Home » Jampi Sayah » Tragedi Mavi Marmara dan Bangsa yang Teraniaya

Tragedi Mavi Marmara dan Bangsa yang Teraniaya

Serangan Israel terhadap kapal Mavi Marmara telah mengalirkan empati dunia. Demonstrasi muncul bertubi-tubi dari berbagai belahan dunia. Para demostran mengutuk ulah biadab tentara zionis yang dengan arogan memamerkan kekuatannya terhadap para relawan yang tidak bersenjata. Indonesia yang secara psikologis memiliki ikatan historis dan emosional dengan Palestina tak ketinggalan. Secara resmi, pemerintah telah menyampaikan surat kutukan ke DK PBB. Meski tindakan diplomatis Indonesia terkait dengan problem Palestina yang tak kunjung usai dinilai belum optimal, setidaknya Indonesia telah menunjukkan perannya sebagai negara pendukung kemerdekaan Palestina dari cengkeraman zionis Israel.

Dalam pandangan awam saya, tragedi Mavi Marmara tak lebih hanya gambaran kecemasan yang terlalu lebai dan paranoid dari Israel. Maklum, Israel sejak dulu memang dikenal sebagai bangsa yang sombong dan besar kepala. Mereka menganggap Palestina sebagai bagian dari negara “Israel Raya”. Semua perangkat infrastruktur dan suprastruktur dibangun untuk mendukung terwujudnya mimpi besar Israel. Generasi mudanya digembleng untuk menjadi bangsa yang sombong. Melalui lembaga pendidikan, anak-anak bangsa Israel di-indoktrinasi agar memiliki kebencian akut terhadap Palestina dari generasi ke generasi.

Maka, Israel pun berkembang mengikuti peradaban bangsa bar-bar. Secara bertahap, mereka menanamkan kader-kader Israel di berbagai pos ekonomi dan politik penting dunia. Posisi tawar mereka kian lama kian dahsyat. Kekuatan lobinya mampu meruntuhkan kebesaran Amerika yang dianggap sebagai “polisi dunia” pasca-runtuhnya Uni Sovyet. Tak heran jika negeri Paman Syam pun terkesan menerapkan standar ganda dalam penegakan konvensi Hak Asasi Manusia (HAM). Kaum elite Amrik selalu gembar-gembor dan selalu berdiri di garda depan dalam memperjuangkan nilai-nilai HAM. Namun, mereka langsung tiarap ketika Israel nyata-nyata melakukan kezaliman dan kebiadaban terhadap Palestina. Demikian juga ketika tentara Israel dengan pongahnya memombardir kapal Mavi Marmara yang tengah mengangkut relawan dan bantuan untuk warga sipil Palestina yang selama ini terisolir di Jalur Gaza. Dunia beramai-ramai mengutuk kanibalisme ala Israel itu, tetapi Amerika hanya bisa diam dan termangu.

Namun, sejarah tak akan pernah bisa dibohongi, meski dengan kekuatan senjata sekali pun. Sebagai bangsa yang teraniaya, Palestina akan terus mendapatkan empati dunia. Semakin dizalimi, Palestina kian mendapatkan “blessing in disguise”. Teruslah berjuang untuk menjadi bangsa yang bebas dan merdeka, saudara-saudaraku! Biarlah Israel menganggap dirinya sebagai “gajah bengkak” dengan kekuatan ngedap-edapi. Namun, yakinlah, jutaan semut yang mendukungmu pasti akan mampu menghancurkan kekuatan sang gajah bengkak yang zalim itu. Suatu ketika, Israel pasti akan menggali liang kubur kesombongannya sendiri! Yakinlah itu! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Tragedi Mavi Marmara dan Bangsa yang Teraniaya" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (2 Juni 2010 @ 11:34) pada kategori Jampi Sayah. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 60 komentar dalam “Tragedi Mavi Marmara dan Bangsa yang Teraniaya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *