30Apr 2010 57 Comments1,040 pembaca
Lerengmedini, Apsas, dan Dinamika Sastra Kendal
Komunitas Lerengmedini bekerjasama dengan milis Apresiasi Sastra (Apsas) kembali menggelar Parade Obrolan Sastra III di Pondok Maos Guyub, Bebengan, Boja, Kendal, Jawa Tengah. Acara yang dihelat pada 21 hingga 30 April mulai pukul 19.30 WIB ini menghadirkan beberapa narasumber dari kalangan wartawan, penyair, cerpenis, perupa, dan novelis. Diantaranya, F Rahardi (novelis), Agus Noor (cerpenis), Sigit Susanto (penulis catatan perjalanan/traveller) dan Slamet Priyatin (penyair).
F. Rahardi yang juga pemenang Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2009 kategori prosa ini pada 26 April akan membicarakan tema “Sastra Dunia Maya dan Realitasnya.” Sedangkan, Agus Noor, penulis kumpulan cerpen “Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia” pada 30 April selain akan membincangkan bukunya tersebut juga akan membahas seputar “Fiksionalitas dalam Sastra.”
Koordinator acara Heri CS memaparkan, tema obrolan lainnya yakni Menjadi Seorang Wartawan oleh Aris Mulyawan (21/4), Seputar Dunia Taman Baca di Kendal oleh Perpusda Kendal dan Yayasan Ciptaku (22/4), Bercerita dengan Gambar dan Workshop Komik oleh Didik Zein Mutahar (27/4), Bedah Novel “Proses” karya Kafka oleh Sigit Susanto (28/4), dan Denyut Sastra Kendal oleh Slamet Priyatin (29/4).
Kamis, 29 April 2010, saya bersama Kang Itos Budi Santosa, Ketua Dewan Kesenian Kendal (DK2), berkesempatan untuk menghadiri acara obrolan sastra yang mengusung tema “Denyut Sastra Kendal”. Agenda yang berlangsung pukul 08.00 s.d. 22.30 WIB yang dihadiri sekitar 20-an pencinta sastra dari berbagai kalangan itu cukup menggelitik dengan sentilan-sentilan khas para penggiat sastra yang selama ini memang biasa berbicara blak-blakan dan apa adanya. Slamet Priyatin, pemantik diskusi, ketika ketiban sampur untuk berbicara seputar “Peta Sastra Kendal” mengungkapkan bahwa sastra Kendal (nyaris) tak bergaung akibat minimnya media “mainstraim” yang mampu menampung karya-karya kreatif para sastrawan Kendal. Kondisi seperti itu diperparah dengan tidak adanya ruang apresiasi yang bisa dijadikan sebagai ajang pentas karya-karya seni, sastra, dan budaya. Imbasnya, dinamika kultural di kota Bahureksa ini (nyaris) jalan di tempat, bahkan stagnan.
Menyikapi situasi seperti itu, Kang Itos yang kebetulan juga bekerja di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan yang sangat memahami seluk-beluk birokrasi, termasuk dalam hal penganggaran, mengungkapkan bahwa sulit diharapkan Kendal mampu membangun sebuah taman budaya yang representatif dalam waktu dekat. Apalagi, semenjak otonomi daerah digulirkan, pemerintah pusat sudah “cuci tangan” dan menyerahkan semua pengelolaan aset dan pengadaan infrastruktur kepada pemerintah daerah. Imbasnya, banyak anggaran yang seharusnya bisa dimaksimalkan untuk membangun ruang dan fasilitas publik jadi kacau dan terbengkelai. Sebagian besar anggaran habis digunakan untuk belanja rutin.
Sementara itu, saya yang kebetulan didaulat Heri CS, sang pemandu obrolan, untuk ikut ngobrol, menyatakan bahwa setelah kepergian para “dedengkot” sastra Kendal ke kota lain, semacam Nung Runua, Gunoto Sapari, Ahmadun Yosi Herfanda, F. Rahardi, atau Prie GS, dinamika sastra Kendal (nyaris) tak terlihat dalam peta sastra Indonesia mutakhir. Tidak adanya media cetak yang mampu menampung karya-karya sastrawan muda Kendal dan kurang intensifnya proses apresiasi sastra melalui jalur struktural, membuat dinamika sastra Kendal kian tenggelam di tengah hiruk-pikuk peradaban yang makin “menghamba” pada nilai-nilai kapitalistik. Dalam konteks demikian, perlu ada sinergi antara jalur struktural dan non-struktural yang bisa menciptakan atmosfer sastra agar dinamika sastra menjadi lebih menggeliat.
Obrolan makin seru dengan lontaran pendapat Kelana yang lebih suka melakukan pentas-pentas jalanan, seperti di trotoar atau di jalan-jalan, melalui komunitas “Lumbung Sastra Kendal 0 KM”. Melalui komunitas semacam ini, kata Kelana, siapa pun bisa melakukan pentas dan apresiasi secara bersama-sama, sehingga sastra Kendal masih bisa terus menggeliat tanpa harus merengek-rengek dan menjadi peminta-minta kepada pemerintah. Toh kita bisa terus tampil seperti yang pernah disitir (alm.) WS Rendra “kegagahan dalam kemiskinan”, lanjut penyair berambut gondrong itu.
Ya, ya, obrolan memang terus mengalir. Banyak peserta yang terlibat intens dan hangat dalam proses diskusi itu. Sayangnya, obrolan yang seru itu terpaksa harus diakhiri karena “rezim” waktu yang tidak bisa diajak berkompromi. Walhasil, ada atau tidak ada perhatian lebih dari pemerintah, sastra Kendal harus tetap eksis dalam berbagai ragam dan genre melalui beragam corak publikasi yang diyakini mampu menopang kreativitas anak-anak muda Kendal dalam bersastra.
Lerengmedini yang dikomandani Heri CS dan milis Apsas (Apresiasi Sastra) yang dibidani Sigit Susanto, sastrawan Kendal yang kini bermukim di Swiss, setidaknya bisa menjadi wadah “pengingat” bahwa sampai kapan pun sastra Kendal masih akan terus eksis dan menggeliat di tengah carut-marut persoalan yang makin rumit dan kompleks. Semoga! ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Lerengmedini, Apsas, dan Dinamika Sastra Kendal" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (30 April 2010 @ 18:09) pada kategori Edukasi, Esai, Sastra dan telah dikunjungi oleh 1,040 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 23, 2011 @ 13:23:31
ada kesan perhatian atau dukungan dari pemkab ternyata tak begitu kuat ya pak…
selamat berkarya untuk para pegiat sastra Kendal
May 04, 2010 @ 11:40:23
Namanya unik, Pak sawali.. lerengmedini
.-= Baca juga tulisan terbaru DV berjudul "Hikayat Tattoo (6), Akhir yang bukan akhir" =-.
May 02, 2010 @ 15:56:06
mudah-mudahan sastra di Kendal benar-benar menggeliat pak
May 07, 2010 @ 23:34:57
amiiin, terima kasih doa dan supportnya, pak soleh.
May 02, 2010 @ 14:12:01
Prasmanan ni yeeeeeeeeeee…………
May 07, 2010 @ 23:01:45
prasmanan? hals, kayak pesta aja toh, mas.
May 02, 2010 @ 09:23:23
wooo ternyata kendal ada sastranya to
May 07, 2010 @ 22:58:01
hehe … kan sudah sering saya posting di blog ini juga, mas ario.
May 02, 2010 @ 07:16:14
Potensi itu sepertinya belum banyak digali oleh pejabat2 kita. namun salut buat para sastrawan kita, ada atau tidak ada dana, ada atau tidak ada perhatian mereka tetep eksis. Padahal potensi para sastrawan ibarat mata air, semakin diambil airnya … airnya deras, semakin bening dan menyegarkan. Maju terus
May 07, 2010 @ 22:57:33
wah, pak wahyu mesti sekali-kali ikutan juga ngobrol bareng temen2, hehe …. idep2 silaturahmi, haks.
May 02, 2010 @ 00:12:22
ada kesan perhatian atau dukungan dari pemkab ternyata tak begitu kuat ya pak…selamat berkarya untuk para pegiat sastra Kendal
May 07, 2010 @ 22:55:17
seperti itulah kenyataan yang terjadi, mas teguh. seperti biasa, menjelang putaran pilkada, perhatian para elite daerah terfokus pada masalah politik mlulu, haks.
May 01, 2010 @ 21:14:58
sukses untuk…komunitas lerengmedini…:)
.-= Baca juga tulisan terbaru Tour, Food, and Health berjudul "Dapatkah orang tua membantu meningkatkan kecerdasan bawaan anak-anak melalui makanan dan gaya hidup yang sehat?" =-.
May 07, 2010 @ 22:53:40
terima kasih doa dan apersiasinya, dok.
May 01, 2010 @ 20:12:48
semoga sastra kendal akan tetap eksis dan dapat diwariskan ke generasi selanjutnya…
.-= Baca juga tulisan terbaru vikhi berjudul "Kopi Arabica Papua Aroma Mocca" =-.
May 07, 2010 @ 22:53:18
amiin, terima kasih support dan apresiasinya, mas vikhi.
May 01, 2010 @ 19:02:31
Jika taman budaya di dunia nyata sulit didapat, mungkin saatnya menciptakan lebih banyak “taman-taman budaya” di dunia maya, agar para generasi muda tidak kehilangan apresiasi terhadap dunia sastra, agar mereka selalu mendapatkan pencerahan bahwa hidup bukan hanya sekedar masalah perut…Bukankah Dunia Maya bisa memperpendek jarak dan waktu, dan lebih jauh lagi bisa lebih mudah mendapatkan dukungan dari banyak orang untuk memberikan tekanan pada pemerintah untuk tidak melupakan “Sastra” yang bisa menjaga jatidiri bangsa yang kian morat-marit ini..
Salam Sahabat
.-= Baca juga tulisan terbaru Foto Unik berjudul "Video Cowboy in Paradise Movie Trailer| Film Gigolo Bali" =-.
May 07, 2010 @ 22:32:36
sepakat banget, mas unik. sayangnya taman hbudaya dunia maya belum bisa diakses oleh semua publik sastra lantaran masih terbatasnya koneksi dan jaringan internet.
May 01, 2010 @ 14:45:50
mantab pak.
ketika sastra bukan sekedar menjadi sebuah legenda namun menjadi hal yang patut dilestarikan demi sebuah nilai luhur bangsa ini maka sebuah dinamika kecil harus dibesarkan agar menjadi sebuah gerakan yang didengar
.-= Baca juga tulisan terbaru ciwir berjudul "Kyai Muda Ekonomi Islam" =-.
May 07, 2010 @ 22:31:36
wah, komentar mas santri mantab banget. matur nuwun tambahan infonya yang mencerahkan.
May 01, 2010 @ 14:21:47
sayang gak di semua kota ada komunitas seperti ini
May 07, 2010 @ 22:31:03
hehe … mas firdaus toh yang merintisnya, gimana?
May 01, 2010 @ 13:52:42
waduh pak, bisa guyub gitu ya masyarakat disana. Di Lampung susah wat ngumpulin orang-orang yang berdedikasi….
.-= Baca juga tulisan terbaru iis sugianti berjudul "Vaseline MEN Amazing Journey #1, Kulit sehat Cermin pria sehat" =-.
May 07, 2010 @ 22:30:39
hehe … hanya faktor kebetulan saja, mbak yanti. saya yakin lampung un pun bisa melakukan hal yang sama, bahkan lebih.
May 01, 2010 @ 13:39:39
bagus banget nich acara sob.. bisa meningkatkan tali silaturahmi
.-= Baca juga tulisan terbaru Imoel berjudul "ArenaBetting.com Dukung Fair Play FIFA World Cup AFSEL 2010" =-.
May 07, 2010 @ 22:29:58
itu salah satu manfaatnya, mas imoel. terima kasih atas apresiasinya.
May 01, 2010 @ 13:39:32
Pengembangan sastra Indonesia seharusnya bisa lebih membumi lagi. Tidak hanya dinikmati sebagian kaum saja. Pihak yang terkait perlu melakukan sosialisasi ke masyarakat, salah 1 nya dengan festival dan lomba seni ini
May 07, 2010 @ 22:28:56
seharusnya memang demikian, mas ifan, semoga para pengambil kebijakan mulai memahami situasi seperti ini.
May 01, 2010 @ 11:39:46
salam kenal mas ^^!
smoga makin sukses komunitasnya…. :d/
May 01, 2010 @ 11:10:35
indahnya jika di Indonesia banyak komunitas2 seperti itu pak …
May 01, 2010 @ 10:43:54
komunitas pembangun bangsa…
.-= Baca juga tulisan terbaru bayuputra berjudul "Perkemahan anak PRAMUKA" =-.
May 01, 2010 @ 10:41:15
Kegiatan yg indah
Mencerahkan, mendidik dan mendewasakan
Salam salut Pak
May 07, 2010 @ 22:27:35
amiiin, terima kasih apresiasi dan supportnya, mas achoey.
May 01, 2010 @ 10:27:26
Sukses selalu buat komunitas Lerengmedini.. dalam memajukan satra indonesia…
wah senang juga rasanya jika bisa berkumpun dengan komunitas Lerengmedini…
Selamat Berakhir Pekan Pak …
.-= Baca juga tulisan terbaru bayuputra berjudul "Perkemahan anak PRAMUKA" =-.
May 07, 2010 @ 22:27:16
terima kasih apresiasinya, mas bayu.
May 01, 2010 @ 10:11:34
selalu harus ada inovasi untuk memajukan bangsa ini. kegiatan ini menurut saya adalah salah satu langkah positif ke arah itu. salut saya pak sawali… apa kabar pak, maaf sudah lama tak berkunjung
May 07, 2010 @ 22:26:57
alhamdulillah, baik dan sehat, bang vizon, semoga juga demikian halnya dengan bang vizon dan keluarga. terima kasih atas support dan apresiasinya.
May 01, 2010 @ 09:28:12
Wah mantap dah..
semoga sukses buat komunitasnya…
May 07, 2010 @ 22:26:02
matur nuwn, mas ziful atas doa dan supportnya.
May 01, 2010 @ 01:03:04
Sastra suatua hal yang sangat dalam buat lia…
Sukses selalu buat komunitas Lerengmedini.. dalam memajukan satra indonesia umumnya.. dan sastra kendal khususnya.. ^_^
.-= Baca juga tulisan terbaru delia berjudul "Mencoba Romantis" =-.
May 07, 2010 @ 22:19:35
yaps, terima kasih doa dan supportnya, mbak lia.
May 01, 2010 @ 00:58:35
saya tadi mbacae lereng medeni, wah takut aku,.. ternyata ndik sana sering ya pak ada pertemuan semacam itu, bisanya cuma pingin…kapan bisa kumpul dengan penggiat sastra
.-= Baca juga tulisan terbaru budies berjudul "CARA BLOKIR SITUS PORNO" =-.
May 07, 2010 @ 22:19:10
hehe … kok sama dengan apa yang saya obrolkan dalam acara malam itu, kang bud, hehe …
Apr 30, 2010 @ 23:07:55
Semoga tunas-tunas sastrawan baru dari Kendal segera tumbuh untuk menggantikan sastrawan Kendal yang sudah hijrah ke kota lain dan semoga Kendal segera memiliki Taman Budaya. Sastra diperlukan sebagai gizi buat jiwa.
.-= Baca juga tulisan terbaru Moh Arif Widarto berjudul "Keanehan di Jalan Tol Jakarta – Serpong" =-.
May 07, 2010 @ 22:18:29
amiiin, terima kasih doa dan supportnya, mas arif.
Apr 30, 2010 @ 22:57:04
Kita berlomba-lomba Pak. Yang baik berlomba dengan yang jahat, yang peduli berlomba dengan yang tidak peduli. Budaya asli dengan budaya globalisasi. Siapa yang akan menang akhirnya ya Pak?
.-= Baca juga tulisan terbaru Iwan Awaludin berjudul "Calosa April 2010" =-.
May 07, 2010 @ 22:18:09
wah, pertanyaan futristik itu, pak iwan, hehe … mengalir saja mengikuti kehendak zaman, haks.
Apr 30, 2010 @ 22:40:51
lek cedak neng kene wae,aku kepingin melu pak,hikz…hikz..
May 07, 2010 @ 22:08:46
@cah ndueso,
pindaho wae ning kendal, mas, keke …
Apr 30, 2010 @ 21:46:25
Pernyataan saudara Kelana pantas dijadikan “etos gerak kreatif” sastrawan tak hanya teman-teman di Kendal, tapi di seluruh tanah pertiwi ini. Salam kekerabatan.
.-= Baca juga tulisan terbaru Sungkowoastro berjudul "Cetak Kader Bangsa, Pemerintah Terkesan Abai" =-.
May 07, 2010 @ 22:08:23
@Sungkowoastro,
salam kekerabatan juga, pak sungkowo. mangga kalau memang oke, bisa diadopsi, hehe …
Apr 30, 2010 @ 20:28:28
(maaf) izin mengamankan KEDUA dulu. Boleh kan?!
Sebuah obrolan yang sangat bermanfaat. Semoga obrolan2 sederhana ini mampu menjadi inspirasi buat semua pihak
May 07, 2010 @ 22:07:28
@alamendah,
amiiin, terima kasih apresiasi dan supportnya, mas alam.
Apr 30, 2010 @ 19:56:34
komunitas keren membangun bangsa
May 07, 2010 @ 22:06:58
@adib,
hehe ….
Apr 30, 2010 @ 18:25:50
Semoga demikian Pak, memang harus tetap menggeliat sampai kapanpun. Sukses selalu Pak.
.-= Baca juga tulisan terbaru yusami berjudul "NICE BLOGGER BUATKU ?" =-.
May 07, 2010 @ 22:06:30
@yusami,
amiiin,terima kasih doa dan supportnya, mas yussa.