Home » Esai » Sastra » Lerengmedini, Apsas, dan Dinamika Sastra Kendal

Lerengmedini, Apsas, dan Dinamika Sastra Kendal

Komunitas Lerengmedini bekerjasama dengan milis Apresiasi Sastra (Apsas) kembali menggelar Parade Obrolan Sastra III di Pondok Maos Guyub, Bebengan, Boja, Kendal, Jawa Tengah. Acara yang dihelat pada 21 hingga 30 April mulai pukul 19.30 WIB ini menghadirkan beberapa narasumber dari kalangan wartawan, penyair, cerpenis, perupa, dan novelis. Diantaranya, F Rahardi (novelis), Agus Noor (cerpenis), Sigit Susanto (penulis catatan perjalanan/traveller) dan Slamet Priyatin (penyair).

parade sastraF. Rahardi yang juga pemenang Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009 kategori prosa ini pada 26 April akan membicarakan tema “Sastra Dunia Maya dan Realitasnya.” Sedangkan, Agus Noor, penulis kumpulan cerpen “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia” pada 30 April selain akan membincangkan bukunya tersebut juga akan membahas seputar “Fiksionalitas dalam Sastra.”

Koordinator acara Heri CS memaparkan, tema obrolan lainnya yakni Menjadi Seorang Wartawan oleh Aris Mulyawan (21/4), Seputar Dunia Taman Baca di Kendal oleh Perpusda Kendal dan Yayasan Ciptaku (22/4), Bercerita dengan Gambar dan Workshop Komik oleh Didik Zein Mutahar (27/4), Bedah Novel “Proses” karya Kafka oleh Sigit Susanto (28/4), dan Denyut Sastra Kendal oleh Slamet Priyatin (29/4).

Kamis, 29 April 2010, saya bersama Kang Itos Budi Santosa, Ketua Dewan Kesenian Kendal (DK2), berkesempatan untuk menghadiri acara obrolan sastra yang mengusung tema “Denyut Sastra Kendal”. Agenda yang berlangsung pukul 08.00 s.d. 22.30 WIB yang dihadiri sekitar 20-an pencinta sastra dari berbagai kalangan itu cukup menggelitik dengan sentilan-sentilan khas para penggiat sastra yang selama ini memang biasa berbicara blak-blakan dan apa adanya. Slamet Priyatin, pemantik diskusi, ketika ketiban sampur untuk berbicara seputar “Peta Sastra Kendal” mengungkapkan bahwa sastra Kendal (nyaris) tak bergaung akibat minimnya media “mainstraim” yang mampu menampung karya-karya kreatif para sastrawan Kendal. Kondisi seperti itu diperparah dengan tidak adanya ruang apresiasi yang bisa dijadikan sebagai ajang pentas karya-karya seni, sastra, dan budaya. Imbasnya, dinamika kultural di kota Bahureksa ini (nyaris) jalan di tempat, bahkan stagnan.

Menyikapi situasi seperti itu, Kang Itos yang kebetulan juga bekerja di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang sangat memahami seluk-beluk birokrasi, termasuk dalam hal penganggaran, mengungkapkan bahwa sulit diharapkan Kendal mampu membangun sebuah taman budaya yang representatif dalam waktu dekat. Apalagi, semenjak otonomi daerah digulirkan, pemerintah pusat sudah “cuci tangan” dan menyerahkan semua pengelolaan aset dan pengadaan infrastruktur kepada pemerintah daerah. Imbasnya, banyak anggaran yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk membangun ruang dan fasilitas publik jadi kacau dan terbengkelai. Sebagian besar anggaran habis digunakan untuk belanja rutin.

Sementara itu, saya yang kebetulan didaulat Heri CS, sang pemandu obrolan, untuk ikut ngobrol, menyatakan bahwa setelah kepergian para “dedengkot” sastra Kendal ke kota lain, semacam Nung Runua, Gunoto Sapari, Ahmadun Yosi Herfanda, F. Rahardi, atau Prie GS, dinamika sastra Kendal (nyaris) tak terlihat dalam peta sastra Indonesia mutakhir. Tidak adanya media cetak yang mampu menampung karya-karya sastrawan muda Kendal dan kurang intensifnya proses apresiasi sastra melalui jalur struktural, membuat dinamika sastra Kendal kian tenggelam di tengah hiruk-pikuk peradaban yang makin “menghamba” pada nilai-nilai kapitalistik. Dalam konteks demikian, perlu ada sinergi antara jalur struktural dan non-struktural yang bisa menciptakan atmosfer sastra agar dinamika sastra menjadi lebih menggeliat.

Obrolan makin seru dengan lontaran pendapat Kelana yang lebih suka melakukan pentas-pentas jalanan, seperti di trotoar atau di jalan-jalan, melalui komunitas “Lumbung Sastra Kendal 0 KM”. Melalui komunitas semacam ini, kata Kelana, siapa pun bisa melakukan pentas dan apresiasi secara bersama-sama, sehingga sastra Kendal masih bisa terus menggeliat tanpa harus merengek-rengek dan menjadi peminta-minta kepada pemerintah. Toh kita bisa terus tampil seperti yang pernah disitir (alm.) WS Rendra “kegagahan dalam kemiskinan”, lanjut penyair berambut gondrong itu.

Ya, ya, obrolan memang terus mengalir. Banyak peserta yang terlibat intens dan hangat dalam proses diskusi itu. Sayangnya, obrolan yang seru itu terpaksa harus diakhiri karena “rezim” waktu yang tidak bisa diajak berkompromi. Walhasil, ada atau tidak ada perhatian lebih dari pemerintah, sastra Kendal harus tetap eksis dalam berbagai ragam dan genre melalui beragam corak publikasi yang diyakini mampu menopang kreativitas anak-anak muda Kendal dalam bersastra.

Lerengmedini yang dikomandani Heri CS dan milis Apsas (Apresiasi Sastra) yang dibidani Sigit Susanto, sastrawan Kendal yang kini bermukim di Swiss, setidaknya bisa menjadi wadah “pengingat” bahwa sampai kapan pun sastra Kendal masih akan terus eksis dan menggeliat di tengah carut-marut persoalan yang makin rumit dan kompleks. Semoga! ***

tentang blog iniTulisan berjudul "Lerengmedini, Apsas, dan Dinamika Sastra Kendal" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (30 April 2010 @ 18:09) pada kategori Esai, Sastra. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0, memberikan respon, atau melakukan trackback dari blog Anda. Terima kasih atas kunjungan, silaturahmi, saran, dan kritik Anda selama ini. Salam budaya!

Ada 57 komentar dalam “Lerengmedini, Apsas, dan Dinamika Sastra Kendal

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *