Home » Pendidikan » Sosok Pak Achjar Chalil dalam Kenangan

Sosok Pak Achjar Chalil dalam Kenangan

Senin, 3 Mei 2010, pukul 04.45 WIB, nada “suara burung” di HP saya berdering. “Innalillahi wainnaillaihi raji’un. Telah berpulang ke rahmatullah, Bapak Achjar Chalil, Ketua Umum Agupena Pusat, pada hari Senin, 3 Mei 2010, pada pukul 02.00 WIB”. Demikian inti pesan singkat yang saya terima dari Pak Deni Kurniawan As’ari, Ketua Umum Agupena Jawa Tengah, di layar HP. Kabar itu sungguh mengejutkan.

Saya memang belum lama mengenal sosok kelahiran Aceh Timur, 16 April 1954 itu. Saya pertama kali bertemu dengan almarhum ketika Asosiasi Guru Penulis (Agupena) Jawa Tengah dibentuk pada Rabu, 4 Januari 2009 di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Semarang, Jawa Tengah. Meski baru pertama kali bertemu, saya terpukau dengan lontaran pemikirannya yang cerdas dan kritis. Pernyataan Pak Achjar –demikian saya biasa menyapanya–yang selalu saya ingat, guru penulis adalah orang-orang yang berpikiran multidimensional dan memiliki energi otak yang tak pernah kering, sehingga mampu menghasilkan karya-karya kreatif. Lontaran pemikiran Pak Achjar dibuktikan melalui perilaku yang jelas dan nyata dalam keseharian. Selain aktif menulis di berbagai media, Pak Achjar juga menulis beberapa buku yang mengupas tentang berbagai persoalan pendidikan. Buku terakhirnya “Pembelajaran Berbasis Fitrah” yang diterbitkan Balai Pustaka (2008) menjadi salah satu buku rujukan yang laris dibedah di berbagai tempat. Sungguh beralasan kalau akhirnya beliau diberi kepercayaan untuk memimpin Agupena Pusat periode 2006-2011.

Pertemuan saya yang kedua dengan almarhum terjadi pada Rabu, 24 Juni 2009, di LPMP Semarang sebelum Agupena Jawa Tengah menggelar agenda Seminar Nasional dan Lomba Penulisan Artikel bagi Guru se-Jawa Tengah pada keesokan harinya. Saat itu, beliau hadir bersama isteri tercinta. Malam itu, saya bersama beberapa rekan pengurus sempat ngobrol hingga larut malam. Sejak pertemuan itu, saya mulai mengenal siapa sosok Pak Achjar Chalil yang sesungguhnya. Di balik tampilan fisiknya yang kekar dan berotot, Pak Achjar adalah sosok humanis, humoris, ramah, dan bersahaja. Selalu saja ada terdengar suara tawa di sela-sela obrolan itu, meski yang dibicarakan tergolong berat dan sangat filosofis. Kalau berbicara tegas, apa adanya, memiliki elan semangat yang begitu besar, dan pemberani. Tagline di facebooknya: “Saya, Achjar Chalil. saya seorang petarung. Saya bertarung melawan kemiskinan, kebodohan yang melilit diri saya dan lingkungan saya. Saya bertarung melawan rasa sakit, bertarung melawan rasa takut, dan bertarung melawan Iblis, musuh saya yang nyata”, makin menegaskan siapa sosok Pak Achjar yang sesungguhnya.

Saya makin mengenal sosok Pak Achjar Chalil ketika bertemu dengan beliau untuk yang ketiga kalinya pada Kamis, 9 Juli 2009, ketika berlangsung audiensi dengan Sekretaris Direktorat Jenderal PMPTK (Peningkatan Mutu Pendidik dan tenaga Kependidikan), Bapak Ir. Giri Suryatmana, di Kantor Depdiknas, Senayan, Jakarta. Di sela-sela audiensi itu, Pak Achjar sempat mengungkapkan perjuangannya melawan penyakit yang tengah dideritanya. Kondisi fisiknya mulai menurun.
***

Ya, ya, Almarhum memang dikenal sebagai sosok yang sederhana, jujur, dan rendah hati. Kecintaannya pada konsep pendidikan EMS (Engku M. Syafe’i) yang diterapkan di Perguruan Indonesische Nationale School (INS) yang kemudian berubah menjadi Institut Nasional Syafe’i di desa Palabihan, Kayutanam, Sumatera Barat, pada 31 Oktober 1926, agaknya membuat almarhum tak pernah berambisi menjadi seorang pejabat, meski kesempatan untuk itu sangat terbuka luas. Hingga meninggal, Pak Achjar masih tercatat sebagai guru di SMK 56 Jakarta. Pak Achjar pula yang membidani lahirnya Asosiasi Guru Penulis Seluruh Indonesia (Agupena) yang sekaligus menjadi Ketua Umum periode 2006-2011.

Pak Achjar juga dikenal sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah. Untuk membuktikan kecintaannya pada INS Kayutanam, lelaki kelahiran Aceh Timur, 16 April 1954 itu pernah menyusuri jalan darat dari Tangerang (tempat tinggalnya) ke Kayutanam dengan bersepeda motor. “Ustadz, antum sudah tua, ingat-ingatlah umur,” demikian saran Pak Rafi Arta koleganya yang sesama guru di SMK 56 Jakarta. Namun, agaknya saran itu hanya direspon dengan senyum khasnya. Bahkan, Pak Ahjar yang menguasai bahasa Jawa, Sunda, dan Betawi dan punya hobi naik motor gede itu juga pernah singgah di berbagai kota besar di Indonesia dengan bersepeda motor.

Selain dikenal sebagai sosok yang gigih dan pantang menyerah, Pak Achjar juga memiliki ide-ide cemerlang dan kritis tentang ranah dunia pendidikan. Konsep-konsep pendidikannya yang sangat kuat kesan religiusnya terungkap dalam buku “Pembelajaran Berbasis Fitrah” (Balai Pustaka, 2008). Menurutnya, pembelajaran berbasis fitrah merupakan pembelajaran yang mengupas masalah fitrah dalam makna suci yang mengingatkan bahwa “Kesucian Jiwa” memegang peranan penting dalam perilaku dan keberhasilan manusia dalam menjalani hidupnya. Jiwa yang kering dan jauh dari nilai-nilai agama, tegasnya, adalah jiwa yang cenderung membuat seseorang atau sekelompok orang berbuat tanpa kearifan dan cenderung mengabaikan etika, estetika, dan ‘Kemanusiaan yang adil dan beradab’. Jiwa adalah bagian dari Fitrah dalam makna; penciptaan yang dilakukan oleh Allah sebagai Sang Pencipta (al Khalik).
***

Pasca-audiensi dengan Sekretaris Ditjen PMPTK, saya hanya sempat berkomunikasi dengan Pak Achjar per telepon. Beberapa kali beliau mengabarkan diagnosis dokter tentang indikasi adanya tumor kelenjar tiroid yang bersarang di lehernya. Terakhir, kurang lebih sepekan yang lalu, Pak Achjar sempat mengabarkan kondisi kesehatannya yang makin membaik melalui telepon. Tumor kelenjar tiroid yang dideritanya sejak beberapa bulan yang lalu berangsur-angsur hilang, bahkan nafsu makannya juga sudah normal. Nada suaranya pun benar-benar meyakinkan saya bahwa Pak Achjar sudah tidak dalam keadaan sakit yang mengkhawatirkan. Saya benar-benar lega. Meski masih harus melakukan therapi secara rutin, Pak Achjar sudah berada dalam tahap pemulihan kesehatan yang tak lama lagi akan segera sehat dan segar bugar. Namun, agaknya Tuhan berkehendak lain. Setelah menerima telepon berdurasi sekitar 30 menit itu, saya hanya sempat menerima satu kali pesan singkat dari Pak Achjar tentang therapi rutin yang dilakukannya, sebelum akhirnya saya mendengar kabar duka itu.

Kini, Pak Achjar telah tiada. Saya dan tentu saja keluarga besar Agupena benar-benar merasa kehilangan atas kepergian sosok bersahaja yang selalu memancarkan sikap optimis dalam menghadapi tantangan hidup itu. Almarhum adalah sosok “mahaguru” sejati sekaligus juga sahabat dalam keseharian, yang tak pernah lelah “membangun semangat berbagi”, bersilaturahmi, dan membangkitkan kesadaran akan pentingnya pendidikan karakter berbasis religi di tengah dinamika peradaban global yang makin rumit dan kompleks.

Selamat jalan, Pak Achjar. Semoga dilapangkan jalanmu menuju ke haribaan-Nya, diampuni segala dosa-dosamu, dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Meski jasatmu telah tiada, nilai-nilai keteladanan, pemikiran, dan kebersahajaanmu merupakan warisan tak ternilai bagi Agupena. Saya dan keluarga besar Agupena Jawa Tengah turut berbela sungkawa yang sedalam-dalamnya, semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran dan ketabahan, amiin. ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Sosok Pak Achjar Chalil dalam Kenangan" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (4 Mei 2010 @ 00:58) pada kategori Pendidikan. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 107 komentar dalam “Sosok Pak Achjar Chalil dalam Kenangan

  1. Aslm pak Sawali, saya adalah anak kedua bapak Achjar Chalil. Dalam waktu dekat ini, buku autobiografi yang Pak Achjar tulis akan segera diterbitkan. Jika berkenan saya ingin memasukkan tulisan bapak mengenai ayah saya di buku biografi beliau. Mohon konfirmasinya ya, Pak. Saya bisa dihubungi di 085643376193. Terima kasih sebelumnya, Pak.

    Salam
    Achi TM

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *