Blog dan Jejaring Sosial sebagai Pilar ke-5 Demokrasi

Kemudahan akses internet, diakui atau tidak, telah membuat ranah teknologi virtual makin ramai dan meriah. Makin banyak orang yang “melek” teknologi. Jelas, ini merupakan pertanda baik di tengah situasi dan dinamika sosial-politik yang tengah “sakit”. Web, blog, dan juga jejaring sosial bisa menjadi “kekuatan alternatif” untuk melakukan tekanan dalam bentuk “parlemen online”, sehingga bisa ikut berkiprah membangun peradaban bangsa yang lebih terhormat, bermartabat, dan berbudaya. Meski demikian, blog dan jejaring sosial bisa juga terkena “limbah” kenaifan yang digelontorkan kaum oportunis dan para pemburu sensasi, yang dengan amat sadar memanfaatkan blog dan media sosial untuk kepentingan-kepentingan sempit dan sesaat. Isu-isu SARA yang rentan konflik tak jarang diangkat dan dijadikan sensasi publik.

Pilar DemokrasiBloggerfacebookerSebagai “rumah maya”, blog dan jejaring sosial bisa dimanfaatkan untuk menampung “kekayaan” virtual, menerima tamu, menjalin silaturahmi, membangun interaksi sosial, atau aktivitas-aktivitas lain yang berkaitan dengan entitas dan eksistensi kita sebagai makhluk sosial. Di sekitar rumah maya itu, kita hidup berdampingan dengan tetangga, sanak-kerabat, dan berbagai komunitas sosial yang lain layaknya dalam kehidupan nyata. Ini artinya, kehadiran blog dan jejaring sosial, se-personal apa pun, tetap memiliki ikatan sosial secara maya yang sulit menghindar dari gesekan dan pengaruh eksternal. Dalam kondisi seperti itu, tak heran apabila sebuah postingan, catatan, atau status yang di-update di blog atau jejaring sosial akan demikian cepat mendapatkan reaksi dan respon dari masyarakat maya. Dengan kata lain, blog dan jejaring sosial tak akan pernah terlahir dalam situasi yang kosong. Ia akan selalu dipengaruhi oleh selera, kepentingan, dan keyakinan sang pemilik, untuk selanjutnya direspon, disikapi, dan dikritisi oleh masyarakat maya dengan beragam penafsiran dan ekspresi.

Persoalannya sekarang, kalau blog dan jejaring sosial bisa dimanfaatkan untuk memberikan pencerahan kepada publik, kenapa mesti “melacurkan” diri dengan berbuat sensasional yang pasti akan mengundang risiko sosial yang fatal? Kenapa tidak dimanfaatkan untuk ikut berkiprah membangun dan “menyembuhkan” peradaban yang sakit dengan mengangkat persoalan-persoalan personal dan sosial yang bisa menyuburkan nilai-nilai demokrasi dan membawa kemaslahatan buat banyak orang?

Memang, tak seorang pun yang bisa mencegah kehendak seseorang dalam berekspresi. Mereka bisa memanfaatkan blog dan jejaring sosialnya untuk memublikasikan beragam genre tulisan yang sesuai dengan selera personalnya. Namun, fakta juga menunjukkan bahwa tulisan-tulisan yang cenderung hanya sekadar mengumbar sensasi dan popularitas tak akan berumur panjang. Mereka akan masuk dalam perangkap dunia maya yang tak segan-segan “dikritisi”, bahkan dihabisi masyarakat maya yang selama ini dikenal kritis dan cerdas. Dalam konteks demikian, saya sungguh salut dengan rekan-rekan bloger yang dengan amat sadar memosisikan diri sebagai pembaca sebelum postingannya dipublikasikan. Dengan posisi semacam itu, mereka bisa melakukan estimasi sosial dan mempertimbangkan kemungkinan respon yang akan terjadi seandainya tulisannya dipublikasikan.

Dalam konteks yang lebih luas, sejatinya blog dan jejaring sosial bisa diposisikan sebagai pilar ke-5 demokrasi setelah eksekutif, legislatif, yudikatif, dan pers. Berlebihankah? Saya kira tidak. Di tengah peradaban yang sakit seperti sekarang ini, pilar eksekutif, legislatif, dan yudikatif telah lumpuh dan mati suri. Mereka tak bisa lagi diandalkan untuk menjadi tiang penyangga yang mampu menumbuhkan nilai-nilai demokrasi yang elegan, jujur, ksatria, dan dewasa. Bahkan, tak sedikit kalangan yang menilai, pemerintah, wakil rakyat, dan institusi penegak hukum yang seharusnya menjadi anutan sosial dalam penegakan nilai-nilai demokrasi, tenggelam dalam euforia kekuasaan yang serba korup dan tak jujur. Satu-satunya pilar demokrasi yang dianggap masih memiliki taji adalah pers. Dibandingkan dengan eksekutif, legislatif, dan yudikatif, pers dinilai masih steril dari kepentingan politik dan mampu memerankan dirinya untuk terus mentransformasi diri sesuai dengan perkembangan dan tuntutan zaman.

Ketika tiga pilar demokrasi (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) dinilai sudah makin jauh dari “khittah”-nya, pers yang masih kuat memosisikan diri sebagai media “mainstraim” jelas perlu membangun kekuatan sinergis dengan pilar lainnya yang dianggap sama-sama memiliki peran sebagai kekuatan kontrol sosial. Blog dan jejaring sosial (facebook atau twitter) saya kira bisa dimaksimalkan untuk menjalankan fungsi sebagai pilar ke-5 demokrasi dan bisa bersinergi dengan pers untuk mengembangkan dan mengakarkan nilai-nilai demokrasi secara kritis, elegan, dan jujur dalam berekspresi. Fakta juga telah menunjukkan bahwa kekuatan blog dan jejaring sosial bisa memperkuat putaran bandul demokrasi di tengah-tengah situasi zaman yang makin korup dan amburadul. Dengan berbagai macam gaya dan genre, para bloger dan facebooker, misalnya, bisa menunjukkan sikap empati kepada pihak-pihak yang dianggap terzalimi, sehingga bisa memberikan tekanan dan kontrol sosial secara masif.

Meski demikian, peran-peran semacam itu kembali terpulang kepada para bloger dan penggiat dunia maya. Mampukah mereka berperan sebagai pilar ke-5 demokrasi dengan mengedepankan sikap kritis, jujur, dan steril dari kepentingan kekuasaan dalam menjalankan aktivitasnya di ranah dunia maya? Atau justru berkehendak untuk membuat sensasi dan memburu popularitas dengan mengangkat isu-isu sensitif berbasis SARA yang kurang menguntungkan buat kemaslahatan umat? Agaknya, waktulah yang akan menjawab hal itu. ***

Tulisan lain yang berkaitan:

Mengapresiasi Blog Special Notes (Sunday, 15 January 2012, 731 pembaca, 72 respon) Namanya –sebagaimana tertulis di sini— Dany Farid Habibi. Usianya baru genap 16 tahun pada tanggal 25 April 2012 nanti. Kini, masih berkutat...
Menulis adalah “Kebutuhan” Seorang Blogger (Tuesday, 13 December 2011, 762 pembaca, 35 respon) Awalnya hanyalah sebuah keisengan. Gagasan, pemikiran, ide, atau entah apa pun namanya yang sering menyesak di kepala saya butuh ruang dan media...
Testing Grade Speed Loading Blog di GTmetrix (Monday, 10 January 2011, 1,538 pembaca, 117 respon) Memiliki blog dengan speed loading yang kencang dan ringan merupakan dambaan setiap blogger. Dengan loading yang kencang, para pengunjung bisa betah...
Isu tentang Air Bersih dalam Blog Action Day 2010 (Tuesday, 12 October 2010, 1,636 pembaca, 69 respon) Beberapa hari yang lalu, saya mendapatkan email dari Tim Blog Action Day. Isinya mengabarkan bahwa pada hari Jumat, 15 Oktober 2010, akan...
Kehilangan Akun Google (Thursday, 16 September 2010, 1,309 pembaca, 71 respon) Menjelang berakhirnya Ramadhan yang lalu, saya kehilangan akun google. Akun sawali64[at]gmail[dot]com yang sudah menemani saya sejak tiga tahun yang...
tentang blog iniTulisan berjudul "Blog dan Jejaring Sosial sebagai Pilar ke-5 Demokrasi" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (28 May 2010 @ 20:23) pada kategori Budaya, Opini, Politik, Refleksi, Sosial dan telah dikunjungi oleh 2,165 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini: