09Jun 2010 97 Comments3,186 pembaca
Kastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI
Baru-baru ini, Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen), Kemendiknas, Suyanto mengungkapkan, 18 sekolah berstatus Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dicabut izinnya karena dinilai tidak memenuhi persyaratan pendirian. Selain itu, ada indikasi terjadinya penurunan standar dan mutu pendidikan di sekolah-sekolah yang bersangkutan. Adapun 18 sekolah RSBI yang dicabut izinnya tersebut terdiri dari delapan SMP, delapan SMK dan dua SMA.
Berdasarkan catatan Kemendiknas, jumlah sekolah RSBI di Indonesia mencapai 1.110 sekolah (997 sekolah negeri dan 113 sekolah swasta). Dari jumlah tersebut, SD RSBI tercatat sebanyak 195 sekolah, SMP RSBI sebanyak 299 sekolah, SMA RSBI sebanyak 321 sekolah, dan SMK RSBI sebanyak 295 sekolah. Seperti diketahui pembentukan sekolah berstandar internasional (SBI) merupakan amanat Undang-Undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) yang mengatur agar setiap kabupaten/kota di Indonesia memiliki minimal satu sekolah bertaraf internasional untuk setiap jenjang pendidikan.
Berdasarkan amatan awam saya, bejibunnya jumlah sekolah berstatus RSBI cenderung lebih disebabkan oleh sikap latah untuk menaikkan gengsi dan marwah sekolah semata. Tidak sedikit pengambil kebijakan di tingkat internal sekolah yang kurang mempertimbangkan adanya kesiapan sumber daya manusia, fasilitas, sarana dan prasarana, atau kultur sekolah yang bersangkutan. Ibarat orang main bola, yang penting masuk lapangan dulu. Soal pemainnya siap atau tidak, lapangannya mendukung atau tidak, itu urusan belakangan. Mereka baru sadar setelah wasit meniup peluit bahwa ternyata banyak pemain yang tidak paham aturan permainan sepak bola.
Yang tak kalah menyedihkan, sekolah RSBI cenderung elitis dan ekslusif. Mereka mendapatkan perlakuan khusus dengan menerima jumlah subsidi block-grant yang tidak sedikit jumlahnya (sekitar Rp 300 juta-Rp 600 juta per tahun) sekaligus diberikan kebebasan untuk memungut biaya sekolah kepada orang tua/wali murid. Tak heran jika muncul kesan, sekolah RSBI hanya diperuntukkan bagi mereka yang berduwit. Perlakuan khusus dan istimewa tersebut bisa jadi tak banyak menimbulkan masalah jika dibarengi dengan peningkatan mutu pendidikan dan layanan yang memuaskan kepada para “pelanggan”. Namun, kenyataan menunjukkan situasi yang berbeda. Mutu pendidikan dinilai hanya “jalan di tempat”, mutu dan proses pembelajarannya berlangsung tanpa perubahan.
Secara eskternal, sekolah RSBI juga hanya menciptakan kastanisasi pendidikan yang memuncak pada munculnya sikap elitisme, khususnya di kalangan siswa didik. Mereka yang masuk ke sekolah RSBI cenderung memosisikan dirinya “serba lebih” di mata teman-teman sebayanya. Terjadi kesenjangan sosial yang begitu lebar antara siswa yang berada di sekolah RSBI dan sekolah reguler. Secara sosial, situasi semacam ini jelas sangat tidak menguntungkan dunia pendidikan kita yang harus melahirkan anak-anak masa depan yang memiliki kecerdasan, baik secara intelektual, spiritual, emosional, maupun sosial.
Secara imajiner, saya hanya bisa membayangkan, anak-anak yang bersekolah di RSBI berbiaya tinggi itu “dikarantina” di ruang kelas dan mendapatkan doktrin “globalisasi” lewat bahasa pengantar berlabel internasional. Sementara itu, nilai-nilai kearifan lokal yang langsung bersentuhan dengan akhlak dan keluhuran budi jarang lagi disentuh. Hmm …. semoga saja bayangan-bayangan semu yang mengapung dalam ruang imajiner saya itu tidak benar!
Evaluasi yang dilakukan oleh Kemendiknas terhadap sekolah-sekolah berstatus RSBI memang perlu dan urgen dilakukan untuk kepentingan pemetaan mutu pendidikan secara nasional. Namun, yang tidak kalah penting adalah evaluasi kebijakan secara filosofis dan mendasar untuk melihat secara jernih keberadaan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) sebagaimana diamanatkan oleh UU Sisdiknas itu. Kalau memang hanya menciptakan kastanisasi pendidikan dan sikap elitisme, lantas apa untungnya bagi kemajuan dan peningkatan mutu pendidikan kita? Bukankah pemerintah sendiri saat ini tengah mendesain sekolah murah yang diharapkan mampu mencerdaskan anak-anak bangsa dari semua kalangan? ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Kastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (9 June 2010 @ 23:40) pada kategori Edukasi, Opini, Refleksi dan telah dikunjungi oleh 3,186 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













May 18, 2011 @ 10:45:49
sulit sekali untuk berkoment tentang itu pak,, karena sekolah saya sendiri juga RSBI
(Rintisan Sekolah Bertarif Internasional) hehe,, :p
Jun 28, 2010 @ 11:55:43
Ikutan mbaca aja…. bingung mo kasih komentar apa :-?
Jul 01, 2010 @ 00:03:28
hehehe ….. memang ada kalanya keberadaan rsbi ndak perlu dikomentari lagi, mas, saking rumitnya, hiks.
Jun 27, 2010 @ 21:54:18
semakin kelihatan semenjak sekolah menerapkan program bertaraf int, padahal tarifnya doang yang int…
Jul 01, 2010 @ 00:00:33
itulah yang terjadi, mas, sehingga tepat sekali jika keberadaan rsbi dievaluasi.
Jun 27, 2010 @ 21:47:59
ini salah satu bukti kalo emang pendidikan kita masih perlu diperhatikan dengan baik…
Jun 30, 2010 @ 23:59:57
betul sekali, mas, dan ini sudah pasti menjadi tanggung jawab semua pihak.
Jun 27, 2010 @ 20:23:23
Betul sekali…ekslusif dan banyak kecurangan disana sini…ini pengalaman pribadi adik saya 2 tahun lewat yang ikut test kelas SBI disekolahnya tapi tidak lulus lantaran gagal di test Excel padahal test TIK yang lain jauh melebihi rekan-rekannya yang lain. Tapi jika dilihat memang dari penghasilan orang tua murid jauh gap-nya, keluarga kami termasuk keluarga menengah kebawah. Mungkin benar ada indikasi kecurangan dan minimnya kesiapan sekolah bersangkutan dalam menerapkan RSBI.
Jun 30, 2010 @ 23:59:29
itulah salah satu faktor yang menyebabkan mengapa keberadaan rsbi memang perlu dievaluasi agar bener2 bermanfaat utk meningkatkan mutu pendidikan kita.
Jun 19, 2010 @ 08:09:28
kalau menurut saya itu namanya komersialisasi pendidikan
Jun 23, 2010 @ 17:11:33
memang ada yang menafsirkannya seperti itu, mas ridwan. ada benarnya juga tuh, mas.
Jun 15, 2010 @ 11:30:22
seperti nyayang perlu di terapkan dalam masalah biaya sekolah adalah subsidi silang, dimana siswa yang berasal dari golongan membayar lebih besar dari siswa yang bisa…
Jun 18, 2010 @ 14:40:12
setuju, mas. sebenarnya ide itu sdh lama dilontarkan. sayangnya tidak terlaksana dengan baik.
Jun 14, 2010 @ 08:26:23
Saya mau marah…bingung sama siapa? sepertinya kurikulum pendidikan yang dibuat oleh ‘orang2 pintar’ di negeri ini masih belum menyentuh esensi permasalahan yang ada di negeri ini. Semuanya mau membuat lompatan tapi tidak mau melewati prosesnya sendiri. Saya setuju ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia dan memang untuk itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit? Sedangkan permasalahan utama bangsa ini adalah sebagian besar masyarakat Indonesia mengeluhkan biaya tinggi untuk menyekolahkan anak2nya….karena BIAYA!!! Lalu kemana program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah?….mudah2an aja opini saya dapat membantu orang2 yang mengatur kebijakan ttg pendidikan di Indonesia….
Jun 15, 2010 @ 05:00:41
itulah yang ironis di negeri ini, mas. pemerintah gencar mendesain sekolah murah, tapi di sini lain sekolah rsbi marak di mana2 dengan biaya yang mahal! bener2 repot!
