Home » Blog » Pendidikan » Aksi Para Pendekar Tidar di Tlatah Pendidikan

Aksi Para Pendekar Tidar di Tlatah Pendidikan

Minggu, 9 Mei 2010, saya menghadiri undangan para Pendekar Tidar yang sedang punya hajat menggelar HUT I dan memeringati Hardiknas 2010 dengan menyelenggarakan seminar pendidikan bertajuk “Pemanfaatan Teknologi Informasi untuk Pembelajaran dan Penulisan Multimedia dalam Menunjang Kegiatan Belajar Mengajar”. Sungguh berbahagia saya bisa hadir di tengah-tengah hajatan itu bersama Mas Gunawan Julianto (Komunitas Rumah Pelangi) dan Nanang Tri Agung E.H. (Sesepuh Pendekar Tidar). Tak kurang sekitar 120-an rekan sejawat se-eks Karesidenan Kedu hadir dalam perhelatan yang digelar di lantai II Kantor Dinas Pendidikan Kota Magelang itu. Sebelum seminar, komunitas bloger Magelang ini juga telah menggelar lomba menulis untuk siswa SLTP/SLTA dengan mengangkat tema “Dengan Menulis, Mengenal Kearifan Lokal Lebih Dalam”. Hmm … sebuah tema yang mencerahkan di tengah meruyaknya budaya global yang kian menggerus nilai-nilai keindonesiaan yang multikultur.

Jujur saja, saya tertarik dengan semangat dan kiprah para Pendekar Tidar dalam mengelola Komunitas Bloger Magelang yang memiliki kepedulian terhadap tlalah dunia pendidikan yang selama ini (nyaris) hanya menjadi urusan para pemangku kepentingan pendidikan yang bergerak di ranah formal. Padahal, sejatinya pendidikan memiliki jangkauan makna yang jauh lebih luas. Pendidikan formal hanyalah satu dari sekian ruang pendidikan yang disediakan untuk menggali dan sekaligus mengembangkan potensi anak-anak bangsa. Di luar itu, tak terhitung jumlah ruang dan kantong pendidikan non-formal yang perannya juga tak bisa dibilang remeh. Para Pendekar Tidar setidaknya telah membuktikan bahwa pendidikan termasuk tlatah penting yang bisa dijamah dan disentuh oleh siapa pun, tanpa harus membawa embel-embel dan atribut yang serba formal.

Yang tak kalah menarik, tentu pertanyaan dan opini yang mencuat selama seminar berlangsung. Sebagian besar pertanyaan yang meluncur dari rekan-rekan sejawat yang hadir mengungkap tentang beban kegelisahan yang selama ini mereka rasakan akibat dominannya pengembangan nilai-nilai intelektual, sementara nilai akhlak dan budi pekerti (nyaris) terabaikan. Akibatnya, anak-anak memang cerdas secara intelektual, tetapi tidak memiliki kecerdasan hati. ”Tak berlebihan jika kasus korupsi yang selama ini terjadi, sebagian besar dilakukan oleh orang-orang yang secara intelektual memang cerdas,” ungkap Pak Moh. Kholif sambil mendesah.

Masih ada beberapa pertanyaan lain yang menggelitik untuk dijawab, terutama berkaitan dengan penggunaan multimedia dalam pembelajaran di tengah keterbatasan sarana, prasarana, dan fasilitas yang dimiliki sekolah, ancaman UU ITE terhadap kebebasan berekspresi, atau kemungkinan tulisan di blog untuk kenaikan pangkat.

Ya, ya, ya, dunia pendidikan memang merupakan ranah yang akan terus bergerak secara dinamis sesuai dengan derap peradaban yang memolanya. Ketika peradaban sudah demikian ”memanjakan” selera konsumtif para pengguna media teknologi informasi dan komunikasi (TIK), mau atau tidak, dunia pendidikan juga mesti bersikap adaptif dan lentur terhadap perubahan. Situasi seperti itulah agaknya yang tengah terjadi dalam dunia pendidikan kita. Imbas perubahan yang ditimbulkan akibat kemajuan TIK, disadari atau tidak, telah membawa perubahan “mind-set” para pelaku dan praktisi pendidikan dalam mengemas model dan gaya pembelajaran di kelas. Model-model pembelajaran konvensional, yang dalam pandangan Paulo Freire cenderung memenjarakan siswa melalui gaya pembelajaran yang instruksional dan indoktrinatif, sudah mulai ditinggalkan. Para siswa didik tidak lagi diposisikan sebagai “tong sampah” ilmu pengetahuan yang terus disuapi dengan ilmu pengetahuan yang serba kering dan kurang bermakna, tetapi secara konstruktif, mereka diajak untuk menjelajahi fakta-fakta empiris tentang dunia keilmuan, sehingga merasa tertantang dan tertarik untuk membangun dan mengkonstruksi pengetahuan mereka berdasarkan apa yang dilihat, didengar, dibaca, dan dilakukan dalam proses pembelajaran.

Persoalannya adalah belum semua satuan pendidikan terjamah oleh kemajuan TIK itu. Alih-alih memanfaatkan TIK, sarana dan prasarana sekolah pun masih jauh dan representatif untuk dijadikan sebagai ruang belajar. Tak sedikit sekolah di berbagai daerah yang gedung sekolahnya hampir roboh, beratap bocor, bahkan dinding dan pilarnya pun nyaris runtuh yang bisa mengancam keamanan dan kenyamanan siswa didik dalam belajar. Ironisnya, pemerintah memberlakukan standar pendidikan (kelulusan) yang sama terhadap semua satuan pendidikan, termasuk sekolah yang memiliki keterbatasan dalam sarana, prasarana, dan fasilitas sekolah.

Pertanyaan yang tak kalah menarik adalah tentang kemungkinan tulisan di blog dijadikan sebagai salah satu angka kredit dalam kenaikan pangkat guru. Pertanyaan ini menarik setelah Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) bersama Badan Kepegawaian Negara (BKN) melakukan penandatanganan peraturan bersama tentang petunjuk pelaksanaan (juklak) jabatan fungsional guru dan angka kreditnya. Dalam peraturan yang merupakan juklak dari Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16 Tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan angka kreditnya itu disebutkan bahwa kewajiban menulis karya ilmiah mulai diberlakukan untuk guru golongan IIIB yang mau naik pangkat ke golongan IIIC.

Kalau memang demikian, betapa banyaknya guru yang harus gagal naik pangkat ke golongan III C apabila sistem penilaian karya ilmiah yang selama ini digunakan tidak dikaji ulang. Saya sendiri cenderung berpendapat bahwa bobot literer karya ilmiah yang dipublikasikan di blog tak kalah bermutu jika dibandingkan dengan karya ilmiah yang dipublikasikan melalui jurnal sepanjang sistematika dan persyaratan yang lain terpenuhi. Toh antara blog atau jurnal semata-mata hanya persoalan media, bukan substansi.

Agaknya dibutuhkan perubahan paradigma para pengambil kebijakan dalam menilai sebuah karya ilmiah guru. Kalau memang guru diharapkan mengakrabi TIK sebagai salah satu sarana multimedia, tidak ada salahnya apabila blog dijadikan sebagai salah satu ruang portofolio guru yang bisa digunakan untuk memotret kinerja guru, termasuk dalam penyusunan karya ilmiah. Dengan “pengakuan” seperti itu, siapa tahu semua guru di negeri ini akan berlomba-lomba untuk memiliki sebuah blog, tanpa harus dipaksa dan diindoktrinasi!

Sayangnya, lantaran terbatasnya waktu, ada beberapa pertanyaan rekan sejawat yang belum terjawab tuntas. Seminar yang dimulai pukul 09.30 itu pun terpaksa harus diakhiri pukul 12.15 WIB. Terima kasih saya sampaikan kepada Mas Gunawan Julianto, para Pendekar Tidar, Mas Ciwir dan Mas Nahdi, juga Mas Nanang dan keluarga, serta segenap panitia yang tidak sempat saya sebutkan satu persatu, atas sambutan hangatnya. Semoga Komunitas Bloger Magelang makin eksis dan terus berkibar, baik di dunia nyata maupun maya! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Aksi Para Pendekar Tidar di Tlatah Pendidikan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (10 Mei 2010 @ 02:36) pada kategori Blog, Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 71 komentar dalam “Aksi Para Pendekar Tidar di Tlatah Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *