Home » Esai » Sastra » Kesaksian Maria Utami: antara “Pemberontakan” dan Beban Estetika

Kesaksian Maria Utami: antara “Pemberontakan” dan Beban Estetika

Sungguh berbahagia ketika saya didaulat untuk menulis kata pengantar antologi puisi karya Maria Utami ini. Kebahagiaan saya disebabkan dua hal. Pertama, sang penyair adalah seorang guru. Di tengah rutinitas yang menumpuk, seorang guru yang masih menyempatkan diri untuk berproses kreatif layak diberi catatan dan apresiasi tersendiri. Setidaknya, guru semacam ini sudah mampu keluar dari kungkungan rutinitas yang membelenggu. Ia juga sudah berupaya untuk menjadi guru inspiratif yang wilayah kerja dan kreativitasnya tak semata-mata dibatasi empat dinding ruang kelas. Di depan murid-muridnya, Maria Utami yang kebetulan seorang guru Bahasa Indonesia di sebuah SMP, pasti bisa bercerita bagaimana ia berproses kreatif dalam melahirkan teks-teks puisi ciptaannya. Dalam situasi seperti itu, para murid setidaknya akan terinspirasi untuk mengikuti jejak sang guru.

Kedua, teks-teks puisi yang lahir dari tangan Maria Utami mengandung idiom-idiom kejujuran dan kebersahajaan ekspresi. Ia bisa bertutur apa saja melalui gaya ungkap yang bersahaja; tak terbebani oleh sikap kenes untuk bermain-main dengan nilai-nilai stilistika yang acapkali justru menjadi beban kebanyakan penyair ketika berproses kreatif. Melalui kejujuran dan kebersahajaan berekspresi semacam itu, sang penyair bisa lebih eksis dalam melahirkan karya-karya puisi; terus mengalir; tanpa harus digelisahkan oleh beban-beban estetik.

Ya, ya, ya, nama Maria Utami, memang lebih dikenal sebagai seorang guru ketimbang penyair. Namun, justru lantaran berprofesi sebagai seorang guru, karya-karyanya jadi menarik dicermati. Ia tak terlalu banyak mengobral kata-kata bombastis, apalagi menggunakan metafora-metafora yang gelap dan njlimet. Ia bisa bertutur tentang persoalan apa saja melalui diksi yang sederhana, tetapi tertata dengan apik; tanpa harus terjebak dalam sikap cengeng dan sentimentil. Rutinitas kesehariannya yang berkutat dengan ranah pendidikan, agaknya membuat Maria Utami tak bisa sepenuhnya menanggalkan warna profesinya itu ke dalam teks-teks puisinya. Teks-teks sastra ciptaannya bisa menjadi potret kiprah sang penyair dalam menjelajahi sudut-sudut kehidupan dengan segala pernak-perniknya.
***

Puisi-puisi yang terkumpul dalam antologi ini, jika ditinting seluruhnya, menampakkan adanya suasana “pemberontakan” yang khas, unik, dan eksotis. Sebagai penyair yang bergulat dengan dunia pendidikan, Maria Utami agaknya tak bisa diam dan membiarkan suasana gerah yang sarat anomali itu terus berlangsung. Atmosfer perubahan yang tengah terjadi di tengah-tengah panggung sosial, dibidik secara cerdas lewat kesaksian-kesaksian telanjangnya, untuk kemudian diendapkan dalam labirin batin dan jiwa yang sarat dengan suasana kontemplatif dan reflektif. Hasil pengendapan dan sublimasi itu selanjutnya diekspresikan melalui bahasa yang jujur dan sederhana ke dalam sebuah genre puisi kontemporer yang diyakini sang penyair bisa menjadi corong ekspresi terhadap geliat batinnya yang sedang “marah” dan “memberontak”.

Simak saja “Gadis Kecilku”, “Sebentar Tuhan”, “Di Samping Makam Itu”, “Sia-sia”, “Nyanyian Koruptor”, “Januari Ini”, atau “Apa Gunanya?”! Suasana “marah” dan “memberontak” cukup kuat terpancar dari balik rentetan kata-kata yang meluncur dari mulut batin dan jiwa sang penyair.

Dalam “Gadis Kecilku” si aku lirik memotret nasib anomali yang dialami anak-anak generasi seusia siswa SMP yang lebih mengakrabi VCD porno atau kondom ketimbang suntuk mempelajari Matematika, Bahasa Indonesia, atau IPA, seperti dalam larik: /Aku temukan CD porno/dan kondom rasa stroberi yang iklannya bersliweran di televisi// Menghadapi situasi seperti itu, suara sang guru yang muncul dari geliat batin sang penyair, tak henti-hentinya „memberontak“: //Nak …/Apa yang salah denganku sebagai orangtua?Rasanya aku sudah mendidikmu dengan benar/Masalah agama, sudah kudatangkan ustad untuk/memberimu pengetahuan agama/Masalah pelajaran, sudah kudatangkan guru privat/yang datang dua kali seminggu/Masalah uang kukira kau juga tidak kekurangan/Aku cukupi apa kebutuhanmu untuk buku, hape, pulsa …/Rasanya semuanya sudah kupenuhi// Ya, ya, situasi peradaban di era kesejagatan yang kian rumit dan kompleks, agaknya membuat jiwa anak-anak sekarang gampang tereduksi oleh nilai-nilai pragmatisme dan hedonisme, sampai-sampai seorang guru pun tak berdaya dalam menumbuhkan dan mengakarkan nilai-nilai keluhuran budi.

Situasi yang sarat dengan „pemberontakan“ juga tercermin dalam „Sebentar, Tuhan …“. Dengan gaya parodi, Maria Utami berupaya menyentil buruknya atmosfer dunia pendidikan, sampai-sampai Tuhan pun diremehkan dan dimarginalkan, seperti dalam larik://Sebentar, Tuhan …/Kau mau menemuiku hari ini?/Wah..wah …/Apa Tuhan tidak tahu../Kalau aku harus membuat RPP/Buat analisis harian, buat evaluasi/Kan nggak enak juga/Kalau aku ogah-ogahan…/Gaji guru udah naik/(dan harga-harga ikut naik pula,/bukan naik ..tapi menyesuaikan diri..maaf)/dapat tunjangan profesi/dan lagu Umar Bakri sudah tidak berlaku lagi/Hebat,kan..Tuhan, guru-guru di Indonesia?/(yang hebat gurunya atau yang membuat kebijakan ?..)// Sebuah kesaksian yang sulit terbantahkan dan sulit diragukan kebenarannya. Tak hanya itu. Lewat gayanya yang khas, Maria Utami juga menyentil tentang kurikulum pendidikan dan ujian nasional. Ada nuansa hiruk-pikuk dan carut-marut ketika kebijakan bongkar-pasang kurikulum atau ujian nasional yang sarat dengan berbagai macam kecurangan itu terus digelar.

Dalam „Di Samping Makam Itu“, Maria Utami „geram“ menyaksikan nasib dunia pendidikan yang (nyaris) hanya „jalan di tempat“, bahkan mengalami set-back. Institusi pendidikan tak lebih hanya produsen ijazah yang hanya mampu menghasilkan pengangguran terdidik. Namun, si aku lirik tak bisa berbuat apa-apa. Pertanyaan yang terus membebani gendang nuraninya pun tak pernah bisa terjawab. Dengan nada „geram“, lahirlah lirik-lirik seperti berikut ini: //Apakah mendung itu/Juga akan terus menggelayut di dunia pendidikan kita???/Yang hanya menghasilkan selembar kertas bernama ijazah/bukan segudang kemampuan//Di samping makam itu/Aku masih terus bertanya/Apa artinya kebohongan yang kita lakukan terhadap diri kita sendiri??/Yang akhirnya hanya menghasilkan pengangguran terdidik???/Apakah kesedihanku ini ada artinya?/Ataukah hanya menambah/semakin hitam dan bisunya mendung hari itu?//Tak ada jawaban/Hanya diam dan bisu/Karena yang ada hanya gundukan tanah bernisan//

Kegeraman Mari Utami agaknya tak hanya berhenti sampai di situ. Dengan gaya ekspresif, dia menguliti persoalan kekuasan yang acapkali berselingkuh dengan masalah korupsi yang dinilai sudah menggurita di (hampir) segenap lapis dan lini birokrasi. Simak saja dalam „Januari Ini“ atau „Nyanyian Koruptor“! Dalam kedua puisi ini, Maria Utami jelas menampakkan suara „pemberontakan“-nya dengan nada yang sarat ironi. Baginya, hidup adalah sebuah dikotomi antara baik dan jahat, memberi dan meminta, atau merusak dan membangun. Dalam tataran praksis, dua „kekuatan“ ini sering bersinggungan dalam sebuah dimensi yang linear dan serba mungkin, sehingga //Yang jahat bisa menjadi baik/Yang baik bisa menjadi jahat/Yang bergelimang harta/bisa langsung miskin papa/yang bergelimang kekuasaan/langsung masuk penjara//

Maraknya gaya hidup konsumtif dan hedonis juga tak luput dari bidikan Maria Utami. Dalam „Apa Gunanya“, si aku lirik mempertanyakan fenomena sikap hidup kemaruk dan serakah, sehingga mendorong banyak orang tak segan-segan menghalalkan segala cara untuk menggapai ambisi dan keinginan, bahkan cenderung menggunakan ilmu permalingan ala Machiavelli dalam memanjakan selera terhadap gebyar duniawi. Dalam pandangan sang penyair, sikap kemaruk dan serakah sejatinya tak akan ada gunanya, toh semua kemewahan dan gelimang harta yang didapat semasa hidup tak akan dibawa serta ke alam keabadian, seperti pada larik: //Apa gunanya timbunan rupiah ini/Jika nantinya hanya receh lima ratusan/Yang mengantarku ke kuburan//Apa gunanya beralmari busanaku/Jika yang ku bawa nanti/Hanya selembar mori tak bermerk/Yang bungkus jasad siang malam//Apa gunanya rumah, pabrik, swalayan ( berkecukupan?)/Jika yang kutempati nanti/Hanya kotak mahoni 2X1 meteran/Apa gunanya cekcok, selisih, persekongkolan/teror, pertentangan, perang…./jika kita tak pernah rasakan perdamaian???/Toh…hidup hanya sekedar mampir ngombe saja….// Hmm …sebuah renungan dan buah kontemplasi yang layak menjadi „warning“ buat mereka yang suka menumpuk harta dan kemewahan hingga abai terhadap nilai-nilai kesejatian diri dan kemuliaan hidup.

Meski demikian, tak semua puisi dalam antologi ini menyuarakan sikap geram, amarah, dan memberontak. Sang penyair, melalui kepekaan intuitifnya, juga mendedahkan keinginan, harapan, dan nilai-nilai nostalgik sebagai pengejawantahan nilai-nilai humanisme seorang anak manusia yang butuh bereksistensi diri di tengah dinamika hidup yang penuh liku, sebagaimana tercermin dalam „Wa..Wa…Wa….“ atau „Rumah Kecil di Bawah Pohon Bambu“. Dalam „Wa..Wa…Wa….“, si aku lirik menitipkan ekspektasi hidupnya kepada sang malaikat kecil, Abimanyu, putranya. Melalui bahasa yang lembut keibuan, Abimanyu diharapkan mampu mewujudkan harapan dan mimpi-mimpinya itu, seperti pada larik: //Wa…wa…wa…/Ya..ya aku mengerti/karena dalam dirimulah/asaku sedang kurenda//. Sedangkan, dalam „Rumah Kecil di Bawah Pohon Bambu“, sang penyair mengungkapkan kebahagiaan hidupnya bersama sang suami tercinta, Mas Agustinus, yang telah membangun hidup berumah tangga dalam sebuah balutan keharmonisan dan kedamaian hidup di sebuah rumah yang tenang dan damai; jauh dari hiruk-pikuk dan kebisingan kota. //Abang…/rumah kecil di bawah pohon bambu ini/tempat kita merenda asa bersama// Begitulah suara lembut sang penyair tentang dinamika keluarga dan rumah tangganya yang telah memberinya rasa aman, damai, dan sarat dengan sentuhan nilai cinta dan kasih sayang.

Muatan isi yang hampir sama juga dapat ditemukan pada „Hujan 1“, „Hujan 2“, „Jangan …!“, „Bulan“, Kau Titip“, „Cinta Semu“, atau „Bunga Kamboja 1“ dan „Bunga Kamboja 2“ yang mengungkap tentang romantisme masa silam; sebuah fase „bersejarah“ sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam deret peristiwa hidup yang getir, pahit, tetapi sekaligus juga manis dan penuh optimisme. Yang agak tampil beda adalah „Kisah Bocah Polah“ dan „Bila“. Dalam kedua puisi ini, Maria Utama lebih banyak mencoba bereksplorasi melalui permainan tipografi kata yang unik dengan menampilkan gaya repetitif; mengingatkan saya akan gaya Sutardji Calzoum Bachri; sang penyair yang pernah menahbiskan dirinya sebagai presiden penyair Indonesia itu.
***

Hmm … beberapa puisi dalam antologi ini memang belum bisa menampakkan keutuhan dan kesejatian diri seorang Maria Utami sebagai penyair. Ia masih perlu terus berproses untuk menemukan bentuk dan gaya ucap khasnya, tanpa harus digelisahkan oleh beban-beban estetik yang menjadi „mainstraim“ dunia puisi kontemporer Indonesia. Maria Utami perlu terus melakukan eksplorasi dan penemuan-penemuan baru yang sesuai dengan „mazab“ personalnya tanpa harus menjadi „penyair lain“. Maria Utami harus menjadi dirinya sendiri. Saya menangkap potensi besar yang memancar dari „aura“ kepenyairan Maria Utami yang jika terus diasah dan dipoles akan menjadi sebuah kekuatan besar yang bisa memberikan nilai tambah buat dunia pendidikan.

Terbitnya antologi ini bisa menjadi “starting point” bagi Maria Utami untuk melahirkan teks-teks puisi yang lebih liar dan mencengangkan. “Pulchrum dicitur id apprensio”, begitulah kata filsuf skolastik, Thomas Aquinas. Adagium yang berarti “keindahan bila ditangkap menyenangkan” itu menyiratkan makna bahwa keindahan menjadi mustahil menyenangkan tanpa media publikasi. Dalam konteks demikian, sebuah antologi puisi bisa dimaknai sebagai bagian dari upaya pemancangan tonggak seorang penyair dalam menggapai kesejatian dan eksistensi diri. Atau, meminjam bahasa Rene Descartes, “Aku menulis puisi, karena itu aku ada”. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Kesaksian Maria Utami: antara “Pemberontakan” dan Beban Estetika" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (14 Mei 2010 @ 11:48) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 56 komentar dalam “Kesaksian Maria Utami: antara “Pemberontakan” dan Beban Estetika

  1. Pingback: IBSN: Kesempatan « FAITES COMME CHEZ VOUS

  2. Pingback: Catatan Sawali Tuhusetya

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *