Minggu, 20 April 2014

Sunday, 1 August 2010 (02:48) | Opini | 17567 pembaca | 144 komentar

Menyaksikan Indonesia tak ubahnya menonton sebuah repertoar tragis di atas panggung teater. Sarat konflik dan (nyaris) tanpa ending. Untuk sebuah lakon teater, pertunjukan seperti itu bisa jadi memiliki “magnet” dan daya tarik yang memikat buat penonton. Setidaknya, sudah bisa dianggap memenuhi salah satu syarat sebagai sebuah repertoar yang bagus. Namun, Indonesia bukanlah panggung teater. Indonesia adalah sebuah realitas yang dengan amat sadar dibangun para founding-fathers dengan darah dan air mata. Ia akan lebih bermakna jika sanggup memberikan rasa aman, nyaman, adil, makmur, adil, bahagia, dan sejahtera –yang dalam bahasa pewayangan sering dinarasikan lewat adagium “gemah ripah loh jinawi tata titi tentrem kertaraharja”– buat 200 juta jiwa lebih penghuninya. Indonesia dianggap akan kehilangan kesejatian dirinya sebagai sebuah negara yang merdeka dan berdaulat jika gagal memberikan keadilan dan kemakmuran buat rakyatnya sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. (drinking)

ramadhanpejuang kemerdekaansosialBisakah Indonesia dinilai gagal memberikan yang terbaik buat rakyatnya? Gagal sama sekali sih tidak! Lihat saja geliat pusat perbelanjaan di jantung kota-kota besar negeri ini! Hampir setiap detik, tak pernah sepi pengunjung. Kota-kota besar masih terus menjadi “magnet” yang mampu menyedot perhatian banyak kalangan. Lihat juga kawasan dan sentra industri yang tak pernah berhenti memanjakan orang berkantung tebal dalam menyalurkan hasrat dan naluri bisnisnya! Saksikan juga kantor-kantor pemerintah yang terus menggeliat dengan program-program yang konon “pro-rakyat”-nya, meski tak pernah tepat sasaran. (doh) Maka, dengan serta-merta kita akan mengatakan bahwa kosakata kemiskinan dan keterbelakangan itu sudah tak ada lagi dalam kamus sosial negeri ini.

Meski demikian, dengan nada sedih, (tears) kita juga harus mengakui, dalam waktu 6,5 dekade Indonesia merdeka, negeri ini belum juga sepenuhnya memiliki kesanggupan untuk memberikan sentuhan perhatian yang layak kepada nasib kaum dhuafa yang miskin dan kesrakat. Tak sedikit jumlah saudara-saudara kita yang terpaksa harus menjadi pengais rezeki di balik tong-tong sampah, dizalimi di negeri orang, atau menjadi korban kebiadaban “pedang pengadilan” yang seringkali tidak berpihak kepada rakyat kecil. Yang tak kalah menyedihkan, bangsa kita juga mulai kehilangan nilai-nilai kesalehan sosial seiring dengan meruyaknya nilai-nilai hedonisme, konsumtivisme, atau materialisme yang diusung dari Barat. Nilai solidaritas dan kepekaan sosial terhadap sesama dinilai telah luntur akibat keroposnya benteng peradaban yang tak sanggup lagi membendung arus gaya hidup global dan kosmopolit. Dalam bahasa Thukul Arwana, “senang kalau melihat orang susah, susah jika melihat orang lain senang”.

Arus gaya hidup global dan kosmopolit yang gagal terbendung, disadari atau tidak, telah membuat banyak orang silau gebyar duniawi, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, percaya pada klenik dan bau magis, bahkan tak segan-segan menempuh ilmu permalingan untuk memanjakan naluri dan selera hedonisnya. Tak berlebihan kalau korupsi pun menjadi cara jitu untuk menumpuk harta dan kekayaan, meskipun nyata-nyata telah membikin nasib sesamanya hidup tersaruk-saruk di dalam kubangan lumpur kemiskinan.

Bulan Agustus tahun ini, bangsa kita akan menemukan dua momentum yang tepat untuk merevitalisasi nilai-nilai kesalehan sosial yang rapuh itu, yakni Ramadhan dan HUT Proklamasi Kemerdekaan. Puasa pada bulan Ramadhan merupakan aktivitas religius yang tidak semata-mata sebagai bentuk ritual peribadatan semata, tetapi juga bisa dimaknai sebagai upaya untuk membangun nilai-nilai kemanusiaan secara “kaffah”. Mereka yang biasa hidup bergelimang kemewahan di atas tumpukan duwit hasil korupsi, bisa melakukan “cooling down” untuk merasakan derita hidup kaum dhuafa yang setiap saat terancam kelaparan dan kehausan. Sementara itu, HUT Proklamasi juga bisa menjadi momentum yang tepat untuk menghidupkan semangat kebersamaan dan kolektif sebagaimana yang pernah dilakukan secara nyata oleh para pejuang kita saat merebut dan mempertahankan kemerdekaan.

Semoga Ramadhan dan HUT Proklamasi Kemerdekaan yang jatuh pada bulan Agustus tahun ini benar-benar mampu menjadi momen yang tepat untuk merevitalisasi nilai-nilai kesalehan sosial, sehingga bangsa kita tidak kehilangan kesejatian dirinya sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat, dan bermartabat. Nah, selamat menyongsong Ramadhan 1431 H dan HUT ke-65 Proklamasi Kemerdekaan negeri tercinta! (nottalking) ***

Tulisan berjudul "Ramadhan, Kemerdekaan, dan Kesalehan Sosial" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 August 2010 @ 02:48) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Ujian yang Salah Urus dan Mentalitas Korup (Thursday, 9 January 2014, 342191 pembaca, 23 respon) Sore yang kurang bersahabat. Angin “jahat” terus saja berkesiur setiap detik. Gerimis yang tajam seperti menusuk-nusuk kulit para penduduk...

Keperkasaan Tidak Hanya Menjadi Milik Kaum Lelaki (Saturday, 21 December 2013, 222516 pembaca, 12 respon) (Refleksi Hari Ibu Tahun 2013) Perempuan-Perempuan Perkasa Puisi Hartoyo Andangdjaja Perempuan-perempuan yang membawa bakul di pagi buta, dari...

Negeri Kelelawar Kian Sempoyongan Memanggul Beban (Thursday, 5 December 2013, 62752 pembaca, 2 respon) Oleh: Sawali Tuhusetya Kian jauh melewat usia kemerdekaan, rakyat negeri Kelelawar bukannya makin sejahtera, melainkan kian tersuruk dalam lembah...

Dibutuhkan Kesadaran Kolektif Bangsa Menuju Sebuah Perubahan (Thursday, 16 May 2013, 48612 pembaca, 39 respon) (Refleksi 15 Tahun Reformasi) Oleh: Sawali Tuhusetya Reformasi di negeri ini telah bergulir dalam bilangan 15 tahun. Memori bangsa ini masih ingat...

Makin Sempoyongan Memanggul Beban Bangsa (Wednesday, 12 December 2012, 39651 pembaca, 13 respon) (Refleksi Hari Nusantara Tahun 2012) ….. Aku menari di sajadah paling sunyi Meningkahi bongkah batu, tanah dan larik-larik fondasi....

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

144 komentar pada "Ramadhan, Kemerdekaan, dan Kesalehan Sosial"

  1. khamiL says:

    bner bner lengkap bnget bulan ramadhan sekarang…

  2. Nuraeni says:

    Aminn…

    Buat lach..
    Karya yang menarik lagi yach pak,,
    tapi tidak hanya menarik & juga menambah wawasan …

  3. ====== says:

    ANDA BUTUH IJAZAH UNTUK MENCARI KERJA / MELANJUTKAN KULIAH / KENAIKAN JABATAN ?!?!
    KAMI JASA PEMBUATAN IJAZAH SIAP MEMBANTU ANDA UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN IJAZAH UNTUK BEKERJA ATAU MELANJUTKAN SEKOLAH / KULIAH.
    BERIKUT INI MERUPAKAN JASA YANG KAMI SEDIAKAN.

    -SMU:3.000.000
    -D3:6.000.000
    -S1:8.000.000

    * AMAN, LEGAL, TERDAFTAR DI UNIVERSITAS / KOPERTIS / DIKTI, BISA UNTUK MASUK(PNS, TNI, POLRI).

    JUGA MELAYANI PEMBUATAN SURAT SURAT PENTING SEPERTI:SIM, STNK, KTP, REKENING BANK, SURAT TANAH, AKTE KELAHIRAN.BPKB, N1, SURAT NIKAH, DLL.

    SYARAT:KTP/SIM,FOTO BERWARNA DAN HITAM PUTIH,UNIVERSITAS YANG DITUJU,IPK YANG DIMINTA(MAX 3,50),TAHUN KELULUSAN YANG DIMINTA,ALAMAT PENGIRIMAN YANG DIMINTA.KIRIM KE: pembuatanijazah@yahoo.co.id

    HUB: 085736927001.

    (HANYA UNTUK YANG SERIUS SAJA)

    Nb:Semua manusia berhak meiliki pekerjaan dan pendidikan yang layak,entah dari kalangan atas,menengah dan bawah.Maka dari itu kami ada untuk anda yang mebutuhkan ijazah atau surat-surat penting lainnya

  4. Nurah says:

    Bagus Gan.. Artikel nya, bisa sHaring nieH.

    salam kenal

    htp://nurahratu.com (lmao)

Leave a Reply