Jun 14, 2010 @ 05:11:45
SBI dan segala macam istilahyang menyertainya.. semua dikembalikan pada nurani staff pengajar dan pihak kemendiknas, apakah kalian punya konsistensi.. semua ini akan mengarah pada daya saing anakbangsa yang kedepannya bila cetak biru pendidikan kita (selalu) salah urus dan salah kaprah – akan mengakibatkan Indonesia selalu dikerdilkan terus dalam kancah internasional yang sesungguhnya..
penting untuk kita semua benar2 beranjak dan menghindari komersialisasi pendidikan, terlepas dari istilah umum: “harga menentukan mutu” – ini tidak boleh terjadi di dunia pendidikan nasional.
Jun 15, 2010 @ 04:59:05
terima kasih tambahan informasi dan masukannya, mas pralangga. saya setuju banget itu!
Paket C setara SMA » Blog Archive » Kastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI » Catatan Sawali …
Jun 13, 2010 @ 16:26:38
[...] View post: Kastanisasi dan Elitisme di Balik Sekolah RSBI » Catatan Sawali … [...]
Jun 13, 2010 @ 13:59:41
Menurut saya, mau RSBI atau apapun itu yang terpenting bagaimana kita menyiapkan anak didik menjadi manusia yang punya daya juang di lapangan, Pak
Jun 15, 2010 @ 04:54:10
betul banget, mas don, idealnya memang demikian. rsbi atau sbi hanya sekadar label, kok.
Jun 13, 2010 @ 12:01:03
standar internasional
biaya standar lokal…
ini baru asyik..
>-
Jun 15, 2010 @ 04:52:00
hmm … kalau itu bisa terwujud, bagus juga, mas pradna.
Jun 13, 2010 @ 10:11:37
waaah pemaparan yang bagus sebagai masukan sekolah SBI..
berhubung sekolah tempat saya mengajar mulai memasuki tahap itu.
Sebagai guru masih hijau, saya hanya melihat dan mempelajari apa saja yang berlangsung disekolah sebagai pengetahuan dan bekal dimasa depan untuk menentukan tindakan yang bijaksana.
Jun 15, 2010 @ 04:51:34
hehe … sekadar menyampaikan unek2 saja, pak koes, haks.
Jun 12, 2010 @ 18:02:21
Tulisan yang bagus pak. Di kota kami juga sudah menjamur pak sekolah yang mengatasnamakan RSBI. termasuk madrasah kami, bukan RSBI tapi madrasah swasta yang mempunyai program ICP (internatinal class program. sama saja ya pak? hehehehe
Meskipun kami mempunyai program ICP, tapi Alhamdulillah bayangan bapak mengenai tidak disentuhnya nilai-nilai kearifan lokal tidak ada di madrasah kami pak. tradisi ngaji dan hafalan menjadi menu utama selain bahasa inggris sebagai pengantar. Justru yang paling menjadi permasalahan bagi kami adalah tidak adanya dukungan dari pemerintah. Selain karena madrasah kami berstatus swasta, lokasi kamipun berada di daerah pinggiran kota (daerah pedesaan yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani). Karena tidak adanya dukungan, untuk biaya ditanggung oleh anggaran BOS dan masyarakat. tetapi Alhamdulillah masyarakat tidak mempersalahkan biaya tersebut, karena selalu kami komunikasikan dengan masyarakat. perlu diketahui juga, siswa yang masuk pada pendaftaran kemarin banyak juga berasal dari kalangan menengah ke bawah.
semoga program ICP kami dapat berjalan baik sesuai harapan pendidikan dan masyarakat.
Jun 15, 2010 @ 04:32:10
wah, sekolah yang seperti ini yang pantas disaluti dan diacungi jempol, pak. rsbi bukan didesain lantaran latah dan ikut2an tapi benar2 muncul secara aspiratif dari bawah. salut!
Jun 12, 2010 @ 13:39:11
Informasi yang bermanfaat, semoga dapat dilanjutkan, pernah dengar
“Dlingo” silahkan main ke gubg saya http://margi-rekaos.blogspot.com
Jun 15, 2010 @ 04:26:22
yaps, terima kasih apresiasinya, mas koetot.
Jun 12, 2010 @ 10:29:22
RSBI memang untuk orang kaya :-” kenyataannya biaya untuk masuk kelas RSBI muahalnya engak kira-kira :d … Mana setiap siswa dibekali laptop … tambah saja bikin tidak terjangkau. padahal “isinya” sih engak beda sama sekolah lain (beda-beda tipis kurikulumnya). lha rata-rata gurunya juga bukan native speaker. ketahuan kalau mau pinter berbahasa inggris mah ikut LES ajah di LIA, ketahuan gurunya Native speaker :d …
Kalau mau Interasional-Internasional-an mending Ke Sekolah Gandhi Memorial School atau Jakarta IS bareng cinta lawrah
:d
>-
Jun 15, 2010 @ 04:18:02
betul sekali, mas gadget. jadi makin repot kalau RSBI jadi terkesan eksklusif, mahal, dan makin jauh dari sentuhan rakyat kecil.
Jun 12, 2010 @ 05:52:35
Saya sangat setuju pak dengan tulisan diatas. Kebanyakan sekolah yang berlabel RSBI sekarang ini terkesan eklusif yang hanya mempertaruhkan marwah agar terlihat bergengsi dimata masyarakat. Pun, biayanya benar2 mencekik sehingga hanya kalangan tertentu saja yang dapat menikmati. Tentu menjadi ironi bagi siswa yang sebenarnya jauh memiliki kepandaian yang rata2 tapi tak terakomodasi akibat berbagai faktor tsb
Jun 15, 2010 @ 04:11:25
itulah yang menjadi persoalan, mas ifan. jadi repot kalau rsbi didesain hanya sekadar untuk meningkatkan gengsi dan marwah sekolah semata.
Jun 11, 2010 @ 22:53:24
Terkhusus untuk jenjang SMP dan SD, adanya SBI, RSBI, SSN, dan RSSN, tak apa-apa selama pendanaan semuanya ditanggung oleh pemerintah. Sebab, akan bertentangan dengan program wajar 9 tahun andai saja orang tua tetap dibebani biaya pendidikan.
Yang lebih merepotkan adalah jika nanti pemerintah tak mau lagi menyokong dana untuk SBI/RSBI, yang pada akhirnya diarahkan untuk menjadi “SBI mandiri”: orang tua mengongkosi sendiri.
Salam kekerabatan.
Jun 15, 2010 @ 00:03:51
itu juga yang dikawatirkan, pak. kalau pemerintah menghentikan subsidi, pasti biaya rsbi/sbi jadi makin mahal.
Jun 11, 2010 @ 22:52:11
kesan yang saya tangkap dari sekolah RSBI sma: eksklusif, tak terjangkau siswa menengah bawah, harus mengeluarkan uang banyak, bisa menerima titipan, gengsi.
Jun 15, 2010 @ 00:03:08
memang seperti itulah gambaran umum yang bisa kita lihat seperti saat, ini, mamah aline.
Jun 11, 2010 @ 20:01:23
Best Blog:)>-
Jun 15, 2010 @ 00:02:24
terima kasih apresiasinya. jadi tersanjung, hehehe … blog biasa saja, kok, bos.
Jun 11, 2010 @ 17:07:02
selalu menyisakan problem ya pak. sistem pendidikan di negeri ini.. kapan kita bisa menjadi pinter kalau sekolah2 sekarang banyak yang bersikap eksklusif dan elitis… perlu terobosan yang benar2 hebat..
Jun 11, 2010 @ 19:45:59
benar sekali, mas moudy. dalam kondisi seperti itu memang perlu ada terobosan pendidikan yang kreatif dan visioner shg mampu melahirkan generasi masa depan yang hebat!
Jun 11, 2010 @ 15:12:10
Semoga sekolah RSBI bisa menghasilkan siswa sesuai dengan tujuannya pak
Jun 11, 2010 @ 19:45:00
amiiin, memang seperti itulah yang kita harapkan, pak.
Jun 11, 2010 @ 14:51:58
saya juga tidak begitu suka dengan sistem SBI…. ini dijadikan alasan yang kuat untuk menarik dana yang besar dari masyarakat… orang miskin nggak akan bisa sekolah SBI.
Maksud pemerintah baik tapi salah penerapan dan dicari keuntungan, bisa dibisniskan sekolahan nya..:((
Jun 11, 2010 @ 19:44:40
betul sekali, pak fidi. itulah yang dikhawatirkan banyak kalangan kalau rsbi hanya sekadar didesain berdasarkan sikap latah semata.
Jun 11, 2010 @ 10:13:50
yang biasa2 aja..kebanyakan orang berkembangnya setelah SMA..dalam menemukan jatidiri dan profesionalitas..tapi lingkungan juga perlu…
Jun 11, 2010 @ 19:43:18
saya kira benar, mas boyin. pengalaman dan lingkungan memiliki pengaruh besar terhadap profesionalisme seseorang.
Jun 11, 2010 @ 08:00:35
yang mahal tu mbayar ac, hotspot, dll.
bukan mbayar mutu pendidikan,,..
Jun 11, 2010 @ 19:42:09
hehehe … ada benarnya juga tuh, mas.
Jun 10, 2010 @ 19:55:03
saya sekolah di rsbi pakdhe, enaknya ya itu semua kelas ada ac, dan free hostpotan di area sekolahan, sampai di ruangan kelas saja bisa blogwalking kok
tapi untuyk biayanya sangat mahal dan persiswa diwajibkan mempunyai laptop
Jun 11, 2010 @ 19:41:37
wew…. bener2 mantab fasilitasnya, gus. semoga biaya yang mahal diimbangi dengan mutu pelayanan yang oke!
Jun 10, 2010 @ 17:18:03
ikut menyimak
Jun 11, 2010 @ 19:39:31
mangga, mbak juli, matur nuwun.
Jun 10, 2010 @ 17:07:37
awesome post…memang sekolah2 sekarang yang katanya berstandar internasional itu cuma untuk menaikan nama sekolah aja.padahal SDM dari pengajarnya,fasilitas dan prasarana sekolahnya gak sesuai dengan namanya yang internasional itu.
Jun 11, 2010 @ 19:39:17
betul sekali, mas ary. kalau memang berstandar nasional, idealnya semua perangkat dan sdm-nya mesti benar2 mampu memberikan pelayanan yang benar2 terstandar secara internasional. kalau hanya sekadar latah dan ikut2an, jadi makin repot.
Jun 10, 2010 @ 16:07:14
walaupun saya sekolah tidak di sekolah RSBI ataupun SBI, saya tetep bangga dan semangat kok, beruntunglah mereka yang masuk ke sekolah sekolah tersebut.
Jun 11, 2010 @ 19:37:49
harus dong, mas rifky. kebanggaan terhadap almamater harus terus ditumbuhkan. tetep semangat!
Jun 10, 2010 @ 15:33:09
kadang sekolah cuma ngejar status aja tanpa meduliin kualitas penunjangnya.[-(
Jun 11, 2010 @ 19:37:16
itulah yang ironis, mas, kalau dunia pendidikan kita lebih mementingkan status ketimbang mutu pelayanan.
Jun 10, 2010 @ 15:30:03
harusny urusin dulu ttg sekolah2 di tempat2 terpencil,karena banyak sekolah2 dsna yang keaadaanya sangat tdk layak pakai . .[-(
Jun 11, 2010 @ 19:36:26
setuju banget, bos, agar tdk terjadi kesenjangan yang terlalu melebar.
Jun 10, 2010 @ 14:58:29
Bingung meh komentar, mergane ndilalahe aku PJPne Pak…
Tapi aku yo rak ngerti, umpomo aku keliru, kelirune nggon ngendi.
Jun 11, 2010 @ 19:35:51
hehe … dalam konteks ini, saya kok yakin pak mar tdk keliru. pelaksana pendidikan akan sangat dipengaruhi bagaimana kebijakan2 para pengambil keputusan.
Jun 10, 2010 @ 13:20:53
bener sekali pak sawali..saya selalu berfikir agak beda, mungkin saya mengalami fase de-urbanisasi, sangking empetnya tinggal di kota dengan segala yang cenderung semu. Termasuk dengan standar2 ini. Kita orang Indonesia merasa sangat hebat kalo dibilang kerja di perusahaan asing, belajar di luar, sekolah menggunakan bahasa asing..dll..kenyataannya kita lupa dengan kearifan budaya kita yang justeru tinggi nilainya ketimbang asing2 itu. Saya tidak aprriori dengan asing sebenarnya, asing itu juga banyak positifnya, namun kita juga harus ingat dan sadar akan ciri budaya bangsa agar jangan ikut terkikis dan tergerus zaman…
Jun 11, 2010 @ 19:34:26
terima kasih tambahan infonya, dok. saya kira benar sekali, kita ndak perlu alergi terhadap nilai2 budaya global, tapi nilai2 yang berakar pada jatiditi keindonesiaan jangan sampai dilupakan.
Jun 10, 2010 @ 11:58:29
Di era globalisasi nilai2 profesi bergeser menjadi nilai2 industri. Seperti itu juga dunia pendidikan. Ya, keadaan ya mas
Terus berjuang mas Sawali, kami bangga kepadamu…
Jun 11, 2010 @ 19:32:46
saya kira pernyataan mas tengku sangat benar dan realistis. memang seperti itulah keadaan yang terjadi saat ini. terima kasih supportnya. mas.
Jun 10, 2010 @ 11:55:21
Judulnya serrem banget pak,
Tapi ya itu dia pak, disadari atau tidak kastanisasi dan elitisme telah terjadi saat RSBI di buka, yang lebih ironinya lagi yang membedakan atara sekolah berpredikat RSBI dengan predikat yang dibawahnya seperti SSN/RSSN hanya pada masalah penyampaian materi MIPA menggunakan bahasa Inggris dan ruangan belajarnya memakai AC, sementara outputnya … >>>>>>>>>???????>>>> sama aja pak.
Jun 11, 2010 @ 19:31:58
wah, malah makin repot kalau perbedaannya hanya sebatas pada ruangan belajarnya, pak abi, hehe …
Jun 10, 2010 @ 11:11:57
postingan yang bener2 mantap pak,mengungkap fakta tentang pendidikan
Jun 11, 2010 @ 19:31:06
walah, biasa saja, kok, mas. terima kasih apresiasinya.
Jun 10, 2010 @ 11:06:14
ya begitu jangan terlalu aneh aneh tuh rsbi apaan segala
download template bloger dan wordpress
Jun 11, 2010 @ 19:30:39
hehe … konon itu amanat UU sisdiknas yang harus dijalankan, mas.
Jun 10, 2010 @ 11:00:27
Kalau di Gorontalo baik sekolah RSBI dan SBI, ketika kami turun lapangan melakukan MONEV menemukan masih banyaknya kekurangan di sana sini, mulai dari fasilitas, gurunya, materi yang di ajarkan serta para peserta didiknya. Mungkin perlu di tingkatkan standar dan kualitasnya serta di perkatat predikat untuk mendapatkan sekolah RSBI dan SBI.
Jun 11, 2010 @ 19:30:08
semoga hasil monev-nya bisa menjadi bahan masukan utk perbaikan sekolah rsbi pada kurun waktu mendatang, mas marada.
Jun 10, 2010 @ 10:57:48
Wah, saya sebagai guru baru tahu ada yang namanya RSBI pak. Entah Kelas internasional yang ada di tempat ku mengajar bisa digolongkan sebagai RSBI ga ya pak !?
Jun 11, 2010 @ 19:29:19
wew…. kalau itu mungkin beda, mas guru. kalau sejak awal sudah di-desain sbg sekolah internasional tentu berbeda dengan sekolah yang berstatus rsbi itu, apalagi mas norland sendiri malah ndak tahu, keke ….
Jun 10, 2010 @ 10:35:27
bener-bener ironi ya mas….materi lebih di nomor satukan dari pada pendidikan…..huhhh,,,ampuuuunnnn…mau jadi apa nantinya para penerus bangsa kita ini nantinya…
Jun 11, 2010 @ 19:28:11
kalau menurut mas teras.info sendiri gimana alau kondisi sekolah seperti itu?
Jun 10, 2010 @ 09:51:12
di kota saya, SBI lebih berstandar pada finansial daripada kemampuan akademis… bahkan ada sekolah2 yg punya kelas khusus yg “katanya” bertaraf internasional, selain bisa mengakibatkan kesenjangan dalam satu sekolah… kenyataannya lulusan dari kelas internasional itu gak lebih baik dari kelas “kampung” , tapi yg pasti penghuni kelas2 internasional itu jelas kamu berduit…
Jun 11, 2010 @ 19:27:29
itulah yang dikhawatirkan banyak kalangan, mas firdaus. sekolah bayar mahal tapi belum diimbangi dengan mutu pelayanan yang bagus sesuai dengan standarnya.
Jun 10, 2010 @ 09:17:58
di indonesia baru 18 sekolah berstatus RSBI…wah sepertinya masih kurang tuh pak. ayoo..semuanya sekolah harus bertaraf international biar mutu pendidikan kita makin mantaff:d:d
Jun 11, 2010 @ 19:21:51
loh, jumlahnya keseluruhan kan sudah lebih dari 1000, mas ginting, hehehe … 18 rasbi itu kan yang kena semprit karena dianggap tdk memenuhi syarat.
Jun 10, 2010 @ 08:20:35
RSBI lebih tepatnya Sekolah Bertarif Internasional dari pada sekolah bertaraf (mutu) Internasional …sementara ada jutaan yang masih membutuhkan sarana dan perhatian …rasa keadilannya…
Jun 11, 2010 @ 19:19:03
saya kira benar sekali, pak bakhar. jadi makin repot kalau lebih mementingkan tarif ketimbang taraf. yang lebih repot, ternyata banyak juga anak2 yang minta didaftarkan ke sana, hehe ….
Jun 10, 2010 @ 08:14:56
ah betul sekali pak, banyak yang merengek supaya anaknya dimasukkan ke RSBI.. padahal anaknya ndak mampu.. kasihan sekali karena itu malah akan menghambat proses belajar..
saya kok lebih senang sekolah biasa2 aja, daripada timbul ketimpangan sosial baru..
Jun 11, 2010 @ 19:15:34
itulah yang terjadi, mas dion. kalau sudah masuk ke rsbi rata2 anak sekarang memiliki kebanggaan tersendiri, meski kemampuan mereka belum tentu jauh lebih baik ketimbang anak2 di sekolah reguler.
Jun 10, 2010 @ 02:39:56
nice post..:d/:d/
Jun 10, 2010 @ 01:02:37
apa mungkin nanti akan kembali seperti jaman kolonial ya pak ?
hanya anak -anak dari kaum berduit yang bisa sekolah. karena saya yakin jika sekolah yang bertaraf internasinoal pasti bayarnya mahal
Jun 11, 2010 @ 19:13:43
kalau kembali ke zaman kolonial rasanya ndak mungkin toh, mas, hehe … hanya sistemnya yang selama ini memang masih suka mencari-cari bentuk.
Jun 10, 2010 @ 00:48:32
Keberadaan RSBI semakin mengukuhkan bahwa hubungan antara sekolah dengan masyarakat tak ubahnya dengan hubungan antara pasar dan konsumen. siapa mampu membeli akan dialah yang mendapatkan. Esensi pendidikan (yang sesunggunya tidak hanya mentransfer ilmu) justru semakin terabaikan.
Jun 11, 2010 @ 19:12:44
betul sekali, bu bekti. mungkinkah ini imbas ketika UU BHP sempat diberlakukan sehingga membuka kemungkinan kaum pemilik modal utk masuk ke sekolah2?
Jun 10, 2010 @ 00:36:21
selamat malm pak guru .
saya sangat setuju sekali dengan kalimat bapak yang terakhir …Aklak dan budi pekerti jarang dan jarang lagi tersentuh dan sering melupakan adanya dasar dan sejarah yang harus di memgerti .
Jun 11, 2010 @ 19:11:42
selamat malam juga, mas hono. itulah yang terjadi. meski demikian, kita tetap berharap semoga ke depan menjadi lebih baik lagi.
Jun 10, 2010 @ 00:30:40
kakak saya juga sebagai penanggung jawab rsbi di smpn 1 pecangaan (jawa tengah juga to?), dia sering mengeluh bahwa teman sejawat banyak yang sekedar mengejar honor bukan mengejar mutu
kalau gini gak salah atasan menilai kinerja sekolah-sekolah yang jalan di tempat.
sekolah saya masih RSSSS (rintisan sekolah sangat susah sekali)
Jun 11, 2010 @ 19:10:50
hehe … sama dengan sekolah saya, kang bud. duh, ssn aja belum, kekeke ….
Jun 10, 2010 @ 00:28:25
Keberadaan SBI sungguh ironi…Aspek materi dinomorsatukan, namun mutu pendidikan dinomorduakan.:-w, Jangan heran kalau SBI ada yang memelesetkannya menjadi (sekolah bertarif internasional)……….
Seharusnya mutu dulu baru di kasih cap label, yang terjadi sekarang malah sebaliknya…. [-(
Jun 11, 2010 @ 19:10:15
seharusnya memang demikian, mas naufan. tapi kenyataan yang terjadi justru sebaliknya.