Rabu, 22 Oktober 2014

Tuesday, 1 June 2010 (03:22) | Opini | 24857 pembaca | 72 komentar

(Renungan dan refleksi mini di hari kelahiran Pancasila)

Kita sungguh sedih menyaksikan berbagai aksi brutal dan kanibal yang tak pernah berhenti menggoyang sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Perilaku kekerasan berbasiskan primordialisme sempit dan SARA di negeri multikultur ini seolah-olah telah menjadi budaya yang mengakar dan memfosil dalam ruang memori dan batin anak-anak bangsa. Aksi bakar-bakaran, perusakan, penganiayaan, dan berbagai perilaku vulgar lainnya seolah-olah sudah menjadi tontonan tragis dan menyayat di atas panggung kehidupan sosial masyarakat kita. Nyawa, darah, dan air mata, seolah-olah begitu gampang tergadaikan hanya untuk memuaskan naluri dan budaya agresivitas berdalih gengsi dan harga diri kelompok. Bangsa kita yang dulu dimuliakan dan diagung-agungkan sebagai bangsa yang ramah, santun, dan beradab, telah menjelma menjadi bangsa pemarah, pemfitnah, dan biadab.

PancasilaSudah tak ada lagikah ruang bagi ideologi dan pandangan hidup bangsa, Pancasila, bersemayam dan mengakar dalam relung kepribadian bangsa kita? Sudah demikian rendahkah penafsiran dan apresiasi kita terhadap nilai-nilai kearifan dan fatsoen kehidupan yang telah diwariskan oleh para “founding fathers” kita, hingga kita demikian gampang dibakar emosi dan amarah hanya oleh perkara-perkara sepele yang seharusnya bisa diselesaikan dengan cara-cara yang damai dan bermartabat?

Kita memang tak perlu mencari siapa yang salah dan siapa yang benar ketika selubung kekerasan itu sudah demikian kuat menelikung keseharian kita. Kita juga tak perlu mencari kambing hitam, siapa sejatinya yang telah membuat dinamika 12 tahun reformasi mengalami stagnasi dan set-back. Kita juga tak pantas lagi berkeluh kesah, kenapa bangsa yang besar dan agung ini bukannya makin matang dan dewasa dalam menemukan makna kearifan hidup, tetapi justru kian tenggelam dalam perilaku konyol dan biadab. Namun, tak ada salahnya kalau kita bertanya-tanya, sudah hilangkah roh Pancasila itu dari tubuh negeri ini? ***

Tulisan berjudul "Nilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini!" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (1 June 2010 @ 03:22) pada kategori Opini. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Tulisan lain yang berkaitan:

Ujian Nasional, Kurikulum Baru, dan Pendidikan Budi Pekerti (Monday, 30 December 2013, 253413 pembaca, 11 respon) (Refleksi Akhir Tahun 2013) Oleh: Sawali Tuhusetya Sepanjang 2013, Kurikulum Baru dan Ujian Nasional menjadi dua isu sentral dalam dunia...

Hari Ibu dan Nasib TKW yang “Ternistakan” (Thursday, 22 December 2011, 134512 pembaca, 47 respon) Hari ini, Kamis, 22 Desember 2011, seharusnya kaum perempuan di negeri ini terbebas dari segala macam bentuk kekerasan dan penindasan. Pada hari yang...

Menggelorakan Semangat “Historia Vitae Magistra” (Monday, 12 December 2011, 99480 pembaca, 12 respon) Ada yang menarik dalam bedah Kumcer Nyanyian Penggali Kubur (NPK) karya Gunawan Budi Susanto (Kang Putu) yang digelar Kebun Sastra Kendal di Balai...

Di Balik Kematian Muammar Khadafi (Friday, 21 October 2011, 101709 pembaca, 33 respon) Apa respon dunia begitu mendengar kematian Muammar Khadafi? Ya, ya, selalu saja muncul dua sikap yang kontras; empati atau antipati, di balik...

Ada apa dengan Kandidat Intelektual Kita? (Saturday, 24 September 2011, 80871 pembaca, 45 respon) Untuk ke sekian kalinya dunia pendidikan kita kembali tercoreng ulah kaum pelajar dan mahasiswa yang mempraktikkan aksi premanisme dan bar-bar. Para...

BAGIKAN TULISAN INI:
EMAIL
|FACEBOOK|TWITTER|GOOGLE+|LINKEDIN
FEED SUBSCRIBE|STUMBLEUPPON|DIGG|DELICIOUS
0 G+s
0 PIN
0 INs
RSSfacebooktwittergoogle+ pinterestlinkedinemail

Jika tertarik dengan tulisan di blog ini, silakan berlangganan
secara gratis melalui e-mail!

Daftarkan e-mail Anda:

72 komentar pada "Nilai-nilai Pancasila, Riwayatmu Kini!"

  1. hernawan says:

    Beginilah akibatnya … tidak suka orde baru, tidak senang soeharto, kok Pancasila malah diidentikan dengannya. Jangan mengamalkannya, menyebutkan kelimasila aja anak-anak sekolahan sekarang (anggota legislatif ga termasuk ngkali ya …) kesulitan lias belepotan.

  2. Nuraeni says:

    kita (orang” negara ini)
    sudah jauh dari nilai-nilai pancasilanya…
    apa yg terjadi ???

  3. yudi3d says:

    memang sekarang ini ruh Pancasila sudah hampir tidak terasa di sanubari jiwa-jiwa yang dilahirkan di negeri ini.. sudah saatnya kita menghidupkan kembali ruh pancasila…salah satunya dengan memberi dan berbagi….

  4. raden says:

    pancasila hanya jadi slogan….

  5. Nilai-nilai pancasila mulai luntur. Pendidikan hanya dianggap sebagai kewajiban yang tidak disertai tanggung jawab dalam merealisasikannya. Generai muda mulai meninggalkan makna yang terkandung dalam pancasila.

Leave a Reply