Friday, 30 July 2010 (03:47) | 737 pembaca | 109 komentar | Print this Article
Sejak 12 September 2009 saya memutuskan untuk menggunakan sistem operasi open-source, khususnya Ubuntu, pada netbook yang saya pakai. Sebenarnya keinginan untuk migrasi ke OS per-linux-an sudah lama muncul. Setidaknya, saya pernah mencoba menggunakan ubuntu versi gutsy-gibbon sejak 27 Februari 2008. Namun, lantaran ke-gaptek-an dan minimnya informasi seputar ubuntu, membuat saya melepaskannya dan kembali “menghamba” pada si Jendela. Kini, setelah informasi penggunaan OS open-source makin bertaburan dan gampang didapat, langkah saya untuk menggunakannya makin mantab.
Berikut lima alasan sederhana, mengapa saya menggunakan open-source:



Pertama, ingin terlepas dari bayang-bayang mitos “kebesaran” sang kapitalis Bill Gates. Dalam tulisannya di sini, Mas Itempoeti mengungkap tentang 7 dosa yang telah dilakukan Windows 7, yakni meracuni pendidikan, melanggar privasi, perilaku monopoli, lock-in (terkunci di dalam?), pelecehan standar, pemaksaan Digital Restrictions Management (DRM), dan mengancam keamanan pengguna. Saya setuju dengan pernyataan semacam itu. Makanya, saya bertekad untuk melakukan “pertobatan” dengan menggunakan Free Open Source Software agar bisa terlepas dari bayang-bayang mitos “kebesaran” sang kapitalis, Bill Gates, pencetus dan pengembang microsoft yang bertahun-tahun lamanya “bertahta” di atas “kerajaan” komputer dunia.
Kedua, saatnya menggunakan OS (Operating System) yang halal. Dengan nada berkelakar, Onno W. Purbo, dalam sebuah Workshop Nasional Linux untuk Pendidikan beberapa waktu yang silam di Kendal, menyatakan, “Kita ini negara miskin, tapi software yang kita gunakan keluaran microsoft yang mahal. Kalau tak bisa pakai yang asli, lantas kita membajaknya. Berapa dosa saja yang harus kita tanggung jika hal ini tidak segera diakhiri? Hehe …..”. Meski dengan nada kelakar, ada muatan serius. Pernyataan tersebut bisa juga diubah menjadi sebuah retorik: “Kalau ada software yang halal, mengapa mesti menggunakan yang “haram”?
Ketiga, membebaskan data dari serangan virus. Bertahun-tahun saya terninabobokan oleh software windows, entah itu yang asli atau yang bajakan. Meski demikian, bertahun-tahun pula saya harus menelan kekecewaan.
Data yang saya buat seringkali raib dan gagal terselamatkan lantaran tak sanggup menangkal serangan virus yang ganas dan mematikan. Memang windows menyediakan banyak antivirus, tetapi rata-rata harus membeli dengan harga yang lumayan mahal. Nah, dengan menggunakan open source, data yang kita miliki tak gampang dijebol virus. Dengan open source, saya bisa lebih enjoy dan merdeka.
Keempat, speed koneksi internet jauh lebih lancar dan cepat. Saya tak tahu pasti benar tidaknya tesis ini. Namun, berdasarkan pengalaman saya selama ini, dengan menggunakan media koneksi internet yang sama, open source memberikan kenyamanan dan speed koneksi yang jauh lebih baik ketimbang si jendela. Saya juga tidak tahu, bagaimana kesan teman-teman yang lain dalam soal koneksi internet ini. Yang jelas, suara batin saya mengatakan bahwa koneksi ubuntu jauh lebih cepat dan nyaman ketimbang saya menggunakan sistem operasi windows.
Kelima, perangkat lunak jauh lebih lengkap dan serba gratis. Dalam soal perangkat lunak, open source, termasuk ubuntu 10.04 yang saya gunakan, menyediakan software yang lebih lengkap. Yang menggembirakan, semua bisa didapat dengan cara gratis. Saya biasa menggunakan ubuntu software center untuk memburu perangkat lunak yang saya butuhkan. Hanya dengan mengetikkan kata kunci tertentu, open source menyediakan banyak pilihan yang bisa kita aplikasikan.
Itulah lima alasan sederhana, mengapa saya menjatuhkan pilihan pada sistem operasi open source dalam komputer saya. Dari sisi kuantitas, jumlah pengguna sistem operasi open source bisa jadi jauh lebih kecil ketimbang pengguna windows atau sistem operasi yang lain. Namun, saya punya keyakinan bahwa suatu ketika makin banyak pula pengguna komputer di negeri ini yang mulai melirik open source sebagai media komputer “mainstraim”. Pengembangan software open source yang serba dinamis, cepat, dan akomodatif terhadap perubahan, agaknya membuat para pengguna makin nyaman dan enjoy. Nah!
***





































Kalo bisa diusulkan ke pemerintah tu pak, gimana caranya supaya masyarakat memakai open sourch, tetapi diawalli dari pemerintahannya dulu.
Buat Sdr. jabon: hehe …. itu bagian dari pr para pengambil kebijakan, bos, hehe …. kalau saya yang usul pasti ndak akan pernah digubris, hiks.
Kelima alasan bapak sangat tepat saya sangat sependapat, sayangnya masyarakt kita sudah terlanjur keenakan pake windows.
Baca juga tulisan terbaru jabon berjudul Jabon dibutuhkan oleh Industri kayu Lapis
Buat Sdr. jabon: hmm …. memang butuh proses dan tahapan utk bisa beralih ke open source, bos, hehe …
tapi jujur saja pak, saya pake linux jadi tambah pekok je…
tambah kurang gaul juga…
*karena nggak tau virus baru dan anti virus terbaru dan hebat saat ini*
Baca juga tulisan terbaru ciwir berjudul Tahu Drive Thru
hehehe … itulah kelemahannya, mas santri. wakakaka …
wah, terima kasih banget tambahan infonya, mas dadang.
hehe …. perlu tahapan dan proses, mas didin. hehe ….
sepanjang pengalaman saya, softwarenya gratis, kok, tapi biasanya request dulu!