sebagai salah satu ranah yang perlu dijadikan sebagai acuan operasional penyusunan kurikulum. Ini artinya, dari sisi legal-formal, PUG bidang Pendidikan tak perlu disangsikan lagi untuk diterapkan dalam proses pembelajaran di kelas.








Namun, secara jujur harus diakui, implementasi PUG dalam proses pembelajaran masih terkendala banyak faktor. Selain kultur masyarakat kita sudah demikian lama dicengkeram oleh kokohnya budaya patriarki yang memandang kaum perempuan sebagai “makhluk kelas dua”, dukungan anggaran dan fasilitas sekolah yang memberikan ruang gerak yang memadai terhadap implementasi PUG bidang pendidikan juga belum berlangsung seperti yang diharapkan. Dalam konteks demikian, sangat beralasan kalau implementasinya dalam proses pembelajaran di kelas belum bisa berlangsung mulus dan kondusif.
Meski demikian, tidak lantas berarti PUG bidang pendidikan gagal teraplikasikan. Untuk melepaskan kuatnya mitos dan akar patriarki yang melilit kultur masyarakat kita memang membutuhkan proses dan tahapan yang cukup lama. Sejak dini, anak-anak yang kini tengah gencar memburu ilmu di bangku pendidikan, mulai TK, SD, SMP, hingga SMA/MA/SMK, perlu diubah mind-set-nya tentang keadilan dan kesetaraan gender. Secara bertahap, anak-anak masa depan negeri ini perlu diperkenalkan dan diajak untuk berpikir kritis dan visioner dalam memandang posisi dan peran kaum perempuan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Jangan sampai terjadi, anak-anak yang notabene menjadi pewaris sah masa depan negeri ini masih terus dihinggapi mitos “serba laki-laki” sehingga peran kaum perempuan makin terpinggirkan.
Salah satu strategi yang tepat untuk memperkenalkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender adalah melalui proses pembelajaran di sekolah. Jika dilakukan secara simultan dan berkelanjutan, perubahan mind-set anak-anak akan terus berlangsung dari generasi ke generasi, hingga akhirnya pada kurun waktu beberapa tahun mendatang, mitos dan kultur patrarkhi akan bisa terbebaskan. Peran dan posisi kaum perempuan di ranah publik juga makin diakui, hingga tak muncul lagi peristiwa bias gender, baik dalam bentuk marginalisasi (peminggiran), double burden (peran ganda), kekerasan (violence), stereo-type (citra baku/pelabelan), maupun subordinasi (penomorduaan) yang menimpa kaum perempuan.
Semoga situasi seperti itu bisa segera terwujud! ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Pelatihan Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (5 August 2010 @ 00:00) pada kategori Edukasi, Sosial dan telah dikunjungi oleh 2,457 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 23, 2011 @ 12:54:42
bukannya di era reformasi ini masalah gender akan ditiadakan pak ??
kalo masih ada yang beranggapan bahwa wanita itu “kelas dua”, jitak aja orang nya pak..heheheh..
Aug 10, 2011 @ 07:56:32
Semoga Pelatihan Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender ini sangat di minati oleh orang banyak…
Aug 23, 2010 @ 12:29:01
trims untuk share-nya…
saya baruuuuu saja mengikuti sosialisasinya PSBG tgl 18 Agustus 2010 (kasian ya…>,<…) itu saja karena menggantikan teman…biasa..sudah sertifikasi dll..jadi diganti saja…
anyway…boleh ikut nambah pengetahuan via e-mail ya..mungkin ada info tentang pelatihan atau apa gitu…
thank b4..;)
Sep 04, 2010 @ 19:27:06
Buat Sdr. Palupi: ok, sama2, terima kasih atas apresiasinya.
Aug 12, 2010 @ 06:09:28
Makasih atas infonya, Bung Sawali, mbok ya kalau ngadain tuh undang saya kenapa sih, sebagai peserta aja, bagi ilmu kan bagus tuh, ha…ha..!!!
Aug 13, 2010 @ 03:06:42
@PAPANORI: hehe …. di aceh mungkin juga ada, kok. lantaran ini sudah jadi program nasional.
Aug 08, 2010 @ 15:19:31
thx infonyaaaa
Aug 11, 2010 @ 23:35:50
ok, sama2, terima kasih apresiasinya.
