Nilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini!

(Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila)

Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme sempit dan SARA di negeri multikultur ini seolah-olah telah menjadi budaya yang mengakar dan memfosil dalam ruang memori dan batin anak-anak bangsa. Aksi bakar-bakaran, perusakan, penganiayaan, dan berbagai perilaku vulgar lainnya seolah-olah sudah menjadi tontonan tragis dan menyayat di atas panggung kehidupan sosial masyarakat kita. Nyawa, darah, dan air mata, seolah-olah begitu gampang tergadaikan hanya untuk memuaskan naluri dan budaya agresivitas berdalih gengsi dan harga diri kelompok. Bangsa kita yang dulu dimuliakan dan diagung-agungkan sebagai bangsa yang ramah, santun, dan beradab, telah menjelma menjadi bangsa pemarah, pemfitnah, dan biadab.

PancasilaSudah tak ada lagikah ruang bagi ideologi dan pandangan hidup bangsa, Pancasila, bersemayam dan mengakar dalam relung kepribadian bangsa kita? Sudah demikian rendahkah penafsiran dan apresiasi kita terhadap nilai-nilai kearifan dan fatsoen kehidupan yang telah diwariskan oleh para “founding fathers” kita, hingga kita demikian gampang dibakar emosi dan amarah hanya oleh perkara-perkara sepele yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cara-cara yang damai dan bermartabat?

Kita memang tak perlu mencari siapa yang salah dan siapa yang benar ketika selubung kekerasan itu sudah demikian kuat menelikung keseharian kita. Kita juga tak perlu mencari kambing hitam, siapa sejatinya yang telah membuat dinamika 12 tahun reformasi mengalami stagnasi dan set-back. Kita juga tak pantas lagi berkeluh kesah, kenapa bangsa yang besar dan agung ini bukannya makin matang dan dewasa dalam menemukan makna kearifan hidup, tetapi justru kian tenggelam dalam perilaku konyol dan biadab. Namun, tak ada salahnya kalau kita bertanya-tanya, sudah hilangkah roh Pancasila itu dari tubuh negeri ini? ***

Tulisan lain yang berkaitan:

Hari Ibu dan Nasib TKW yang “Ternistakan” (Thursday, 22 December 2011, 812 pembaca, 46 respon) Hari ini, Kamis, 22 Desember 2011, seharusnya kaum perempuan di negeri ini terbebas dari segala macam bentuk kekerasan dan penindasan. Pada hari yang...
Menggelorakan Semangat “Historia Vitae Magistra” (Monday, 12 December 2011, 583 pembaca, 11 respon) Ada yang menarik dalam bedah Kumcer Nyanyian Penggali Kubur (NPK) karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) yang digelar Kebun Sastra Kendal di Balai...
Di Balik Kematian Muammar Khadafi (Friday, 21 October 2011, 1,949 pembaca, 32 respon) Apa respon dunia begitu mendengar kematian Muammar Khadafi? Ya, ya, selalu saja muncul dua sikap yang kontras; empati atau antipati, di balik...
Ada apa dengan Kandidat Intelektual Kita? (Saturday, 24 September 2011, 1,141 pembaca, 44 respon) Untuk ke sekian kalinya dunia pendidikan kita kembali tercoreng ulah kaum pelajar dan mahasiswa yang mempraktikkan aksi premanisme dan bar-bar. Para...
Pancasila dan Penataran P4: Sebuah Refleksi (Wednesday, 1 June 2011, 3,968 pembaca, 42 respon) Belakangan ini, nurani kita terperangah oleh maraknya berbagai aksi kekerasan masif di ruang-ruang publik yang hadir telanjang dan vulgar....
tentang blog iniTulisan berjudul "Nilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini!" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 June 2010 @ 03:22) pada kategori Budaya, Edukasi, Refleksi, Sosial dan telah dikunjungi oleh 5,238 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: