02May 2010 111 Comments5,264 pembaca
Pendidikan Karakter dan Hardiknas 2010
Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh pada 2 Mei tahun ini mengambil tema “Pendidikan Karakter untuk Membangun Keberadaban Bangsa”. Sebuah tema strategis yang memang amat kontekstual dengan situasi kekinian yang dinilai makin abai terhadap persoalan-persoalan akhlak dan budi pekerti. Degradasi moral dan involusi budaya telah menjadi fenomena rutin yang makin menenggelamkan kemuliaan dan martabat bangsa. Perilaku kekerasan, vandalisme, korupsi, dan berbagai perilaku tidak jujur lainnya telah menjadi sebuah kelatahan kolektif. Untuk mendapatkan harta, pangkat, jabatan, dan kedudukan tak jarang ditempuh dengan cara-cara curang ala Machiavelli, bahkan jika perlu menggunakan ilmu permalingan dan berselingkuh dengan dunia klenik dan mistik. Tak ayal lagi, negeri ini tak lebih dari sebuah pentas kolosal yang menyuguhkan repertoar tragis, pilu, dan menyesakkan dada.
Dalam situasi demikian, bangsa dan negeri yang besar ini perlu diingatkan kembali pada nilai-nilai genuine yang secara historis telah membuat kesejatian diri bangsa menjadi lebih terhormat dan bermartabat. Tanpa bermaksud untuk tenggelam ke dalam romantisme masa silam, yang jelas bangsa kita perlu belajar pada nilai-nilai kearifan lokal masa silam sebagai basis perilaku untuk memasuki pusaran arus global yang makin rumit dan kompleks sehingga bangsa kita sanggup menjadi bangsa yang maju dan modern tanpa harus kehilangan pijakan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Negeri kepulauan yang memiliki kemajemukan dalam soal etnis, bahasa, budaya, ras, dan berbagai kekuatan primordial lainnya itu sejatinya bisa membangun sebuah kesenyawaan peradaban yang menggambarkan mosaik keindonesiaan yang toleran, demokratis, bermartabat, berbudaya, dan beradab.
Namun, secara jujur mesti diakui, 65 tahun hidup merdeka, bangsa kita justru kian tenggelam dalam cengkeraman budaya pragmatis, instan, dan bar-bar, yang dinilai telah gagal memerdekakan manusia dari kemiskinan dan keterbelakangan. Di tengah capaian pembangunan yang demikian pesat secara lahiriah, rohaniah bangsa kita justru kering-kerontang; tak sanggup membebaskan diri dari ketertindasan dan kesewenang-wenangan. Merebaknya perilaku tak beradab, seperti korupsi, penggusuran, main hakim sendiri, dan berbagai aksi kekerasan lainnya bisa menjadi bukti bahwa bangsa kita belum sepenuhnya bisa hidup merdeka. Pekik “merdeka!” hanya lantang diucapkan di atas mimbar dan podium orasi. Realitas yang terjadi justru sebaliknya. Masih banyak warga bangsa yang harus mengais rezeki dari tong-tong sampah, tidur di emper-emper toko, dan harus main kucing-kucingan dengan Satpol PP ketika mereka mencari peruntungan di trotoar atau alun-alun kota. Dengan dalih menjaga ketertiban dan kenyamanan kota, elite negeri ini rela berbuat biadab terhadap sesamanya dengan menggusur dan menistakan rakyat kecil yang hidup susah dan terlunta-lunta.
Merebaknya aksi-aksi kekerasan dan vandalisme di atas panggung sosial negeri ini sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari karakteristik kekuasaan yang (nyaris) tak pernah berpihak kepada “wong cilik”. Hukum hanya menjadi milik mereka yang memiliki uang dan kekuasaan. Melalui “hamba-hamba” hukum yang bisa mereka ajak untuk berselingkuh dan kongkalingkong, mereka bisa dengan mudah melakukan rekayasa kasus agar perilaku korup dan jahat yang mereka lakukan tak tersentuh oleh hukum. Sebaliknya, rakyat kecil yang tak berdaya bisa dengan mudah diperdayai dan dijebloskan ke penjara hanya karena maling coklat, kapuk randu, atau semangka, yang hanya sekadar dijadikan sebagai alat pengganjal perut. Akumulasi kekecewaan dan rasa tidak puas terhadap karakteristik kekuasaan yang semacam itu, disadari atau tidak, telah menumbuhkan semangat kolektif untuk melakukan “perlawanan” dengan melakukan aksi-aksi jalanan yang tak jarang menimbulkan situasi chaos dan berdarah-darah.
Di tengah situasi masyarakat yang chaos dan berdarah-darah semacam itu, pendidikan yang menjadi basis dan kawah candradimuka peradaban, jelas menghadapi tantangan yang makin rumit dan kompleks. Dunia pendidikan tak hanya dituntut untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada siswa didik, tetapi juga harus mampu menjalankan peran dan fungsinya untuk menaburkan, menanamkan, menyuburkan, dan sekaligus mengakarkan nilai-nilai akhlak dan budi pekerti, sehingga keluaran pendidikan benar-benar menjadi sosok yang “utuh” dan “paripurna”; menjadi pribadi yang berkarakter jujur, rendah hati, dan responsif terhadap persoalan-persoalan kebangsaan.
Setidaknya, ada tiga hal penting dan mendasar yang perlu segera diagendakan agar pendidikan karakter benar-benar bisa diimplementasikan ke dalam institusi pendidikan kita. Pertama, membangun keteladanan elite bangsa. Sudah bertahun-tahun lamanya, semenjak rezim Orba berkuasa, negeri ini telah kehilangan sosok negarawan yang bisa menjadi teladan dan anutan sosial dalam perilaku hidup sehari-hari. Kaum elite kita, diakui atau tidak, hanya pintar ngomong di atas mimbar pidato, tetapi implementasi tindakannya ibarat “jauh panggang dari api”. Mereka ngomong “berantas korupsi dan mafia hukum”, tetapi realitas yang terjadi justru proses pembiaran terhadap perilaku-perilaku jahat dan korup. Mereka berteriak “membela wong cilik”, tetapi kenyataan yang terjadi justru peminggiran peran dan penggusuran rakyat kecil di mana-mana. Insitusi pendidikan tak akan banyak maknanya apabila kaum elite kita hanya berada “di atas menara gading kekuasaan”, miskin keteladanan, dan hanya sibuk bermain akrobat untuk mempertahankan kekuasaan semata.
Kedua, memberdayakan guru. Secara jujur harus diakui, profesi guru, semenjak disahkannya UU Guru dan Dosen, menjadi lebih “bergengsi” dan bermartabat. Setidak-tidaknya, guru yang dinyatakan sudah lulus sertifikasi sudah bisa menikmati tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok. Namun, sesungguhnya bukan hanya semata-mata tingkat kesejahteraan yang dibutuhkan guru, melainkan juga pemberdayaan dari ranah kompetensi yang selama ini masih menyisakan tanda tanya. Empat kompetensi –profesional, pedagogik, kepribadian, dan sosial– yang menjadi syarat wajib bagi guru profesional belum sepenuhnya bisa diimplementasikan dalam perilaku dan kinerja guru sehari-hari. Belum lagi persoalan perlindungan dan advokasi terhadap kinerja guru yang dianggap masih lemah, sehingga guru belum sepenuhnya mampu menjalankan peran dan fungsinya secara optimal. Yang tidak kalah penting, guru juga perlu terus diberdayakan dalam soal pengembangan pendidikan karakter lintas-mata pelajaran. Artinya, pendidikan karakter bukan hanya semata-mata menjadi tanggung jawab guru PKn atau Agama saja, melainkan juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kinerja guru secara menyeluruh dan terpadu.
Ketiga, dukungan lingkungan sosial, kultural, dan religi terhadap keberlangsungan pendidikan karakter dalam dunia pendidikan. Di tengah situasi peradaban yang makin abai terhadap nilai-nilai akhlak dan budi pekerti, institusi pendidikan tak bisa sepenuhnya “otonom” dan berjalan sendiri tanpa “intervensi” lingkungan. Segenap elemen bangsa, mulai tokoh masyarakat, agama, hingga media, perlu memberikan dukungan penuh dan optimal terhadap implementasi pendidikan karakter. Media televisi yang selama ini telah menjadi “tuhan” baru di kalangan anak-anak dan remaja perlu menjalankan fungsinya sebagai pencerah peradaban dengan memberikan suguhan dan tayangan yang edukatif. Jangan sampai anak-anak yang tengah “memburu jati diri” dicekoki dengan tayangan sinetron mistik atau entertaintment yang serba glamor, hingga membuat anak-anak bangsa di negeri ini makin kehilangan pegangan dan basis pendidikan karakter dalam hidup dan kehidupannya.
Nah, selamat memeringati Hardiknas 2010, semoga pendidikan karakter yang menjadi tema dan narasi besar tahun ini tak hanya mengapung-apung dalam bentangan slogan dan retorika belaka! ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Pendidikan Karakter dan Hardiknas 2010" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (2 May 2010 @ 11:18) pada kategori Edukasi, Opini, Refleksi, Religi, Sosial dan telah dikunjungi oleh 5,264 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 23, 2011 @ 13:17:02
Wahh . . . . .postingannya bermutu banget, saya suka tuhh . . .yang bermutu
sebenernya gimana sih cara buat postingan yang bermutu kayak gini?
Jul 21, 2010 @ 05:33:41
setelah pendidikan inklusi yang juga nggak rampung, terus pendidikan karakter,.. dimana pembuatan kurikulum sekolah KTSP banyak yang hanya kopi paste saja, lantas, mau apa lagi ya… :D
Jul 23, 2010 @ 16:39:38
hmmm …. menunggu digilas roda sang waktu, mas surya, meminjam istilah mas mahendra, haks.
Jul 11, 2010 @ 09:06:12
Meskipun agak terlambat, tapi tak apalah saya sampaikan tanggapan saya atas pendapat Bapak yang bagus ini. Secara pribadi, sebagai seorang pendidik dan sebagai seorang guru bahasa, ada satu hal yang terlupa, bahwa dalam pendidikan karakter, faktor bahasa tak boleh dilupakan. Karakter seseorang akan dapat terlihat dari bagaimana cara ia menggunakan bahasa atau berkomunikasi. Jika, bahasanya baik, runut, sistematis, bisa dipastikan bahwa karakter seseorang itu akan baik pula. Simpelnya seperti itu…..
Jul 12, 2010 @ 19:15:34
wah, terima kasih banget tambahan infonya, pak sofyan.
Jun 28, 2010 @ 19:59:57
semangaaattt…
:D
Jun 28, 2010 @ 15:14:30
semoga kita tidak pernah punya bangsan yg berkarakter tempe….
Jun 24, 2010 @ 12:57:15
hardiknas?? Cukup menyedihkan banyak orang khususnya para pelajar tidak memaknai arti dari hardiknas tersebut..mau di bawa kemana pendidikan di Indonesia ini :((
Jun 30, 2010 @ 23:25:47
itulah pertanyaan yang selalu muncul, mas arif. semoga ada terobosan baru yang lebih visioner.
May 12, 2010 @ 20:47:34
Wah guru2 demo tuh pak…:d
May 12, 2010 @ 11:07:58
wah guru2 demo tuh pak!
May 12, 2010 @ 11:06:06
Wah guru-guru demo tuh pak!
May 07, 2010 @ 00:03:51
selamat hari pendidikan nasional ya, smoga pendidikan diindonesia ini semakin maju dan tak ketinggalan dengan negara lain, jangan sampai, kesenangan anak cucukita direnggut oleh koruptor yg tidak bertanggung jawab
.-= Baca juga tulisan terbaru unek2ku berjudul "Titipan Bu Titan untuk Mahasiswa Executive" =-.
May 08, 2010 @ 01:09:38
selamat hardiknas juga, mas. terima kasih support dan ajakannya yang simpatik.
May 06, 2010 @ 11:45:06
Duh, komentar saya kok gak muncul ya, Pak?
Ya sudah ta baleni wis seingatnya.
Saya setuju dengan poin pertama, Pak. Bagaimanapun, keteladanan pemimpin adalah hal utama dalam mendorong perubahan. Soalnya, bukankah contoh berupa tindakan itu jauh lebih efektif ketimbang perintah, imbauan atau apapun bentuknya yang hanya berupa ucapan? Koar-koar akan konsisten memimpin sendiri pemberantasan korupsi, tapi dalam praktiknya justru menghambat penyelidikan kasus korupsi. Ini tentu bukan contoh yang baik.
May 08, 2010 @ 01:06:20
dah muncul terus gitu, kok, bung, hehe ….
May 06, 2010 @ 11:35:00
Saya setuju dengan poin pertama, Pak. Bagaimanapun, keteladanan pemimpin adalah hal utama dalam mendorong perubahan. Soalnya, bukankah contoh berupa tindakan itu jauh lebih efektif ketimbang perintah, imbauan atau apapun bentuknya yang hanya berupa ucapan? Koar-koar akan konsisten memimpin sendiri pemberantasan korupsi, tapi dalam praktiknya justru menghambat penyelidikan kasus korupsi. Ini tentu bukan contoh yang baik.
May 06, 2010 @ 11:32:07
Saya setuju dengan poin pertama, Pak. Bagaimanapun, keteladanan pemimpin adalah hal utama dalam mendorong perubahan. Soalnya, bukankah contoh berupa tindakan itu jauh lebih efektif ketimbang perintah, imbauan atau apapun bentuknya yang hanya berupa ucapan? Koar-koar akan konsisten memimpin sendiri pemberantasan korupsi, tapi dalam praktiknya justru menghambat penyelidikan kasus korupsi. Ini tentu bukan contoh yang baik.
.-= Baca juga tulisan terbaru Bung Eko berjudul "Eni Kusuma, Kisah TKW Luar Biasa" =-.
May 08, 2010 @ 01:05:53
terima kasih atas apresiasi dan tambahan infonya, bung eko.
May 06, 2010 @ 01:31:53
nation and character building secara induktif diawali dengan membangun kembali kepribadian bangsa.
kata kuncinya ada pada value system (etos) dan believe system (mitos). Etos menghasilkan sistem sosial politik, sosial ekonomi dan sosial budaya.
mitos menghasilkan pemahaman spiritualitas tentang ke=Esa-an Sang Pencipta.
perpaduan keduanya menghasilkan masyarakat gotong royong.
.-= Baca juga tulisan terbaru itempoeti berjudul "Sri Mulyani Mundur, SBY Gagal" =-.
May 08, 2010 @ 01:02:38
wah, terima kasih banget tambahan infonya yang mencerahkan ini, mas itempoeti.
May 05, 2010 @ 23:43:37
Education is very important for the progress of the nation
.-= Baca juga tulisan terbaru News Radio Streaming berjudul "Radio KPTK 1090 AM" =-.
May 05, 2010 @ 19:00:54
:d:d pendidikan karakter memang sangat diperlukan di semua lini biar bangsa kita lebih berkarakter
nice post
.-= Baca juga tulisan terbaru Les Privat berjudul "Selamat Datang di "Gerbatama UI"" =-.
May 08, 2010 @ 00:59:58
setuju banget, mas. idealnya memang demikian.
May 04, 2010 @ 11:36:55
Meski bukan hari guru, tapi saya tetap ingin menyalamati pak sawali.
Selamat bekerja, Pak Guru Sawali..
Semoga semuanya menjadi lebih baik mengingat pendidikan adalah modal yang sangat besar untuk bangsa!
.-= Baca juga tulisan terbaru DV berjudul "Hikayat Tattoo (6), Akhir yang bukan akhir" =-.
May 08, 2010 @ 00:49:39
terima kasih support dan apresiasinya, mas don. sukses selalu juga buat mas donny dan keluarga.
May 04, 2010 @ 10:28:25
Selamat hari pendidikan pak..
maaf telat, baru online soalnya..hehe~o)
.-= Baca juga tulisan terbaru TUKANG COLONG berjudul "Pilkada..Pilkada.." =-.
May 08, 2010 @ 00:47:31
selamnat hardiknas juga, mas. walah ndak ada istilah telat, kok, mas. kapan pun sampeyan bisa menyambangi blog ini.
May 03, 2010 @ 21:31:11
Selamat hari pendidikan . .maju terus pendidikan INDONESIA
May 08, 2010 @ 00:30:33
selamat hardiknas juga, mas. terima kasih supportnya.
May 03, 2010 @ 21:08:48
kadang2, kita sudah terlampau pesimis bicara soal pendidikan di Indonesia, Pak. he2. saking sudah parahnya.
May 08, 2010 @ 00:29:33
hehe … ternyata yang pesimis tak hanya mas haris saja, tapi banyak juga yang memiliki asumsi seperti itu.
May 03, 2010 @ 19:41:51
Pendidikan di Indonesia seharusnya bisa lebih maju apabila anggaran 20% yang dialokasikan benar2 dimanfaatkan untuk melatih guru2 agar memeliki kompetensi yang benar2 profesional untuk mendidik para anak asuh mereka. Selamat Hari Pendidikan Nasional
May 08, 2010 @ 00:29:02
selamat hardiknas juga, mas ifan. wah, jelas saya sepakat banget dg apa yang disampaikan mas ifan itu. anggaran 20% kalau tak pernah menetes sampai ke bawah malah bikin repot, hehe ….
May 03, 2010 @ 19:32:56
Marilah kita bersama-sama ikut serta dalam membentuk karakter yang baik bagi bangsa yang kita cintai ini. Hari Pendidikan Nasional dapat dijadikan saat untuk mengevaluasi sumbangsih kita terhadap pembentukan karakter bangsa.
May 08, 2010 @ 00:25:40
sebuah ajakan yang simpatik, mas mark. dan yang pasti saya sangat setuju dan sepakat.
May 03, 2010 @ 19:31:50
Saya justeru melihat pendidikan sekarang mulai masuk ranah pragmatis dan hedonis. Contoh:
1. Tujuan akhir sekolah adalah UN (angka-angka) yang sepenglihatan saya banyak didongkrak dengan ketidakjujuran berjamaah pihak sekolah sehingga membentuk karakter “boleh melanggar aturan demi kelulusan” di benak peserta didik.
2. Adanya ketidakpercayaan pemerintah terhadap sekolah, guru dan siswa. Bayangkan “Soal UN saja perlu dikawal aparat polisi bersenjata lengkap”.
3. Muatan kurikulum bernuansa sekuler, buktinya pendidikan agama (yang katanya harus seimbang dunia akhirat) hanya diberi porsi 2 jam pelajaran atau 4-5% saja).
.-= Baca juga tulisan terbaru Syamsuddin Ideris berjudul "Aplikasi Raport Berbasis Web" =-.
May 08, 2010 @ 00:25:12
itulah yang terjadi dengan sistem pendidikan di negeri ini, pak syam. saya sepakat banget dengan apa yang pak syam kemukakan itu.
May 03, 2010 @ 19:22:51
Selamat hari pendidikan pak..:)
ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani: di depan menjadi teladan, di tengah membangun semangat, dari belakang mendukung…semboyan yang semoga selalu menjadi penuntun bagi pendidik2 di negeri ini…
.-= Baca juga tulisan terbaru Tour, Food, and Health berjudul "TIPS MERENCANAKAN KECERDASAN OTAK ANAK" =-.
May 08, 2010 @ 00:24:24
selamat hardiknas juga, dok. wah, tambahan infonya mencerahkan banget. terima kasih.
May 03, 2010 @ 17:35:58
selamat HarDikNas bang sawali
May 08, 2010 @ 00:23:14
selamat hardiknas juga, mas. makasih supportnya.
May 03, 2010 @ 17:33:59
HARDIKNAS perlu diperingati ap ga y??or perlu dibenahi sistem pendidikan, terutama di Indonesia??semoga aj tambah maju pendidikan dinegeri ini gan
.-= Baca juga tulisan terbaru Universitas Jember berjudul "Universitas Jember Peduli Realigi" =-.
May 08, 2010 @ 00:22:45
memang perlu ada pembenahan sistem pendidikan secara terus-menerus dan simultan. upacara dan semacamnya sejatinya kan bukan substansinya, tapi lebih pada asesori belaka.
May 03, 2010 @ 17:25:37
Hari Pendidikan Nasional di sekolah kami menjadi kian tidak di’maknai’ semoga dengan tema tadi Pendidikan di Indonesia ini bersama dengan “Orang Besar” dapat mejadikan “Wong Cilik” pahlawan bagi pembangunan bangsa. Sukses selalu Pak.
.-= Baca juga tulisan terbaru yusami berjudul "RACUN……KENALILAH !" =-.
May 08, 2010 @ 00:21:50
salam sukses juga, mas yussa. hmm … mestinya memang harus ada sinergi antara wong cilik dan orang besar utk mewujudkan peradaban yang lebih berkarakter.
May 03, 2010 @ 17:12:14
pukul nol-nol pas hari pendidikan, saya ajak anak-anak untuk bangun dan merenung, kebetulan saya sedang adakan perkemahan pada hari itu
viva pendidikan
.-= Baca juga tulisan terbaru budiesastro berjudul "GURU DITELANJANGI DI DEPAN SISWA" =-.
May 03, 2010 @ 17:11:35
pukul nol-nol pas hari pendidikan, saya ajak anak-anak untuk bangun dan merenung, kebetulan saya sedang adakan perkemahan pada hari itu
viva pendidikan
May 03, 2010 @ 17:11:08
pukul nol-nol pas hari pendidikan, saya ajak untuk bangun dan merenung, kebetulan saya sedang adakan perkemahan pada hari itu
viva pendidikan
May 08, 2010 @ 00:20:49
wah, hebat bener nih, kang bud. dalam rangka hardiknas, anak2 diajak utk melakukan perkemahan. bikin iri.
May 03, 2010 @ 16:10:41
salam sahabat
selamat hari pendidikan pak, semoga tim agupena jawa tengah semakin jaya
May 08, 2010 @ 00:20:10
selamat hardiknas juga, gus.
May 03, 2010 @ 15:34:15
Wahh . . . . .postingannya bermutu banget, aku suka tuhh . . .yang bermutu
sebenernya gimana sih cara buat postingan yang bermutu kayak gini?
Trackbalik ya, follow ke google connect juga ya
Salam kenal
May 08, 2010 @ 00:19:44
hehe … walah biasa saja, kok, mas. saya juga asal mosting aja. kalau ke google connect kayaknya sudah langsung otomatis, mas.
May 03, 2010 @ 14:18:13
betul pak..
apalagi karakter pejabat Indonesia yang UUD.
Ujung-Ujungnya Duit…
hmm, sepertinya masih banyak yang mengutamakan kepentingan pribadi diatas komitmen tanggungjawabnya sebagai pejabat.
May 08, 2010 @ 00:17:58
hehe … itulah repotnya kalu para elite di negeri ini gagal menjadi teladan. perilaku mereka justru menunjukkan perilaku yang kurang terhormat dan bermartabat.
Tweets that mention Catatan Sawali Tuhusetya -- Topsy.com
May 03, 2010 @ 12:50:57
[...] This post was mentioned on Twitter by Sawali Tuhusetya. Sawali Tuhusetya said: Pendidikan Karakter dan Hardiknas 2010 http://is.gd/bQBpm [...]
May 03, 2010 @ 12:50:32
kalo di harian PR hari ini ada laporan, demo buruh berjalan tertib dan aman. Berarti buruh itu lebih santun dan tidak bar-bar, faham arti demokrasi… :d
.-= Baca juga tulisan terbaru ade truna berjudul "MENGAPA MANUSIA MEMBUTUHKAN KARAKTER?" =-.
May 08, 2010 @ 00:17:03
nah, itu dia, mas ade. buruh juga hampir tak pernah melakukan korupsi.
May 03, 2010 @ 11:08:05
mungkin cerita sejarah bangsa ini memang harus berjalan seperti ini pak…. betapapun pedihnya kisah perang di kurusetra toh akhirnya bisa menjadi pelajaran berharga bagi generasi2 selanjutnya… mungkin seperti inilah yg saat ini berlaku di negara kita… dan kita saat ini yg menjadi tokoh sekaligus martirnya
semoga segala kebodohan dan kekhilafan yg terjadi saat ini pada bangsa kita bisa menjadikan pelajaran yang sangat berharga bagi generasi2 penerus bangsa ini nantinya… Amiin 
.-= Baca juga tulisan terbaru firdaus berjudul "AWARD Pertamaku….. ^_^" =-.
May 08, 2010 @ 00:16:30
betul sekali, mas firdaus. kalau dikaitkan dengan fenomena anomali sosial yang muncul belakangan ini, seolah2 peran dan fungsi pendidikan jadi mandul.
May 03, 2010 @ 10:21:59
hahaa…. gambarnya lucu banget pak.
iya setujuh.. pendidikan karakter jauh lebih penting dari semua pelajaran.
pelajaran agama dan PPKn sudah tak memberi dampak konkret thd karakter anak bangsa. harus ada terobosan yg bener2 fokus pada character building
May 08, 2010 @ 00:15:34
yaps, terima ksih atas support dan tambahan infonya, mas moudy.
May 03, 2010 @ 10:17:22
Hari ini kami jajaran LPMP Gorontalo baru melaksanakan peringatan HARDIKNAS. Pimpinan upacara membacakan pidato Menteri Pendidikan yang isinya menekankan peran serta para pendidik dan tenaga kependidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan para peserta didik.
May 08, 2010 @ 00:15:01
wah, berarti sama dong, mas marada. semua inspektur upacara membacakan sambutan mendiknas.
May 03, 2010 @ 08:46:38
“Pendidikan Karakter” Tema kali ini dalam bangeet ya
Salam Pendidikan Nasional
.-= Baca juga tulisan terbaru jarwadi berjudul "Pagi – Pagi Sudah Minta Sumbangan" =-.
May 07, 2010 @ 23:45:31
salam pendidikan nasional juga, mas jarwadi. mungkin tema seperti itulah yang relevan utk saat ini.
May 03, 2010 @ 08:16:05
Selamat hari pendidikan pak..
Ayo..kita berbuat baik untuk pendidikan generasi muda ini, betapapun kecilnya share kita, akan bermanfaat bagi sesama.
May 07, 2010 @ 23:44:58
selamat hardiknas juga, bu eny. terima kasih saran dan imbauan ibu yang mencerahkan ini. semoga bisa terwujud, amiiin.
May 02, 2010 @ 22:56:02
Met hardiknas aja pak sawali..semoga mutu pendidikan kita bisa kian meninggkat..!!! seperti meninggkatnya PR pak sawali..=))..^:)^
May 07, 2010 @ 23:44:20
selamat hardiknas juga, mas dhur. amiin, mudah2an harapan spt itu bisa terwujud, mas.
May 02, 2010 @ 22:29:27
eh, Hari Pendidikan Nasional ya pak, berarti besok Upacara nie…
.-= Baca juga tulisan terbaru iis sugianti berjudul "Mempertanyakan Mutu Pendidikan kita" =-.
May 07, 2010 @ 23:43:35
mbak yanti ikutan upacara, ndak?
May 02, 2010 @ 22:18:17
selamat Hardiknas (Hari Penghardikan Nasional)..semoga mutu pendidikan kita bukan makin tenggelam ya Pak…
.-= Baca juga tulisan terbaru iis sugianti berjudul "Mempertanyakan Mutu Pendidikan kita" =-.
May 07, 2010 @ 23:43:17
kenapanjangan yang dikemukakan mbak yanti membuat saya tertawa ngakak, wakaka … ada2 saja, haks.
May 02, 2010 @ 20:47:36
saya hanya ingin mengucapkan selamat hari pendidikan nasional aja pak..
semoga dunia pendidikan Indonesia semakin maju dan semakin berkualitas amin..
apakabar pak Sawali?
salam, ^_^
.-= Baca juga tulisan terbaru Didien® berjudul "IBSN : Hanya mengingatkan" =-.
May 07, 2010 @ 23:42:34
selamat hardiknas juga, mas didien. alhamdulillah baik dan sehat, semoga mas didien dan keluarga juga demikian.
May 02, 2010 @ 20:17:37
Selamat Hari Pendidikan Nasional
Tugas yang berat untuk Bapak/Ibu guru tercinta -masih banyak anak2 disekitar saya yang masih susah untuk di ajak belajar
Tapi tetep semangat buat Bapak/ibu Guru harapan kita semua
.-= Baca juga tulisan terbaru agung berjudul "Pernak pernik sidebar mulai berkurang diultah yang pertama" =-.
May 07, 2010 @ 23:42:04
selamnat hardiknas juga, mas agung. kenyataan seperti memang tak terbantahkan, mas agung. dengan program wajar 9 tahun mudah2an mereka bisa diajak utk mengembangkan potensi diri.
May 02, 2010 @ 20:04:24
Lia setuju pak dengan tiga Point diatas.. terutama point ke dua..
Miris melihat perjalanan pendidikan di Indonesia
Selamat Hari Pendidikan Nasional
.-= Baca juga tulisan terbaru delia berjudul "Mencoba Romantis" =-.
May 07, 2010 @ 23:41:09
selamat hardiknas juga, mbak lia. terima kasih tambahan infonya.
May 02, 2010 @ 19:14:19
hmmm
point2 diatas sangatlah benar adanya
selamat hari pendidikan
May 07, 2010 @ 23:39:43
selamat hardiknas juga, mas antok. terima kasih.
May 02, 2010 @ 19:11:04
hehhe
jujur aku lupa iwq
klo lagi hari pendidikan heheh
selamat hari pendidikan
smoga kedepan penddikan di indonesia makin maju dan terarah
May 07, 2010 @ 23:39:18
hehehe …. kan setiap tahun diperingati toh, mas, haks. amiin, semoga harapan seperti itu bisa terwujud, mas.
May 02, 2010 @ 19:06:55
Setuju Pak
Moga dengan perbaikan pendidikan
Generasi kita kan semakin maju
Untuk Indonesia yang jauh lebih baik
.-= Baca juga tulisan terbaru achoey berjudul "Tips Agar Pinangan Tak Ditolak Calon Mertua" =-.
May 07, 2010 @ 23:38:35
amiiin, itulah yang kita harapkan, mas achoey.
May 02, 2010 @ 17:50:45
apa karena kita belum punya karakter ? sopan santun? yang katanya sesama saudara harus selalu melindungi dan mengasihi. namun kenyataanya kita malah di pejundangi oleh orang – orang yang notabene adalah saudara – saudara kita sendiri. mereka kenyang menjarah, kita lapar dengan sulitnya memenuhi kebutuhan.
.-= Baca juga tulisan terbaru Blogger Terpanas berjudul "Profiadvert.com Juga membayar loh………" =-.
May 07, 2010 @ 23:38:15
itulah yang terjadi di negeri ini, mas faya. sungguh repot. negeri yang dulu dikenal ramah, telah berubah jadi orang2 pemarah, hihihi….
May 02, 2010 @ 16:50:16
Tulisan yang bagus pak sawali. Ijin share tampilin di blog kami ya pak, Semoga warga dan temen2 guru di jombang dapat membaca dan mengimplementasikan pendidikan karakter tersebut. Thanks…
.-= Baca juga tulisan terbaru Fendik berjudul "ISTIGHOTSAH MENJELANG UASBN" =-.
May 07, 2010 @ 23:36:06
terima kasih apresiasinya, pak fendik. wah, mangga kalau mau di-share, terima kasih banget kalau mau ikut menyebarluaskan pentingnya pendidikan karakter.
May 02, 2010 @ 16:02:04
Tulisan yang sangat “menggigit” Pak sawali. Semoga banyak orang yang membaca, termasuk pejabat politik, guru, dll sehingga harapan yang Panjenengan lontarkan itu sungguh dapat terwujud. Selamat Hardiknas 2010. Salam kekerabatan.
.-= Baca juga tulisan terbaru Sungkowoastro berjudul "Masyarakat, Laboratorium Pendidikan" =-.
May 07, 2010 @ 23:37:19
walah, pak sungkowo bisa saja nih, tulisan biasa saja, kok, pak. selamat hardiknas juga, ya, pak.
May 02, 2010 @ 15:47:57
Selamat Hari Pendidikan, semoga ruh pendidikan tidak terkotori
May 07, 2010 @ 23:34:40
selamat hardiknas juga, pak wahyu.
May 02, 2010 @ 15:47:34
selamat hari pendidikan nasional, mau dibawa arah pendidikan kita ini, makin lama makin ndak berkarakter!
May 07, 2010 @ 23:34:14
selamat hardiknas juga, mas dion. karena makin ndak berkarakter, maka pendidikan mulai dirintis agar bisa menghasilkan manusia2 masa depan yang berkarakter.
May 02, 2010 @ 15:42:38
setiap mendengar istilah pendidikan, hati rasanya miris dan teriris, sang penguasa keputusan selalu sibuk dengan konsep pelaksanaan pendidikan tapi esensi mendidik yang berkesinambungan dalam upaya membangun karakter generasi bangsa, belum tersentuh.. Sampai kapan????
May 07, 2010 @ 23:08:12
nah, pertanyaan yang sama dengan apa yang ada di kepala saya, mas pandu, hehe …. meski demikian, k8ta tetep berharap pendidikan karakter yang digagas berkaitan dg hardiknas 2010 tak hanya terjebak dalam slogan dan retorika belaka.
May 02, 2010 @ 15:42:30
Sejauh ini pendidikan karakter lebih banyak diisyaratkan melalui pendidikan-pendidikan nonformal pada poin ketiga, sedangkan untuk poin pertama sepertinya masih jauh dari kenyataan, poin kedua bisa saya mengungkapkan sedang dalam proses.
May 07, 2010 @ 23:02:13
terima kasih tambahan infonya, mas nahdhi.
May 02, 2010 @ 13:54:54
selamat hari pendidikan… semoga pendidikan di indonesia semakinm maju…
.-= Baca juga tulisan terbaru sauskecap berjudul "Country Steak, Restoran Bergaya Western" =-.
May 07, 2010 @ 23:01:13
selamat hardiknas juga, mbak ari, terima kasih apresiasinya.
May 02, 2010 @ 13:05:10
selamat hari pendidikan pak sawali, semoga agenda2 pendidikan karakter dapat terwujudkan
.-= Baca juga tulisan terbaru aRuL berjudul "Menulis kebahagiaan dari setetes tinta kesederhanaan" =-.
May 07, 2010 @ 23:00:36
terima kasih, mas arul, semoga hardiknas kali ini menjadi awal yang bagus utk penanaman pendidikan karakter.
May 02, 2010 @ 12:41:13
very nice artikel
Penyakit Menular Seksual : Gonore
May 07, 2010 @ 22:59:43
terima kasih apresiasinya, mas ossmed.
May 02, 2010 @ 12:02:21
saya sangat setuju dengan tiga poin itu pak sawali. begitulah seharusnya pendidikan di negeri ini dijalankan…
selamat hari pendidikan nasional pak sawali
May 07, 2010 @ 22:59:23
terima kasih atas apresiasinya, bang vizon. semoga saja agenda semacam itu benar2 bisa terwujud.
May 02, 2010 @ 11:53:59
betul itu mas
merdeka tapi serasa dijajah ama bangsa sendiri
kayaknya butuh waktu yang lama untuk dapat merasakan arti HARDIKNAS itu sendiri:-?
Keampuhan Backlink Blog Edu
.-= Baca juga tulisan terbaru seo in blog berjudul "Cara Jitu Mengecilkan Alexa Ranking" =-.
May 07, 2010 @ 22:58:35
itulah kenyataan yang terjadi, mas. agaknya dunia pendidikan kita belum sepenuhnya mampu memberi pencerahan peradaban.