Aug 08, 2010 @ 15:01:05
Mantap
Aug 08, 2010 @ 15:00:37
Lho…
Aug 08, 2010 @ 14:59:59
Semakin mantap azah,,,ini blog. (bringit)
Aug 11, 2010 @ 23:35:27
walah, biasa saja pak deni.
Aug 08, 2010 @ 14:17:38
Kesetaraan Gender memang penting. Namun banyak negatif dari implementasi Emansipasi. Karena ini adalah sebuah Sunnatullah. Kita wajib percaya akan hal itu. Laki-laki adalah pemimpin kaum wanita.. Makasih buat share nya Pak Sawali
Aug 11, 2010 @ 14:32:39
hmm … itulah yang masih menimbulkan pro dan kontra, mas. secara biologis, laki2 dan perempuan memang berbeda, tapi dalam soal peran agaknya mereka memiliki peran yang setara.
Aug 08, 2010 @ 12:29:39
this is a great article, good job!
Aug 08, 2010 @ 10:45:30
semoga cita-cita wawasan gender yang lebih setara dapat diwujudkan
terima kasih sudah ikut memperjuangkan peran kaum wanita
Aug 11, 2010 @ 14:29:25
amiiin, sama2, mbak kelly, semoga hal itu bisa segera terwujud.
Aug 08, 2010 @ 09:49:14
wah luar biasa pak sawali
laki-laki atau perempuan di abad sekarang semua sama pak
Aug 11, 2010 @ 00:48:21
walah, biasa saja, mas. saya kira benar, secara “fitrah”, laki2 dan perempuan memang sama.
Aug 07, 2010 @ 20:18:09
Pak Sawali ini memang hebat, semoga seminar2 sejenis dapat terlaksana kembali agar kualitas guru makin bagus lagi dari sekarang
Aug 11, 2010 @ 00:42:54
walah, biasa saja, mas rifky. hanya kebetulan semata, kok.
Aug 07, 2010 @ 17:57:23
sebuah tulisan yang harus saya save pak sebagai bahan pembelajaran guru di pelosok
Aug 11, 2010 @ 00:39:04
mangga, pak munir. terima kasih support dan apresiasinya.
Aug 07, 2010 @ 16:53:06
thnks mas infonya..bermanfaat nich buat saya..sukses selalu yah mas.. blognya keren nich..kalau berkenan mau gx kita tukeran link?thnks di tunggu jawabannya di blogku..
Aug 11, 2010 @ 00:36:43
sama2, mas. terima kasih atas tukeran link-nya. dengan senang hati. (worship)
Aug 07, 2010 @ 15:59:18
baru aja kemarin-kemarin ada tentang ini disekolah saya,, ^^
kebetulan banget ya,,, ^^
Aug 11, 2010 @ 00:36:11
oh, ya, mungkin ndak kebetulan, mas, karena program ini sudah menjadi program nasional.
Aug 07, 2010 @ 07:07:30
pembelajaran berwawasan gender,
berarti pendidikan yg disesuaikan jenis kelamin???
Aug 11, 2010 @ 00:32:55
justru tak harus dibeda2kan berdasarkan jenis kelamain, mas aulia.
Paket C Paket ABC SD SMP SMA » PAKET C » Pelatihan Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender » Catatan Sawali …
Aug 06, 2010 @ 23:50:34
[...] See the original post: Pelatihan Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender » Catatan Sawali … [...]
Aug 06, 2010 @ 23:38:16
Betul pak guru, mitos dan kultur patrarkhi memang harus dibebaskan, agar kaum perempuan di Indonesia lebih maju lagi khususnya dalam bidang pendidikan. Kita mulai dengan merubah mitos tersebut kepada anak2 kita, agar generasi mendatang akan terwujud.
Aug 11, 2010 @ 00:31:50
amiin, semoha hal itu bisa segera terwujud, mas agus.
Aug 06, 2010 @ 23:07:28
(applause) wah artikelnya penuh pelajaran buat saya mas…
karena udah setahun ini saya di pimpin oleh seorang wanita…wanita yang saya rasa sangat tangguh sekali mas…
saya kagum terkadang kalau melihatnya….sabar,penuh keteguhan mengahadapi bawahannya….
(highfive)
O ya mas, saya mohon penilaiannya ya tentang isi-isi tulisan pada blog saya, sebagai bahan evaluasi saya dalam menulis….
Aug 11, 2010 @ 00:30:30
wahm, ternyata mas bahasa pena malah mengalaminya secara langsung. hmm … content blog dan gaya tulisannya oke juga, kok., mas.
Aug 06, 2010 @ 22:59:44
saya kagum dengan anda mas….
Aug 11, 2010 @ 00:29:30
terima kasih apresiasinya, mas. (worship)
Aug 06, 2010 @ 16:37:41
pada kenyataannya saya sendiri udah merasakan punya boss perempuan dua kali…sayang nya bukan wanita indonesia..heee
Aug 11, 2010 @ 00:27:26
hehe … itu artinya kaum perempuan memiliki talenta juga utk menjadi serang pemimpin, kan, mas boyin?
Aug 06, 2010 @ 16:07:56
Memang begitulah, Pak, Sang Khalik saja melihat umatnya tak menggunakan harga yang berbeda antara laki-laki dan wanita. Keduanya memiliki “peluang” yang sama di hadapan-Nya. Bahkan, saling melengkapi.
Aug 11, 2010 @ 00:25:43
betul sekali, pak sungkowo. makanya perlu diperkenalkan sejak dini kepada peserta didik.
Aug 06, 2010 @ 14:02:43
seperti biasanya, tulisan kali ini menjadi bermakna ‘lebih’ ketika di sajikan Pak Sawali. selamat Pak dan salam hangat serta sukses selalu.
Aug 11, 2010 @ 00:23:32
walah, mas yusa ketinggian memujinya, hehe …. bisa2 membikin saya besar kepala, haks.
Aug 06, 2010 @ 13:38:56
satu acra yng wajib dpt dukungan pnh dari pemerintah tuh sip BGT
lam kenal Y gan
Aug 11, 2010 @ 00:23:03
salam kenal juga, terima kasih support dan apresiasinya.
Aug 06, 2010 @ 13:20:09
dengan pelatihan seperti ini semoga juga bermanfaat tidak hanya buat anak didik tapi juga anak kandung peserta pelatihan (worship)
Aug 11, 2010 @ 00:22:36
anak kandung peserta pelatihan? woi, mas pradna bisa saja nih bikin istilah, hehe …
Aug 06, 2010 @ 12:25:51
Wah.., mantap bener nih…! Menyajikan materi utk guru2 seJateng..? Hebat..! Sayang guru matematika gak dihadirkan ya..? Berarti mbak Atik (Mulyati) yang dari Solo gak hadir dunk…
Aug 11, 2010 @ 00:21:56
hmm … dari sekian peserta, guru matematika memang ndak diundang, mbak.
Aug 06, 2010 @ 10:24:25
amien … semoga enggak ada lagi diskriminasi gender (rock)
dan juga semoga saja benar-benar setara! jangan sampai wanita sudah setara mendiskriminasikan pria (haha)
Aug 11, 2010 @ 00:20:45
semoga memang demikian, mas gadget. terima kasih support dan apresiasinya.
Aug 06, 2010 @ 08:53:50
Mampir lagi pak, sekalian mau bikin pengumuman kalo blognya saya kemaren ulang bulan
Aug 11, 2010 @ 00:20:21
hehe … kok ada istilah ulang bulan, toh. mas tri bisa saja pakai istilah nih, hiks.
Aug 06, 2010 @ 08:51:31
(banana_cool) (dance) IMHO, laki-laki dan perempuan masing-masing punya fitrah yang telah digariskan.
Aug 11, 2010 @ 00:19:52
bener sekali, makanya motto yang dipakai adalah: laki2 dan perempuan memang berbeda, gtetapi tdk harus dibeda2kan.
Aug 06, 2010 @ 06:49:42
Pelatihan pendidikan sekolah berwawasan gender masih kurang gaungnya di Gorontalo. Padahal perbandaingan antar guru dan pelajar yang pria dan wanita malah justru wanitalah yang paling banyak. Perubahan mindset dalam pola pendidikan harus dilakukan secara dini. Demi terciptanya kesetaran gender secara maksimal.
Aug 11, 2010 @ 00:19:07
setuju banget, mas marada. kayaknya ini sdh jadi program nasional, mas. hanya soal waktu saja mungkin yang membuat gaung pug pendidikan di gorontalo kurang bergaung.
Aug 06, 2010 @ 06:14:04
hebat pak sawali, ngisi seminar guru sedaerah jawa tengah… (applause)
Aug 11, 2010 @ 00:18:06
walah, biasa saja kok, mas reza, hanya kebetulan, kok.
Aug 06, 2010 @ 05:40:49
(thinking)
(doh)
(haha)
Aug 05, 2010 @ 16:47:18
‘berwawasan gender”. topik yang diambil sangat nmenarik..emang udah saatnya gender diperhatikan dalam proses pendidikan.:) (scenic)
Aug 11, 2010 @ 00:12:39
begitulah, mas, terima kasih support dan apresiasinya. (worship)
Aug 05, 2010 @ 12:36:11
Untuk memperkenalkan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender melalui proses pembelajaran di sekolah itu strategi yang tepat PaK.
Aug 11, 2010 @ 00:11:31
agaknya begitulah, mas. pendekatan semacam ini dinilai kecil resistensinya dibandingkan dengan cara2 yang lain.
Aug 05, 2010 @ 11:46:16
budayakan sebaiknya jangan pakai kekerasan ,musawarah, bisa sama-sama berdialok satu meja ,saling menghargai, enak kan kepala sama2 dingin pasti hasilnya damai dan maksimal.
Aug 11, 2010 @ 00:10:49
setuju banget, mbak, memang ndak ada manfaatnya membudayakan nilai2 kekerasan, hehe ….
Aug 05, 2010 @ 11:16:30
Perjuangan RA Kartini sepertinya wajib dilanjutkan.
Belajar yang oleh rasulullah SAW kita diperintahkan untuk mencarinya, meski sangat jauh di negeri china sekalipun, meskipun sangat lama, selama hayat masih dikandung badan, menunjukkan betapa sangat pentingnya ilmu itu untuk dikuasai. Sebab dengan ilmu, kita bisa mempertahankan hidup, bisa memudahkan kita di dalam perjanan hidup. Baik dalam kehidupan di dunia ini, maupun kehidupan kita di akhirat kelak.
Memaknai Belajar
Aug 11, 2010 @ 00:10:20
terima kasih banget tambahan infonya. makin memperkaya pemahaman kita ttg kesetaraan dan keadilan gender.
Aug 05, 2010 @ 10:06:22
Sip setuju ane dengan pendapat yang ditas, klo perlu jangan cuma dijitak tapi di “toyor” juga
Aug 11, 2010 @ 00:09:33
hehe … walah kok malah membudayakan kekerasan toh, mas tri, hiks.
Aug 05, 2010 @ 08:57:25
bukannya di era reformasi ini masalah gender akan ditiadakan pak ??
kalo masih ada yang beranggapan bahwa wanita itu “kelas dua”, jitak aja orang nya pak..heheheh..
Aug 11, 2010 @ 00:08:46
hehe …. bukan persoalan yang mudah utk mencapai kesetaraan dan keadilan gender, mas. butuh waktu dan proses utk mewujudkan hal itu. salah satunya melalui dunia pendidikan.
Aug 05, 2010 @ 07:04:12
saya ssebelumnya tidak terlalu paham dengan yang beginian,,, tapi membaca tulisan ini saya ada seedikit pencerahan.
Aug 11, 2010 @ 00:07:56
terima kasih atas apresiasinya, mas.
Aug 05, 2010 @ 06:03:13
Pak, lain permasalahannya..saya kok masih belum dapat driver atau belum bisa menginstall printer ip 1200 saya ke ubuntu 10.04,..bisa bantu pak
Aug 11, 2010 @ 00:05:57
printer memang menjadi permasalahan tersendiri bagi ubuntu, tetapi kayaknya di google ada juga kok sdh banyak teman yang share pengalamnnya. bisa dicari!
Aug 05, 2010 @ 06:00:15
saya jadi kepingin mengikuti informasi semacam ini melalui pelatihan, rasanya lebih hidup dan terserap karena disana ada diskusi,…sukses ya pak
Aug 11, 2010 @ 00:04:41
hehe … kang bud bisa saja nih. di kalimantan pasti juga ada pelatihan seperti ini.
Pelatihan Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender » Catatan Sawali …
Aug 05, 2010 @ 01:02:22
[...] Original post: Pelatihan Pendidikan Sekolah Berwawasan Gender » Catatan Sawali … [...]
Aug 05, 2010 @ 00:16:34
Semangat kang