Home » Jampi Sayah » Dari Siskamling hingga Pak Susno

Dari Siskamling hingga Pak Susno

Malam ini, Kang Sukri kena giliran ronda. Bersama Lik Sukadi dan Kang Sandimin, dia –sesuai kesepakatan dalam rapat RT— harus mengambili jimpitan dan berjaga-jaga hingga lepas dini hari. Bagi Kang Sukri, ronda Siskamling bukanlah pekerjaan berat. Sambil wedangan, ngobrol, main catur, bahkan gaple pun jadi. Meski demikian, toh tak jarang yang mangkir dari kewajibannya. Boro-boro berjaga-jaga hingga lepas dini hari, mengambili jimpitan pun sering kali absen. Duwit 500-an perak masih sering ngendon di dalam cepuk hingga rombongan siskamling bertugas pada malam berikutnya.

poskamling“Itulah kenyataan hidup, Kang. Ndak perlulah itu dibahas panjang lebar. Yang penting, kita bisa rutin menjalankan kewajiban sesuai jadwal,” sahut Lik Sukadi sambil mengerutkan jidatnya. Kang Sukri terdiam.

“Lagian, siapa tahu suatu saat kita juga lupa. Kalau kita terlalu serius membahasnya, apa ndak sama saja Sampeyan meludah ke langit yang akhirnya malah kena ke wajah sendiri, hehe …,” seloroh Kang Sandimin sembari cengengesan.

“Hehehe … bener juga, ya? Baru inget kalau kita juga pernah absen! Bener, bener, hidup di tengah-tengah masyarakat memang kudu tepa slira, saling memaklumi, gitu, ya?” sahut Kang Supri seperti ada yang mengingatkannya.

Jam dinding di Poskamling tepat menunjuk angka 11. Kampung seperti tersekap dalam lorong kesunyian. Hanya sesekali terdengar deru kendaraan dari arah jalan raya sana. Untung saja ada siaran wayang kulit dari sebuah radio swasta yang sedari tadi mengalun rancak, hingga bisa membunuh kejenuhan dan kesepian. Sambil mendengarkan siaran wayang kulit, mereka bertiga mengobral pergunjingan ngalor-ngidul sekenanya.

“Sampeyan berdua mengikuti perkembangan kasus Pak Susno?” pancing Kang Sukri.

“Sedikit-sedikit, Kang. Memangnya kenapa? Apa Kang Sukri mau ikut-ikutan jadi pengamat hukum?” sahut Kang Sandimin.

“Bukan, hanya untuk bahan ngobrol aja, hehe … ketimbang sepi!”
“Yah, menurutku kasus Pak Susno makin tak jelas. Dia itu whistle blower, sang peniup peluit, yang pertama kali mengungkap maklar kasus korupsi dan mafia hukum di Ditjen Pajak dan Kepolisian. Akhirnya terbukti, apa yang diungkap Pak Susno bukan isapan jempol. Seharusnya dia itu dirangkul agar mau membuka semua jaringan mafia yang dia ketahui. Sebagai mantan Kabareskrim, dia pasti mengantongi banyak data yang melibatkan orang-orang penting,” sergah Lik Sukadi.

“Walah, komentar Sampeyan kok seperti pembela Pak Susno aja, hehe … Begitu getolnya membela Pak Susno,” sergah Kang Sukri.

“Bukan, itu hanya pandangan awam saya aja. Saya melihat, Pak Susno sengaja diincar dan dicari-cari kesalahannya. Luput dari kasus yang satu, dicari kasus yang lain dan yang lainnya lagi. Sing penting, Pak Susno harus tutup mulut. Banyak pihak yang khawatir, kalau Pak Susno dibiarkan terus menyanyi, pasti akan banyak orang penting yang kena. Karena itu, dia harus ditahan,” sergah Lik Sukadi. Kang Sandimin mengernyitkan jidatnya.

“Alaaah, itu kan penafsiran Sampeyan toh, Lik. Polri pasti punya alasan yang kuat kenapa Pak Susno mesti ditahan. Status dia kan sebagai tersangka. Tempat mana yang layak buat tersangka kalau bukan di tahanan, hmm …? Yang lucu, LPSK kok jadi ikut-ikutan turun tangan untuk melindunginya di “rumah aman”. Menurut keterangan para saksi, Pak Susno kan memang terlibat dalam kasus Arowana. Piye, jal? Biarlah hukum yang membuktikan. Dan langkah para pembela Pak Susno dengan mem-praperadilan-kan Polri kan sudah langkah bagus. Kita tunggu aja perkembangannya,” sergah Kang Sandimin sengit.

“Bukan semata-mata itu persoalannya, Kang. Kalau Pak Susno tetap ditahan, akhirnya banyak orang ndak punya nyali untuk menjadi saksi pelapor perkara korupsi kalau ujung-ujungnya justru malah jadi tersangka. Repot! Saya malah curiga, jangan-jangan Pak Susno sengaja diincar dan dikorbankan dengan berbagai macam cara untuk menyelamatkan orang-orang penting di balik jaringan mafia hukum terkait dengan masalah korupsi. Kalau memang benar, doh, sampai kiamat pun negeri ini tak akan pernah bisa melepaskan diri dari jeratan mafia hukum dan korupsi,” sahut Lik Sukadi tak kalah sengit.

“Eit, kalau ngomong hati-hati, lho, Lik! Omongan Sampeyan terlalu paranoid! Mereka orang yang paham hukum dan sudah menghitung-hitung risikonya. Lagian, Pak Susno itu kan jenderal bintang tiga. Jadi, ndak mungkinlah ditahan kalau memang ndak terbukti bersalah. Negara kita kan negara hukum. Jangan sampai menegakkan hukum dengan cara melanggar hukum! Itu kata kuncinya!”

“Nah, ini yang membuat saya makin ndak ngerti. Orang selalu ngomong seperti itu. Apa hukum itu harus melukai rasa keadilan masyarakat? Masak orang melapor malah dijadikan tersangka! Apalagi ditengarai belum ada bukti awal yang cukup untuk menjeratnya sebagai tersangka!”

“Walah, Sampeyan makin ngelantur! Kita sama-sama ndak tahu masalah hukum, kenapa bicara pethenthang-pethentheng seperti ini?”

“Karena Sampeyan yang ngeyel!”

“Wew … lha …”

“Eit! Debatnya ditunda dulu aja, ya?” seloroh Kang Sukri tiba-tiba. “Lihat, saya tadi melihat ada sosok bayangan yang mencurigakan dari arah sana!” lanjutnya sambil menunjuk ke pojok kampung.

“Siapa?” sahut Lik Suhadi.

“Mana saya tahu? Ayo, kita selidiki!” ajak Kang Sukri.

Dengan langkah serempak, mereka bertiga berjingkat meninggalkan gardu Poskamling menuju ke tempat yang ditunjuk Kang Sukri. Sampai di pojok kampung, mereka menyaksikan sosok bayangan yang berjalan lurus meninggalkan kampung menuju ke pematang sawah. Kang Sukri yang mengendap-endap paling depan, langsung menangkap sosok bayangan yang mencurigakan itu. Lik Sukadi dan Kang Sandimin bersiap-siap membuntutinya dari belakang.

“Siapa Sampeyan? Ayo, ikut kami ke gardu Poskamling!” teriak Kang Sukri. Aneh! Sosok bayangan yang tertangkap itu hanya terdiam dan mengikuti saja kehendak Kang Sukri tanpa melakukan perlawanan. Tiba-tiba lubang hidung Kang Sukri mendengus. Kepekaan daya penciumannya menangkap bau tak sedap dari tubuh sosok yang ditangkapnya. Sambil menahan napas, mereka bertiga terus menggelandang sosok mencurigakan itu menuju gardu Poskamling. Mereka bertiga tersentak setelah sosok bayangan itu tertimpa sinar lampu neon yang terang benderang di pojok kampung. Mulut sosok bayangan itu menyeringai memperlihatkan deretan giginya yang ompong.

“Hah! Tenyata Sampeyan toh? Dasar wong gendeng! Wong edan! Saya kira pencuri!” teriak Kang Sukri sambil melepas sosok mencurigakan itu. Lik Sukadi dan Kang Sandimin tertawa ngakak. Sosok yang ditangkap Kang Sukri ternyata Lik Suman yang memang sudah lama dikenal sebagai orang gila yang suka wira-wiri di kampung.

“Wakaka …. makanya jangan suka main tangkap, Kang, hehe … begini ini akibatnya!” seloroh Lik Sukadi sembari manahan tawa.

“Tuh lihat, buron Sampeyan malah ndak mau pergi!” sahut Kang Sandimin sembari melihat Lik Suman yang kumal dan dekil yang tak mau beranjak dari tempatnya.

“Tapi tunggu dulu! Dengan cara begini, debat Sampeyan kan terselesaikan dengan cara yang damai dan tanpa kekerasan, hihihihi ….,” sergah Kang Sukri tak mau kalah!

“Huh! Dasar!” teriak Lik Suhadi dan Kang Sandimin sambil mengacak-acak rambut Kang Sukri. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Dari Siskamling hingga Pak Susno" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (30 Mei 2010 @ 14:27) pada kategori Jampi Sayah. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 55 komentar dalam “Dari Siskamling hingga Pak Susno

  1. mana ada orang awam bisa menyelesaikan perkara yang sangat meresahkan ,hati rakyat makin getol berdoa demi keselamatan negeri ini.Kenyataan nanti yang akan meruntuhkan kejahatannya,kalau tidak diturunkan penyakit yang mematikan. amun

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *