Home » Esai » Sastra » Hanna Fransisca: Dari Blog dan Facebook ke Antologi, Pergulatan Tanpa Jeda

Hanna Fransisca: Dari Blog dan Facebook ke Antologi, Pergulatan Tanpa Jeda

Catatan Sawali Tuhusetya

Oleh: Sawali Tuhusetya

Siapa bilang blog tak bisa melahirkan seorang penyair? Siapa pula yang bilang puisi blog kehilangan daya literer yang liar dan memukau? Cobalah bertanya kepada Hanna Fransisca (HF) atau berkunjunglah ke blog atap senja! Jika masih belum percaya, bertanyalah ke Om Google! Di halaman rumah mayanya yang lapang dan megah itu akan ditunjukkan sekitar 372,000 tautan yang berkaitan dengan kiprah sang penyair di ranah sastra. Rasa penasaran itu makin terbukti jika pada 7 Mei 2010 (pukul 1900-23.30 WIB) sempat hadir ke Goethe Haus, Goethe Institut Jakarta, Jalan Sam Ratulangi 9, Menteng, Jakarta Pusat. Di sana digelar sebuah acara sastra yang cukup bergengsi: Peluncuran Buku, Diskusi, dan Panggung Puisi Hanna Fransisca. Saya sungguh menyesal tidak bisa hadir ke perhelatan yang juga dihadiri banyak sastrawan kondang itu. Padahal, jauh-jauh hari sebelumnya, saya sudah dikirimi undangan dan antologi puisi HF itu. Kebetulan pada hari yang sama, sekolah punya hajat mengumumkan hasil kelulusan Ujian Nasional (UN) 2010. Kemudian, Minggu pagi, 9 Mei 2010, mesti meluncur ke Magelang untuk menghadiri undangan seminar dari teman-teman Pendekar Tidar. *sok sibuk*

Ya, ya, ya, nama Hanna Fransisca memang pernah berkibar di kompleks blogosphere, setidaknya ketika perempuan kelahiran Kota Seribu Kuil, Singkawang, Kalimantan Barat, 31 Mei 1979, itu masih intens menggeluti blog pribadinya; atap senja. Dari blog itu, kita bisa menakar kadar kepenulisan HF yang mengekspresikan kepedihan dan ketragisan hidup melalui gaya ungkapnya yang lembut, lincah, dan menghanyutkan. Intensitas HF dalam kreativitas penulisan puisi Indonesia mutakhir makin teruji berkat sentuhannya dengan beberapa penyair “papan atas” lewat jaringan facebook. Lewat jejaring itu, dalam amatan saya, HF seringkali memberikan tag kepada beberapa penyair dan penulis yang diharapkan dapat memberikan catatan dan komentar terhadap karya-karya kreatifnya. Imbasnya luar biasa! Melihat gaya ungkap HF yang khas, tak sedikit penyair dan penulis yang –secara tidak langsung—ikut berkiprah memoles dan mematangkan kepenyairan HF.

maman 2

Saat peluncuran buku: gambar diambil dari Catatan Facebook Kurnia Effendi

Bisa jadi, lantaran semangat dan elan vital HF yang terlibat secara intens dalam dunia blog dan facebook semacam itulah talentanya makin tersepuh hingga mampu melahirkan ratusan sajak yang lembut, “liar”, sekaligus menghanyutkan. Bahkan, HF juga mampu mengembangkan sayapnya hingga ke media cetak. Beberapa puisinya dimuat di Kompas, Koran Tempo, Suara Merdeka, dan beberapa media cetak yang lain. Dari sisi ini, jelas keberhasilan HF sebagai penyair tak lahir begitu, tetapi melalui sebuah pergulatan kreativitas yang (nyaris) tanpa jeda; berkarya, menjalin pertemanan, belajar dari kritik, dan menekuni dunianya dengan segenap perangkat imajinasi dan intuisi yang ada dalam indera-hati dan perasaannya.

Walhasil, dari pergulatan kreativitasnya yang (nyaris) tanpa jeda itu, puisi-puisi HF jadi makin “bertenaga” dan memiliki roh. Lirik-liriknya yang tragis dan sarat kepahitan hidup diekspresikan lewat diksi dan gaya ungkap yang lembut, reflektif, dan menyentuh nurani kemanusiaan pembacanya tentang makna kearifan hidup. Simak saja “Konde” yang sekaligus menjadi titel antologi berikut ini!

Konde

Penyair Han
menyanggul sajak
dengan bunga Padma:

“Tuan, sekepal jantungku berdegup mencarimu,
menggunting urat hasrat dari nafasmu,
dan Tuhanku mengajari menyimak,
mengejar lekuk yang kauasinkan dari hatimu.”

Amin.

Tak dapat dipungkiri, sebagian besar puisi yang terkumpul dalam “Konde Penyair Han” yang diterbitkan oleh KataKita setebal 141 halaman dengan 66 judul pada bulan April 2010 itu mengungkap tentang romatika masa lalu HF yang pahit di kampung kelahirannya, Singkawang, ketika deraan dan cobaan hidup yang tragis menelikung dinamika hidupnya, hingga akhirnya HF bersentuhan dengan persaingan hidup yang keras dan kejam di belantara megapolitan Jakarta.

….
Sayapku bercabang empat
kadang riang kadang melarat
kadang diam kadang liar melesat

Ibuku menyuruh aku berputar dan berputar
menghisap wangi dunia
hingga aku lelah dan tersungkur dalam nestapa

Ini bukan dongeng
tapi kisah bayang
saling menghibur
saling mengabur
saling mengubur

Ingin kumelintas di pucuk-pucuk emas
menjulurkkan lidah lalu duduk di atas tahta

Tapi sebilah tombak selalu telah membelah sayapku
Jalan yang kini bercabang kian menjulang
Aku melayang gentayangan
menuntaskan anagn yang makin memanjang

(Jakarta, Desember 2009)

Dalam catatan Kurnia Effendi (Kef) di facebook-nya yang kebetulan hadir dalam peluncuran antologi itu, konon HF paling menyukai “Puisi Roda Pedati” yang mengungkap tentang perjuangan panjangnya dalam menggapai mimpi dan harapan hidupnya.

… karena mencerminkan keadaan paling buram dari hidup Hanna di masa silam. Ia tak mampu melanjutkan sekolah ke SMA, karena ibunya kecelakaan persis di hari ujian akhir SMP. Tabungannya yang dikumpulkan selama beberapa tahun harus dipecahkan untuk menebus biaya rumah sakit. Lalu ia pun bekerja bersama orang-orang Dayak, berdagang karet mentah dengan belajar memilih kualitas melalui kebasahan dan bau cuka yang menyengat. Keberanian menempuh perjalanan panjang dalam usia belia, bertemu dengan orang-orang asing, dilakukan dengan keterpaksaan untuk tetap survive.

Mendengar penuturan itu, ditambah dengan luka batinnya menyaksikan peristiwa kerusuhan Mei 98, rasanya membutuhkan kekuatan mental dan cinta tanpa pamrih. Kini Hanna telah menjadi penyair. Semua sejarah yang membelitnya sebelum kini menemukan jalan mapan, tumpah sebagai puisi. Namun seperti yang kita saksikan sendiri, puisi-puisinya lahir dengan bernas. Tidak kurang dari Acep Zamzam Noor, Hasif Amini, Joko Pinurbo, Laksmi Pamuncak, dan Sapardi Djoko Damono, telah mengakui hal itu. Ada teknik pencapaian puitika yang membuat iri Joko Pinurbo.

Ya, ya, catatan Kef agaknya tidak berlebihan. Menyimak proses dan pergulatan kreativitas HF yang demikian intens di sela-sela kesibukannya mengurus usahanya di bidang otomotif, HF memang layak dicatat dalam peta kesusastraan Indonesia mutakhir sebagai penyair yang telah menemukan jati diri dan karakteristik penciptaan yang khas. Deraan dan pengalaman hidup yang rumit dan kompleks telah memperkaya dunia batin HF hingga ia tak akan pernah kehabisan ide untuk melahirkan teks-teks puisi yang lebih “liar” dan imajinatif.

Saya ucapkan selamat dan sukses atas peluncuran antologi pertamanya, semoga Hanna Fransisca makin eksis di belantara sastra Indonesia mutakhir dengan tak henti-hentinya melahirkan teks-teks sastra yang makin “liar” dan “mencengangkan”. Mohon dimaafkan sahabatmu yang tak tahu diri ini, sudah jauh-jauh diundang ternyata tidak hadir, hihihihi …. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Hanna Fransisca: Dari Blog dan Facebook ke Antologi, Pergulatan Tanpa Jeda" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (8 Mei 2010 @ 15:18) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 59 komentar dalam “Hanna Fransisca: Dari Blog dan Facebook ke Antologi, Pergulatan Tanpa Jeda

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *