Home » Wayang » Penafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna

Penafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna

Catatan Sawali Tuhusetya

Oleh: Sawali Tuhusetya

Dalam sebuah rapat kabinet yang gerah, wajah Rahwana memerah seperti kepiting rebus. Sorot matanya liar memerah saga. Tiupan angin yang lembut dari moncong AC yang dingin pun gagal menaklukkan hati penguasa Alengka yang tengah murka itu. Berulang-ulang kedua bola matanya jalang menatap tajam wajah Kumbakarna dan Wibisana, kedua adiknya yang dianggap telah berkhianat. Jika sudah begini, tak satu pun yang sanggup menatap wajah Rahwana. Semua wajah anggota kabinet, para juru bicara kepresidenan, bahkan juga para anggota Dewan Pertimbangan Presiden tampak tertunduk lesu menatap pantulan lantai keramik yang terasa seperti menusuk-nusuk biji mata.

“Hai, Wibisana! Sungguh tak tahu diri kamu! Bertahun-tahun hidup bergelimang kemewahan di negeri Alengka, bahkan Komite Pemberantasan Korupsi pun saya cegah untuk mengusut kasus korupsi yang telah kamu lakukan bersama kroni-kronimu, eh, giliran saya yang mau hidup bersenang-senang dengan Shinta, kamu malah membelot! Sungguh tak pantas kalau kamu masih tinggal di negeri yang besar dan megah ini! Saat ini juga, kamu minggaaat!” bentak Rahwana dengan nada suara menggelegar. Para pejabat yang hadir seperti tersengat lebah. Blingsatan. Namun, mereka tak sanggup berbuat apa-apa.

“Baik! Saya pergi, tapi jangan salahkan saya kalau Alengka akan mengalami kehancuran!” sahut Wibisana sambil membuang muka, lantas berkelebat cepat meninggalkan ruang sidang kabinet!

“Pergiiii!” sahut Rahwana dengan gigi gemeletuk.

“Dan kau, Kumbakarna! Sama juga dengan Wibisana, kerjaan kau selama ini hanya makan dan tidur saja! Tapi, aku sangat memakluminya! Tubuh kau yang besar memang butuh makan yang banyak. Sungguh beruntung kau tinggal di Alengka yang kaya raya! Tapi apa peduli kau terhadapku, hmmm … ? Bukannya mendukung, tapi malah menelikung dari ….” Belum sempat Rahwana menuntaskan amarahnya, tiba-tiba saja Kumbakarna mengorek-ngorek isi perutnya, lantas memuntahkan apa yang tersisa di dalam lumbung perutnya yang besar tepat di depan mata Rahwana. Semua peserta sidang tersentak sambil menutup hidung. Mereka tak pernah menduga kalau punggawa Alengka yang disegani itu bakal berlaku jorok seperti itu.

“Edaaan! Gendeng! Seperti inikah perilaku seorang punggawa, muntah seenaknya di depan junjungannya? Benar-benar sinting! Sungguh tak punya budi! Mana baktimu pada negeri ini, hai, Kumbakarna?” teriak Rahwana lantang dalam suasana balutan emosi yang berlebihan. Kumbakarna tak menjawab. Tanpa pamit, Kumbakarna dengan langkah berdebam meninggalkan ruang sidang tanpa satu pun pengawal yang membuntutinya.
***

Keinginan Rahwana untuk mempersunting Shinta, istri Rama, sudah tak bisa dibendung. Hampir setiap malam, penguasa Alengka itu mengigau; memikirkan Shinta yang tak pernah mau sedikit pun membagi cinta dan perasaan di lorong hatinya. Semakin dibujuk dan dirayu, Shinta justru makin memberontak dan melawan. Trijatha yang diharapkan bisa diandalkan untuk membujuk Shinta di Taman Argasoka pun malah bersekongkol, bahkan diam-diam menaruh hati pada Hanuman yang jelas-jelas menjadi musuh yang nyata bagi Alengka. Rahwana benar-benar kehabisan akal menghadapi keangkuhan Shinta. Meski demikian, secara diam-diam Rahwana makin mengagumi kesetiaan Shinta kepada Rama, suaminya. Dengan cara apa pun, agaknya Shinta tak gampang ditaklukkan. Kesetiaan dan cintanya hanya untuk Ramawijaya. Namun, justru karena itu pula Rahwana makin tertantang untuk bisa memilikinya dengan cara apa pun.

Sementara itu, Kumbakarna yang tengah mengungsi di tempat yang jauh dari istana, mendadak geragapan. Dia melihat pasukan Ramawijaya yang dipimpin Hanuman sedang bergerak menuju istana Alengka. Kumbakarna terus mengawasi gerak-gerik pasukan kera itu sambil terus berpikir untuk mengambil sikap yang tepat. Berkali-kali, punggawa Alengka bertubuh raksasa itu menarik napas. Dia paham, keinginan kakaknya, Rahwana, yang ingin memperistri Shinta, jelas salah dan tidak dapat dibenarkan dengan dalih apa pun. Cara-cara yang dilakukan oleh kakaknya dengan menculik Shinta dari tangan suaminya, Ramawijaya, juga tergolong perbuatan tercela yang bisa menyeret dia ke penjara Mahkamah Internasional. Dari sisi ini, Kumbakarna jelas tak akan pernah membela kakaknya yang berperilaku culas dan busuk itu.

Meski demikian, Kumbakarna juga tak rela negeri yang telah membesarkan dan menghidupinya di-invasi dari luar. Apa pun alasannya, dia harus mempertahankan tanah, tempat darahnya tumpah saat dilahirkan, dari serangan musuh. Kumbakarna harus memberikan perlawanan terhadap pihak luar yang hendak mencederai negerinya. Dia sungguh tak rela sejengkal tanah pun diinjak-injak oleh musuh yang akan menodai kehormatan dan martabat bangsanya.

“Rahwana memang busuk dan bejat! Tapi, sungguh, aku tak rela kalau negeri yang aku cintai diserang dan dikuasai musuh! Aku harus mempertahankan bangsa dan negeri Alengka hingga titik darah yang terakhir! Kalau toh aku mati, kematianku bukan untuk membela kebejatan, kelicikan, dan kejahatan kakakku, melainkan untuk membela kehormatan, kemuliaan, dan martabat bangsaku!” kata Kumbakarna pada dirinya sendiri.

Syahdan, begitu pasukan Kera yang dikomandani Hanuman itu makin merangsek ke pusat negeri Alengka, Kumbakarna dengan garang menghadangnya.

“Hai, hai, Hanuman, sungguh tak pantas, kau, datang ke negeri seberang, membawa-bawa pasukan segala! Huh, dasar kurang kerjaan, seperti mau perang saja!” hadang Kumbakarna sembari melintir cambang lebatnya.

“Hai, hai, Sang Kumbakarna yang terhormat, jangan seperti kura-kura dalam perahu begitu, dong! Kami memang mau perang untuk memberi pelajaran buat Rahwana yang terkutuk itu!” sahut Hanuman berkacak pinggang.

“Aduh, taruhlah Rahwana itu busuk, jahat, atau apalah! Tapi jangan salahkan aku kalau aku mesti bertindak tegas kepada siapa saja yang berani menginjak-injak tanah Alengka! Kau dan pasukan monyetmu itu mesti berhadapan dengan aku, paham?”

“Tidak, Sang Kumbakarna! Aku bukan memerangi Alengka, melainkan memberi pelajaran buat si Rahwanamu itu agar tidak sewenang-wenang mengumbar kekuasaan demi memuaskan nafsu bejatnya!”

“Apa pun alasan kau, sudah cukup buatku untuk mengambil tindakan tegas!”

“Maksud Sang Kumbakarna?”

“Lihat saja!”

Dor! Terdengar ledakan pistol. Sebuah timah panas dengan cepat menembus kepala salah satu prajurit kera. Hanuman tersentak. Dia tak menduga kalau Kumbakarna benar-benar akan berbuat nekad dengan menghabisi nyawa salah satu anak buahnya. Demikian juga Laksmana. Ksatria kepercayaan Ramawijaya itu benar-benar berang. Dengan gerakan lincah, cepat, dan terlatih, Laksmana segera melolos senjata ampuhnya, Naracabala. Dia bidikkan senjata sakti itu tepat mengenai kedua lengan Kumbakarna hingga buntung. Belum puas membuntungi kedua lengan Kumbakarna, Laksmana dengan jitu membidikkan senjata saktinya ke kaki Kumbakarna. Tak ayal lagi, raksasa itu pun roboh seketika. Tubuhnya berdebam mencium tanah.

Belum puas menyaksikan kedua lengan dan kaki Kumbakarna buntung, pasukan kera beramai-ramai mengeroyoknya. Tubuh Kumbakarna babak-belur, lantas mereka beramai-ramai menggotong tubuh raksasa itu menuju alun-alun istana Alengka. Rahwana tersentak ketika menyaksikan tubuh Kumbakarna, adiknya, yang selama ini telah disia-siakan, telah terbujur kaku dalam keadaan mengenaskan. Tubuhnya nyaris sudah tak berbentuk. Wajahnya pun sulit dikenali. Rahwana benar-benar tak menduga kalau adiknya itu berani mempertaruhkan nyawanya demi membela kehormatan dan martabat negeri Alengka.

Rahwana murka. Dengan sekali komando, dia perintahkan segenap prajurit Alengka untuk segera mengenyahkan Hanuman, Laksmana, dan ribuan prajurit kera dari bumi Alengka. Maka, terjadilah perang dahsyat. Di sana-sini terdengar ledakan dan letusan senjata api, memorak-porandakan seisi kota. Sesekali terdengar suara jerit histeris perempuan dan anak-anak. Alengka pun membara. Beberapa gedung dan kantor pemerintah terbakar. Kobaran api dengan cepat menjilat-jilat hingga ke pintu langit.

Namun, nasi telah menjadi bubur. Perang agaknya sudah makin tak terkendali. Di bawah komando Laksmana, ribuan pasukan kera yang militan dan terlatih berhasil menghancurkan prajurit Alengka yang sudah terninabobokan oleh uang dan kekuasaan, hingga tak ingat lagi bagaimana cara berperang yang sesungguhnya. Sementara itu, sambil mengendap-endap, Hanuman berkelebat menuju Taman Argasoka untuk membebaskan Shinta dari cengkeraman Rahwana. *** (Tancep kayon)

tentang blog iniTulisan berjudul "Penafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (22 Mei 2010 @ 02:24) pada kategori Wayang. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 107 komentar dalam “Penafsiran Nasionalisme ala Kumbakarna

  1. aya merasa iba kepada rahwana, karena telah mengusir adiknya dan ternyata adiknya sangat mencintai negaranya, pasti punya beban pikiran, perasaan, dan penyesalan di hatinya…

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *