25Apr 2010 58 Comments1,599 pembaca
Sastra, Korupsi, dan Keterasingan Hidup
Panggung sosial di negeri ini agaknya sedang menampilkan lakon keterasingan hidup. Sebuah situasi yang sangat paradoksal. Di tengah dinamika peradaban yang demikian gegap-gempita menyajikan repertoar-repertoar global yang genuine dan beradab, Indonesia justru menampilkan ikon dan citra korup yang membuat wajah bangsa kian tercoreng. Terkuaknya megaskandal maklar kasus, mafia perpajakan, mafia hukum, mafia peradilan, atau mafioso-mafioso yang lain, yang melibatkan banyak tokoh penting di negeri ini, makin menguatkan bukti betapa keterasingan hidup sedang melilit para aktor sosial “mainstraim” kita.
Betapa tidak? Tingginya jabatan dan kekuasaan ternyata tidak bisa menjadi jaminan seseorang mampu menemukan kebahagiaan. Mungkin ada benarnya kalau ada yang bilang bahwa kebahagiaan sesungguhnya bukan untuk dicari, melainkan diciptakan. Dus, para aktor sosial yang sedang tersandung masalah hukum bisa jadi telah gagal menciptakan kebahagiaan dalam hidupnya. Yang terjadi justru sebuah keterasingan hidup; dinistakan, dicemooh, dikutuk, dan telah tercitrakan sebagai pengumpul uang haram. Dalam situasi seperti itu, bukan hal yang mudah untuk bisa hidup nyaman dan “manjing ajur ajer” di tengah-tengah komunitas sosialnya.
Bisa jadi kosakata “keterasingan hidup” tak tercantum dalam kamus sosiologi dan antropologi Indonesia. Ia bisa hadir dan bisa menerpa siapa saja yang kebetulan sedang berada di tengah-tengah gelimang kemewahan dan puncak kekuasaan. Jika gagal membendung godaan, siapa pun orangnya bisa dipastikan akan tersungkur ke dalam kubangan keterasingan hidup itu. Bukankah serapat-rapatnya orang membungkus bangkai, suatu ketika pasti bau busuknya akan tercium juga? Bukankah John Emerich Edward Dahlberg Acton (Lord Acton) juga pernah bilang, “power tends to corrupt and absolute power corrupt absolutely” bahwa kekuasaan itu cenderung korup; semakin besar kekuasaan berada dalam genggaman tangan, semakin besar pula peluang dan kesempatan untuk melakukan korupsi?
Salahkah kalau Adi Massardi dengan gaya ucap yang sedikit vulgar dan kenes, menyerukan “revolusi” lewat lirik “Negeri Para Bedebah” berikut ini?
Negeri Para Bedebah
Ada satu negeri yang dihuni para bedebah
Lautnya pernah dibelah tongkat Musa
Nuh meninggalkan daratannya karena direndam bah
Dari langit burung-burung kondor jatuhkan bebatuan menyala-nyala
Tahukah kamu ciri-ciri negeri para bedebah?
Itulah negeri yang para pemimpinnya hidup mewah
Tapi rakyatnya makan dari mengais sampah
Atau jadi kuli di negeri orang yang upahnya serapah dan bogem mentahDi negeri para bedebah
Orang baik dan bersih dianggap salah
Dipenjarakan hanya karena sering ketemu wartawan
Menipu rakyat dengan pemilu menjadi lumrah
Karena hanya penguasa yang boleh marah
Sedang rakyatnya hanya bisa pasrah
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Jangan tergesa-gesa mengadu kepada Allah
Karena Tuhan tak akan mengubah suatu kaum
Kecuali kaum itu sendiri mengubahnyaMaka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi
Tapi itulah selemah-lemahnya iman perjuangan! ***
Adi Massardi memang tidak sedang mengigau. Melalui suara batinnya, dia dengan sengaja menguliti wajah negerinya sendiri di tengah kegelisahan menyaksikan perilaku korupsi yang nyata-nyata telah membuat bangsa ini bangkrut lewat lirik yang pedih, ekspresif, dan demonstratif.
Salah jugakah Pramudya Ananta Toer yang dengan gaya satir dan getir mengungkapkan “kesaksian” imajiatifnya terhadap praktik korupsi yang mewabah secara luas menjadi penyakit sosial ke dalam sebuah novel? Meski sekitar tahun 1953, ketika novel tersebut diterbitkan untuk pertama kalinya, korupsi belum sedemikian marak seperti sekarang, namun dengan kepekaan intuitifnya, Pram telah sanggup mengangkat persoalan korupsi ke dalam sebuah teks sastra yang pada akhirnya memiliki relevansi dengan konteks kekinian. Novel yang terdiri atas 14 bab tersebut mengisahkan seorang pegawai negeri bernama Bakir yang melakukan korupsi. Awalnya, ia melakukan korupsi karena desakan ekonomi keluarga, namun lama-kelamaan ia semakin rajin melakukan korupsi sehingga ia menjadi kaya raya. Ia terjerumus ke dalam pergaulan tingkat atas yang penuh kepalsuan dan kemewahan tanpa makna, yang membuat jiwanya kian hampa. Pada akhirnya, segala kejahatannya terbongkar dan ia pun terpuruk dalam penjara.
Kalau korupsi itu sebuah fakta, teks sastra memfiksikannya. Kalau koruptor itu seorang pesakitan, sang sastrawan meratapinya dengan menggunakan kepekaan batin dan intuisinya. Maka, membaca teks sastra sejatinya juga membaca denyut dan napas kehidupan yang bisa dijadikan sebagai medium penyadaran untuk menjadi manusia yang lebih jujur dan berhati nurani.
Adi Massardi atau (alm.) Pram hanyalah beberapa gelintir pengarang yang dengan amat sadar menjadikan korupsi sebagai tema besar dalam teks literernya. Masih banyak pengarang lain yang menggarap tema serupa sebagai bentuk “kesaksian” imajinatif terhadap berbagai fenomena hidup yang makin korup dan serakah. Teks sastra yang lahir pada setiap zaman tak ubahnya merupakan hasil refleksi dari setiap geliat peradaban yang melingkupinya, bahkan bisa menjadi bukti dan rujukan otentik terhadap perjalanan sejarah dari generasi ke generasi. Teks sastra akan terus memfosil dalam setiap memori bangsa sekaligus bisa dijadikan sebagai medium pembelajaran hidup di tengah-tengah atmosfer zaman yang makin abai terhadap persoalan-persoalan moral.
Dalam konteks demikian, tiba-tiba saja napas saya menjadi sesak menyaksikan perilaku para koruptor yang harus terkena post-power syndrom; harus merelakan diri dan keluarganya dicaci-maki dan dihinakan di depan publik, hingga akhirnya mengalami keterasingan hidup yang entah sampai kapan masyarakat bisa dengan mudah menerimanya sebagai bagian dari komunitas sosial secara utuh dan wajar.
Hmm … mungkin ada benarnya juga kalau Kang Sandimin, tetangga yang biasa nongkrong di gardu Poskamling bilang, “Maka, jika tak ingin hidup terasing dari komunitas sosialnya, janganlah melakukan korupsi! Jika tak mau dikutuk, janganlah korupsi! ***
Tulisan lain yang berkaitan:
Tulisan berjudul "Sastra, Korupsi, dan Keterasingan Hidup" dipublikasikan oleh Sawali Tuhusetya (25 April 2010 @ 02:40) pada kategori Esai, Refleksi, Sastra, Sosial dan telah dikunjungi oleh 1,599 pembaca. Anda bisa mengikuti respon terhadap tulisan ini melalui feed komentar RSS 2.0. Anda juga dapat ikut serta memberikan respon atau memberikan trackback dari web atau blog Anda. Jika tertarik dengan tulisan ini, silakan di-share/bookmark melalui jejaring berikut ini:













Aug 23, 2011 @ 14:13:58
korupsi di indonesia makin merajalela
karena hukum yang kurang di tegakan.
Jul 18, 2011 @ 16:08:00
Maka bila negerimu dikuasai para bedebah
Usirlah mereka dengan revolusi
Bila tak mampu dengan revolusi,
Dengan demonstrasi
Bila tak mampu dengan demonstrasi, dengan diskusi….
Bila gak mempan juga lempar dengan NASI basi..
)
agar suara rakyatnya tidak basa-basi…
kalau mempan juga dengan nasi basi-lempar dengan BESI basi wkwkkwkwkk
Penyok donk..xixixix maaaff itu demontrasi basa basi xixixixi mantap mas sawali
Feb 19, 2011 @ 15:13:19
I like the valuable information you provide in your articles. I will bookmark your blog and check again here frequently. I am quite certain I will learn lots of new stuff right here! Good luck for the next! designer wholesale jewelry
Jun 28, 2010 @ 20:15:09
bersatuuu yooooo!!!
klik
Jun 28, 2010 @ 15:15:03
indonesia kiamat…
Jun 16, 2010 @ 14:54:03
Negeri yang hanya peduli diri sendiri.
May 07, 2010 @ 07:30:33
korupsi terjadi dari tingkat paling rendah yaitu diri sendiri.misal korupsi waktu
May 08, 2010 @ 01:10:56
wah, ternyata waktu pun bisa dikorup, ya, mas.
May 06, 2010 @ 23:36:08
Korupsi di indonesia terjadi di semw sisi kehidupan…
sulit mengatasinya…
May 08, 2010 @ 01:07:42
itulah yang terjadi, mas. makin repot.
May 04, 2010 @ 11:49:08
Korupsi marak dimana-mana….
Anggaplah demikian, maka kita butuh sastrawan dan sastra untuk sedikit meredamnya, Pak!
.-= Baca juga tulisan terbaru DV berjudul "Hikayat Tattoo (6), Akhir yang bukan akhir" =-.
May 08, 2010 @ 00:52:20
itulah yang terjadi, mas don. makanya sudah banyak yang berpendapat bahwa pendidikan karakter yang paling strategis melalui apresiasi sastra.
May 02, 2010 @ 19:42:36
Good informasi mas sawali, thanks for sharing
.-= Baca juga tulisan terbaru blogspot tutorial berjudul "Cara Menghubungkan Blog ke Facebook" =-.
May 07, 2010 @ 23:40:05
terima kasih atas apresiasinya, mas.
May 01, 2010 @ 19:07:36
Korupsi sudah menjadi budaya di negeri ini…dan tidak tahu kapan akan berhenti…dan kayaknya memang tidak akan pernah mati…:-?
May 07, 2010 @ 22:51:54
itulah kenayaan yang terjadi di negeri ini, pak dokter. meski sulit diberantas, kita masih punya harapan agar para penegak hukum tak gampang dikadali oleh para koruptor dan markus2nya.
Apr 29, 2010 @ 20:59:32
Saya setuju dengan komentar yang mengajak kita semua menjadi entrepreneur. Melalui kegiatan sebagai entrepreneur, kita dapat berkreasi, berkarya, dan membantu orang lain. Lebih baik menjadi entrepreneur daripada menjadi koruptor.
Apr 29, 2010 @ 07:44:57
Di sini saya pengen ngajak orang Indonesia untuk jadi enterprenur. Dijamin bisa beli rumah, ruko, mobil mewah, tanpa takut kena KPK
Coba kalo jd PNS kaya gayus.. pasti dr hasil korupsi. Atau plg tdk pasti di curigai korupsi..
Apr 28, 2010 @ 23:43:11
koruptor harus dihukum seberat-beratnya.. klo perlu hukuman mati.. ada yg stuju hukuman mati bagi koruptor??
Apr 28, 2010 @ 18:47:35
Bingung, kunker Presiden ke Malang disambut ribuan pelajar, Presiden bilang “bangga atas dedikasi dan daya juang mereka….” apa yang dibanggakan? Karena gak masuk sekolah dan rela ujan-ujanan cuma buat liat Presiden (pejabat) lewat? Aneh..aneh….(sumber Kompas)
.-= Baca juga tulisan terbaru iis sugianti berjudul "Safety riding tips #2, Konvoi" =-.
Apr 27, 2010 @ 19:19:44
Saya setuju dengan Mas Ben dan sangat setuju. salam sukses selalu Pak, mohon ijin copy Negeri Para Bedebah.
.-= Baca juga tulisan terbaru yusami berjudul "MESSI, JADIKAN BARCA JUARA LAGI" =-.
Apr 27, 2010 @ 17:12:41
Ya memang sudah kodratnya keburukan itu akan selalu ada untuk mendampingi kebaikan. Ketidakbaikan tidak bisa dilawan dengan ketidakbaikan. Justeru yang baik harus tetap konsisten menjadi baik sebagai penawar ketidakbaikan itu sendiri
Salam bentoelisan
Mas Ben
Apr 27, 2010 @ 16:05:49
Benar-benar speechless kalau melihat sepak terjang para petinggi negara ini. Apa mau di kata, kita yang di bawah inilah lagi-lagi yang jadi korbannya. Pajak harus rajin di bayar, tapi pendidikan mahal, biaya kesehatan mahal, harga kebutuhan pokok juga mahal. Di lain pihak, uang negara yang seharusnya untuk menyejahterakan rakyat justru dimakan orang-orang yang tidak berhak.
.-= Baca juga tulisan terbaru Bung Eko berjudul "Radio dari Masa ke Masa" =-.
Apr 27, 2010 @ 14:53:28
sekarang yang paling berpengaruh dalam negara kita kok kayae malah pres ya
Hehehehe otak saya nggak sampai ik pak untuk mencoba memahami konflik yang ada di negeri ini
maklum wong cilik
.-= Baca juga tulisan terbaru blog penghasil uang berjudul "UAN menurut saya" =-.
Apr 27, 2010 @ 13:16:03
Sory baru sempat mampir lagi Pak…
Salam hangat selalu.
.-= Baca juga tulisan terbaru Bang Iwan berjudul "HIBAH NOVEL SAAT POSTINGAN KE-1000" =-.
Apr 27, 2010 @ 12:57:11
Negeri para bedebah?
berarti kita juga termasuk bedebah dong.
.-= Baca juga tulisan terbaru Bang Iwan berjudul "HIBAH NOVEL SAAT POSTINGAN KE-1000" =-.
Apr 27, 2010 @ 11:35:38
dasarnya memang ga punya iman kali ya pak?
lama tak berkunjung, apakabar pak Sawali?
maaf baru sempat berkunjung lagi, ada kesibukan yg sedang menghimpit saya akhir² ini…
salam, ^_^
.-= Baca juga tulisan terbaru Didien® berjudul "Pentingnya sebuah Networking" =-.
Apr 26, 2010 @ 22:28:30
jaman dulu ada cerita kancil nyolong timun yg selalu lolos dari rintangan apapun,termasuk menggunakan cara yang licik.apakah cerita ini yang dipakai para koruptor sekarang? dan seharusnya sekarang ceritanya harus diganti dengan judul “kancil tobat” supaya anak didik kita bisa menjadi pemimpin yang jujur.
.-= Baca juga tulisan terbaru sanjati berjudul "Kamus inggris-indonesia di Ubuntu" =-.
Apr 26, 2010 @ 21:28:52
Tingginya jabatan dan kekuasaan ternyata tidak bisa menjadi jaminan seseorang mampu menemukan kebahagiaan —> inilah awal dari rusaknya tatanan sosial kebangsaan pak….
.-= Baca juga tulisan terbaru ciwir berjudul "Pecel Blora dan Perpustakaan PATABA" =-.
Apr 26, 2010 @ 20:47:39
kemaren sempat lihat adi masardi di dialog metroTV membahas tentang kritik melalui seni, luar biasa mantap banget…
.-= Baca juga tulisan terbaru aRuL berjudul "Perda Pendidikan Gratis Menghambat Kreativitas Siswa" =-.
Apr 26, 2010 @ 17:31:18
Sebenarnya masalah politik saya masih sangat kurang paham, koruptor memang perlu didikan moral
.-= Baca juga tulisan terbaru Jidat berjudul "Perjalanan Sendang Biru – Pulau Sempu" =-.
Apr 26, 2010 @ 15:56:09
tidak hanya menyentil.. tapi menampar dan menendang.
kalau “mereka” membaca artikel ini kira2 malu nggak ya?
sugeng sonten pak sawali…
.-= Baca juga tulisan terbaru azaxs berjudul "Light Folio" =-.
Apr 26, 2010 @ 15:36:36
Ada saran nih pak..tambahan tentang langkah-langkah mengusir para bedabah dari negeri kita. Kalau di tulisan Bapak 1. Revolusi, 2.Demonstrasi, 3. Diskusi.
Bagaimana kalau pada tengah-tengah point 2 dan 3 dilakukan dengan cara edukasi. Mendidik anak bangsa supaya jangan ikut-ikutan bermental korup. Biarpun hasilnya terlihat setelah jangka panjang tapi ini solusi yang bagus dan menyeluruh..
.-= Baca juga tulisan terbaru Syamsuddin Ideris berjudul "Aplikasi Raport Berbasis Web" =-.
Apr 26, 2010 @ 14:49:43
Menyedihkan memang. Tapi tak boleh patah arang hanya karena perubahan yang dilakukan jalan ditempat. Terus dan lanjutkan…:d
Apr 26, 2010 @ 13:40:39
Apr 26, 2010 @ 13:36:05
seandainya masih banyak para sastrawan yang menggelitik panggung politik seperti alm pramodya ananta toer mungkin novel2 seperti itu akan habis di jual di toko2 buku, sayangnya tidak dan masih banyak berpegang pada tayangan TV yang masih satu sumber itu, masih banyak yang di tutup2i
.-= Baca juga tulisan terbaru hanifilham berjudul "4 Langkah Mudah Meningkatkan Jumlah Pembaca" =-.
Apr 26, 2010 @ 09:44:30
jaman edan yen ra edan ra keduman… yen melu edan koncone setan… :-”
.-= Baca juga tulisan terbaru firdaus berjudul "saya tidak(belum) KAYA tapi saya BAHAGIA" =-.
Apr 26, 2010 @ 09:35:19
Dunia sastra sangat efektif dalam menohok moral para pejabat seperti karya George Aditjondro dalam Gurita Cikeas. Tapi sayangnya kekuasaan yang begitu besar para pejabat negara, karya satra akan di preteli sedemikian rupa bahkan akan di brendel kayak Majalah Tempo dulu pada masa Soeharto. Sungguh negara yang begitu asing dari kehidupan moral.
.-= Baca juga tulisan terbaru Dahrun Marada berjudul "Perubahan Diri" =-.
Apr 26, 2010 @ 00:57:15
Korupsi … sebuah penyakit karena komplikasi.
Kebobrokan mental itu datangnya pelan dan jika sudah menumpuk/menggunung, mensterilkannya juga mesti pelan. Asla ada kerjasama dari berbagai elemen … insyaallah bisa dilakukan.
Mulai dari diri kita …. melebar ke keluarga … ke teman dst
Semoga bangsa ini menjadi bangsa yang gemah ripah loh jinawi baik lahir maupun batin
.-= Baca juga tulisan terbaru Matt Wahyu berjudul "Plugin Shoutbox : mencoba Pierres Wordspew" =-.
Apr 26, 2010 @ 00:28:11
semoga waktu bergulir cepat, dan babak baru indonesia segera digelar
Apr 25, 2010 @ 20:17:03
Saya yakin para petinggi dan wakil rakyat negeri ini sudah tahu. Cuman saja mereka berusaha menggunkan berbagai cara untuk menutup mata dan telinga hatinya. Aneh, kan??
Apr 25, 2010 @ 20:11:34
ayo budayakan anti korupsi sejak dini
sungguh memalukan owq
masak dapat peringkat bagus negara terkorup hikz
Apr 25, 2010 @ 20:08:13
korupsi
sudah menjadi hal yang wajar dan terang2an di negeri ini
sungguh terlalu
smoga kedepan lebih baik
Apr 25, 2010 @ 20:03:48
lumayang mengkerutkan kening untuk mengerti kata-katanya, tapi untung bawa kamus.hehe
akhirnya mengerti.
kesimpulan saya setelah membaca dari awal sampai akhir,”hentikan kegiatan kurupsi dari hal yang kecil.”
.-= Baca juga tulisan terbaru tukang colong berjudul "Kaki Mulusku kenalan Ama Knalpot!" =-.
Apr 25, 2010 @ 17:47:02
he he bang …emang bangsa ini bangsa paling komplit (dalam segala hal) sejagat, apa yang g mungkin di negara lain jadi mungkin di negeri ini..
semoga pemimpin bangsa ini paling kembali sadar yacch bang…. agar kita g ketinggalan terus menerus …..
salam kenal aja N trims atas kunjungannya..
joujipunk.blogspot.com
GBU
Apr 25, 2010 @ 17:36:08
korupsi-korupsi… berita yang selalu ada di media..
kadang bosan jg,,gak ada tobat2nya… [-(
Apr 25, 2010 @ 16:55:10
Korupsi itu sudah menjadi agama baru bagi masyarakat indonesia. Siapa yang mau gabung?
.-= Baca juga tulisan terbaru Pencerah berjudul "Pengumuman Ujian Nasional SMU 2010" =-.
Apr 25, 2010 @ 16:11:33
my opinion: kebahagiaan ada dalam tentramnya hati:)
Apr 25, 2010 @ 15:20:38
Kalau semua sendi, dari rakyat kecil sampai orang besar di negeri sudah biasa dengan kesalahan, mau diapakan lagi Pak?
Apr 25, 2010 @ 14:25:32
Ah, ya,ya, Pak. Andai saja uang rakyat yang berjumlah banyak ditilep para koruptor itu dikembalikan ke kas negara, dan pelaksana negara tidak hanya menggantung program ”sekolah gratis”, tetapi ”melepaskan” program ”sekolah gratis” secara penuh -tentu dengan konsekuensi anggaran BOS naik demi keberlangsungan pendidikan secara maksimal- maka tak perlu lagi ada orangtua yang mengencangkan ikat pinggang menjelang penerimaan peserta didik baru (PPDB), bahkan selama anaknya bersekolah. Kapan ya? Salam kekerabtan.
.-= Baca juga tulisan terbaru Sungkowoastro berjudul "Menjelang PPDB, Orangtua Mengencangkan Ikat Pinggang" =-.
Apr 25, 2010 @ 12:03:48
Semoga tulisan ini dibaca oleh pejabat, birokrat dan wakil rakyat …
.-= Baca juga tulisan terbaru Bakharuddin berjudul "Base Camp" =-.
Apr 25, 2010 @ 11:34:42
appan sih, aku cuma ngambil duit negara buat nabung di bank aja kok.. masak nggak boleh…?
(di tambah beli mobil, pesiar, bangun rumah, dst..)
Apr 25, 2010 @ 09:19:34
Alhamdulillah bisa berkunjung lagi Pak. Lama tidak bertemu karena didera kesibukan.
Kalau bicara korupsi di negeri ini rasanya tak akan ada habisnya. Korupsi ini sudah merambah ke mana-mana, sampai ke area yang seharusnya bersih dari sikap korup ini. Apa yang dikatakan Lord Acton memang benar apabila kekuasaan tidak dilandasi akhlak mulia. Karena itu penghasilan besar pun tetap saja korup.
Terima kasih.
Salam
.-= Baca juga tulisan terbaru abdul aziz berjudul "Perlukah Emansipasi ?" =-.
Apr 25, 2010 @ 07:22:08
Orang yg korupsi biasanya biasa hidup sendiri ya pak, terlebih terbukti orang yg korupsi cuma peduli dirinya sendiri..:-w
.-= Baca juga tulisan terbaru The Fachia berjudul "Facebook Docs – Google Docs Killer from Microsoft" =-.
Apr 25, 2010 @ 06:53:57
wa iya ni!!selalu begitu mereka tidak akan pernah puas akan hasil yang didapatkan!!karena mereka tak pernah melihat ke bawah
.-= Baca juga tulisan terbaru Iqbal berjudul "Membuat ikan berenang mengelilingi halaman blog" =-.
Apr 25, 2010 @ 06:51:53
G rakyat kecil tok semua rakyat juga merasakan!!entah kenapa bangsa ini Semaiki tinggi jabatan mala semakin besar korupsinya
Apr 25, 2010 @ 04:34:00
C’est la vie …
Apr 25, 2010 @ 03:07:24
semoga para yang ngaku para wakil rakyat baca tulisan ini pak… sangat menyentuh banget :-”
.-= Baca juga tulisan terbaru dNoxs berjudul "Some other Keyword Research Tools for Increase Traffic" =-.