Home » Blog » Budaya » Pendidikan » Dari Banjarnegara ke Donohudan: Sebuah Refleksi Pendidikan dan Budaya

Dari Banjarnegara ke Donohudan: Sebuah Refleksi Pendidikan dan Budaya

Selama hampir sepekan ini, aktivitas ngeblog saya agak tersendat. Terhitung mulai 12-16 Mei 2010, saya sedang “melancong” dari Banjarnegara ke Donohudan, Boyolali. 12-13 Mei, saya didaulat untuk mendampingi rekan-rekan sejawat yang tergabung dalam Forum Komunikasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (FKMGMP) Banjarnegara untuk membuat blog. Usai kegiatan di Banjarnegara, langsung meluncur ke Donohudan, Boyolali, untuk menjadi juri Lomba Cipta Cerpen bermuatan kearifan lokal dalam event Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) SMP tingkat Jawa Tengah. Saya mohon maaf apabila “update” blog ini terkena imbasnya. Blogwalking pun tidak bisa saya lakukan secara intens. *halah, sok sibuk, hihihi … *

Ya, ya, di Banjarnegara, setidaknya ada sekitar 75 rekan sejawat dari 11 MGMP yang mengikuti pelatihan pembuatan blog yang dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan dan didampingi oleh Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kab. Banjarnegara itu. Meski agak tersendat lantaran tiga titik hotspot yang disediakan pihak Telkomsel tiba-tiba jebol di hari kedua, pelatihan bisa dibilang lancar. Rekan-rekan sejawat yang diikutkan dalam pelatihan ini memang pengurus harian MGMP yang rata-rata sudah “melek teknologi”, sehingga persoalan-persoalan teknis yang berkaitan dengan pembuatan blog tak banyak mengalami kendala.

pelatihan blog
pelatihan blog
pelatihan blog
pelatihan blog
FLS2N
FLS2N
Suasana ketika pelatihan pembuatan blog dan FLS2N berlangsung

Membuat blog memang mudah, semudah orang membuat akun E-mail. Hanya tinggal mengisi form yang disediakan, sign-up, next, next, konfirmasi, yes, akun blog pun sudah jadi. Setelah log in, hanya tinggal memunculkan fitur-fitur –kebetulan yang digunakan engine wordpress.com—yang ada di dasbor sehingga bisa tampil maksimal di blog. Berikut ini adalah beberapa alamat url blog ber-engine wordpress yang dibuat oleh rekan-rekan sejawat di Banjarnegara.

  1. Aminnur
  2. Ayuwidhi
  3. Udroso
  4. MGMP IPA
  5. Julius Suratman
  6. Sunardi
  7. Tuti
  8. Ali Masruri
  9. Emma Wardani
  10. Susilo
  11. Zaenuri Ngakhidin
  12. Harun ar Rosid
  13. Nurfuad
  14. Romalia
  15. Teguh Riyanto
  16. Tini

Memang belum optimal. Tampilannya belum se-keren blog yang sudah lama eksis di dunia virtual. Content-nya juga belum ter-update secara rutin. Tidak masalah. Mengelola blog memang membutuhkan intensitas dan kerutinan untuk terus berlatih, berteman, dan blogwalking agar postingan yang tampil di home-page tak hanya “Hello World” melulu, hihihihi ….. Itulah proses dan dinamika yang mesti dilalui jika ingin menjadi blogger yang “istikomah”, hehe ….

Meski demikian, upaya yang dilakukan oleh FKMGMP Banjarnegara layak diapresiasi dan diacungi jempol. Secara mandiri, mereka sudah maju selangkah untuk mengakrabkan rekan-rekan sejawat pada ranah “Guru Go-Blog” sehingga diharapkan bisa membuat dinamika dunia pendidikan di Banjarnegara lebih eksis dan berdaya.
***

Lantas, bagaimana tentang lomba Cipta Cerpen untuk siswa SMP se-Jawa Tengah yang berlangsung di Donohudan, Boyolali, pada 14-16 Mei 2010? Ya, ya, ya, tema lomba yang diangkat adalah cerpen bermuatan lokal yang berkisar pada kehidupan bermasyarakat yang mengungkapkan dan mempercakapkan nilai-nilai kehidupan tradisional (muatan lokal), seperti mitologi, legenda, fabel, kepercayaan, serta adat-istiadat daerah/etnik setempat dengan “sentuhan baru” atau teknik penyajian yang khas. Tema ini cukup menarik dan menantang di tengah tantangan budaya global yang dinilai mulai menggerus nilai-nilai kearifan lokal. Melalui tema ini, disadari atau tidak, para peserta berupaya untuk menampilkan “warna-warna lokal” yang khas dan eksotis, sehingga diharapkan bisa memperkaya nilai-nilai budaya nasional yang multikultur dan multietnik. Tema dan subtema, serta ketentuan teknis pun kami sampaikan kepada para peserta dan guru pembimbing pada saat temu teknik yang berlangsung 14 Mei 2010 pukul 20.00 WIB.

Setidaknya, ada dua catatan menarik berkaitan dengan event lomba bergengsi itu. Pertama, dari sisi kuantitas, belum semua kabupaten/kota se-Jawa Tengah mengirimkan wakilnya. Dari 35 kabupaten/kota, baru 28 daerah yang mengirimkan wakilnya. Mungkin benar, jumlah tak memiliki pengaruh signifikans terhadap mutu karya siswa. Namun, dari sisi kekayaan nilai kearifan lokal, makin banyak daerah yang mengirimkan wakilnya, jelas akan makin memperkaya khazanah budaya lokal yang diangkat ke dalam sebuah teks fiksi, sehingga “warna lokal” Jawa Tengah makin kuat dan ekspresif.

Kedua, dari sisi kualitas, masih ada beberapa kelemahan mendasar yang dilakukan oleh sebagian besar peserta, yakni masih kuatnya intervensi guru pembimbing dalam cerpen peserta, hanya sekadar mengalihkan cerita-cerita rakyat bermuatan lokal ke dalam sebuah teks, dan kreativitas peserta yang “liar” dan “mencengangkan” belum sepenuhnya tergarap. Artinya, teks-teks cerpen yang mereka buat kurang ada sentuhan kreativitas dalam penggarapan cerpen yang khas dan kontekstual.

Sebagai event lomba yang berupaya untuk menjaring siswa SMP yang akan mewakili Jawa Tengah ke jenjang nasional, potensi dan talenta peserta jelas menjadi kriteria utama. Sebagus apa pun karya cerpen peserta secara tekstual, belum tentu layak menjadi kandidat juara apabila intervensi guru pembimbing terlalu kuat. Hal itu tampak jelas ketika juri menentukan sub-tema “legenda” pada babak I. Sebagian besar peserta justru menampilkan tema di luar ketentuan dewan juri. Agaknya, mereka sangat terpengaruh oleh desain dan skenario cerita yang sudah dipersiapkan secara matang dari rumah, sehingga mereka tidak leluasa “berimprovisasi” dan mengembangkan imajinasi ke dalam teks cerpen. Walhasil, cerpen-cerpen lomba yang berada di luar subtema, secara substansial sudah dinyatakan gugur, sehingga tidak bisa masuk sebagai 10 cerpen terbaik yang dinominasikan untuk mengikuti lomba babak II.

Pada babak II, tiga juri: Pak Sarono (Purworejo), Dimas Jimat Kalimasadha (Kudus), dan saya sendiri (Kendal), sepakat untuk menentukan subtema baru, yakni mitologi yang berkaitan dengan kepahlawanan lokal kepada para peserta yang karyanya terpilih sebagai 10 karya terbaik pada babak I. Para peserta diberikan kesempatan untuk menulis cerpen selama 120 menit sesuai subtema yang ditentukan. Meski bukan sebagai salah satu kriteria penilaian, kami sepakat untuk mempertajam unsur penilaian dengan melakukan wawancara kepada para nominator pasca-penilaian teks cerpen. Wawancara ini semata-mata dilakukan untuk menggali tingkat kreativitas dan orisinalitas karya siswa. Kombinasi antara teks cerpen dan wawancara itulah yang kami jadikan sebagai dasar untuk menentukan siapa yang layak mewakili Jawa Tengah ke jenjang nasional. Sayangnya, dewan juri tidak tahu identitas setiap peserta karena hanya mencantumkan nomor peserta ke dalam teks cerpen, sehingga kami tidak tahu peserta dari sekolah dan daerah mana saja yang menjadi Juara I, II, III, harapan I, harapan II, dan harapan III.

Terlepas dari berbagai kekurangan yang ada di sana-sini, para peserta di bawah gemblengan guru pembimbing masing-masing sudah memberikan karya terbaik untuk mewakili daerahnya. Kiprah mereka layak diapresiasi dan diberikan catatan tersendiri. Soal kalah atau menang bukanlah yang utama, karena memang seperti itulah “hukum” yang berlaku dalam sebuah lomba. Yang penting, bagaimana menjadikan pengalaman berharga dalam event lomba itu untuk memacu diri agar bisa terus berkarya dan berkreavititas. Nah, salam budaya dan salam kreatif! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Dari Banjarnegara ke Donohudan: Sebuah Refleksi Pendidikan dan Budaya" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (20 Mei 2010 @ 17:06) pada kategori Blog, Budaya, Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 34 komentar dalam “Dari Banjarnegara ke Donohudan: Sebuah Refleksi Pendidikan dan Budaya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *