14May 2010 56 Comments1,726 pembaca
Kesaksian Maria Utami: antara “Pemberontakan” dan Beban Estetika
Sungguh berbahagia ketika saya didaulat untuk menulis kata pengantar antologi puisi karya Maria Utami ini. Kebahagiaan saya disebabkan dua hal. Pertama, sang penyair adalah seorang guru. Di tengah rutinitas yang menumpuk, seorang guru yang masih menyempatkan diri untuk berproses kreatif layak diberi catatan dan apresiasi tersendiri. Setidaknya, guru semacam ini sudah mampu keluar dari kungkungan rutinitas yang membelenggu. Ia juga sudah berupaya untuk menjadi guru inspiratif yang wilayah kerja dan kreativitasnya tak semata-mata dibatasi empat dinding ruang kelas. Di depan murid-muridnya, Maria Utami yang kebetulan seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah SMP, pasti bisa bercerita bagaimana ia berproses kreatif dalam melahirkan teks-teks puisi ciptaannya. Dalam situasi seperti itu, para murid setidaknya akan terinspirasi untuk mengikuti jejak sang guru.
Kedua, teks-teks puisi yang lahir dari tangan Maria Utami mengandung idiom-idiom kejujuran dan kebersahajaan ekspresi. Ia bisa bertutur apa saja melalui gaya ungkap yang bersahaja; tak terbebani oleh sikap kenes untuk bermain-main dengan nilai-nilai stilistika yang acapkali justru menjadi beban kebanyakan penyair ketika berproses kreatif. Melalui kejujuran dan kebersahajaan berekspresi semacam itu, sang penyair bisa lebih eksis dalam melahirkan karya-karya puisi; terus mengalir; tanpa harus digelisahkan oleh beban-beban estetik.
Ya, ya, ya, nama Maria Utami, memang lebih dikenal sebagai seorang guru ketimbang penyair. Namun, justru lantaran berprofesi sebagai seorang guru, karya-karyanya jadi menarik dicermati. Ia tak terlalu banyak mengobral kata-kata bombastis, apalagi menggunakan metafora-metafora yang gelap dan njlimet. Ia bisa bertutur tentang persoalan apa saja melalui diksi yang sederhana, tetapi tertata dengan apik; tanpa harus terjebak dalam sikap cengeng dan sentimentil. Rutinitas kesehariannya yang berkutat dengan ranah pendidikan, agaknya membuat Maria Utami tak bisa sepenuhnya menanggalkan warna profesinya itu ke dalam teks-teks puisinya. Teks-teks sastra ciptaannya bisa menjadi potret kiprah sang penyair dalam menjelajahi sudut-sudut kehidupan dengan segala pernak-perniknya.
***
Puisi-puisi yang terkumpul dalam antologi ini, jika ditinting seluruhnya, menampakkan adanya suasana “pemberontakan” yang khas, unik, dan eksotis. Sebagai penyair yang bergulat dengan dunia pendidikan, Maria Utami agaknya tak bisa diam dan membiarkan suasana gerah yang sarat anomali itu terus berlangsung. Atmosfer perubahan yang tengah terjadi di tengah-tengah panggung sosial, dibidik secara cerdas lewat kesaksian-kesaksian telanjangnya, untuk kemudian diendapkan dalam labirin batin dan jiwa yang sarat dengan suasana kontemplatif dan reflektif. Hasil pengendapan dan sublimasi itu selanjutnya diekspresikan melalui bahasa yang jujur dan sederhana ke dalam sebuah genre puisi kontemporer yang diyakini sang penyair bisa menjadi corong ekspresi terhadap geliat batinnya yang sedang “marah” dan “memberontak”.
Simak saja “Gadis Kecilku”, “Sebentar Tuhan”, “Di Samping Makam Itu”, “Sia-sia”, “Nyanyian Koruptor”, “Januari Ini”, atau “Apa Gunanya?”! Suasana “marah” dan “memberontak” cukup kuat terpancar dari balik rentetan kata-kata yang meluncur dari mulut batin dan jiwa sang penyair.
Dalam “Gadis Kecilku” si aku lirik memotret nasib anomali yang dialami anak-anak generasi seusia siswa SMP yang lebih mengakrabi VCD porno atau kondom ketimbang suntuk mempelajari Matematika, Bahasa Indonesia, atau IPA, seperti dalam larik: /Aku temukan CD porno/dan kondom rasa stroberi yang iklannya bersliweran di televisi// Menghadapi situasi seperti itu, suara sang guru yang muncul dari geliat batin sang penyair, tak henti-hentinya „memberontak“: //Nak …/Apa yang salah denganku sebagai orangtua?Rasanya aku sudah mendidikmu dengan benar/Masalah agama, sudah kudatangkan ustad untuk/memberimu pengetahuan agama/Masalah pelajaran, sudah kudatangkan guru privat/yang datang dua kali seminggu/Masalah uang kukira kau juga tidak kekurangan/Aku cukupi apa kebutuhanmu untuk buku, hape, pulsa …/Rasanya semuanya sudah kupenuhi// Ya, ya, situasi peradaban di era kesejagatan yang kian rumit dan kompleks, agaknya membuat jiwa anak-anak sekarang gampang tereduksi oleh nilai-nilai pragmatisme dan hedonisme, sampai-sampai seorang guru pun tak berdaya dalam menumbuhkan dan mengakarkan nilai-nilai keluhuran budi.
Situasi yang sarat dengan „pemberontakan“ juga tercermin dalam „Sebentar, Tuhan …“. Dengan gaya parodi, Maria Utami berupaya menyentil buruknya atmosfer dunia pendidikan, sampai-sampai Tuhan pun diremehkan dan dimarginalkan, seperti dalam larik://Sebentar, Tuhan …/Kau mau menemuiku hari ini?/Wah..wah …/Apa Tuhan tidak tahu../Kalau aku harus membuat RPP/Buat analisis harian, buat evaluasi/Kan nggak enak juga/Kalau aku ogah-ogahan…/Gaji guru udah naik/(dan harga-harga ikut naik pula,/bukan naik ..tapi menyesuaikan diri..maaf)/dapat tunjangan profesi/dan lagu Umar Bakri sudah tidak berlaku lagi/Hebat,kan..Tuhan, guru-guru di Indonesia?/(yang hebat gurunya atau yang membuat kebijakan ?..)// Sebuah kesaksian yang sulit terbantahkan dan sulit diragukan kebenarannya. Tak hanya itu. Lewat gayanya yang khas, Maria Utami juga menyentil tentang kurikulum pendidikan dan ujian nasional. Ada nuansa hiruk-pikuk dan carut-marut ketika kebijakan bongkar-pasang kurikulum atau ujian nasional yang sarat dengan berbagai macam kecurangan itu terus digelar.
Dalam „Di Samping Makam Itu“, Maria Utami „geram“ menyaksikan nasib dunia pendidikan yang (nyaris) hanya „jalan di tempat“, bahkan mengalami set-back. Institusi pendidikan tak lebih hanya produsen ijazah yang hanya mampu menghasilkan pengangguran terdidik. Namun, si aku lirik tak bisa berbuat apa-apa. Pertanyaan yang terus membebani gendang nuraninya pun tak pernah bisa terjawab. Dengan nada „geram“, lahirlah lirik-lirik seperti berikut ini: //Apakah mendung itu/Juga akan terus menggelayut di dunia pendidikan kita???/Yang hanya menghasilkan selembar kertas bernama ijazah/bukan segudang kemampuan//Di samping makam itu/Aku masih terus bertanya/Apa artinya kebohongan yang kita lakukan terhadap diri kita sendiri??/Yang akhirnya hanya menghasilkan pengangguran terdidik???/Apakah kesedihanku ini ada artinya?/Ataukah hanya menambah/semakin hitam dan bisunya mendung hari itu?//Tak ada jawaban/Hanya diam dan bisu/Karena yang ada hanya gundukan tanah bernisan//
Kegeraman Mari Utami agaknya tak hanya berhenti sampai di situ. Dengan gaya ekspresif, dia menguliti persoalan kekuasan yang acapkali berselingkuh dengan masalah korupsi yang dinilai sudah menggurita di (hampir) segenap lapis dan lini birokrasi. Simak saja dalam „Januari Ini“ atau „Nyanyian Koruptor“! Dalam kedua puisi ini, Maria Utami jelas menampakkan suara „pemberontakan“-nya dengan nada yang sarat ironi. Baginya, hidup adalah sebuah dikotomi antara baik dan jahat, memberi dan meminta, atau merusak dan membangun. Dalam tataran praksis, dua „kekuatan“ ini sering bersinggungan dalam sebuah dimensi yang linear dan serba mungkin, sehingga //Yang jahat bisa menjadi baik/Yang baik bisa menjadi jahat/Yang bergelimang harta/bisa langsung miskin papa/yang bergelimang kekuasaan/langsung masuk penjara//
Maraknya gaya hidup konsumtif dan hedonis juga tak luput dari bidikan Maria Utami. Dalam „Apa Gunanya“, si aku lirik mempertanyakan fenomena sikap hidup kemaruk dan serakah, sehingga mendorong banyak orang tak segan-segan menghalalkan segala cara untuk menggapai ambisi dan keinginan, bahkan cenderung menggunakan ilmu permalingan ala Machiavelli dalam memanjakan selera terhadap gebyar duniawi. Dalam pandangan sang penyair, sikap kemaruk dan serakah sejatinya tak akan ada gunanya, toh semua kemewahan dan gelimang harta yang didapat semasa hidup tak akan dibawa serta ke alam keabadian, seperti pada larik: //Apa gunanya timbunan rupiah ini/Jika nantinya hanya receh lima ratusan/Yang mengantarku ke kuburan//Apa gunanya beralmari busanaku/Jika yang ku bawa nanti/Hanya selembar mori tak bermerk/Yang bungkus jasad siang malam//Apa gunanya rumah, pabrik, swalayan ( berkecukupan?)/Jika yang kutempati nanti/Hanya kotak mahoni 2X1 meteran/Apa gunanya cekcok, selisih, persekongkolan/teror, pertentangan, perang…./jika kita tak pernah rasakan perdamaian???/Toh…hidup hanya sekedar mampir ngombe saja….// Hmm …sebuah renungan dan buah kontemplasi yang layak menjadi „warning“ buat mereka yang suka menumpuk harta dan kemewahan hingga abai terhadap nilai-nilai kesejatian diri dan kemuliaan hidup.
Meski demikian, tak semua puisi dalam antologi ini menyuarakan sikap geram, amarah, dan memberontak. Sang penyair, melalui kepekaan intuitifnya, juga mendedahkan keinginan, harapan, dan nilai-nilai nostalgik sebagai pengejawantahan nilai-nilai humanisme seorang anak manusia yang butuh bereksistensi diri di tengah dinamika hidup yang penuh liku, sebagaimana tercermin dalam „Wa..Wa…Wa….“ atau „Rumah Kecil di Bawah Pohon Bambu“. Dalam „Wa..Wa…Wa….“, si aku lirik menitipkan ekspektasi hidupnya kepada sang malaikat kecil, Abimanyu, putranya. Melalui bahasa yang lembut keibuan, Abimanyu diharapkan mampu mewujudkan harapan dan mimpi-mimpinya itu, seperti pada larik: //Wa…wa…wa…/Ya..ya aku mengerti/karena dalam dirimulah/asaku sedang kurenda//. Sedangkan, dalam „Rumah Kecil di Bawah Pohon Bambu“, sang penyair mengungkapkan kebahagiaan hidupnya bersama sang suami tercinta, Mas Agustinus, yang telah membangun hidup berumah tangga dalam sebuah balutan keharmonisan dan kedamaian hidup di sebuah rumah yang tenang dan damai; jauh dari hiruk-pikuk dan kebisingan kota. //Abang…/rumah kecil di bawah pohon bambu ini/tempat kita merenda asa bersama// Begitulah suara lembut sang penyair tentang dinamika keluarga dan rumah tangganya yang telah memberinya rasa aman, damai, dan sarat dengan sentuhan nilai cinta dan kasih sayang.
Muatan isi yang hampir sama juga dapat ditemukan pada „Hujan 1“, „Hujan 2“, „Jangan …!“, „Bulan“, Kau Titip“, „Cinta Semu“, atau „Bunga Kamboja 1“ dan „Bunga Kamboja 2“ yang mengungkap tentang romantisme masa silam; sebuah fase „bersejarah“ sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam deret peristiwa hidup yang getir, pahit, tetapi sekaligus juga manis dan penuh optimisme. Yang agak tampil beda adalah „Kisah Bocah Polah“ dan „Bila“. Dalam kedua puisi ini, Maria Utama lebih banyak mencoba bereksplorasi melalui permainan tipografi kata yang unik dengan menampilkan gaya repetitif; mengingatkan saya akan gaya Sutardji Calzoum Bachri; sang penyair yang pernah menahbiskan dirinya sebagai presiden penyair Indonesia itu.
***
Hmm … beberapa puisi dalam antologi ini memang belum bisa menampakkan keutuhan dan kesejatian diri seorang Maria Utami sebagai penyair. Ia masih perlu terus berproses untuk menemukan bentuk dan gaya ucap khasnya, tanpa harus digelisahkan oleh beban-beban estetik yang menjadi „mainstraim“ dunia puisi kontemporer Indonesia. Maria Utami perlu terus melakukan eksplorasi dan penemuan-penemuan baru yang sesuai dengan „mazab“ personalnya tanpa harus menjadi „penyair lain“. Maria Utami harus menjadi dirinya sendiri. Saya menangkap potensi besar yang memancar dari „aura“ kepenyairan Maria Utami yang jika terus diasah dan dipoles akan menjadi sebuah kekuatan besar yang bisa memberikan nilai tambah buat dunia pendidikan.
Terbitnya antologi ini bisa menjadi “starting point” bagi Maria Utami untuk melahirkan teks-teks puisi yang lebih liar dan mencengangkan. “Pulchrum dicitur id apprensio”, begitulah kata filsuf skolastik, Thomas Aquinas. Adagium yang berarti “keindahan bila ditangkap menyenangkan” itu menyiratkan makna bahwa keindahan menjadi mustahil menyenangkan tanpa media publikasi. Dalam konteks demikian, sebuah antologi puisi bisa dimaknai sebagai bagian dari upaya pemancangan tonggak seorang penyair dalam menggapai kesejatian dan eksistensi diri. Atau, meminjam bahasa Rene Descartes, “Aku menulis puisi, karena itu aku ada”. ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Kesaksian Maria Utami: antara “Pemberontakan” dan Beban Estetika" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 May 2010 @ 11:48) pada kategori Edukasi, Esai, Sastra dan telah dikunjungi oleh 1,726 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 23, 2011 @ 13:12:41
Semoga semakin bermunculan pendidik-pendidik yang mau berbicara dengan puisi atau sastra lainnya
Aug 16, 2011 @ 10:41:05
kesempatan itu memang tidak
boleh sampai di sia”kan…
IBSN: Kesempatan « FAITES COMME CHEZ VOUS
Aug 26, 2010 @ 13:28:10
[...] “Kesempatan“, dia selalu ada satu kesempatan di “KEMARIN“, “SEKARANG” dan “BESOK“. Jadi, selalu manfaatkan kesempatan yang ada dengan baik karena [...]
Catatan Sawali Tuhusetya
Jul 17, 2010 @ 20:05:02
[...] Tulisan ini merupakan pengantar buku berjudul “Memilih Puisi, Membangun Karakter” karya Maria Utami, guru SMP Negeri 5 Ambarawa, Kab. Semarang, Jawa Tengah. tweetmeme_url = [...]
Jun 28, 2010 @ 19:16:12
salam kenaal…
:)
May 30, 2010 @ 19:21:23
Salam kenal Pak…
wah, saya baru tau Maria Utami bikin antologi puisi…kebetulan dia adalah kakak kelas saya dan se-asrama waktu SMA.
Terima kasih untuk posting ini, saya jadi sepak terjangnya…
salam hangat selalu,
nana harmanto
.-= Baca juga tulisan terbaru nanaharmanto berjudul Dreamland =-.
Jun 01, 2010 @ 15:18:13
salam kenal juga, mbak nana. wow …. ternyata teman satu almater dengan bu maria, yak?
May 26, 2010 @ 13:13:19
Kemarin saya dikejutkan oleh kisah seorang Bloger yang tak lain adalah teman satu asrama di SMA.sekarang lebih terkejut lagi ternyata temanku yang terkenal sebagai kepala suku asrama muncul dengan buku karangannya..LUAR BIASA.Sukses ya mbak….
May 27, 2010 @ 10:39:02
oh, ya, semoga bisa saling menginspirasi, ya, mbak.
May 25, 2010 @ 10:40:10
waduhhhh, baru pertama kali suwon kemari…
bahasanya beratttt banget yak…
tapi keren bangettt…
keep posting!!
need IT??
http://www.linovtech.com
May 25, 2010 @ 23:09:56
hmm …. terima kasih kunjungan dan apresiasinya, mas esha.
May 24, 2010 @ 10:03:04
memang….tanpa disadari, semakin hari banyak orang yang semakin kreatif dalam menumpahkan apa yang ada dalam pikiran mereka,…entah dalam bentuk puisi atau tulisan apapun itu..yang penting, bermakna dan bermanfaat bagi pembacanya!!!
.-= yohan wibisono´s last blog ..PEKERJA PENGANGGURAN | BANGKIT! =-.
May 25, 2010 @ 22:58:33
betul sekali, mas wib, meskipun ketika berproses kreatif, bu maria utamai mungkin tak pernah berpikir seperti itu.
May 23, 2010 @ 18:01:52
Hmm…saya sehati dengan Bu Guru ini…semangat!
May 25, 2010 @ 22:49:12
wah, mantab banget, mas kiky. semoga bu maria utami membaca komentar ini.
May 22, 2010 @ 13:59:47
berbobot banget !!!
http://sawali.info/smilies/yahoo_smiley.gif
May 25, 2010 @ 22:40:04
duh, terima kasih apresiasinya, mas.
May 21, 2010 @ 17:00:27
sepertinya dulu saya pernah mendengar nama Maria Utama
tapi lupa dimana :d
May 21, 2010 @ 16:59:36
kami datang berkunjung, website social bookmarking indonesia
share your artikel with us http://disuka.com
thaxs….
May 21, 2010 @ 16:58:49
wah ada versi ebooknya gak pak..kayaknya layak untuk dibaca nih..apalagi kalo seperti bapak bilang kalo bahasanya gak njelimet..
May 21, 2010 @ 16:57:51
Salam kenal,
Makasih yang tak terhingga pada pak Sawali yang mempopulerkan saya di blognya,siapa lagi kalau bukan bapak yang sama2 guru seperti saya. thanks for all…Pak Sawali ini memang huebat….pengantarnya dalem banget…bagi saya ini ruar biasa…pak…yang bisa balas cuma Tuhan lho,Pak…Semoga bapak sehat selalu hingga bisa memberi komentar2 cerdas..tak tunggu
Juga buat yang telah memberi koment, terimakasih banyak..buku ini belum terbit di toko ya karena baru aja jadi.ya semoga segera bisa beredar di pasaran.komentarnya membuat saya semakin bersemangat untuk membuat antologi lagi.Thanks, pak Sawali…..
May 21, 2010 @ 16:57:09
saya senang membaca postingan mas sawali ini,terkesan mantaf,pasti dan tentunya punya nilai estetika tinggi…trus berkarya mas…sukses selalu:)>-
May 21, 2010 @ 16:55:59
Bu Guru yang hebat…. ^_^
btw lia suka quotenya “aku menulis puisi” karena itu aku ada ”
lia gak pandai puisi pak..:D diganti aja deh..”aku menulis di blog karena itu aku ada
…
hehehehe:)>-
May 21, 2010 @ 16:54:56
wah.. dari kutipannya kayaknya keren tuh karya²nya.. bahasanya sederhana tapi berbobot?
udah terbit belom sih? gimana cara pesennya?
May 21, 2010 @ 16:54:01
saya suka puisi..namun hanya mungkin saya saja yang suka puisi yang saya buat…eh, jadi kangen blog puisi saya di wp..hehehe…
membaca maria tentang sentilan pendidikannya, saya 1000% setuju dengan buah pemikirannya (seperti yang bapak uraikan di review)..hmmm..kapan bangsa ini mengerti bahwa kompetensi yang sesungguhnya tidak berada pada teks2 dan report2 di atas kertas (hal ini sama halnya dengan sertfikasi dokter indonesia atas nama kompetensi), bukankah kompetensi ini adalah buah kemampuan yang berlandaskan hasil? parameternya adalah kesejahteraan. Jika guru dan dokter benar dididik demi sebuah kemampuan maka negara ini akan sejahtera…
salam,
tfd
May 21, 2010 @ 16:53:08
Saya senang dengan puisi tapi tidak bisa menulis puisi. Tapi anak-anak sekarang tidak begitu akrab dengan puisi atau karya sastra. Paling-paling mereka hanya senang dengan teenlit. Bahasa mereka juga bahasa infotainment dan sms.
Para satrawan mengkampanyekan sastra ke sekolah-sekolah masih jauh dari berhasil. Dulu tahun 70-an Rendra pernah merekam pembacaan puisi dengan kaset yang disertai booklet, tampaknya lumayan berhasil. Mungkin itu perlu dicoba lagi.
Buku Maria Utami ini di mana ya bisa diperoleh ? Kapan penulis kata pengantarnya melaunching buku lagi ?
Terima kasih. Sukses buat rekan-rekan guru.
Salam.
May 21, 2010 @ 16:52:08
Puisinya masih berkisar tentang kegalauan hidup. Itu sepertinya yang menjadi kekuatan yang akan mampu mengaduk emosi siapa saja yang membacanya
May 21, 2010 @ 16:51:08
Saya menemukan web ini dari Google. Info yang menarik. Mampir juga komentar di blog saya ya. Salam kenal Iklan Jawa Pos
May 21, 2010 @ 16:50:05
wah mas…bener kata ADIB diatas, postingannya panjang n tulisannya kecil2 jadi gak lupa mau ngasih komen apa ya…ntar aku baca pelan2 terus buat komen lagi ya..nice post
May 21, 2010 @ 16:49:16
Mantap, Pak Sawali.
Sampaikan selamat pada Mbak Maria Utami.
Selamat juga untuk Anda karena selain mau memberikan Pengantar pada bukunya, secara tak langsung tulisan ini juga pasti akan mengatrol popularitas buku Mbak Maria.
May 21, 2010 @ 16:48:17
cerita yang puanjang..namun tetap menarik untuk dibaca..trus ciptakan artikel2x yang mantap.Bro!
May 21, 2010 @ 16:46:41
mantap abis artikelnya mas, keep posting
May 21, 2010 @ 16:45:49
Mesti dibeli nih pak? Sudah adakah di toko buku…atau mesti pesan?
May 21, 2010 @ 16:45:01
salam hormat.
informasi yang sangat menarik ungtuk pembasaan.
Tahniah juga buat saudara kerana menulis kata pengantar dalam antologi tersebut.
Terima kasih
May 21, 2010 @ 16:44:02
Kok saya malah jadi pusing ya…:o
May 21, 2010 @ 16:43:01
Hemmm kalau saya suruh buat pusis bisa2 klenger saya…
(
May 21, 2010 @ 16:42:07
salam kenal…:)
May 21, 2010 @ 16:41:03
Kalo kata pengantarnya Pak Sawali, mesti ini sebuah karya yang berbobot, jadi tertarik. Salam hangat dan sukses selalu.
May 21, 2010 @ 16:39:38
salut sama tulisannya mas, semua panjang2. gimana masnya bisa jaga mood waktu nulis ya
May 21, 2010 @ 16:38:30
mau dong baca puisi2inya..
May 21, 2010 @ 16:37:12
dari dulu saya pengen banget bisa membuat puisi,,tp memang mungkin saya ga ada bakat sama sekali hehe..
sekarang cukup menikmati puisi² dari orang hebat…
pakabar pak sawali?
May 21, 2010 @ 16:35:49
pak itu bukunya sudah ada dipasaran ya, toko buku online ada gak, atau gimana caranya saya bisa mendapatkan buku kumpulan puisi ini
sepertinya saya sangat tertarik untuk memilikinya
ya sekedar untuk tambahan bahan mengajar di depan anak-anak dan siapa tahu bisa memotivasi teman-teman lain
May 20, 2010 @ 18:01:37
saudah lama pak gak baca sastra, terakhir cuma ringkasan proses kreatif yang dikumpulkan dari beberapa sastrawan Indonesia dalam buku, editor : panusuk eneste.
.-= Baca juga tulisan terbaru hanifilham berjudul "Akhirnya di Bawah Batas" =-.
May 20, 2010 @ 18:00:18
Pertama, selamat untuk Ibu Maria Utami, yang membangun diri dan orang lain (pembaca) melalui karya-karya puisi. Salut dan teruslah berkarya!
Kedua, ulasan Pak Sawali sangat menarik. Meski panjang, saya tak jenuh membaca, apalagi gaya bertutur (lewat tulisan) Pak sawali yang memang menyentuh dan selalu “hangat nan renyah”. Luar biasa!
Salam kekerabatan.
.-= Baca juga tulisan terbaru Sungkowoastro berjudul "Rendahnya Moralitas, Penjajah yang Belum Terkalahkan" =-.
May 20, 2010 @ 17:58:34
Blogwalking pagi … cari sarapan … menunya mantab2 … mohon maaf lama tidak silaturahim
Salam
.-= Baca juga tulisan terbaru Matt Wahyu berjudul "Hadiah ???" =-.
May 15, 2010 @ 02:38:05
OOT wah……….. maaf pak sawali, lama ga’ kunjung kesini, maklum bingung nyari sesuatu
May 14, 2010 @ 21:00:52
jadi terbayang masa-masa Lekra dan Manikebu, dimana sastra juga adalah sebuah ekpresi kesenian yang sarat dengan elan vital perjuangan…
salute!!!
.-= Baca juga tulisan terbaru itempoeti berjudul "Setelah Sri Mulyani, Boediono?" =-.
May 14, 2010 @ 20:56:56
salute pada Maria Utami…
salute pula pada sang penulis Kata Pengantar…
proficiate…
.-= Baca juga tulisan terbaru Love4Live berjudul "Ubuntu 10.10 Maverick Meerkat, Seputar Ubuntu Code Name Version" =-.
May 14, 2010 @ 20:17:52
saya hanya seorang biasa yang juga seneng dengan puisi walau belum bisa buat puisi,
hebat juga tu ibu guru sampai sempat buat buku atologi puisi yang dari judulnya sudah mencerminkan luapan hati.
Kalo lihat kata pengantarnya kok jadi penasaran aja sebenarnya puisinya seperti apa tho.
antologi puisi itu udah terbit belom, n kalo udah yang nerbitnya siapa
beli dimana =d>=d>=d>
May 14, 2010 @ 19:51:55
banyak banget, cape bacanya. hehe
.-= Baca juga tulisan terbaru tommy berjudul "Gambar Aneh" =-.
May 14, 2010 @ 19:09:19
Semoga semakin bermunculan pendidik-pendidik yang mau berbicara dengan puisi atau sastra lainnya…. ^:)^ ^:)^
Salut buat Bu Guru =d> =d>
May 14, 2010 @ 18:08:37
awal melihat judulnya kirain ini masih berhubungan ama tri utami si penyanyi itu, ternyata beda toh..:*
(kapan ya saya bisa posting panjang kayak bapak ini..:)<):)
May 14, 2010 @ 16:14:58
mantap menarik tp terlalu panjang tulisannya
My WordPress
kampus unand
May 14, 2010 @ 16:03:06
:d/
Saat duduk di bangku SLTA sempat saya bertanya pada guru bahasa Indonesia tentang bagaimanakah cara menjadi seorang penyair di zaman ini (karena saat itu yang saya tahu hanya penyair sezaman Khairil Anwar).
ternyata, di zaman2 sekarang ini semakin banyak penyair yang hadir dengan beragam ke-khas-an sastra terdahulu dengan tema ke-kini-an.
Terus berjuanglah para penyair…
.-= Baca juga tulisan terbaru ImamS berjudul "Buat Blog di Blogger.com Gampang & Gratis" =-.
May 14, 2010 @ 14:38:45
Mantab seperti biasa postingannya panjang dan berbobot jd capek bacanya hehehe
Tweets that mention Catatan Sawali Tuhusetya -- Topsy.com
May 14, 2010 @ 12:10:37
[...] This post was mentioned on Twitter by Sawali Tuhusetya, Sawali Tuhusetya. Sawali Tuhusetya said: Kesaksian Maria Utami: antara “Pemberontakan” dan Beban Estetika http://is.gd/c8iJ3 [...]